
Tentu saja teriakan Sera yang sedang menarik dengan kuat tubuh Alia bisa di dengar orang sekitar taman di dekat mall apalagi Arian yang sedang berbincang santai dengan Reina, Arian menoleh sekilas karena menyadari jika teriakan itu berasal dari suara gadis yang dikenalinya sampai-sampai membuatnya menghela nafas panjang.
Arian yang mengetahui dari awal jika gadis-gadis dibelakangnya yang mampu ia lihat dan sedang bertengkar kecil-kecilan itu mengikuti mereka berdua untuk jaga-jaga agar tidak ada serangan jin lainnya.
Menunggu kemungkinan jin berukuran kecil yang menempel di tubuh Reina bangun dan membesar kembali, serta tentu saja demi Sera yang membutuhkan jarak dekat agar bisa menyerap energi Arian untuk sihir mempertahankan wujud.
“Aku tau mereka memiliki beberapa alasan untuk menguntit, karena ini bukan kencan melainkan misi jalan-jalan”
Kata Arian dalam hati saat memegang-megang dagunya.
“Tapi setidaknya jangan terang-terangan seperti itu juga menguntitnya” Arian menoleh lagi dan memerhatikan ketiga gadis yang sedang membuat keributan dibelakangnya dengan Alia dan Sera yang saling menyalahkan serta Eru yang berusaha memisahkan dengan emosi, kemudian menghela nafas panjang saat mengusap-usap wajahnya.
Reina yang sadar dengan teriakan Sera mencoba untuk ikut menoleh, namun usahanya itu dihentikan saat Arian mengambil tangan gadis itu dan menarik nya untuk pergi serta menjauh dari ketiga gadis yang membuat keributan kecil itu agar Reina tidak sadar jika sedang diikuti dan dipantau, demi membuat gadis yang ia sukai itu menikmati jalan-jalannya tanpa gangguan.
“Sini” kata Arian.
“Ada apa?” Reina pun terkejut saat menoleh pada Arian yang menariknya dengan berlari kecil.
Usaha Arian pun akhirnya membuahkan hasil dan membuat Reina yang mulai memelankan langkah lari kecilnya setelah lama berlari itu tidak tahu jika dirinya di ikuti untuk di pantau, Arian juga berhasil membawa reina ke jembatan yang agak jauh dari taman dan mall nya dan mulai memelankan langkah juga karena sadar dengan Reina yang mulai kelelahan.
Arian pun menghentikan langkah di tengah-tengah jembatan yang cukup sepi itu dengan pemandangan sungai kecil hulu dari danau taman tadi kemudian menatap pemandangan yang indah itu cukup lama hingga akhirnya tangannya di colek beberapa kali oleh Reina dan membuatnya tersadar dari terperangah karena melihat pemandangan sungai.
Reina menatap mata Arian dengan lembut saat tersipu ketika di tatap balik oleh Arian yang menyadari colekan tangan darinya, Reina pun mengalihkan pandangan dengan menoleh pelan kearah sungai kemudian dengan suara kecil berkata “Ta_tanganku.”
Arian memerhatikan telapak tangannya yang masih menggenggam erat telapak tangan Reina karena buru-buru hingga menjadi tak sadar menarik telapak tangan yang lembut itu begitu saja untuk kabur dari ketiga gadis tadi, Arian pun reflek melepas cepat genggaman tangan pada Reina dengan wajah yang memerah dan dada yang berdebar dengan perasaan gugup kemudian dia berkata saat memalingkan wajah juga
"Maafkan aku"
Beberapa saat setelah mereka berdua asik menikmati pemandangan, mereka berdua pun berinisiatif ingin memulai pembicaraan namun tidak ada yang berani memulai karena gugup saat hanya berdua saja di jembatan yang cukup luas ini, beberapa kali saling menoleh namun masih tidak ada yang berbicara.
“Terima kasih untuk hari ini” Reina pun akhirnya memecah keheningan pertama kali karena merasa dirinya benar-benar dibantu oleh Arian hari ini, bahkan kemarin dan sudah seharusnya melontarkan kalimat seperti itu untuk saat ini.
