My Dad Is Billionaire

My Dad Is Billionaire
Masalah Baru (Gosip hangat)



Setelah Anissa membeli pakaian mahal impor dari paris seharga 35 juta, yang tak mungkin jika ia beli, tapi dengan adanya kartu VVIP itu dia mampu untuk membelinya.


Namun setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, bukan mengembalikan kembali kartu itu kepada Luffi. Ia malah membawanya pulang kerumah, ingin memamerkan baju barunya itu.


"Mamah lihat baju, ku. Bagus kan?" ucap Anissa berdiri di depan Laras, memamerkan baju baru seharga 35 juta.


"Hermen Paris," ucap Laras terkejut melihat baju yang di pakai Anissa.


"Darimana kamu mendapatkan baju itu? Baju Merk Ternama dari Paris, pasti harganya mahal, darimana kamu punya uang sebanyak itu? Apakah Roni yang membelikanya?" Tanya Laras antusias setelah mengetahui bahwa pakaian yang dipakai Anissa adalah barang impor.


"Gratis dong, mah! Bukan Roni juga yang beli, tapi aku punya ini," balas Anissa tersenyum senang sambil menunjukan Kartu VVIP pada Laras.


"Apa itu?" Tanya Laras penasaran melihat kartu berwarna hitam dengan tulisan VVIP.


"Ini adalah kartu VVIP, jika kita belanja di Cilegon Central Mall tidak perlu membayar pakai uang, cukup kasih lihat kartu ini," ucap Anissa menjelaskan pada Laras.


Laras mengerutkan keningnya, merasa tidak percaya dengan ucapan Anissa.


Karena Cilegon Central Mall adalah Mall terbesar di Kota Cilegon, darimana Anissa bisa mendapatkan Kartu VVIP tersebut.


"Wow, darimana kamu mendapatkan Kartu VVIP itu?" Tanya Laras makin penasaran.


"Sebenarnya sih ini kartu milik Kak Luffi, aku juga tidak tahu keberuntungan apa yang dia alami, sehingga mengenal Pak Suhendar seorang Direktur Cilegon Central Mall itu, bahkan dia memberikan kartu ini pada Luffi, aku hanya meminjam untuk membeli pakaian ini," ucap Anissa dengan ekpresi sedikit kecewa.


Laras diam sejenak, tiba-tiba terlintas sebuah pemikiran licik di kepalanya.


"Hmm, kalo begitu lebih baik kamu jangan mengembalikan nya lagi, lagi pula dia hanya lah lelaki miskin, mana pantas memiliki Kartu VVIP itu," ucap Laras sambil mengangguk lalu mengambil alih kartu VVIP dari Anissa.


"Aku juga berpikir seperti itu, mah. Lebih baik sekarang kita pergi Shopping ke Mall, mah." Ucap Anissa dengan penuh semangat.


Laras hanya mengangguk, dia pun sangat setuju dengan saran yang di ajukan Anaknya, kemudian mereka pergi ke Cilegon Central Mall untuk Shopping.


°°°°


"Mari kita makan," ucap Luffi kepada istrinya sambil menghidangkan makanan keatas meja makan.


Hari ini Luffi dan Clara sudah seharian jalan- jalan keluar, bahkan sudah makan berdua di luar sana. Namun Luffi tetap masih sempat membuatkan masakan untuk istri tercintanya, Alice.


"Malas aku makan, melihat kamu, aku merasa sudah kenyang," ucap Alice jutek menatap sinis Luffi.


Luffi mengerutkan keningnya, karena Alice tidak menghargai jerit payah nya, namun Luffi tetap sabar, dia mulai membujuk istri tercinta nya untuk makan.


"Apakah kamu ingin aku suapin," ucap Luffi genit sambil menggoda istrinya.


"Apakah kamu hanya bisa menyuapi wanita saja, Luffi apakah kamu masih pria sejati? Apa kamu tidak memiliki masa depan?" ucap Alice emosi pada Luffi, dia merasa Luffi tidak ingin bekerja lagi.


"Kenapa? Apa terjadi masalah dengan, mu?" ucap Luffi pelan, dia merasa jika ada sesuatu yang membuat suasana hati istrinya tidak baik.


