
Selamat membaca cerita MDB, jangan lupa untuk meninggalkan jejak , 👣. Like dan komentar setelah membaca cerita MDB ini.
"Ini baru hidangan pembuka, dan proyek ini hanya untuk menjebak mu. Ketika nanti Aku dapat kepercayaan dari pemilik saham yang baru, barulah aku akan membasmi Kamu dan suami Mu," gumam pak Asep dalam hati, sambil menatap kepergian Alice.
Seharusnya ini merupakan hari yang bahagia bagi Alice, namun siapa sangka jika pak Asep membuat suasana hatinya jadi berubah. Kini Alice mendapat proyek baru yang sangat sulit, membuat dia dalam masalah besar, jika nanti tidak mendapatkan proyek tersebut.
"Ini semua pasti gara-gara Luffi," umpat Alice dalam hati, dia merasa pak Asep sengaja melakukan ini, karena masih menyimpan dendam terhadap Luffi atas perbuatan dia waktu itu. Ketika memikirkan hal itu, Alice menjadi kesal pada Luffi dan menganggap Luffi adalah penyebab masalah ini.
Ketika Alice sedang serius mengerjakan misi barunya, tiba-tiba pak Asep datang untuk menghampirinya.
"Supervisor Alice, Kamu bukan karyawan biasa lagi sekarang. Kamu sudah berhak hadir dalam rapat penting perusahaan, jadi jangan terlambat besok!" pak Asep memberitahu agar Alice hadir dalam rapat dan mengingat-kan dia supaya tidak terlambat.
"Baik, Pak! Besok pukul 10:30 'kan?" Alice menjawab sekaligus ingin memastikan.
"Benar. Baguslah klo kamu sudah tahu," balas pak Asep sambil menganggukan kepalanya, lalu pergi dari tempat itu.
"Dasar wanita murahan! Lihatlah kemampuan Ku besok, Aku yakin jika pemilik saham baru ini pasti akan memberikan kepercayaan pada-Ku. Ketika itu terjadi, pak Alex tidak akan lagi berani meremehkan Ku dan melindungi kalian," pungkasnya dalam hati, dia merasa percaya diri. Karena sebagian banyak klien perusahaan ada di tangannya, pasti pemilik saham baru itu akan mempertahankan-nya.
°°°°
Hari berlalu, kini waktu yang sangat di tunggu-tunggu telah tiba. Seluruh karyawan bertanya-tanya, siapakah pemilik saham perusahaan yang baru ini?! Tidak ada yang tahu, kecuali pak Alex dan Sekertaris pribadinya.
Hal inilah yang membuat mereka semangat dan penasaran, terutama karyawan wanita yang berada di kantor itu. Ada yang berkata jika pemilik saham baru merupakan orang kaya dari luar negeri, ada juga yang berkata jika dia merupakan pembisnis kaya dari Kota besar di Negara I, dan ada juga yang berkata bahwa dia merupakan orang terkaya kedua di Kota Cilegon ini. Namun itu semua masih misteri bagi mereka, karena pemilik saham baru belum pernah datang ke perusahaan ini, menurutnya.
Berbeda dengan pak Asep, yang dari tadi berada di dalam ruangannya. Dia sedang menata diri, supaya terlihat rapih di acara rapat manajemen nanti. Dia terlihat semangat demi ingin mendapat kesan baik dari pemilik saham baru itu.
Alice pun tidak kalah semangatnya, dia juga tidak ingin terlihat buruk saat nanti bertemu dengan pemilik saham baru itu, dan juga ini merupakan penampilan perdananya untuk mengikuti acara rapat manajemen.
Pukul 10:00 semua manajer dan supervisor bersiap-siap untuk menuju ruangan rapat itu, termasuk pak Asep dan Alice. Di perjalanan Alice bertemu dengan Luffi, melihat suaminya berada di kantor Alice percaya kalau Luffi masih bekerja sebagai satpam di kantor itu.
Namun sekarang dia sudah naik jabatan menjadi Supervisor, Alice hanya menatap cuek Luffi, lalu melewatinya. Dia malas jika harus berdebat dengan Luffi saat ini, karena sebentar lagi akan ada rapat penting, jadi dia harus terlihat fresh dan tenang.
