
Luffi menatap dingin kearah Pak Asep sambil tersenyum mengejek padanya.
"Kenapa kamu tersenyum?" Ucap Pak Asep kesal dengan tatapan Luffi.
"Aku sedang menertawakan kebodohan, mu." Balas Luffi dengan sombong.
"Hmm.. Jangan sombong dulu kau, bocah.
Hari Kamis pemilik baru perusahaan ini akan hadir dalam rapat, hari- hari tenang mu akan berlalu saat aku mendapatkan kepercayaan darinya," ucap Pak Asep menatap Luffi penuh dendam.
"Oh, iya! Satu lagi, apakah kamu tahu siapa Klien yang di temui istrimu itu? Aku akan beritahu padamu, klien itu terkenal dengan kegenitannya. Jika istrimu tidak menurutinya untuk mengikutinya ke Hotel, dia tidak akan mendapatkan Project Bisnis itu. Jadi, kamu tinggal tunggu untuk diselingkuhi saja oleh istrimu," ucap Pak Asep tersenyum mengejek Luffi.
"Hahaha.." Luffi tertawa terbahak- bahak mendengar ucapan Pak Asep, dia merasa jika Pak Asep adalah orang bodoh yang selalu memprovokasi dirinya.
"Mungkin kamu akan kecewa nanti, aku kasih tahu padamu, jika orang itu tidak akan berani macam- macam pada istri, ku. Mungkin nanti malah dia sendiri yang akan memohon untuk menandatangani kontrak itu, kalau kamu tidak percaya kita lihat saja nanti," ucap Luffi sinis sambil tersenyum mengejek, lalu melangkah pergi dari tempat itu.
Menurut Luffi jika Pak Candra tidak mampu menangani masalah ini, berarti dia sudah tidak pantas bekerja sebagai Ajudan ayahnya.
"Alice kenapa kamu tidak mau percaya jika suami mu ini merupakan generasi kedua orang kaya! Aku malah bukan hanya generasi kedua orang kaya, namun generasi kedua yang di kagumi oleh seluruh orang yang ada di kalangan bisnis, di Kota Cilegon ini.
Membantu mu, hanya butuh sekali telepon saja bagiku. Jika nanti kamu tahu bila aku yang membantu mu dari belakang, kira - kira seperti apa reaksi, mu yah." gumam Luffi dalam hati.
Luffi merasa lucu, dan merasa apakah dirinya merupakan seorang Psikopat. Alice adalah Istrinya sendiri, meskipun Luffi belakang ini sering di hina dan di maki oleh Alice, namun apakah baik jika dia membiarkan istrinya di permalukan.
Luffi hanya menggelengkan Kepala dan tidak ingin memikirkan nya lagi, dia lalu pergi dari perusahaan itu.
"Memohon untuk mentandatangani kontrak pada Alice! Apakah kamu sedang bermimpi di siang bolong?" gumam Pak Asep, dia sangat mengenal klien itu. Klien itu susah di tangani karena Pak Asep pernah menangani Klien itu.
"Bagimana mungkin pria genit itu akan mentandatangani kontrak Alice, jika dia tidak mendapatkan keuntungan dari tubuh Alice,"
Pak Asep tertawa licik, lalu pergi menemui klien lain.
°°°°
Restoran Bintang.
Room VIP
Melihat gambar di atas, menurut para Reader enakan bersama pacar, selingkuhan atau keluarga pergi kesana nya? Pasti para Reader yang lebih tahu, karena author blm pernah kesana.
Restoran Bintang, seorang pria kaya bernama Reza sedang duduk berdampingan sambil menikmati minuman yang mengandung alkohol. Reza telah meminum banyak minuman berakohol itu, sehingga membuat Libido nya naik, tangannya mulai mengerayap ke bagian paha mulus wanita di sebelah nya.
"Nona Alice, kenapa kamu hanya makan dan tidak meminum, minuman beralkohol ini? Apa kamu tidak menghargai, ku?" Ucap Pak Reza sambil mengarahkan tangan nakalnya kearah paha mulus Alice.
