
"Selamat pagi pak Alex." ucap Luffi pas berada didalam ruangan pak Alex.
Alex mengangkat kepalanya menoleh kearah suara tersebut, "Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan, masuk keruangan ku dengan cara seperti ini?" ucap Alek emosi hingga terlihat kerutan di keningnya.
"Pak Alex, dia adalah Luffi dari divisi keamanan, dia ingin sekali bertemu dengan anda. Aku sudah berusaha mencegahnya, tapi dia memaksa masuk kedalam." Ucap sekertaris cantik dengan wajah ketakutan.
Sekertaris itu memandang Luffi kesal, dia tidak pernah bertemu dengan lelaki yang searogan Luffi. Sudah tidak diberi masuk, Luffi malah maksa, dan menerobos masuk.
"Luffi dari divisi keamanan," Alex mengingat nama itu, ia ingat bahwa Asep mememinta nya untuk memecat se'seorang dari divisi keamanan.
Luffi langsung duduk dibangku seberang Alex, ia langsung mengutarakan tuntutan nya pada Alex, mengenai masalah gaji dan uang jaminan yang tidak diberikan.
"Pak Alex boleh memecatku dari pekerjaan ini, tapi kenapa Pak Alex tidak memberikan gaji dan uang jaminan kepada ku? Bisakah anda jelaskan padaku?" ucap Luffi tenang sambil mengangkat sudut bibirnya.
"Aku sudah mendengar masalah pemecatan pak Luffi, itu karena anda sudah sering bolos kerja, jadi perusahaan memecat anda karena aku tidak mau mempekerjakan, orang yang malas seperti anda." ucap Alex datar
"Untuk masalah gaji dan uang jaminan, aku sengaja melakukan itu. Karena itu adalah peraturan perusahaan." sambung Alex.
Kalau Asep sudah berkata demikian, maka Alek harus memberi muka pada Asep di depan Luffi. Baginya Asep merupakan Wakil direktur perusahaannya, ia juga memiliki kemampuan yang hebat, hingga membantu perusahaan ini menjadi maju. Sedangkan Luffi hanyalah seorang petugas keamanan biasa, jika kedua orang ini dibandingkan, tentu Luffi bukan apa-apa baginya.
"Peraturan perusahaan? Mengapa aku belum pernah mendengarnya." ucap Luffi terkejut.
"Apa jangan-jangan peraturan perusahaan bukan digunakan untuk mengatur karyawan." Luffi semakin kesal.
Bagi Luffi gaji bukanlah apa-apa setelah ia mendapatkan harta warisan. Tapi ini merupakan masalah prinsip, Luffi tahu jika perusahaan tidak mempunyai peraturan seperti itu. Luffi juga tidak pernah bolos kerja, dia selalu minta izin terlebih dahulu, setelah mendapatkan izin dia baru tidak masuk kerja.
Alex mendengar ucapan Luffi hanya tersenyum, ingin rasanya dia membantu Asep untuk menghina Luffi.
"Aku adalah Bos di perusahaan ini, jika aku bilang ada peraturan seperti itu, ya berarti ada. Kalau kamu mempunyai kemampuan untuk menjadi bos, ya kamu bisa membuat peraturanmu sendiri." ucap Alex tersenyum kecil, mengejek Luffi.
Alex merasa jengkel dan jika dia sudah memutuskan untuk membantu Asep, maka orang kecil seperti Luffi bukanlah apa-apa baginya. Mungkin hanya akan berdebat dan tidak membuahkan hasil apapun.
"Jadi anda yakin ingin mengambil gaji ku yang hanya sedikit?" ucap Luffi tersenyum sinis.
Mungkin jika dulu Luffi diperlakukan seperti ini, dia hanya pasrah menerimanya. Tapi sekarang berbeda ceritanya, karena Luffi sudah menjadi seorang miliarder sehingga tidak ada yang boleh meremehkan dirinya.
"Tidak apa jika kamu berfikir seperti itu. Bila kamu tidak suka, maka silahkan kamu laporkan masalah ini pada polisi. Sekarang kamu bukanlah karyawan ku lagi, jadi silahkan pergi darisini, karena kamu sudah di pecat." Ucap Alex dengan nada tinggi dan sombong.
Alex merasa puas menghina Luffi, baginya Luffi hanya orang rendahan, mana mungkin polisi akan mengusut kasus sepele seperti ini.
"Pak Alex memang sangat hebat dan angkuh," ucap Luffi tersenyum sinis mengejek Alex sambil mengacungkan jempol kepadanya.
