My Dad Is Billionaire

My Dad Is Billionaire
Pergi Berbelanja Di Mall III



"Apakah dia bodoh? jelas pria itu sangat kaya, dia mau melawan pakai apa? Apa dia tidak sadar dengan kemampuan nya.


Dasar kakak ipar tak tahu diri, jika ingin mempermalukan diri sendiri kenapa harus didepan anaknya." Gumam Anissa mengutuk Luffi dalam hati.


"Clara cantik, kita beli bajunya di Toko lain aja yuk, nanti Tante akan belikan Clara dua stel, gimana Clara mau?" ucap Anissa membujuk Clara agar pergi dari Toko pakaian ini.


"Benarkah Tante," ucap Clara tersenyum pada Anissa.


Anissa hanya mengangguk pelan, lalu Clara menarik tangan Luffi.


"Ayah ayo kita cari di Toko lain saja bareng Tante," ucap Clara sambil menggoyangkan tangan Luffi.


Clara memang tidak mengerti percakapan orang dewasa, tapi Clara merasakan bahwa mereka sedang bertengkar dengan ayahnya.


"Kak Luffi, apakah kamu sungguh ingin Clara melihat dirimu di permalukan? Mungkin kamu boleh di permalukan, tapi jangan biarkan Clara melihat adegan ini," Anissa merasa jengkel pada Luffi, karena Luffi masih keras kepala.


"Clara menyukai baju ini, jika aku tidak dapat memuaskan keinginan anakku, apakah pantas aku sebagai Ayahnya?" ucap Luffi sambil menggandeng tangan Clara.


"Apa maksud, mu? Apakah kamu juga ingin membelikan Clara enam set pakaian? Karena jelas itu yang di inginkan mereka," Anissa makin kesal dengan sikap Luffi.


"Anak muda, lebih baik kamu pergi dengarkan dengarkan ucapan adik ipar, mu. Lebih baik Menilai kemampuan dirimu terlebih dahulu, kalau tidak setelah dipermalukan olehku, kamu tidak berani keluar," ucap pria kaya puas melihat Anissa yang ketakutan.


"Benar, jangan memaksakan diri kalau kamu tidak mempunyai kemampuan. Ada papatah mengatakan, Boleh b**ergaya jika kau punya kemampuan, tapi kalau tidak ada berarti itu perbuatan bodoh" ucap Wanita kaya tertawa mengejek.


"Apa Clara menyukai semua pakaian yang ada di Toko ini?" tanya Luffi pada anaknya, tanpa mempedulikan dengan ucapan orang kaya itu.


Clara hanya mengangguk, menjawab ucapan Ayahnya, Luffi tersenyum kecil mendapatkan jawaban anaknya.


"Baiklah kalau begitu Ayah akan membelikan semuanya untuk, mu." Ucap Luffi sambil mengelus- elus kepala putri kecilnya.


"Benar kah Ayah.. Horee," ucap Clara bahagia mendapatkan banyak pakaian yang baru.


Anissa tercengang mendengar ucapan Luffi,


"Membeli semuanya? Apa dia pikir dia kaya? Benar- benar sudah gila," pikir Anissa merasa Luffi sudah tak waras.


"Kak Luffi, jika kamu tidak mau mendengarkan nasihat ku, aku akan langsung menghubungi kakak, ku." ucap Anissa kesal, sambil ngambil handphone dari dalam tas, nya.


"Hebat sekali kamu anak muda, aku beri nilai sempurna untuk, mu. Jika kamu mampu beli semua pakaian di Toko ini, aku akan berlutut meminta maaf padamu, hahaha." ucap pria kaya itu tertawa terbahak- bahak mendengar ucapan Luffi.


"Aku juga sama, akan berlutut sambil menjilati sepatu, mu. Jika kamu mampu membelinya," ucap Wanita kaya tertawa mengejek Luffi.


"Aku takut kalian yang akan menangis setelah ini," ucap Luffi sambil tertawa dingin menatap mereka. lalu menoleh kearah pelayan wanita berambut pendek, yang dari tadi hanya diam saja.


