
Arian telah menerima keberadaan Alia setelah beberapa hari gadis itu berada di sekolah ini sejak pindah dari utara, tatapan kejam teman-temannya pun sudah menjadi makanan sehari-hari hingga membuat Arian sudah terbiasa apalagi Alia begitu agresif di banding Sera dan Eru dan selalu menempel pada Arian.
Sera dan Eru yang mengawasi Alia pun juga akhirnya menjadi lebih dekat dengan Arian. Rumor tentang Arian, Sera dan Eru yang merupakan cenayang pembasmi jin serta Alia yang isunya merupakan pembunuh namun telah ditaklukan oleh Arian karena menjadi begitu dekat dengannya lambat laun menyebar dari mulut Ivan ke seluruh penjuru kelas bahkan rumor tentang keberanian Arian yang mengajak Sera pergi kerumah kosong untuk melakukan hal nakal dari mulut Ivan pun juga ikut tersebar.
Tanpa Sadar akhir-akhir ini rumor tentang Arian yang terdengar gila dan seperti bohongan itu berpengaruh untuk dirinya sehingga membuatnya cukup disegani dan orang pun beberapa terakhir telah menghiraukan dirinya yang dikelilingi 3 gadis cantik dan memaklumi jika Arian yang sudah dinilai sebagai berandalan misterius nakal yang keren sudah wajar dikelilingi gadis cantik.
“Sebenarnya aku tidak ingin di nilai seperti itu”
Kata Arian dalam hati saat melirik teman-teman kelasnya itu karena sadar ada perlakuan berbeda terhadap dirinya selama ini.
“Tetapi aku bisa leluasa berkat rumor-rumor itu” Arian sedikit meregangkan tubuhnya saat duduk dan mengerjakan tugas ditengah pelajaran jam ke dua itu.
“Jadi tidak apa” arian tersenyum lega dan kembali melanjutkan tugas latihannya.
***
Sore hari setelah pulang bekerja paruh waktu Arian tidak menyangka jika Sera yang sudah lebih dekat dengan dirinya akhir-akhir ini berkat beberapa kejadian yang mereka alami bersama dan berkat Alia yang agresif dalam mendekatinya menunggunya di halte yang ada di depan toko alat tulis tempat dirinya bekerja sendirian karena Eru ada kegiatan di ekskul nya sore hari ini.
Arian yang memunculkan senyum di wajahnya yang bahagia setelah lelah bekerja mempercepat langkah kakinya sampai berlari kecil untuk cepat menemui Sera yang sudah setia menunggu karena tidak ingin membuat gadis jin yang sudah melakukan hal yang merepotkan itu menunggu lebih lama.
Rasa terimakasih Arian pun tersirat di wajahnya yang berseri-seri sembari tersenyum ramah meski terengah-engah ketika menghampiri Sera, Sera pun membalas senyuman ramah itu dengan manis serta mata indah yang berbinar. Gadis jin itu beranjak dari tempat duduknya di halte.
“Mau beli minuman?” tanya Sera saat berdiri sembari memangkul tas ransel nya kembali setelah di geletak cukup lama.
“Aku haus” Sera menyentuh tenggorokannya, setelah menyatakan perkataan yang menjelaskan dirinya yang butuh minum Sera yang masih memiliki rasa canggung pada Arian karena rasa aneh di hatinya selama ini kemudian melirik pada Arian yang sedikit berkeringat dan tampak lelah itu dan berkata “Kau juga kelihatannya”
“Tidak usah repo_” jawaban Arian yang ingin menolak karena merasa tak enak pada gadis yang sudah lama menunggu itu terpotong saat lengannya di genggam.
“Ayolah kau mau apa, aku yang bayarkan”
“Te_teh Dingin saja” Arian yang tersipu menjawab dengan tergagap, dan melepaskan genggaman tangan Sera.
“Tunggu disini ya” Sera memberikan senyuman manis pada Arian yang telah menurutinya kemudian berbalik untuk berlari kecil menuju mini market yang ada didekat sana.
Arian yang wajahnya memerah beberapa kali mencoba menenangkan diri dengan berpikir hal lain dan saat itu juga membuatnya memikirkan tentang keuangan Sera sebagai tuan putri yang tak pernah habis sejak tiba disini karena sering ditraktir oleh Sera hingga membuatnya mengagumi keuangan keluarga kerajaan jin.
