My Dad Is Billionaire

My Dad Is Billionaire
Saksi mata



Di ruangan Manajer Asep.


"Kamu tahu? Nanti siang Aku di suruh untuk menghadap Pak Alex di ruangannya. Aku yakin ini ada sangkutannya dengan masalah gosip yang sedang beredar di kantor ini," ucap pak Joko sedikit cemas.


Setelah mendapat panggilan dari Sekertaris yeni, pak Joko menjadi panik karena dia suruh menghadap pak Alex ke ruangannya. Tanpa pikir panjang lagi, dia pun menemui pak Asep yang ada di ruangannya.


Pak Joko ingin menanyakan solusi pada pak Asep, jika saja pak Alex mencurigainya dan menintrogasi dia, apa yang harus dia lakukan.


"Apa?! Kenapa dia bisa mencurigaimu? Apa ada yang membocorkan masalah ini?!" Pak Asep terkejut mendengar ucapan pak Joko, dia yakin pasti ada orang yang membocorkan informasi ini.


Mereka berdua termenung dan berpikir keras untuk mencari solusinya. Mereka yakin jika pak Alex sudah mencurigainya dan sedang mencari bukti.


"Cepat cari orang-orang yang mengetahui jika kita adalah orang yang pertama bicara begitu! Atau kita akan tamat jika orang itu menjadi saksi dan bukti ucapan kita."


Pak Asep menjadi panik, kalau dia tertangkap basah dan di pecat dari perusahaan ini, itu masih sangat bagus. Namun jika pak Alex membawanya ke jalur hukum, dia pasti akan mendekam di dalam penjara. Itulah yang di takutkan oleh pak Asep, jadi dia harus bisa membuat orang-orang itu tutup mulut.


"Baik, Pak! Namun ada satu orang yang belum tentu bisa kita ajak kerjasama Pak, karena dia adalah temannya Luffi," ucap pak Joko.


"Siapa orang itu?!" tanya pak Asep antusias.


"Rendi ...! Dia adalah Seorang Satpam yang selalu bersama Luffi, dan kelihatanya mereka sangat akrab. Meskipun dulu mereka pernah berkelahi, tapi setelah itu mereka jadi teman," ucap pak Joko menjelaskan.


"Apa?! Cepat Kamu cari dia, dan ancam dia dengan cara apa pun! Buat dia berjanji untuk tidak membocorkan masalah ini," udah pak Asep dengan nada dingin.


"Baiklah, Aku mengerti-! Biarku urus dia, tapi Kamu juga bantu Aku jika nanti Pak Alex tetap menintrogasiku. Karena jika Aku tertangkap, jangan harap Kamu bisa bebas!"


Pak Joko mengancam pak Asep, kemudian dia pergi meninggalkan ruangan pak Asep.


°°°°


"Apa kabar Kak?" sapa Rendi ketika melihat Luffi yang berada di kantin.


Luffi merasa jenuh berada di ruangan pak Alex, lalu dia pergi ke kantin untuk makan siang dan ngopi dahulu. Namun, terdengar suara yang tidak asing menyapanya, dia pun menoleh ke arah suara tersebut.


"Boleh Aku duduk disini, Kak?" tanya Rendi seraya menaruh piring yang berisi nasi dan lauk pauk di atas meja.


Luffi hanya mengangguk menandakan tidak keberatannya, lalu membalas pertanyaan dari kawannya itu, "Alhamdulilah, Aku sehat. Kamu sendiri, gimana kabarnya?" ucap Luffi sambil bertanya balik pada Rendi.


"Seperti yang kakak lihat, Aku baik-baik saja," sahut Rendi sambil tertawa renyah.


"Oh iya kak, Aku punya informasi penting buat kakak," ucap Rendi dengan nada serius.


Luffi menatap Rendi dengan wajah serius, dia merasa informasi yang ingin di katakan oleh kawannya ini sangat penting. Karena Rendi tidak pernah berbicara dengan serius seperti ini.


"Informasi apa? Cepat katakan?!" Luffi sangat antusias dan kepo bingit.


"Kakak tahu gosip yang sedang beredar di kantor ini 'kan? Mereka semua sedang asyik membicarakan kakak ipar," ucap Rendi ragu dan menyebut Alice dengan sebutan kakak ipar, biar lebih akrab menurutnya.


