
Kemudian Luffi menghampiri Pak Alex, lalu duduk di kursi Bos. Luffi mengambil sebatang rokok dari dalam saku celananya, kemudian membakarnya.
"Apakah kamu tahu, jika karyawan bernama Alice adalah istri, ku? Dia berada di bagian marketing," tanya Luffi pada Pak Alex, sambil menikmati sebatang rokok di tangannya.
Pak Alex mengangguk menjawab pertanyaan Luffi, lalu berkata. "Aku baru mengetahuinya baru-baru ini, Tuan Luffi. Apakah Tuan Luffi ingin menaikan jabatannya?" ucap Pak Alex dengan sopan.
Setelah mengetahui jika Alice adalah istri dari Luffi, Pak Alex sengaja sudah menyiapkan beberapa pertanyaan saat bertemu Luffi.
"Kamu saja yang mengatur urusan naik jabatan itu, tapi jangan melakukan dengan terlalu jelas, buatlah secara perlahan agar dia tidak curiga, kedatangan ku hari ini karena ada hal yang lain,"
"Apakah kamu tahu sekarang sedang beredar kabar perselingkuhan kamu dengan istri, ku?" Tanya Luffi sambil menatap tajam pada Pak Alex.
"Apa? Tuan Luffi ini pasti salah paham, aku saja baru tahu jika Nona Alice adalah Istri Tuan. Biasanya aku tidak pernah berinteraksi dengan Nona Alice, bahkan aku tidak pernah berbicara dengan nya. Tuan bisa menelusuri nya sendiri, jika Tuan Luffi tidak percaya," balas Pak Alex sambil gemeteran ketakutan.
Pak Alex memang mempunyai selingkuhan, namun itu adalah gadis lain dari luar kantor, menurutnya dia sedang di jebak saat ini.
"Aku tahu hal ini tidak ada hubungannya dengan, mu. Namun kamu harus mengurus masalah ini dengan baik, kalo tidak silahkan kamu pergi dari kantor ini," ucap Luffi tegas namun mengandung ancaman telak.
"Tenang saja Tuan Luffi, aku pasti akan segera mengusut kasus ini, akan ku pecat siapapun orang yang telah menimbulkan gosip ini," Pak Alex merasa lega dia berjanji akan menemukan siapa pelakunya.
"Apa gunanya memecat mereka? Walaupun kamu memecat mereka, apa semua masalah akan terselesaikan? Pikir pakai otak, mu!" Luffi mendengus kesal dengan kebodohan Pak Alex.
Pak Alex seketika mengerti maksud ucapan Luffi, jika ia hanya memecat orang yang menyebarkan gosip itu, mungkin gosip itu akan mereda di kantornya, tapi bukan berarti tidak menutup kemungkinan jika mereka akan menyebarkan gosip di luar kantor.
Setelah berpikir sejenak, dia pun mendapat sebuah ide untuk menggunakan jalur hukum negara yang ada, dengan begitu mereka pasti tidak akan menyebarkan gosip di luar kantor.
"Kamu pikirkan dengan mantap masalah ini, sekarang berikan aku data klien yang sedang di kerjakan oleh istri, ku." Pinta Luffi sambil mematikan rokok nya.
Pak Alex hanya mengangguk dan langsung menyuruh Sekertaris nya untuk pergi mencari Manajer Sandi, untuk meminta data klien yang sedang di kerjakan Alice.
Dalam waktu relatif cepat, Sekertaris itu sudah kembali keruangan Pak Alex dengan membawa beberapa dokumen yang berisi data klien yang sedang di cari Luffi.
"Tuan Luffi, ini adalah data yang anda inginkan," ucap Sekertaris itu dengan hormat sambil meletakan data klien itu di meja Luffi.
Sekertaris itu menatap Luffi dengan kagum, siapa sangka orang yang tadinya hanya petugas keamanan gerbang, kini telah berubah menjadi pemilik saham terbesar di Perusahaan Abadi Jaya. Apalagi setelah melihat Direktur Alex berdiri hormat di samping Luffi, membuat Sekertaris itu sangat menghormati Luffi.
