
"Itu ... Bukankah Luffi," gumam pak Joko dalam hati, saat pandangan dia tepat ke arah Luffi.
Terlihat Luffi sedang duduk sambil bermain handphonenya seorang diri.
Sebelumnya Luffi sudah menyuruh Rendi untuk pergi meninggalkannya, karena dia merasa jika pak Joko sedang mencari se-seorang, dan kemungkinan orang itu adalah Rendi. Meskipun hanya dugaan saja, tapi dia yakin karena Rendi mengetahui informasi itu.
"Sedang ngapain dia disini?" gumam pak Joko dalam hati sambil berpikir.
Pak Joko merasa ada yang janggal dengan kehadiran Luffi di kantin. Namun pak Joko melihat Luffi hanya sendiri, dengan penasaran dia pun menghampirinya.
Tap Tap Tap!
"Sedang apa Kamu disini?!" tanya pak Joko dengan nada tidak senang.
Luffi yang sedang asyik bermain game poker di handphonenya, langsung menoleh ke arah pak joko.
"Keliatannya, Aku sedang apa?" sahut Luffi ketus, lalu kembali memainkan handphone.
"Sialan, berani sekali dia nyuekin gue," umpat pak Joko dalam hati.
"Bukannya Kamu masuk sif dua, harusnya jam tiga Kamu baru datang. Tetapi kenapa Kamu sudah berada di kantin jam segini?!" tanyanya karena merasa janggal.
Luffi menaruh handphonenya di atas meja, dia menatap sinis ke arah pak Joko.
"Suka-suka dong! Emang ini perusahaan punya Bapak moyangmu?" sahut Luffi dengan nada mengejek.
"Haha ... Berani sekali Kamu bicara begitu pada atasanmu?! Jangan karena Kamu dapat perlindungan dari Pak Alex, terus Kamu bisa se'enaknya di kantor ini-!" hardik pak Joko sambil tertawa mengejek.
Luffi tersenyum kecil mendengar ucapan pak Joko, dia pun langsung bangkit dari duduknya dan berdiri berhadapan dengan pak Joko.
"Oh, yah! Apa menurutmu begitu?" sahut Luffi sambil menyipitkan mata, menatap pak Joko.
"Kurasa Kamu sudah terlalu meninggikan Pak Alex di hadapanku, bagiku dia hanyalah pion penting di perusahaan ini," lanjut Luffi sambil tertawa mengejek.
Pak Joko merasa terkejut mendengar ucapan Luffi yang sombong, "Kalau dia hanyalah pion bagimu, berarti Kamu adalah Bos perusahaan ini. Haha ... Kamu sedang bermimpi, mending sekarang Kamu pulang ke rumah lalu bangun dan mandi," ucap pak Joko dengan tertawa cekikikan.
"Kamu pikir, Aku percaya? Kamu itu hanyalah pria rendah, menjadi petugas keamanan saja itu sudah beruntung," lanjutnya sambil tertawa mengejek.
"Oh ... Itu bukan urusanku, Kamu percaya atau tidak! Lebih baik Kamu urusin, urusanmu dulu jangan mengurusiku!"
Luffi mengambil handphone dari atas meja, lalu pergi meninggalkan pak Joko. Meskipun dia ingin sekali membuatnya malu, tapi dia menahan diri terlebih dahulu. Karena bakalan lebih seru jika pak Joko melihatnya langsung nanti, saat di ruangan pak Alex.
°°°°
Ceklek!
"Mari ikut denganku!" tegur Rendi dengan nada dingin pada pak Asep.
Pak Asep merasa terkejut, lalu menatap Rendi dengan penuh emosi. Terlihat dari wajahnya yang sudah memerah seperti terbakar bara api.
"Apa-apaan ini? Kamu berani masuk ke dalam ruanganku dan ingin membawaku! Kamu pikir siapa dirimu?!" bentak pak Asep dengan nada tinggi merasa tidak senang.
"Kamu mau ikut denganku secara baik-baik, atau dengan cara kekerasan?!" tanya Rendi dengan wajah sangar.
Mimik pak Asep berubah drastis, dia merasa ketakutan melihat wajah Rendi yang sangat sangar.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanyanya dengan nada tertahan, karena takut.
"Bukan urusanmu! Nanti Kamu juga tahu sendiri siapa dia," sahut Rendi dengan wajah yang lebih di sangarkan.