Kemudian Alice yang mengetahui perbuatan bejat pria disebelah nya, langsung bergeser menghindari tangan pria tersebut, lalu Alice memasang wajah layaknya orang sakit.
Kalau bukan karena terpaksa, Alice tidak akan mau barhubungan dengan pria mesum di hadapan nya. Namun Pak Asep mengancam akan memotong bonus nya, jika Alice tidak mendapatkan kontrak tersebut.
"Nona Alice, kalau begitu sudah tidak ada lagi yang harus kita bicarakan,"
"Kamu harus tahu, walaupun di Kota Cilegon hanya perusahaan kalian yang mempunyai Kendaraan Alat Berat dan pegawai yang sudah handal, tapi masih banyak Perusahaan dari Kota lain yang lebih besar dan sudah siap bekerja sama dengan, ku."
"Aku jujur padamu nona, jika Perusahaan kami sudah akan bekerja sama dengan Perusahaan Agung Jasa. Harga yang diberikan nya tidak jauh beda dengan kalian, namun kualitas kerja dan alat berat mereka jauh lebih banyak dari kalian, kenapa aku harus bekerja sama dengan Perusahaan kecil kalian, jika aku tidak mendapat keuntungan lebih, darimu nona?"
Pak Reza memang tertarik dengan Alice, dia ingin bekerja sama dengan Perusahaan Abadi Jaya dengan syarat jika Alice mau menemani nya bermain di Hotel semalam. Namun jika Alice menolak, maka tidak akan terjadi kerja sama antara kedua perusahaan tersebut.
Alice mengerutkan keningnya, dia menatap minuman berakohol di atas meja itu dengan penuh keraguan. Alice tidak menyangka, jika Pak Reza begitu sulit di tangani.
Pak Reza yang melihat ada keraguan di wajah Alice, langsung menggunakan jurus rayuan maut nya. Perempuan ini penuh dengan aura kewanitaan yang dewasa, bagaikan bunga mawar yang sedang merah merona. Sehingga siapapun yang melihat nya akan tergoda karena kecantikan dan keindahan nya.
"Nona Alice, aku tahu jika kontrak ini sangat penting bagimu. Aku bisa mentandatangani kontrak ini, asal kita membicarakan nya di dalam kamar berdua, pasti aku akan langsung mentandatangani kontrak ini," ucap Pak Reza sambil mengulurkan kembali tangannya keatas paha mulus Alice.
Menurut Pak Reza, ini Adalah waktu yang sangat tepat dan dia yakin kalau Alice tidak akan menolaknya.
Plaakk!
Sebuah tamparan keras meluncur kearah muka pria mesum itu.
"Dasar pria genit! Memang, kamu anggap apa aku ini? Terserah kamu mau memberikan kontrak itu pada siapa, aku tak peduli," ucap Alice penuh emosi.
Walaupun sebenarnya Alice membutuhkan kontrak bisnis itu, tapi dia merupakan wanita yang berprinsip. Apalagi sekarang penyakit putri kecilnya telah pulih, jadi dia tidak perlu menjual diri hanya demi mendapatkan uang.
Alice merupakan wanita yang berpegang teguh dengan prinsipnya, bahkan demi menikah dengan seorang pria miskin seperti Luffi, dia melawan keluarga nya sendiri.
"Dasar ******, beraninya kamu menampar, ku?" Ucap Pak Reza sambil mengarahkan telapak tangannya ke wajah Alice.
Pak Reza murka dan ingin membalas perbuatan Alice, Namun tiba - tiba suara handphone nya berbunyi disaat sedikit lagi telapak tangannya menyentuh wajah mulus Alice.
"Manajer Ando!" Pak Reza merasa terkejut saat melihat nama panggilan masuk di layar handphone nya.
Alice langsung berdiri dan keluar dari dalam ruangan, Pak Reza ingin mengejarnya namun dia harus mengangkat telepon dari atasan nya terlebih dahulu.
°°°°
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
Apakah Alice Akan mendapatkan tanda tangan kontrak itu?
Atau Alice akan pulang dengan tangan kosong dan bonus bulanan nya di potong oleh Pak Asep?
Sok mangga di jawab na komen, hatur nuhun.