My Dad Is Billionaire

My Dad Is Billionaire
Meminta Maaf



Melihat Luffi menatap kearah mereka, kedua pasangan Suami Istri itu merasa ketakutan, bukan masalah perjanjian atau gengsi yang ia takuti, tapi siapa sebenarnya pemuda yang berada di depannya, jika memang dia adalah orang penting di perusahaan Candra Asri, maka bukan hal mustahil untuk pemuda itu membalas dendam padanya.


Karena jika Luffi membicarakan masalah ini, maka sejumlah orang yang ingin mendapat kepercayaan dari Luffi akan mencelakainya, bahkan membuat ia miskin pun, bukan suatu hal yang mustahil dapat dilakukan bawahan Luffi.


Luffi ingin menagih janji pada mereka yang sejak tadi hanya mengejek dan merendahkan Luffi, tapi sekarang melihat ekpresi mereka bagaikan Semut menatap Gajah.


Kedua orang kaya ini telah salah karena memprovokasi Luffi, tapi nasi telah menjadi bubur. Setiap semua perbuatan pasti akan mendapatkan ganjaran nya, kini mereka akan merasakan apa yang telah ia lakukan.


"Aku masih ingat, tadi kalian berkata jika aku mampu membeli semua pakaian yang berada di Toko ini, kalian akan berlutut meminta maaf padaku dan menjilati sepatu ku, apa kalian sudah lupa?" ucap Luffi dengan nada dingin, membuat mereka semakin ketakutan.


Sepasang Suami Istri itu bergidik ketakutan, apa yang ia takuti akhirnya terjadi.


"Tuan Luffi, maafkan aku karena aku tidak bisa melihat dengan baik," ucap pria kaya itu gemeteran menahan rasa takut.


"Tuan Luffi maafkan kami, karena tidak seharusnya kami merebut pakaian itu darimu, kami tahu jika kami bersalah mohon maafkan kami," ucap Wanita kaya itu dengan wajah pucat.


Tidak tahu seberapa besar pengaruh pada anaknya, jika wanita itu menjilati sepatu Luffi di depan anaknya. Jadi pasangan suami istri itu memohon, agar Luffi melepaskan nya.


Mereka tidak berani lagi menyombongkan diri, setelah mengetahui kalau kemungkinan Luffi merupakan orang penting di perusahaan Candra Asri.


Perusahaan Candra Asri adalah perusahaan terbesar di Kota Cilegon, pemilik perusahaan itu Bernama Pak Candra, dia bahkan masuk kedalam daftar orang terkaya sedunia dengan posisi teratas.


Mereka tidak berani mengganggu orang penting dari perusahaan itu, Anissa menatap pasangan pasutri sombong itu dengan hina, setelah melihat raut wajah mereka ketakutan melihat Luffi.


"Apa mereka harus ketakutan begitu, setelah mengetahui Luffi mengenal Bos CCM ini," gumam Anissa karena penasaran.


Anissa sangat penasaran, kenapa Luffi yang mereka kenal sebagai orang tak berguna, bisa mengenal Pemilik Cilegon Central Mall ini.


"Berani sekali kalian berebut pakaian dengan Tuan Putri Kecil, siapa yang memberi kalian keberanian sebesar itu?" Pak Suhendar emosi setelah memahami keadaannya.


"Tuan Putri Kecil! Apakah pemuda ini adalah putra dari pemilik perusahaan Candra Asri?" ucap pria kaya itu terkejut bukan kepalang, ekspresi wajah nya berubah semakin buruk.


"Direktur Suhendar, maafkan kami yang tidak bisa melihat dengan baik identitas Tuan Muda Luffi, kami memang pantas untuk mati!" ucap pria kaya itu dengan wajah sedih merasa bersalah.


Sebenarnya pria kaya ini mempunyai perusahaan tidak terlalu besar, namun di hadapan Pak Suhendar kekayaan nya bukan lah apa-apa. Apalagi jika dibandingkan sama Luffi, bagaikan langit dan bumi.


"Minggirlah," ucap Luffi sambil menyingkirkan mereka.