Luffi pun hanya tersenyum melihat kelakuan istrinya. Bagi Luffi, Alice pasti mempunyai alasan melakukan semua ini. Namun tiba-tiba Luffi berhenti, karena pak Asep menghadang perjalanan dia. Tatapan mereka bertemu saat itu, pak Asep menatap Luffi dengan hina dan Luffi menatap pak Asep dengan dingin.
"Hai bocah, buat apa berpura-pura di hadapan, Ku?" balas pak Asep tersenyum mengejek.
"Apa Kamu tahu Bocah, hari ini, hari apa?" tanya pak Asep sambil menyipitkan matanya.
Luffi menaikan kedua bahunya, sebenarnya dia mengerti maksud pak Asep terhadapnya. Namun bagi Luffi pak Asep hanyalah se-ekor semut, tidak pantas bersaing dengannya. Jadi sejak awal Luffi tidak pernah menanggapi dia dengan serius, hanya untuk bermain-main saja.
"Memangnya, ada apa dengan hari ini?" balas Luffi seperti orang idiot.
Pak Asep semakin geram melihat tingkah konyol Luffi, namun dia mampu menahan emosinya dulu. Baginya Luffi hanyalah seorang sampah yang harus segera dibuang, karena setiap bertemu dengannya dia merasa jengkel dan kesal, akibat kejadian waktu itu.
"Ini adalah hari pertama bagi pemilik saham baru itu bekerja. Dan pastinya pak Alex bukan lagi seorang Direktur di perusahaan ini, Aku penasaran, apakah Kamu masih bisa bekerja lagi disini jika tanpa perlindungan dari pak Alex?" ucap pak Asep sambil tersenyum mengejek Luffi.
"Oh... Lalu Aku harus bilang, wow gitu!" ejek Luffi sambil tertawa.
"Jangan sombong dulu Kamu, hanya karena pak Alex melindungi, Mu. Kamu pikir Aku tak bisa membasmi, Mu! Lihat saja jika aku sudah mendapatkan kepercayaan dari pemilik baru saham ini, aku pastikan Kamu akan keluar dari perusahaan ini," hardik pak Asep dengan penuh emosi.
Luffi terkejut mendengar ucapan pak Asep, dia merasa ini adalah lelucon terlucu yang dia dengar. Bagaimana tidak lucu, pak Asep ingin mencari perhatian lebih dari pemilik saham baru yaitu dia sendiri, hanya untuk mencelakai dia. Apakah ini bukan lelucon, menurut Luffi.
"Oh... Semoga Kamu berhasil mendapatkan kepercayaan dari pemegang saham baru itu," ucap Luffi sambil tersenyum mengejek, lalu pergi meninggalkan pak Asep.
"Lihat saja nanti, kamu pasti akan memohon dan bersujud di bawah kaki, Ku untuk minta maaf! Namun apakah kamu pikir di saat itu aku akan memaafkan, Mu? Seorang sampah seperti, Mu tidak pantas mendapatkan kata maaf dari, Ku! Tunggu saja..." teriak pak Asep dengan nada marah.
"Baiklah! Ku tunggu ucapan, Mu! ucap Luffi tanpa menoleh sambil melambaikan tangan.
Pak Asep hatinya merasa gondok, ketika melihat kelakuan dan sikap Luffi. Seolah-olah dia tidak takut dengan ancaman darinya.
"Luffi, kenapa Kamu tidak datang ke pos satpam, untuk absen terlebih dahulu?!" ucap pak Joko menegur Luffi dengan nada tegas. Kebetulan pak Joko ingin pergi ke ruangan rapat itu, dan bertemu Luffi di atas.
Pak Joko merupakan kepala di bagian keamanan, karena Luffi masih terdaftar di bagian keamanan jadi dia menegur Luffi.
Luffi pun berhenti mendengar teguran pak Joko. Lalu dia berkata, "Kenapa? Apa Kamu ingin memecat, Ku? Silahkan jika Kamu bisa!"