Setelah Luffi melihat data orang itu, Luffi kemudian mengambil handphone dari dalam saku celananya, lalu menghubungi Pak Candra untuk mengurus masalah istrinya, pesan Luffi pada Pak Candra. "Jika orang itu ingin mengganggu istrinya, maka orang itu harus bersiap untuk menanggung resiko nya."
Setelah menutup telepon nya, Luffi memberi perintah pada Pak Alex untuk mengumpulkan seluruh petinggi perusahaan.
Pak Alex hanya mengangguk, lalu menatap Sekertaris nya. "Kamu sudah mendengar nya, cepat lakukan perintah Tuan Luffi!" Ucap Pak Alex pada Sekertaris nya.
"Baik, Pak! Aku akan segera melakukan nya," ucap Sekertaris itu lalu pergi meninggalkan ruangan Pak Alex.
Luffi berbincang beberapa saat mengenai hal perkembangan perusahaan dengan Pak Alex.
Setelah berbincang cukup lama, lalu Luffi bersiap untuk pergi meninggalkan ruangan Pak Alex.
Setelah keluar dari ruangan Pak Alex, Luffi mendapatkan sambutan dari Sekertarisnya Alex. Sekertaris itu memberi hormat, Luffi hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan nya.
Ketika Luffi melewati ruangan Pak Asep, Luffi melihat Alice keluar bersama Pak Asep dari ruangan itu.
"Sedang apa kamu disini?" Tanya Alice sinis saat melihat Luffi, Alice mengerutkan kening nya merasa marah. Alice merasa kalau Luffi sedang memata- matai dirinya, Alice teringat dengan perkata'an Luffi tadi malam, mungkin saja Luffi mencurigainya.
Berbeda dengan Pak Asep, ia merasa sangat malu karena pernah meminta maaf pada Luffi karena di suruh Pak Alex.
Pak Asep masih belum melupakan kejadian yang memalukan itu, baginya Luffi merupakan bencana dirinya.
"Tentu aku datang untuk bekerja, untuk apa aku memata- matai, mu. Jangan terlalu buruk sangka dulu padaku," ucap Luffi menjawab pertanyaan istrinya.
"Bukankah kamu sudah mengundurkan diri?" Tanya Alice terkejut dengan ucapan Luffi.
Karena waktu itu Luffi dengan jelas ingin mengundurkan diri, Alice merasa curiga jika Luffi hanya mencari alasan saja, karena dia ketahuan oleh nya.
"Dulu aku hanya mengambil cuti saja," jawab Luffi datar, Luffi sudah malas berdebat lagi dengan Alice. Menurut Luffi, walaupun dia menjelaskannya toh percuma, Alice tidak pernah percaya padanya.
Tiba-tiba suara handphone Alice berbunyi, saat ia ingin mengintrogasi Luffi lagi. Alice melihat layar handphone nya, ternyata ada pesan dari klien nya, klien Alice menyuruh untuk segera menemui nya, namun sebelum pergi Alice berkata, "Sebaiknya kamu tidak memata- matai aku lagi," lalu Alice pergi meninggalkan Luffi.
Luffi mengangkat kedua bahunya, menurut nya untuk apa membuang waktu untuk memata- matai istrinya. Jika semua sudah di urus oleh Pak Candra, semua masalah pasti akan beres.
Saat Luffi ingin pergi, terdengar suara Pak Asep mengatakan sesuatu. "Luffi lihatlah bagaimana aku membalas perhitungan dengan mu, saat aku mendapat kepercayaan dari pemilik baru perusahaan ini. Kamu tahu, sekarang perusahaan ini bukan milik Pak Alex lagi, sudah ada yang membelikanya dan Pak Alex hanya memiliki sedikit saham saja." ucap Pak Asep penuh percaya diri.
Dua hari yang lalu dia mendapat informasi kalau perusahaan ini telah dibeli oleh seorang misterius, Pak Asep yakin dengan kinerjanya yang sangat baik, dia mampu mendapatkan kepercayaan dari pemilik perusahaan baru itu.
Jika sudah mendapatkan kepercayaan dari pemilik baru perusahaan ini, maka dia tidak perlu takut lagi dengan Pak Alex. Jika ia ingin mencelakai Luffi, maka tidak ada halangan lagi baginya.