"Iya, ini semua gara-gara kamu melakukan kesalahan pada Pak Asep. Sekarang dia menyuruh ku untuk menemui Seorang Klien, jika aku tidak mendapatkan Project Bisnis darinya maka bonus bulanan ku, akan di potong oleh nya." Ucap Alice emosi pada Luffi.


"Bukan hanya mempersulit, ku. Dia bahkan menyuruhku untuk mengikutinya pergi ke Hotel," ucap Alice dengan marah.


Luffi yang mendengar ucapan Alice langsung emosi, dia ingin tahu siapa pria yang berani mengajak istrinya ke Hotel. Jika niat nya buruk, maka dia akan mendapatkan balasan yang lebih menyakitkan dari Luffi.


"Siapa dia? Biar aku yang membantu mu untuk mendapatkan Project Bisnis itu," ucap Luffi dengan serius menatap istrinya.


"Ingin membantu, ku?" Ucap Alice hina sambil menatap Luffi remeh.


"Kamu bahkan tidak mengerti seberapa besar kemampuan mu sendiri, Apa kamu mengira semua ini akan selesai, jika kamu pergi untuk memukulnya? Luffi carilah pekerjaan yang lain itu sudah cukup membantuku. Lupakanlah idemu itu, jika kamu membuat diriku sampai kehilangan klien, maka kamu akan tahu sendiri Akibat nya," ucap Alice mengancam pada Luffi.


"Apakah kamu ingin pergi Ke Hotel bersamanya?" Ucap Luffi kesal pada Alice.


"Kamu," Alice menunjuk kearah Luffi.


"Luffi jika kamu tidak percaya lagi padaku dan mencurigaiku, lebih baik kita cerai saja," ucap Alice kesal lalu pergi menuju kamar Clara.


Luffi memijat keningnya sendiri, dia merasa pening dan membenahkan kembali makanan itu lalu pergi menuju ruang tamu, menonton televisi.


°°°°


Keesokan harinya seperti biasa, Alice pergi berangkat kerja tanpa sarapan dan pamit terlebih dahulu. Luffi menyajikan sarapan untuk dia Clara, anaknya.


Hari ini adalah hari pertama Clara masuk lagi bersekolah, Luffi pergi mengantar anaknya kesekolah, lalu pergi menuju PT Abadi Jaya karena sudah lama ia tak mengunjunginya.


Semenjak Luffi membeli PT Abadi Jaya, Luffi tidak pernah mengunjunginya karena dia terlalu sibuk dengan putri kecil nya.


Luffi sengaja datang untuk melihat kondisi kantor hari ini dan juga sekalian mencari tahu siapa Klien yang sedang di hadapi istrinya.


Setelah sampai di kantor PT Abadi Jaya, Luffi langsung berjalan menuju pintu utama, namun Luffi mendengar beberapa petugas keamanan sedang menggosipkan dirinya, Luffi menjadi emosi mendengar gunjingan mereka.


"Bukankah dia sudah di pecat? kenapa dia datang lagi kesini?" ucap satpam no 1.


"Pecat? Kamu berpikir terlalu jauh," ucap satpam no 2.


"Aku dengar bukan hanya di pecat, tapi gajih nya pun tidak di berikan," ucap satpam no 1.


"memang benar, Pak Asep memang sudah memecat nya dengan kekuasaannya sebagai Wakil Direktur bukanlah hal yang sulit baginya namun siapa sangka Direktur Alex malahan membantunya lalu menyuruh Pak Asep untuk meminta maaf bocah itu, kalian tahu alasan mengapa Direktur Alex membantunya?" ucap Satpam no 2 kepada Satpam yang lainnya.


"Kenapa?"


"Dengar-dengar istrinya, yang bernama Alice punya hubungan gelap dengan Pak Alex," ucap Satpam no 2 menjelaskan pada semua nya.


Luffi menatap beberapa Satpam itu tenang dan Satpam yang sedang bergosip, kemudian mereka pergi membubarkan diri. Namun, mereka menatap Luffi dengan penuh hinaan.


Luffi langsung bergegas menuju ruangan Alex, Pak Alex pun menyambut kedatangan Luffi, namun melihat raut wajah Luffi yang sedang buruk, membuat Pak Alex hanya bisa memasang tersenyum terpaksa.


"Selamat datang Tuan Luffi," sapa Pak Alex sambil memberi hormat.