°°°°
Di dalam ruangan pak Alex.
Luffi merubah penampilan dia menjadi sosok pria misterius yang telah di ketahui oleh para karyawan perusahaan.
"Kenapa dia belum tiba?!" tegur Luffi pada pak Alex, sambil menikmati hidangan yang berada di atas meja.
"Mungkin, sebentar lagi Tuan Luffi," sahut pak Alex dengan sopan.
"Hmmp ..." Luffi hanya mengangguk pelan.
"Sudah jam segini, kenapa belum datang juga. Cepat suruh Sekertaris yeni ke sana! pastikan dia tidak membuat alasan untuk tidak datang ke sini," ucap Luffi memberi perintah pada pak Alex, untuk menyuruh Sekertaris pribadinya.
"Baik, Tuan Luffi!" pak Alex bangkit dari sofa, dia ingin pergi keluar ruangan untuk menyuruh Sekertaris pribadinya.
Tok Tok Tok ...!
Terdengar suara ketukan pintu, saat pak Alex baru berada di balik pintu tersebut.
Ceklek ...!
Pak Alex langsung membuka pintu itu dengan penuh harapan, jika yang datang adalah pak joko. Namun, ternyata Sekertaris yeni yang berada di balik pintu tersebut.
"Ada apa yen?" tanya pak Alex singkat.
"Maaf Pak, jika Aku mengganggu," sahut yeni dengan raut wajah yang kurang baik.
"Kenapa wajahmu begitu? Sebenarnya ada apa?!" tanya pak Alex dengan antusias.
"Hmm ... B-begini Pak." Sekertaris itu merasa ragu untuk menjelaskan pada pak Alex.
Setelah memberanikan diri, akhirnya dia pun menjelaskan, "Tadi Pak joko telepon melalui resepsionis, dia bilang ingin pergi keluar dulu karena ada urusan. Jadi dia menunda untuk bertemu dengan anda," ucap yeni menjelaskan pada pak Alex.
Pak Alex mengerutkan keningnya, "Apakah kamu memberikan izin padanya?!" wajah pak Alex terlihat jelek, seperti menahan emosi.
"Dimana dia sekarang? Biar Aku saja yang ke sana, dan membawanya kemari," tanya pak Alex dengan nada tinggi.
"Tidak perlu ...!" Terdengar suara lantang dari kejauhan.
Pak Alex dan Sekertaris yeni melirik kearah suara tersebut, mereka merasa terkejut saat melihat pak Asep dan pak Joko sedang di kandar oleh seorang pria muda.
"Siapa orang itu, tapi dari pakaiannya terlihat kalau dia adalah petugas keamanan di kantor ini," gumam pak Alex pelan sambil menatap kearah pemuda itu.
Ketika Rendi membawa paksa pak Asep, dia tidak sengaja bertemu dengan pak Joko di depan ruangan pak Asep.
Pak Joko awalnya ingin meminta bantuan pada pak Asep, supaya bisa memberikan dia waktu untuk tidak bertemu dengan pak Alex. Namun ternyata nasib berkata lain, karena Rendi dengan bringas memaksa keduanya untuk menemui Luffi yang berada di ruangan pak Alex.
"Cepat masuk!" gertak Rendi dengan nada tinggi sambil mendorong keduanya ke dalam ruangan itu.
Pak Alex melongo sesaat melihat kelakuan pemuda itu, setelah tersadar dia pun ikut masuk ke dalam ruangan.
Gedublag ...!!
Pak Asep dan pak Joko tersungkur di lantai, karena dorongan keras dari Rendi.
Luffi tersenyum kecil melihat kelakuan kawan-nya kepada dua orang yang sudah berbuat buruk terhadap istrinya.
Luffi tidak menyangka jika Rendi mampu membuat kedua orang itu tidak berdaya saat melawannya, padahal dulu pak Joko adalah mantan seorang ahli beladiri sabuk hitam, sebelum bergabung di perusahaan ini.
Rendi melihat orang di hadapannya tersenyum, dia pun mengetahui jika orang itu adalah Luffi. Kemudian dia berkata, "Apa Aku terlihat berlebihan, Kak?" tanya Rendi pada Luffi seperti sedang bergurau.
"Kakak!"
Semua orang yang mendengar ucapan Rendi merasa terkejut di buatnya.
°°°°
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak, like dan komentar di bawah ini. Terima Kasih!!