
Luffi tertawa mendengar ucapan Joko, dia menatap Joko dan Asep lalu berkata.
"Hanya Wakil Direktur perusahaan kecil saja ingin mencoba mengalahkan aku? Oi Joko, kamu tidak sedang melawak kan padaku?" ucap Luffi sambil terkekeh.
Raut wajah Joko berubah seperti menahan emosi, mendengar ucapan Luffi yang sombong, membuatnya mendengus kesal. Berbeda dengan Asep, dia malah tersenyum mendengar ucapan Luffi.
"Walaupun aku hanya wakil direktur kecil, namun ucapan ku, mampu untuk memecatmu dengan mudah. Bahkan tidak memberikan gaji dan uang jaminan itu adalah tujuan ku.
Jika memang kamu mampu bertarung dengan ku? Cobalah kamu ambil gaji dan uang jaminanmu pada pak Alex, serta bujuk pak Alex untuk tidak memecatmu." ucap Asep dengan sombong.
"Sungguh sombong dirimu Asep," terdengar suara yang sangat dikenal oleh seluruh karyawan, bahkan Asep juga sangat hormat padanya.
Semua orang yang berada dilantai satu menengok kearah suara tersebut, termasuk Asep. Terlihat Bos pemilik perusahaan keluar dari lift dan berjalan menghampiri mereka dengan wajah penuh dengan emosi yang membara.
Alex berhenti di depan Asep dan Luffi, dia melihat Luffi dengan wajah ketakutan, lalu melirik kearah Asep dengan penuh emosi.
"Kamu telah melakukan perbuatan yang salah, cepat minta maaf pada pak Luffi." Ucap Alex emosi, dengan nada suara tingkat dewa.
"Beraninya kamu memecat karyawan yang rajin dan giat bekerja, seperti pak Luffi. Cepat minta maaf, atau kamu akan kehilangan jabatan mu." Ucap Alex mengancam Asep.
Sebenarnya Alex baru mengetahui siapa yang berada dibelakang Luffi, sehingga membuat ia ketakutan dan berinisiatif untuk meminta maaf pada Luffi.
°°°°
Flash back!!
Setelah Luffi keluar dari ruangan Alex, Candra menelepon Alex. Candra memberitahu Alex kalau Tuan mudanya sangat marah dengan Alex, jika Alex ingin menyelamatkan perusahaannya, jalan satu-satu nya cara adalah meredamkan emosi tuan mudanya.
Alex pun terkejut, raut wajahnya langsung berubah pucat seketika, setelah mendengar kabar buruk dari seorang pengusaha terkaya di cilegon. Alex tak menyangka jika status Luffi benar-benar tidak bisa di remehkan oleh nya, apalagi setelah dia tahu, bahwa Candra merupakan orang dibelakang Luffi.
Alex langsung pergi keluar ruangan, dengan tergesa-gesa ia ingin segera mengejar Luffi. Sesampainya dilantai satu, dia melihat Asep dan karyawan yang lainnya sedang menghina dan mengejek Luffi, karena itulah membuat Alex menjadi emosi pada Asep.
°°°°
Asep tercengang mendengar ucapan Alex, dia merasa jika Luffi melakukan sesuatu kepada Alex, sehingga Alex datang untuk membela dirinya. Namun apalah daya Asep jika yang berbicara adalah Alex, yang merupakan bos atau pemilik perusahaan ini. Dengan rasa malu dan kesal Asep memberanikan diri untuk meminta maaf pada Luffi.
"Maafkan aku Luffi, aku yang salah karena memecatmu, maafkan atas tindakan bodohku ini." ucap Asep sambil manggertakan giginya menahan rasa malu dan emosi.
Alex langsung berbalik menengok kearah Luffi, dengan senyuman diwajahnya dia ingin mendengar jawaban dari Luffi.
Luffi menyadari jika Asep dengan terpaksa mengucapkan kata maaf padanya, karena jika dia tidak melakukannya, maka ia akan kehilangan jabatan yang sangat ia bangga-banggakan.
"Baiklah, seperti itu juga cukup." ucap Luffi datar sambil melambaikan tangannya.
"Cepat kalian kembali bekerja, atau kalian semua aku pecat." ucap Alex tegas penuh penekanan kepada semua karyawan termasuk Asep.
Joko dan petugas keamanan yang lain, buru-buru kembali keposisi masing-masing, begitupun dengan Asep, ia juga pergi menuju ruangan nya. Keadaan kembali normal seperti biasanya, hanya menyisakan Alex dan Luffi disana.
Sepanjang jalan Asep merasa gerah hati, karena rencananya untuk mempermalukan Luffi gagal, bahkan malah dia yang dipermalukan oleh pak Alex, membuat Asep semakin benci pada Luffi.