"Semoga ini menjadi pelajaran untuk kalian, agar kedepannya kalian tidak merendahkan orang lain lagi," Luffi sebenarnya kesal kepada pasangan pasutri sombong itu, tapi dia masih memandang anak perempuan mereka.


Anak perempuan pasutri itu terlihat seumuran dengan Clara anaknya, saat ini anak kecil itu memandang kedua orang tuanya bingung.


"Terima Kasih Tuan Luffi, Terima Kasih Tuan Suhendar," ucap kedua pasangan suami istri kaya itu.


Mereka merasa bersyukur karena Luffi tidak memperpanjang masalah ini, walaupun malu tapi hanya dia yang merasakan, tapi jika Luffi memperpanjang nya, maka bukan hanya dia saja yang malu di depan umum, melainkan berdampak bagi anaknya juga.


Sambil Memberi Hormat mereka pergi keluar dari Toko pakaian mewah itu, pelayan Toko telah selesai membungkus 30 set pakaian anak perempuan, kemudian pelayan wanita yang pertama, meminta maaf pada Luffi.


"Tuan, maafkan aku, atas sikap ku tadi, aku sudah salah karena meremehkan orang lain," ucap pelayan wanita pertama karena takut jika Pak Suhendar akan memecat nya.


"Terserah kamu saja, suruh orang mengantar semua barang ini kerumah saya sore ini," ucap Luffi sedikit kesal, karena merasa jengkel pada sikap pelayan tersebut, tadi.


"Terima kasih Tuan Luffi atas kebaikan anda, berikan alamat rumah anda Tuan, biar nanti aku akan mengantarkan nya," ucap pelayan itu merasa lega dan senang, karena mereka akan mendapatkan bonus, karena semua barang telah terjual habis dalam 1 hari.


Setelah memberikan alamat rumah, Luffi ingin mengajak Clara untuk pergi ke arena Time Zone, di lantai tiga.


Anissa merasa penasaran pada Luffi, lalu berpamitan kepada Roni dan teman- teman wanita nya. Kemudian mengejar Luffi dan Clara.


"Kakak ipar, bagaimana kamu bisa mengenal Pemilik Cilegon Central Mall ini, kak?" ucap Anissa ramah dan sopan pada Luffi.


Mungkin setelah sekian tahun lamanya, inilah pertama kalinya Anissa memanggil Luffi dengan sebutan Kakak Ipar.


"Aku tidak mengenalnya, tapi dia yang telah mengenalku," ucap Luffi datar pada adik ipar nya.


Mendengar ucapan Luffi, Anissa merasa kesal karena Luffi hanyalah seorang Satpam, mana mungkin Orang Kaya seperti Pak Suhendar ingin mendekatinya hanya untuk mencari kepercayaan dari Luffi. Jelas jika Luffi adalah orang yang berkhayal tinggi, namun Anissa menahan emosi nya karena masih memiliki sesuatu yang dia ingin kan.


"Oh iya, Kakak Ipar, aku ingin membeli pakaian tapi harganya 35 juta, itu terlalu mahal, Kak. Apakah Kakak Ipar mau meminjamkan kartu VVIP itu padaku?" ucap Anissa menggoda Luffi, sambil tersenyum manis.


Anissa tadi sempat mendengar ucapan Pak Suhendar, jika dengan kartu VVIP, dia dapat membeli apapun yang ada di CCM ini, tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun, jadi ia ingin meminta Luffi untuk membelikan baju itu.


"Ambillah, pakai kartu ini," ucap Luffi tenang sambil memberikan kartu VVIP itu pada Adik Ipar nya.


Luffi mengetahui jika tagihan kartu itu akan di gesek di akhir bulan, jangan kan 35 juta, jika habis 500 juta pun Luffi tak masalah, karena bagaimana pun Anissa merupakan Adik Ipar nya.


"Terima Kasih Kakak Ipar," ucap Anissa sambil tersenyum bahagia, langsung mengambil kartu VVIP itu dari tangan Luffi.


"Clara Tante mau beli baju dulu," ucap Anissa sambil mencium pipi imut keponakan nya.


Melihat tingkah aneh Adik Ipar nya, membuat Luffi menggelengkan Kepala lalu pergi dengan Clara ke tempat permainan.


°°°°