My Genie Wife

My Genie Wife
Berterimakasih Hari Ini



Setelah beberapa saat kemudian Reina yang sudah siuman, diberi perawatan yang sangat baik oleh ketiga gadis yang ada di dalam rumah Arian itu. Diberi minum, makan, ditenangkan bahkan diajak mengobrol santai demi membuat gadis yang sedang dihinggapi jin pembawa kesialan itu nyaman.


Dengan disetujui Sera dan Arian, Eru mengajak Alia dan Reina yang menjadi tujuan mereka untuk dihibur melaksanakan pesta kecil-kecilan besok siang.


Selain demi menghibur, pesta di gunakan Eru sebagai landasan yang jelas untuk Alasan Arian mengajak Reina pergi jalan-jalan di hari minggu besok.


Berkat obrolan dan perlakuan baik ke tiga gadis itu hingga larut malam pada Reina, tanpa disadari ke empat gadis itu pun menjadi sangat akrab dalam waktu yang singkat.


“Betapa hangat dan memenangkan...”


Arian bergumam kemudian tersenyum tipis saat menyaksikan keakraban itu yang saat ini juga dirasakannya memenuhi suasana bahagia seisi rumah besar yang dulunya sangat sepi itu, juga membuat satu-satunya laki-laki seperti dirinya menjadi lega karena gadis-gadis itu bisa akur.


Setelah ditemani ketiga gadis itu untuk pegi mengganti baju yang bagus di rumahnya sendiri, Reina pun dengan diawasi Sera, Eru dan Alia dengan terburu-buru berjalan cepat dan juga lebar agar bisa cepat menuju pintu gerbang mall paling besar di kota itu karena sejak 30 menit yang lalu Arian sudah datang lebih dulu.


Dari kejauhan Reina yang sedang terburu-buru itu bisa melihat jika ada sosok Arian yang sedang menunggu tepat di depan dinding kaca gerbang mall yang ditujunya, tanpa melakukan apa-apa dengan padangan kebawah seolah memikirkan sesuatu dengan tangan yang masuk dalam kantung jaketnya pada pagi hari yang cukup dingin saat itu.


Arian yang sedang menunggu itu pun mampu merasakan jika Reina begitu terburu-buru dari bunyi kaki gadis itu yang berderap cukup kuat untuk mendekatinya apalagi saat dia menoleh untuk melihat Reina, Arian mendapati air muka bersalah dari gadis itu yang tertuju padanya.


“Maafkan aku...” Reina berkata saat menghampiri Arian yang mengenakan setelan kasual kemudian menghentikan sesaat perkataannya untuk mengambil nafas karena terengah-engah.


...Sudah membuatmu menunggu lama.”


“Tidak apa Reina” Arian menjawab cepat sembari tersenyum, matanya pun langsung tertuju pada  Reina dan terpana dengan pakaian yang Reina kenakan sehingga membuat gadis itu terlihat lebih manis, cantik dan sangat menarik di matanya.


Setelan mini dress putih dengan cardigan rajut berwarna biru muda dengan tas slempang abu-abu pada tangan kanany serta sepatu sporty yang senada tak layat membuat Arian terperangah cukup lama berkat perpaduan yang menakjubkan baginya dari wajah indah Reina dengan pakaian modis yang gadis itu kenakan.


Reina yang sadar akan reaksi terpana kemudian tersipu dari Arian saat memandangi dirinya, meskipun tersipu juga tetap meanatap mata dan memandangi Arian beberapa saat berharap agar teman sekelasnya itu memberikan kata-kata pujian dari penampilannya hari ini yang sepenuh hati untuk ditunjukkan pada Arian.


“A-Aku juga baru sebentar menunggu” Arian dengan cepat menambah lagi perkataannya saat mengalihkan pandangannya dari Reina agar bisa fokus untuk memikirkan serta melakukan kegiatan sebenarnya di hari ini.


Reina mengangguk dan menunduk kecewa menanggapi perkataan Arian yang langsung beralih namun tanpa   Arian yang sedang berfikir untuk memulai hal saat tiba di depan gerbang mall besar itu.