"Iya Aku tahu, sekarang Aku sedang mencari siapa penyebabnya," ucap Luffi dengan nada kecewa.


Luffi sudah sangat serius ingin mendengar informasi apa, pas sudah tahu jika masalah itu, dia merasa tidak tertarik lagi.


"Aku tahu siapa orangnya?!" ucap Rendi santai sambil menghuapkan nasi ke mulutnya.


"Siapa? Katakan padaku?!" ucap Luffi dengan nada sedikit emosi saat mendengar ucapan Rendi.


Rendi terkejut hingga tersedak di buatnya, dia langsung meminum air putih satu gelas yang berada di sebelah piring nasi itu.


"Ahh ..."


"Sorry Ren! Aku spontan tadi pas mendengar ucapan Kamu, jadi siapa orangnya?" ucap Luffi meminta maaf seraya menanyakan kembali ucapan kawannya.


"Oke Aku maafin, asal makanan ini kakak yang bayarin," sahut Rendi sambil memberi syarat.


"Iya tenang aja, cepat kasih tahu siapa orangnya?! ucap Luffi dengan antusias.


"Pak Joko!" sahut Rendi dengan wajah serius menatap Luffi.


"Namun Aku yakin dia bukan dalang dari semua ini, tapi ada orang lain yang menyuruh-nya," Rendi melanjutkan ucapannya setelah terdiam sesaat.


"Jadi dia pelakunya," gumam Luffi dalam hati.


"Iya ... Aku tahu siapa orangnya," sahut Luffi sambil menyalakan sebatang rokok.


"Aku ada tugas buat Kamu!" Luffi menatap Rendi dengan serius.


"Bawa Asep ke ruangan Pak Alex! Nanti Joko akan di introgasi disana, Aku ingin Kamu dan Asep datang kesana," ucap Luffi menyurur Rendi untuk membawa pak Asep ke ruangan pak Alex.


"Jika dia tidak mau?" tanya Rendi.


"Seret saja! Apa pun caranya yang Kamu lakukan, pokoknya dia harus datang ke sana, Aku yang akan tanggung jawab!"


Luffi memberi perintah pertamanya kepada Rendi. Meskipun Rendi berkata seperti itu, tapi Luffi yakin jika itu bukan hal yang sulit untuk dia.


"Oke Bos! Laksanakan!" sahut Rendi tegas seperti mendapatkan perintah dari komandan dia dulu.


"Tapi nanti yah, setelah Aku selesai makan," ucap Rendi sambil tertawa renyah.


Luffi hanya mengangguk pelan membalas ucapan Rendi, terlihat senyuman penuh arti di wajahnya.


"Aku ingin tahu bagaimana wajahnya di saat dia mengetahui siapa Aku sebenarnya, pasti akan sangat menarik," gumam Luffi dalam hati seraya membayangkan ekspresi pak Asep dan pak Joko ketika tahu jika dia adalah Bos pemilik saham baru itu.


Mereka berdua mengobrol santai sambil duduk, terlihat ada dua cangkir kopi dan dua bungkus rokok di atas meja. Sehingga tidak terasa waktu berjalan dan menunjukan pukul 01:15, tanda jika waktu jam Istirahat makan siang hampir habis.


Ketika mereka asyik mengobrol, tiba-tiba Luffi melihat sosok yang di kenalnya. Dia menatap tajam ke arah orang itu, hingga yakin dengan yang di lihatnya.


"Pak Joko," ucap Luffi pelan sambil menatap kearah orang itu.


Luffi mengerutkan keningnya, karena dia yakin jika pak Joko sedang mencari seseorang.


Pak Joko mendapat informasi kalau Rendi berada di kantin, dia langsung pergi menuju kantin untuk mencarinya.


"Dimana orang itu?" gumam pak Joko pelan seraya melirik ke kanan dan ke kiri.


"Aku harus segera menemukan dia, karena jika Luffi yang bertemu dengannya, maka dia akan memberitahukan semuanya," gumamnya dalam hati.


°°°°


Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Pak Joko dapat menemukan Rendi atau tidak?


Jangan lupa untuk memberikan like, Vote dan komentar di bawah ini.


Sarapan pagi makan bubur, di kasih sambal dan sate ampela.


Author selalu bersyukur, karena di kasih Vote oleh pembaca yang setia.


Terima kasih.