My Genie Wife

My Genie Wife
Perasaan Yang Tulus



“Sangat sulit mendapat kepercayaan manusia tentang para jin yang tinggal di rumah susun, padahal aku berjanji agar kalian bisa mendapat pengakuan dari manusia dengan menjadikan tempat itu tempat wisata yang menegangkan seperti rumah hantu, bukankah itu sangat seru jika terwujud hehe”


Dari dalam hati Weyan pun membaca surat kedua dari Giandra yang baru saja dia keluarkan dari dalam amplop.


“Dan mereka bisa ‘mengakui jika kalian ada’ agar kalian bisa mempertahankan wujud kalian di dunia ini! Tapi hasilnya tidak ada yang mau bekerjasama denganku untuk membuat tempat itu menjadi lebih hidup, yaaaaa mana ada orang yang mau mengikuti tujuanku yang tidak masuk akal itu”


Setelah selesai membaca surat kedua tersebut, Weyan membuka amplop surat kedua dan melanjutkan bacaannya.


“Sudah sangat lama sejak aku mengirimkan surat terakhir,  aku mungkin tidak akan bertahan hidup lebih lama lagi karena itu aku ingin kau dan yang lain tahu aku sungguh merindukan kebersamaan kita seperti dulu lagi”


Bola mata Weyan yang sama indahnya dengan wajahnya berkaca-kaca dia pun beberapa kali mendongak kan wajahnya agar air matanya tidak jatuh hanya karena surat pendek yang dibacanya.


“Weyan aku disini juga bahagia dengan istri dan anak laki-laki ku semoga kau dan jin lainnya bisa bahagia.”


“Salam dari Giandra teman indigo kalian”


Namun Weyan yang tak sanggup lagi mengangkat dagunya untuk mendongak dan membendung buliran air matanya karena sedih dan dengan terpaksa dia pun membiarkan air matanya itu mengalir dengan pelan dan lembut.


“Surat-surat dengan jarak 15 tahun di setiap suratnya” sambil menyeka matanya Weyan melipat surat-surat itu dengan rapi ke dalam amplop.


“Kata supir yang membawa kita, Giandra sudah lama meninggal”


Arian berkata sambil menunduk dan mengalihkan matanya karena merasa tidak enak melihat Weyan yang sedang menangis.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Sera pada Weyan.


“Hem” Weyan mengangguk pada Arian serta Sera kemudian mengakhiri kegiatan untuk menyeka matanya.


Arian yang diberitahu supir bis sebelum tiba menemui Weyan tadi jika makam Giandra berada di dalam desa ini mengantar Weyan bersama rekan-rekannya itu untuk melihat makam manusia yang paling di hargai oleh rombongan jin itu dengan berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh.


“Kami sudah sangat lama tidak menemuinya karena ketidakberanian kami untuk menjelajahi dunia manusia seperti sekarang”


Dengan air muka sedih Relom berkata saat sedang melihat makam Giandra di depan matanya.


“Jadi wajar saja ada hal seperti ini yang terjadi padanya” Relom kemudian menoleh kebelakang untuk melihat rekan-rekan rombongan jin nya yang membisu dengan wajah yang sedih pula bahkan ada yang mengeluarkan air mata.


Weyan ikut menoleh juga pada rombongan jin tersebut dan memberikan senyuman tipis setelah itu menoleh pada Arian kemudian berkata “Setidaknya kami bisa bertemu dia di makamnya.”


Sesuai dengan janji yang telah mereka buat, Weyan bersama rombongannya menunggu para pembuka portal ke dunia jin yang sudah dihubungi Sera setengah jam yang lalu lewat sihir telepati.


Tidak lama kemudian kedua orang yang begitu familiar oleh Arian muncul tanpa disadari oleh mereka semua di sana, kedua bapak-bapak jin yang mirip karakter Man in Black pun muncul dan Arian pun melihat mereka  dengan mata yang menyipit bersama bibir yang cemberut saat teringat kejadian mirip penculikan yang mereka lakukan.