"Sialan, gara-gara dia gw jadi dimarahin bos didepan karyawan, awas aja kau Luffi tunggu pembalasan gw." gumam Asep dalam hati sambil berjalan menuju ruangannya.
°°°°
Luffi menatap sinis Alex, dia tidak mengerti maksud sikap Alex yang tiba-tiba berubah menjadi sopan padanya. Padahal tadi didalam ruangan, dia sangat sombong dan angkuh terhadap Luffi, namun sekarang seperti kucing melihat macan, sikap Alex seperti orang ketakutan.
"Tuan Luffi, maafkan atas tindakan bodoh saya barusan didalam. Tolong jangan anda tutup usaha kecil ini, karena masih banyak karyawan-karyawan yang masih bergantung hidup pada perusahaan ini." ucap Alex sopan sambil tersenyum manis, semanis ampedu.
Luffi tersentak kaget mendengar ucapan Alex, dia berfikir mungkin ini semua karena Candra telah melakukan sesuatu kepada Alex.
"Baiklah, mari kita bicarakan didalam saja." ucap Luffi sambil tersenyum puas, kini kendali ada ditangannya.
Alex pun menurut saja dan pasrah, karena satu kalimat Luffi adalah penentu nasib perusahaan nya. Jika memang harus bersujud dan menjilati sepatu Luffi pun, ia akan melakukan hal itu, asalkan Luffi mencabut perkataan untuk membuat perusahaan nya bangkrut.
"Baik Tuan Luffi, mari kita keruangan saya, apapun yang Tuan Luffi pinta pasti saya berikan, asal Tuan tidak membuat perusahaan ini bangkrut." ucap Alex sopan.
Didalam ruangan, Luffi duduk di sofa yang berada diruangan itu. Dengan satu kaki yang menumpang di kakinya, bagaikan seorang bos.
"Aku bisa saja membatalkan niatku untuk membuat perusahaan ini bangkrut, tapi dengan satu syarat." ucap Luffi sambil menatap Alex yang sudah gelisah seperti kebelet pipis.
"Apapun keinginan Tuan Luffi pasti saya lakukan, asal Tuan memegang ucapan Tuan." ucap Alex ragu dengan keringat dingin bercucuran seperti habis lari 10 kilometer.
"Kurasa anda mampu mengabulkan permintaan ku, karena itu sangat mudah." ucap Luffi sambil mengambil sebatang rokok dari saku celananya.
Alex merasa gelisah, dia mempunyai firasat buruk mengenai permintaan Luffi, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena keputusan Luffi adalah segalanya.
"Aku ingin membeli perusahaan ini," ucap Luffi santai sambil menyemburkan asap rokok kearah Alex.
Raut wajah Alex langsung pucat mendengar ucapan Luffi, dia tak menyangka jika keinginan Luffi sama saja dengan membuatnya bangkrut.
"Apa tidak ada cara lain Tuan, jika seperti itu maka apa bedanya dengan Tuan membuat saya bangkrut." Alex mulai sedikit terbawa emosi, namun dia mencoba untuk bernegoisasi dengan Luffi.
"Tenang saja, ini justru menguntungkan buat kamu," ucap Luffi.
"menguntungkan mbah mu, jika perusahaan ini saya jual itu artinya saya udah gx jadi bos lagi." gumam Alex dalam hati, merasa Luffi sedang mempermainkan nya.
"Aku akan memberikan kamu saham 20 persen dari perusahaan ini, dan kamu tetap menjadi Direktur di perusahaan ini. Bukanlah itu menguntungkan buat kamu?" ucap Luffi sambil tersenyum, karena bagi Luffi belum saatnya dia memperlihatkan status nya saat ini, apalagi Alice bekerja di perusahaan ini.
"Baiklah Tuan Luffi, jika seperti itu kesepakatannya maka saya akan terima," ucap Alex sopan, ternyata dugaan nya mengenai Luffi salah. Luffi masih memberinya kesempatan, walaupun sekarang semua keputusan berada di tangan Luffi.
Alex pun memanggil asisten nya, untuk mengurus pemindahan kepemilikan perusahaan, sekaligus memberitahu bahwa Luffi Adalah pemilik baru perusahaan ini.
°°°°°
***Maaf baru bisa update, kemarin ada tetangga ninggal dunia. Jadi author nya sidikit sibuk namanya hidup bermasyarakat wajar dong, ikut bantu gali kubur, DLL.
Oke buat kawan-kawan ku, jangan lupa LIKE dan comen nya ya dibawah. insya allah pasti di balas khoq sama author.
"Terima Kasih***"