My Genie Wife

My Genie Wife
Terjadi Lagi



Sebelum bibirnya menyentuh bibir Arian, matanya yang menatap sendu wajah Arian yang tertidur menangkap jika ada kedutan disekitar kelopak mata Arian yang tertutup, dengan reflek seorang kesatria secara cepat Eru menegakan kepalanya dan kembali dalam posisi duduk semula seakan-akan tidak terjadi apa-apa.


“Sial aku ketiduran!” Arian spontan berkata saat matanya terbuka dengan setengah mengantuk dia memaksa tubuhnya untuk tegap dan kembali duduk pada matras.


Arian menoleh pada Eru yang sedang membelakanginya kali ini dengan gestur tubuh sedang menunduk lebih dalam lagi dari sebelumnya dan hampir seperti posisi orang yang sedang bersujud bahkan hampir tersungkur ke depan.


Namun Arian mengabaikan tingkah Eru yang tak ia sadari jika gadis jin itu sedang menyembunyikan wajah malunya yang membuat kepala gadis itu berasap dan hampir meledak karena seakan darah dari jantung yang berdetak hebat tak karuan telah terpompa ke kepala karena ingin mencium dirinya.


Perasaan malu Eru sesaat kemudian buyar ketika dikejutkan dengan bunyi dentuman hebat yang menghujam pintu ruangan itu sehingga membuat pintu itu terbuka dengan sendirinya dengan diiringi bunyi dentingan besi yang menandakan jika besi gagang pintu ruangan itu rusak karena dentuman.


Arian yang juga terkejut sama seperti Eru langsung berdiri dan memperhatikan pintu itu dengan wajah yang cemas karena belum bisa lega setelah terbuka akibat takut, mungkin saja ada sesuatu yang menghampiri mereka berdua dari dentuman pintu itu.


“Pintunya terbuka sendiri?” Arian yang sedikit histeris berlari kecil mendekati pintu ruangan penyimpanan bola untuk mengetahui penyebab pintu itu seakan ditabrak sesuatu dan terbuka sendiri.


“Tidak”


Eru menggeleng menanggapi perkataan Arian kemudian menunjuk sudut ruangan penyimpanan bola.


“Ada jin penyerap energi negatif” Eru berkata dan mendekati jin yang ia katakan itu.


“Lihat tuan Arian” Eru menyentuh pundak Arian dan sedikit memberikan energi sihir sisa yang ia miliki untuk disaat genting seperti ini dan bisa juga bermanfaat untuk Arian bertarung jika ada hal yang tidak diinginkan nantinya setelah penemuan seperti ini.


Eru yang menoleh kebelakang langsung berlari keluar ruangan penyimpanan bola dan juga keluar dari Aula gedung olahraga sekolah itu dan saat melihat langit dia menemukan banyaknya jin di atas sana dengan jenis dan wujud yang berbeda ada yang menggunakan wujud astral ada juga wujud padat yang menyerupai burung elang asli seperti yang terlontar di ruangan penyimpanan bola barusan.


“Sangat banyak” Eru bergumam saat melihat anomali itu di atas langit yang mulai malam.


“Sebanyak ini jin penyerap energi negatif?” Eru bertanya-tanya saat melihat aura yang begitu gelap nan suram yang  selama ini dikenalinya sebagai jin penyerap energi negatif saat melihat gerombolan jin yang sedang beterbangan dan bertarung satu sama lain itu karena banyak yang mengamuk dan tak terkendali.


“Iya kau benar jin penyerap energi negatif” Arian yang baru saja menghampiri Eru berkata saat mampu melihat gerombolan jin itu setelah sedikit diberi kekuatan oleh Eru.


“Tuan Arian bantu aku” Eru berlari  dan melompat untuk menebas beberapa dari gerombolan jin itu.


“Baiklah” Tanpa keraguan Arian menuruti perkataan Eru dan ikut membantu Eru yang hanya bisa bertarung dengan lompat dan menebaskan pedang nya, karena benar-benar kehabisan energi sihir.


Arian dengan menjadi umpan agar energi negatif nya diserap sehingga para jin itu turun untuk mengejar Arian dan langkah selanjutnya tinggal Eru yang menebasnya saat mereka di bawah.


Rencana Arian dan Eru berhasil meskipun memakan waktu yang cukup lama, pertarungan mereka berhasil kebanyakan berkat pertarungan pedang yang dilakukan Eru.


Setelah selesai Arian memberikan senyuman keberhasilan pada Eru, namun ditanggapi Eru dengan tak biasa dan bagi Arian Eru terlihat cukup dingin karena langsung berbalik untuk menghindari senyuman yang dia berikan.


Arian tidak tahu padahal Eru dengan wajahnya yang berbinar karena sangat senang melihat senyuman Arian tetapi dia tidak bisa jujur dengan perasaannya saat tersipu malu, bahkan gadis itu berbalik dengan waktu yang cukup lama agar tidak ketahuan ekspresi pada wajahnya.


***


Setelah tiba di rumah Eru yang baru saja mandi termenung di depan cermin wastafel kamar mandi saat memikirkan kejadian aneh tentang gerombolan jin yang mengamuk di sekolah beberapa saat yang lalu dia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada para jin yang mampu menyerap energi negatif itu.