Setelah membuka portal sembari menunjuk portalnya kedua bapak-bapak jin itu berkata serentak “Lewat sini para jin sekalian”


Portal penghubung ke dunia jin itu dimulai dengan dimasuki oleh jin anak-anak dan wanita kemudian para jin laki-laki dengan berjalan perlahan nan tertib, di ikuti dengan Relom dan Weyan setelahnya namun sebelum itu Relom dan Weyan  berhenti melangkah, dan Weyan berkata pada Sera “Kami akan menjaga baik-baik rumah yang keluarga kerajaan berikan tuan putri.”


“Kalau begitu kami pergi dulu” Relom melanjutkan.


Sesampai dalam bus disaat perjalanan pulang Arian pun berbincang pada supir bis dengan banyak pertanyaan yang dilontarkan.


“Tidak banyak orang yang mengenal ayahku, karena ayahku dijauhi karena dianggap gila dengan jin yang selalu dia bicarakan” tukas Supir Bis itu yang menjawab salah satu pertanyaan Arian.


“Sampai meninggal pun hanya sedikit orang yang mengunjunginya”


Supir itu beberapakali agak mengencangkan volume suaranya serta menoleh ke belakang agar penjelasannya didengar Arian dan Sera.


“Untung saja ada mendiang ibuku yang mau menikahinya” Supir itu berdeham.


“Kenapa anda bisa menyimpan suratnya?” tanya Arian lagi.


“Saat ayahku meninggal ada tukang pos yang mengembalikan 3 surat itu pada keluarga kami dan mengatakan surat yang tersimpan di lemari kantor pos selama puluhan tahun itu tidak ada yang menerimanya”


Supir itu kembali membesarkan suaranya dan menoleh pada Arian.


“Karena angker rumah susun tempat ayahku mengirimkan suratnya itu tidak pernah dihuni manusia dan para tukang pos bingung mau memberikannya pada siapa.” Supir Bis itu mengakhiri perkataannya dengan sedikit terkekeh.


“Cinta yang tidak terbalas sampai akhir hayat di dunia manusia”


Celetuk Sera yang duduk bersebelahan dengan Arian dengan suara yang kecil.


“Aku takut aku juga akan merasakan cinta tidak terbalas di dunia ini seperti Weyan, semoga saja aku tidak seperti itu suatu hari nanti” Sera berkata pelan.


“Akan merasakan cinta?” Arian seketika menoleh pada Sera mendengar perkataan mengejutkan gadis jin itu.


“Tidak, lupakan saja” Wajah Sera memerah karena sadar perkataannya memalukan dia pun memalingkan wajahnya agar tidak dilihat Arian.


Wajah Arian juga ikut memerah jantungnya pun seperti biasa berdetak tak karuan dengan perkataan Sera tentang jatuh cinta di dunia manusia apalagi Arian berpikir hanya dialah laki-laki dunia manusia yang ditemui Sera beberapa hari ini setelah pesugihan waktu itu.


“Dengan siapa ya kira-kira kau akan merasakan cinta seperti itu?” sembari terkekeh, dari arah perkataannya Arian pun sebenarnya ingin tahu jawaban dari mulut Sera tentang siapa yang mungkin akan membuat Sera merasakan cinta.


“Te-tentu saja dengan orang lain suatu saat nanti” Sera menjawab cepat dengan nada kesal.


“Be-benar juga ya” Arian tergagap karena malu sudah percaya diri dan air mukanya sedikit menunjukkan kekecewaan karena ucapan gadis jin secantik Sera.


“Tidak mungkin kepadaku kan lagipula kami hanya suami istri kontrak karena pesugihan tidak mungkin ada rasa seperti itu..”


Arian menenangkan dirinya sendiri dari dalam hati.


“Apa yang kau harapkan sih Arian” Arian menepuk-nepuk jidatnya sendiri dengan pelan. “Sera itu sesosok jin” Arian langsung membuang muka kearah jendela bis untuk melihat pemandangan luar.


Beberapa saat kemudian, Sera menoleh pelan untuk kembali menatap wajah Arian dengan mata sendu dengan bola mata yang berbinar, tetapi suami kontraknya itu sedang melihat jendela jadi hanya pipi Arian yang bisa dilihatnya.


Menatap dalam dengan senyuman tulus yang datang bersama pipi yang memerah, dadanya pun sedikit berdebar saat melihat Arian.