
Setelah semua urasan selesai, Luffi langsung pergi menuju rumah sakit. Karena sudah terlalu lama dia berada di perusahaan, sedang kan Alice lagi menunggunya di rumah sakit.
°°°°
RS. HUSADA UTAMA.
Setelah sasampainya Luffi di ruangan inap, Luffi mendapatkan sambutan tidak baik dari Alice.
"Luffi, kenapa lama sekali? Bukankah kamu pergi hanya untuk mengundurkan diri saja dari perusahaan." Ucap Alice kesal karena Luffi terlalu lama, sehingga membuat dia terlambat untuk bertemu klien nya.
"Maaf, tadi ada sedikit masalah kecil dikantor, sehingga aku sedikit lama," ucap Luffi datar sambil mendekati anak perempuan nya.
Alice merasa jika Luffi hanya mencari alasan saja, sehingga membuat dirinya terlambat.
"Alasan saja kamu itu, yaudah aku pergi dulu, aku sudah terlambat. Jaga Clara, jangan melakukan hal bodoh lagi." ucap Alice ketus sambil melangkah pergi keluar ruangan.
Luffi hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan istri tercinta nya, dia melirik kearah Clara, sungguh sedih melihat keadaan buah hatinya semakin hari, semakin memburuk.
Luffi pun menelpon Candra, untuk mencarikan pendonor ginjal secepatnya, agar anaknya bisa cepat sembuh seperti sedia kala.
"Asalam mualaikum, Paman Candra tolong carikan pendonor ginjal untuk anakku." ucap Luffi dari telepon.
"Waalaikum salam, baik Tuan Luffi, pasti akan saya temukan secepatnya. Tuan Luffi, Tuan Ricky ingin bertemu dengan Tuan, kapan tuan ada waktu untuk bertemu dengan Tuan Ricky." Ucap Candra sopan.
"Nanti saja Paman, aku masih belum ingin bertemu dengan nya." ucap Luffi singkat, karena Luffi belum bisa memaafkan perbuatan ayahnya dulu.
"Tuan. Apakah Tuan Luffi tahu jika selama ini Tuan Ricky sangat menderita setelah kepergian Tuan dan Nyonya. Dia menyesali semua perbuatannya, setelah mendengar kabar bahwa Tuan Luffi berada di kota Cilegon, Tuan Ricky menyuruh saya untuk membangun perusahaan di kota ini. Alasannya agar menunggu waktu yang tepat untuk membujuk Tuan kembali." Ucap Candra menjelaskan kebenaran Tuan Ricky.
"Baiklah akan kita bicarakan lagi setelah anakku keluar dari Rumah Sakit," ucap Luffi sambil menutup telepon nya.
Luffi merasa bimbang dengan perasaannya saat ini, karena walau bagaimanapun berkat bantuan ayahnya dia bisa mengobati anaknya, bahkan nanti kedepannya ia tidak akan perlu khawatir lagi akan masalah keuangan. Tapi dia juga merasa benci, jika mengingat ingat kenangan pahit dimasa lalu, hingga membuat dia dan ibunya hidup menderita.
Luffi melihat Clara anaknya, dan akhirnya dia memutuskan untuk memaafkan ayahnya. Tapi itu ia lakukan demi keluarganya, karena walau bagaimanapun keluarganya lebih utama. Luffi merasa Istri dan Anaknya sudah cukup untuk merasakan pahit nya hidup miskin, dan kini sudah saatnya dia memanjakan keluarganya, sekaligus mengubur semua dendam di masa lampau terhadap ayahnya.
Tok Tok Tok !! suara ketukan pintu kamar membuyarkan lamunan Luffi. Terlihat Suster cantik datang untuk memeriksa keadaan anaknya.
"Permisi Pak, saya mau periksa keadaan pasien." Ucap Suster cantik pada Luffi.
"Silahkan Suster," ucap Luffi sambil memberi tempat agar suster memeriksa anaknya.
"Gimana keadaan anak saya, Sus." Ucap Luffi menanyakan keadaan Clara.
"Pasien hanya butuh perawatan intensif, sambil menunggu operasi ginjal, Pak." ucap Suster menjelaskan keadaan Clara.
"Suster tolong segera pindahkan anak saya keruangan VIP, dan berikan perawatan terbaik di rumah sakit ini, untuk anak saya." ucap Luffi pada suster cantik yang sedang mengecek keadaan Clara.