"Pelayan, hitung Total harga semua pakaian yang berada di Toko kalian, aku akan membeli semuanya," ucap Luffi pada pelayan wanita berambut pendek itu.


"Hah.. Sungguh membeli semuanya?" pelayan itu terkejut, lalu segera menghitung jumlah total harga semua pakaian, termasuk pakaian yang di bungkus untuk wanita kaya itu.


Tapi Luffi mengacuhkan nya, lalu menatap kearah pelayan wanita berambut pendek itu.


" Seratus lima juta, baik aku bayar via kartu. Semuanya aku hitung untuk, mu." ucap Luffi sambil berjalan menuju kasir.


"Sial, apakah sungguh sanggup dia membeli nya?" gumam sepasang orang kaya itu, karena melihat penampilan Luffi, mereka ragu jika Luffi mampu untuk membeli semuanya.


"Tuan anda membeli begitu banyak, aku akan memberikan diskon empat juta, Tuan cukup membayar seratus juta saja," ucap pelayan itu menahan rasa semangat di hatinya, karena ia akan mendapatkan bonus besar.


Luffi merogoh kantong celana dan mengambil dompet nya, namun ia baru sadar jika kartu ATM utamanya tertinggal dirumah.


"Astagfirulloh, kartunya tertinggal dirumah, sial banget" gumam Luffi saat melihat isi dompet nya.


"Ada apa? Apakah anda terlalu memaksakan diri, mohon segera di bayar," ucap pelayan wanita yang pertama, melihat raut wajah Luffi dia tahu bahwa Luffi tak mampu untuk bayar.


Sepasang suami istri itu akhirnya bisa untuk menghela nafas, melihat Luffi yang sangat pecaya diri, membuat mereka berdua terkejut.


Karena mereka telah mengeluarkan kata akan berlutut untuk meminta maaf dan satunya lagi akan berlutut sambil menjilati sepatu Luffi.


Walaupun belum tentu mereka melakukan hal seperti itu, tapi itu akan sangat memalukan bagi mereka.


"Aduh ternyata kamu pintar berakting anak muda, apa kamu kira kartu identitas dirimu adalah kartu ATM?" ucap pria kaya mengejek Luffi.


"Tadi aku mengingatkan, mu. Jika orang yang mampu bergaya adalah orang kaya dan keren, tapi kalo kamu, itu hanya mempermalukan diri sendiri," ucap Wanita kaya tersenyum sinis mengejek Luffi.


"Clara ayo kita pergi dari sini," ucap Anissa ingin mengajak Clara, dia merasa kesal dan ingin sekali memarahi Luffi, karena membuat malu dirinya sendiri depan umum.


"Gak mau, aku mau sama Ayah," ucap Clara sambil menarik ujung baju Luffi.


"Kak Luffi, kapan kamu akan membawa Clara pergi setelah dipermalukan begitu lama?" ucap Anissa sinis sambil menatap Luffi.


"Astaga, mungkin kakak iparmu senang jika di rendahkan dan di permalukan orang," ucap Roni sambil menatap hina Luffi. ia merasa puas melihat Luffi dipermalukan di depan umum.


"Ayo Anissa kita pergi saja, kakak iparmu sudah tidak tertolong lagi, jangan biarkan orang lain mengira kita datang bersamanya," ucap teman wanita Anissa sambil menatap rendah Luffi.


Raut Wajah Anissa mulai memerah seperti api dia sudah sangat emosi. Jika hanya Luffi saja yang sedang di permalukan, mungkin ia tidak perduli. Tapi ia perduli pada Clara, walaupun Luffi dianggap tidak berguna oleh keluarganya tapi mereka semua sangat menyayangi Clara.


"Tuan apakah anda lupa membawa kartu ATM nya?" tanya pelayan wanita berambut pendek pada Luffi.


"Iya, tunggulah sebentar saya akan menyuruh orang, untuk membawakan nya." jawab Luffi.


Anaknya sangat menyukai baju itu, jadi Luffi harus membelikan nya, dia tidak masalah jika banyak orang yang mempermalukan dirinya.


"Apa kamu bodoh, Irma?" ucap pelayan wanita yang pertama kepada pelayan wanita yang berambut pendek itu.