Di tempat yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempat Arian berdiri di halte ada Reina yang sedang menjinjing tas belanja besar yang sudah penuh dengan sayur-mayur sehabis berbelanja untuk keperluan rumah dan berjalan cepat terburu-buru agar tidak dikejar malam hari, karena tahu jika dirinya sudah begitu lama di pasar karena mencari dompetnya yang hilang.
“Maafkan aku” Reina berkata saat menoleh pada ibu-ibu yang ditabraknya meski diacuhkan dan tak menoleh sama sekali padanya.
“Kenapa selama satu minggu ini aku sangat sial” suara Reina bergetar saat bergumam sembari memunguti sayurannya, tangannya pun juga gemetaran akibat rasa cemas akan mendapat hal buruk lagi setelah selama seminggu ini mendapat hal-hal sial yang begitu parah sampai memmbuatnya beberapa hari tidak masuk sekolah.
Mengalami cedera ringan karena di serempet motor, jatuh dari tangga, kehilangan kunci rumah dan kehilangan dompet seperti ini hingga hal-hal sial lain nya yang parah telah ditemuinya selama seminggu tanpa sedikit pun memberikannya waktu untuk beristirahat.
“Matanya pun berkaca-kaca” Saat menjinjing tas nya dia yang masih bergetar karena rasa cemas dan di lumuri isak tangis melangkah pelan kemudian menubruk seseorang.
“Maafkan aku” Sekali lagi Reina meminta maaf dan menoleh pada orang yang ia tabrak tetapi kali ini orang yang ia tabrak menanggapinya dengan tatapan kesal.
Laki-laki dewasa yang memiliki umur 30 tahunan bagi Reina itu mendengus dan menatap dirinya penuh sekujur tubuh dengan tatapan tajam kesal, Reina yang menyadari laki-laki yang penampilan nya seperti berandalan itu berjalan cepat demi meninggalkan laki-laki itu sebelum kesialan nya berlanjut dan terjadi sesuatu.
Saat di lewati oleh aroma harum parfum Reina laki-laki berandal itu mengubah wajahnya menjadi senyuman licik penuh nafsu tatapannya pun menjadi tatapan seekor kucing yang melihat ikan yang telah berada di dalam jangkauannya dia pun menarik lengan Reina dengan cukup kuat sehingga mampu membalikkan badan Reina untuk menghadap wajahnya.
“Nona cantik, apa kau pikir bisa pergi begitu saja setelah menabrak ku” laki-laki itu memberikan seringai lebar yang menakutkan untuk Reina.
“Reina” Arian secara otomatis berkata saat melihat seseorang yang ia kenali di kejauhan.
Untung saja meskipun agak jauh dari halte secara tak sengaja Arian mampu melihat keadaan Reina yang berhadapan dengan berandalan itu, tanpa pikir panjang dengan wajah yang cemas Arian pun berlari menuju tempat Reina yang terlihat kesulitan tersebut.
“Itu Reina” kata Arian lagi saat menambah kecepatan larinya.
Kali ini tangisan bertambah deras dan benar-benar pecah dia menangis sejadi-jadinya dan sialnya lagi karena menuju pergantian malam sudah jelas jalanan ini sepi tidak ada bisa yang membantu dirinya beberapa orang yang lalu lalang pun takut karena melihat begitu besar dan menakutkan nya berandalan yang menangkap Reina, Reina pun tersengal diantara tangisan nya dan memasrahkan diri atas apa yang terjadi pada dirinya.
“Inikah Puncaknya?” gumam Reina kesal dalam hatinya saat memejamkan mata karena ketakutan.
“Wah aku menginjak kotoran” dari kegelapan matanya suara seorang laki-laki terdengar dari belakang.
“Hahaha”
Tertawa palsu dari suara laki-laki itu membuat Reina pun membuka matanya, Reina menoleh pada orang yang menjadi sumber suara itu dan dia merasa lega jika yang datang adalah teman akrab satu kelasnya yaitu Arian dan saat itu juga dia tahu untuk sebuah upaya mengalihkan seorang berandalan teman laki-lakinya itu melakukan akting percakapan yang sangat payah.
“Aku sungguh payah, menginjak kotoran...” Arian terkekeh ketika menoleh pada Reina dan memberikan senyuman penuh harapan pada gadis yang disukainya itu.