Selama ini Luffi tidak pernah mendapat hina'an begitu besar, tapi kini pak Alex telah menghina dirinya bahkan merendahkan nya.
Orang baik pasti akan marah, jika harga dirinya di injak-injak. Luffi pun demikian, dia merasa Alex sudah keterlaluan terhadap dirinya.
"Asalam mualaikum, paman Candra," ucap Luffi melalui telepon.
"Waalaikum salam, Tuan Luffi ada yang bisa saya bantu?" ucap Candra sopan.
"Paman Candra, apa perusahaan Abadi jaya yang seharga Lima ratus miliar, bisa bangkrut hari ini, jika aku menginginkan nya?" tanya Luffi pada Candra dalam telepon.
"Bisa Tuan Luffi, hanya butuh waktu setengah hari membuat perusahaan itu bangkrut," balas Candra sambil tertawa di sebrang sana.
"Baiklah paman, aku ingin melihat perusahaan ini bangkrut hari ini." Ucap Luffi sambil menutup telepon nya.
Luffi melirik kearah Alex sambil tersenyum sinis, "Tidak ada yang boleh mengambil uang ku jika aku tak sudi, walaupun itu hanya sedikit saja. Tanpa izin dariku, aku akan membuat orang itu hidup sengsara." ucap Luffi sinis menatap Alex.
Alex tersenyum dingin mendengar ancaman Luffi, ia menganggap ancaman Luffi sebagai omong kosong belaka. Kalau memang Luffi mampu membuat perusahaan nya bangkrut, mengapa Luffi datang keperusahaan nya untuk melamar menjadi petugas keamanan, fikirnya.
Luffi menahan emosinya sambil pergi meninggalkan ruangan Alex, ia ingin menuju rumah sakit untuk menggantikan Alice.
Karena hari ini Alice mempunyai janji pada klien nya untuk membahas masalah pekerjaan, jadi dia menunggu Luffi datang agar menggantikan nya, untuk menjaga Clara.
°°°°°
Luffi baru saja sampai di ruang resepsionis dilantai satu, dia terkejut melihat Asep berada disana, seakan Asep sengaja menunggu kedatangan nya.
Asep memang sengaja menunggu Luffi keluar dari ruangan pak Alex, dia sangat ingin mempermalukan Luffi di depan banyak orang. Karena kemarin Luffi telah mempermalukan dirinya di rumah sakit, jadi dia ingin membalas dendam.
"Bukankah ini Luffi? kudengar kamu pergi mencari penjelasan kepada pak Alex, apakah kamu sudah mendapatkan penjelasan yang memuaskan darinya?" ucap Asep tersenyum mengejek Luffi.
Joko dan petugas keamanan lain yang berada disana hanya tertawa mendengar sindiran Asep. Joko dan petugas keamanan yang lain adalah mantan tentara kemiliteran seperti Rendi, mereka merasa kesal karena pernah di kalahkan oleh Luffi yang bukan berasal dari kemiliteran seperti mereka. Mendengar kabar Luffi di pecat dari perusahaan, bahkan tidak mendapatkan gaji dan uang jaminan membuat mereka menjadi senang.
Luffi menanggapi ucapan Asep dengan tenang, ia mengambil sebatang rokok dari saku celananya, lalu membakar rokok tersebut.
"Silahkan lanjutkan pertunjukannya," ucap Luffi sambil menghisap rokok yang terselip di jarinya.
"Jika itu membuatmu bahagia teruskanlah, apakah nanti kamu bisa tertawa lagi, setelah mendengar pengumuman perusahaan Abadi jaya ini bangkrut." ucap Luffi tenang sambil melirik kearah yang lainnya.
Mendengar ucapan Luffi, Asep merasa kesal.
Di saat sudah dipecat pun, dia masih bisanya menyombongkan diri didepan semua orang.
"Luffi kamu hanyalah orang rendahan, untuk apa kamu berpura-pura tinggi kepada ku." ucap Asep tersenyum mengejek.
"Benar Luffi, kamu hanyalah petugas keamanan, sedangkan pak Asep adalah wakil direktur di perusahaan ini. Apakah pantas kamu mencari masalah dengannya? Luffi dengarlah nasehat ku, cepatlah kamu meminta maaf pada pak Asep, jika tidak mungkin kamu tidak akan mendapatkan pekerjaan di kota Cilegon ini, karena pak Asep adalah orang kaya." ucap joko menasehati Luffi, namun lebih tepat nya seperti ancaman.