Eru menangguk kemudian berbalik meninggalkan cermin.


“Nanti aku tanya tuan putri saja setelah dia pulang.” Kata Eru mengakhiri perkataannya, kemudian memakai pakaian dalam di sana karena ingin cepat namun saat itu juga pintu kamar mandi di buka oleh Arian dari luar.


Arian pun tak sengaja kembali melihat sosok Eru yang sedang menggunakan pakaian dalam, laki-laki itu baru teringat perkataan Eru jika dia akan menggunakan kamar mandi dan akan langsung ganti baju di sana, dengan mengalihkan pandangan bersama air  muka malu Arian dengan perasaan bersalah berkata “Maafkan aku.”


“I_iya tidak apa, aku yang salah lupa mengunci pintu.” Eru dengan cepat menutupi tubuhnya dengan handuk dan membatalkan kegiatan ganti bajunya kemudian berjalan menuju pintu keluar kamar mandi dengan air muka malu juga bersama dengan wajah yang memerah.


“Aneh” kata Arian dalam hati saat menanggapi reaksi Eru yang tidak melalukan apapun padahal biasanya kesalahannya itu selalu dilampiaskan melalui amarah besar yang menghantam fisiknya, Arian pun masih menjaga pandangannya dan berjalan perlahan masuk kamar mandi.


Aroma wangi yang menenangkan dari tubuh Eru saat mendekat untuk melewatinya membuat Arian sesaat terpana sampai tidak menyadari jika dia menginjak genangan Air di sana sehingga membuatnya terpeleset pelan dan menabrak tubuh Eru hingga membuat gadis jin itu terdorong dan kakinya terkena genangan air juga hingga membuatnya tersungkur di kamar mandi bersama Arian.


“Ka_Kali ini benar-benar maafkan aku” Arian dengan jantung yang berdegup kencang meminta maaf dengan berbisik sembari memejamkan mata, karena dia tahu jika sekarang posisinya ada di atas saat menimpa tubuh Eru dan benar-benar berhadapan dengan tubuh gadis jin itu yang hanya mengenakan sehelai handuk.


“Tidak apa”


Eru dengan pelan berkata dengan bisikan dengan nada yang cukup menggoda diantara nafasnya yang terengah-engah.


Arian yang merasa aneh kembali dengan tanggapan biasa saja dari Eru pun karena kurang yakin mencoba memberanikan diri untuk melihat ekspresi apa yang sedang digunakan gadis jin itu saat menanggapi perlakuan tak sengaja darinya yang tak bisa dimaafkan.


Arian melihat jika Eru melirik kearah lain untuk mengalihkan pandangan mata Arian yang melihatnya  dengan handuk yang hampir terbuka di dadanya dia mencoba menutupi handuk itu dengan tangannya, tentu saja wajahnya seperti tomat yang di hangatkan karena tak kuasa menahan kegugupan, nafasnya pun sama beratnya dengan nafas Arian yang tak kuasa melihat wajah Eru sedekat itu dengan kulit putihnya yang halus.


Eru pun dengan mata yang sendu bersama bola mta yang berbinar akhirnya gadis jin sekaligus kesatria kerajaan itu memberanikan diri menatap Arian, tangannya yang menutupi handuk ia buka dan seakan memasrahkan diri dengan apa yang akan  dilakukan Arian pada tubuhnya dengan perasaan malu yang kuat dia mencoba tetap bertahan dan akan menerima apa saja perlakuan Arian untuk tubuhnya.


Arian meneguk liur sekuat-kuatnya kemudian menggelengkan kepala, karena sadar tidak seharusnya dia memanfaatkan kesempatan bejat seperti itu, Arian langsung berdiri dan melihat kearah lain sembari menggaruk rambutnya karena ingin mengalihkan kejadian barusan.


Namun dari belakang Eru yang barus saja berdiri juga memegang lengan remaja laki-laki itu kemudian berkata dengan pelan “Sepertinya aku sedang merasakan sebuah perasaan rumit seperti drama yang sering aku tonton.”


“Aa” Arian yang uggup karena dipegang oleh Eru menoleh pelan saat menanggapi perkataan gads jin  itu.


“Aku tidak mengerti kenapa perasaan itu datang”


Dengan lembut Eru melanjutkan perkataannya.


“Pe_perasaan apa?” Arian yang bingung dengan tanggapan dari situasi ini akhirnya hanya memilih bertanya lagi meskipun masih tak mengerti maksud dari Eru yang tiba-tiba ini.


“Cinta, mungkin”


Dengan wajah cantik yang berbinar diantara aksen merah tersipu diwajahnya bersama tatapan bola mata indah yang penuh keberanian, Eru memberikan senyuman hangat nan tulus pada Arian.


“Maafkan aku tuan putri” Eru berkata dalam hati. kemudian menghirup nafas panjang dan mengeluarkannya dengan tenang kemudian berkata “Aku akhirnya juga menjadi salah satu pesaing tuan putri Sera untuk mendapatkan hati mu, tuan Arian.