Arian memberi anggukan cepat nan kuat karena semangat menanggapi perkataan Reina.
Reina mengambil nafas untuk mengeluarkannya secara perlahan disaat mencerna maksud dari ketiga gadis di rumah Arian yang menyuruhnya jalan-jalan di hari ini kemudian melanjutkan perkataan.
“...Jika mungkin jalan-jalan kali ini untuk mengatasi kesialan yang aku alami selama satu minggu ini...”
Reina memutar tubuhnya dan kali ini benar-benar menghadap pada Arian memberikan senyuman yang tersirat seringai terimakasih di setiap sudutnya kemudian sedikit menundukkan kepala untuk melanjutkan perkataannya kembali.
“Sekali lagi aku sungguh berterima kasih”
Reina juga teringat akan bantuan Arian yang lainnya sejak pertama bertemu hingga sekarang selalu membantu dirinya yang kesulitan bagaimanapun kondisinya bahkan disaat teman-teman Reina tak mampu dan tak ingin membantu, meski sampai sekarang tidak mengetahui alasan Arian yang selalu bersedia dan selalu ada untuk membantunya Reina sangat senang jika ada laki-laki yang sangat berani dan selalu tanpa pamrih membantunya seperti Arian.
Karena memikirkan hal-hal bantuan dari Arian, keberadaan Arian didepannya pun membuat jantung Reina berdebar-debar sampai-sampai darah yang terpompa dari jantungnya yang merasakan denyut tak biasa itu memenuhi pipi dan telinganya hingga membuat sedikit memerah.
“Dan untuk selama ini karena selalu membantuku” Reina pun mengakhiri perkataannya dan mengangkat kepalanya untuk memandangi Arian sembari menjaga senyuman diwajahnya.
Arian hanya bisa tergagap dengan suara acak dan tidak jelas serta mengangguk-angguk cepat ketika kegugupannya menjadi-jadi karena ditatap dan diberikan senyuman oleh Reina padahal dirinya ingin sekali menanggapi perkataan gadis itu.
***
“Jin nya sudah lepas..”
Alia berkata dengan mata yang sembab karena air mata saat baru saja selesai membantu Eru memotong bawang merah, namun Reina yang ada di depannya itu tidak menanggapi apapun perkataan Alia karena tidak mendengar saat sedang berbincang dan tertawa bersama Sera dan Eru di dekat sana.
Mereka memulai pesta kecil-kecilan dengan memasak dahulu pada dapur Arian yang berada di luar di sore hari ini, Arian pun yang terlibat dalam kegiatan itu hanya bisa memandangi dengan hangat dan bahagia karena rumahnya ramai dengan canda tawa dari Sera, Eru dan Reina, bahkan dari Alia yang asik membantu memasak saat ia dekati.
“Ada apa?” Arian bertanya pada Alia yang masih memperhatikan jin pembawa sial berukuran kecil yang terjatuh di dekat kaki Reina dalam keadaan masih tertidur pulas.
Arian pun mengikuti arah tangan Alia yang tertuju pada jin yang lepas itu dan terbelalak karena lega saat tahu jika usaha dia dan ketiga gadis itu untuk membantu Reina berhasil.
“Lihatlah aura hitam itu” Alia berkata pada Arian saat arah telunjuk tangannya yang masih belum bergeming memutar-mutar ketika memperlihatkan Aura hitam menyerupai asap yang menyeruak keluar dan melayang kearah langit dari tubuh jin pembawa sial itu secara perlahan.
Alia kembali melanjutkan pekerjaan memotong bawang merahnya, diantara sesenggukan pada hidungnya dengan nada datar bersama air muka serius gadis pemburu jin itu berkata “Jin-jin dengan jenis sepertinya bagaikan jamur, akan terus menempel selama seseorang memiliki emosi negatif dan lepas karena dibersihkan oleh emosi positif.”