"Apa Bapak serius ingin memindahkan Pasien keruangan VIP?" Tanya Suster sedikit ragu.
"Serius Sus, bila perlu aku akan menyewa dua perawat terbaik untuk menjaga anakku." ucap Luffi tegas, karena dia paham jika suster ini ragu, karena sebelumnya Luffi pernah menunggak pembayaran rawat inap.
Luffi hanya mengangguk, lalu pergi menuju tempat administrasi. Setelah Clara berada di ruang VIP dan sudah ada perawat yang selalu menjaga anaknya, kini Luffi merasa lebih rileks, tujuan utama Luffi adalah kantin, karena sejak tadi dia belum makan apapun.
Didalam perjalanan menuju kantin, Luffi bertemu dengan kedua perempuan yang tak asing dimatanya. Laras dan Anissa berencana untuk menjenguk Clara, di dalam perjalanan dia bertemu Luffi sedang berjalan menuju kantin.
"Mau kemana kamu?Bukan kamu sedang menjaga Clara. Kenapa kamu meninggalkan Clara sendirian?" Laras merongos pada Luffi, karena dia pergi meninggalkan cucunya Clara.
"Dasar Lelaki tak berguna, disuruh menjaga anaknya saja malah keluyuran. Sedangkan kakak ku bekerja, suami macam apa kamu?" umpat Anissa memaki Luffi.
"Ini mertua sama adik ipar kompak amat ya, apa lagi pada PMS kali ya." gumam Luffi dalam hati sambil tersenyum.
Laras dan Anissa mengerutkan keningnya melihat kelakuan Luffi, bukan menjawab dia malah senyum- senyum sendiri.
"Aku mau cari makan dulu, Clara sedang tidur dikamar nya," ucap Luffi sambil melangkah meninggalkan keduanya.
"Dasar menantu kurang ajar, malah nyelonong pergi aja." Gumam Laras kesal.
"Kenapa dulu kak Alice mau sama Lelaki seperti itu. Hmm, untung pacarku tidak seperti dia." gumam Anissa dalam hati sambil menatap punggung Luffi.
Dikantin Luffi langsung memesan makanan favorit nya, nasi putih, semur jengkol dan ayam panggang. Menu special tiada tara, apalagi jika ada lalapan petey makin terasa maknyoos buanget.
Baru makan tiga suap, terdengar suara handphone berdering. Luffi mengecek siapa yang telah menelponnya, "Anissa bawel" ternyata adik ipar Luffi yang menelpon.
"Clara gak ada, cepat kamu kesini?" ucap Anissa dari telepon.
Luffi yang sedang makan hampir keselek karena mendengar ucapan Anissa.
"Clara sedang tidur, dia berada diruangan VIP lantai tiga, kamar nomer lima." Ucap Luffi sambil tertawa kecil.
"Apa? Diruangan VIP, darimana kamu nanti membayar biaya sewa kamar disana? Sudah pengangguran, pemboros pula." ucap Laras ketus melalui telepon Anissa.
Laras merampas handphone Anissa, setelah mendengar ucapan Luffi, bahwa cucunya di pindahkan keruangan VIP.
"Aku yang membayarnya, tidak akan minjam uang padamu, Bu." ucap Luffi melalui telepon.
Luffi ingat terakhir kali dia meminjam uang untuk biaya pengobatan kepada mertuanya, tapi bukan di kasih malahan Luffi di maki-maki oleh mertuanya. Sejak saat itu Luffi tak mau pinjam uang lagi, karena sakit hati.
"Lagi pula siapa yang mau meminjamkan kamu uang," ucap Laras ketus dan langsung menutup panggilannya.
"Dasar mertua Gila," umpat Luffi setelah terputus dari panggilan telepon.
Laras dan Anissa pergi menuju ruangan yang di beritahu oleh Luffi. Betapa terkejut nya mereka saat melihat ruangan mewah dan dua perawat cantik sedang menjaga Clara.
"Apa yang di fikirkan oleh Luffi, bagaimana dia akan membayar biaya sewa ruangan mewah seperti ini dan kedua perawat itu." Gumam Laras kesal karena Luffi terlalu bertindak sesuka hatinya.
"Uang darimana sehingga dia bisa menyewa ruangan semewah ini, Mah." Ucap Anissa yang ikut terkejut melihat ruangan mewah itu.
Mereka mengira kalau Luffi meminjam pada Rentenir, sehingga dengan mudah untuk Luffi mendapatkan uang sebanyak ini.