Arian masih tak sanggup melirik Reina kembali karena senyuman gadis itu, untungnya jam yang terlilit di tangannya mampu membantu dirinya yang gugup dengan wajah yang sedikit memerah itu, Arian memerhatikan angka pada jam tersebut kemudian berkata “Masih ada waktu banyak  sampai siang nanti.”


Arian melihat ke arah taman dengan danau kecil di seberang mall yang agak jauh dari tempat mereka berdiri kemudian dengan keberanian dia sedikit melirik pada Reina dan  berkata pelan “Jadi bagaimana kalau..”


“Kita jalan-jalan dulu” Reina yang mengetahui maksud Arian dari gestur menyambung perkataan temannya itu langsung dengan wajah yang berseri-seri.


“Baiklah, ayo!”


Sambil menarik lengan baju Arian Reina pun mengangguk dengan memberikan senyuman persetujuan pada temannya itu, Arian yang menyadari lengan baju nya di tarik pun mengikuti langkah Reina menuju taman di seberang itu dengan wajah yang berseri-seri pula.


Menikmati taman dan Melihat-lihat danau di taman serta berbelanja beberapa cemilan di sana sudah cukup membuat Reina bahagia dan menikmati setelah mengalami hal sial selama seminggu ini, begitu pun Arian dia juga sangat menikmati jalan-jalan yang agak mirip seperti kencan tak terduga ini bersama orang yang disukai nya sejak dulu karena kejadian tak terduga karena berkaitan dengan jin dengan wajah yang bahagia.


“Kenapa?” tanya Arian dengan wajah terkejut meski di dalam hati nya sangat senang mendengar perkataan Reina yang berjalan disebelahnya.


“Aku penasaran saja, seperti apa liburan orang pendiam yang selalu bekerja paruh waktu sepertimu” Reina berkata.


“Aku selalu ingin ikut jalan-jalan denganmu seperti ini untuk mengetahuinya” Reina kemudian sedikit memandang keatas.


“Dan akhirnya benar-benar terjadi”


Kemudian gadis itu mengakhiri perkataannya dengan memberikan senyuman pada Arian, Arian pun membalas senyuman itu dengan wajah yang memerah berseri-seri, dia juga mencoba tetap tenang diantara dadanya yang berdebar hebat demi menutupi kegugupannya menghadapi Reina.


“Apa-apaan wajah mereka yang begitu bahagia itu?”


Sera yang mengintip mereka dengan kening yang mengerut dan mata yang menyipir dari kejauhan berkata dengan nada datar.


“Aku mau kesana”


Sera yang emosi berdiri dari kursi taman tempat tuan putri dunia jin itu duduk kemudian memulai langkah kaki dengan hentakan yang kuat untuk menuju kearah Arian dan Reina karena kesal.


“Jangan tuan putri!


Eru meninggikan nada bicaranya meski dengan volume yang kecil kemudian menarik tangan Sera.


“ Arian bisa marah jika tahu dia kita mengikutinya”


Alia membantu Eru dengan mengingatkan Sera yang emosi meski dengan nada datar agar tuan putri dunia jin itu bisa tenang.


“Baiklah”


Sera melembutkan nada bicaranya kemudian kembali duduk.


“Tapi, Aku akan kehilangan energi sihir nanti jika berjauhan dengan Arian.”


Sera meringis saat mengeluh kesal dan kepalanya kemudian ia sender kan pada bahu Eru.


“Makanya kita disini saja agar tuan Putri masih bisa menyerap energi manusia Arian tanpa menggangunya, lagi pula jarak ini sudah cukup” Eru menggengam tangan Sera demi menenangkan tuan putrinya sembari menyelipkan senyuman diantara perkataannya.


Ketiga gadis itu hanya bisa memerhatikan Arian yang terlihat bahagia meskipun ada sedikit rasa iri sehingga menciptakan keheningan karena mereka bertiga membisu, Eru pun yang sadar akan suasana tersebut agar tidak jenuh saat duduk di taman mencoba memecah keheningan dengan memulai obrolan pada Sera dan juga Alia, tetapi hanya Sera yang menanggapi, karena saat menoleh pada Alia  Eru kehilangan gadis pemburu jin itu yang barusan ada di sebelahnya.


“Aliaa!” teriak Sera saat melihat Alia yang sedang berjalan diam-diam mau menghampiri Arian.