
Luffi menggelengkan kepala, merasa ada yang aneh. Namun, dia tetap mengalah dan pergi dari ruangan itu. Menurut Luffi, mungkin Alice sedang ada masalah, dia sangat paham dengan sikap istrinya itu.
"Tunggu!" panggil Alice menahan Luffi.
Luffi berhenti, lalu berbalik badan, "Ada, apa?" sahut Luffi sambil memegangi pintu ruangan.
"Apa, Kamu tidak menjemput, Clara?" tanya Alice, "Karena, Aku masih banyak kerajaan," lanjutnya.
"Tenang saja, Aku juga berencana menjemput anak, Ku. Lanjutkan saja pekerjaan Mu, jangan lupa makan, nanti Kamu sakit," sahut Luffi lalu menutup pintu, dan pergi keluar.
Alice melanjutkan pekerjaan-nya, karena ini merupakan proyek yang sangat penting bagi dia. Walaupun, kemungkinan untuk berhasil sangatlah kecil. Namun Alice tetap serius, untuk melakukan pekerjaan ini.
°°°°
Tap Tap Tap!!
Pak Joko berjalan cepat menuju ruangan pak Asep, dia ingin memberitahu berita penting pada pak Asep.
Tok Tok Tok!
"Masuk," ucap pak Asep dari dalam ruangan.
Ceklek!
"Ada perlu apa, Kamu kesini?" tanya pak Asep setelah melihat pak Joko masuk.
"Ada masalah, berita buruk!" sahut pak Joko dengan wajah panik.
"Berita buruk, apa? Cepat, katakan!" bentak pak Asep merasa bingung.
Pak Joko merasa takut, terlihat keringat mulai keluar di keningnya. Walaupun begitu, dia tetap harus memberitahu berita ini.
"B-begini, Pak. Tadi Aku melihat, Pak Alex sedang menyelidiki masalah gosip tentang dia dan Alice. Aku takut jika ketahuan, Kita akan di pecat," ucap pak Joko menjelaskan.
Pak Asep mengerutkan keningnya, dia mulai berpikir keras untuk mengatasi masalah ini.
"Padahal Aku cuma menebak saja, tidak menyangka jika Pak Alex mau mengurusi masalah ini. Apakah Alice atau Luffi, yang mengadukan-nya... Dasar orang lemah, hanya bisa mengadu saja," gumam pak Asep dalam hati, merasa gondok.
"Kita harus bagaimana, Pak?" pak Joko panik, menanyakan solusi pada pak Asep.
Pak Asep masih terdiam dan berfikir, untuk memikirkan solusinya. Sedangkan pak Joko mulai cemas, dia tidak dapat membayangkan, apa yang akan terjadi jika pak Alex tahu, jika dia dan pak Asep adalah penyebabnya.
"Kamu cari bukti, tentang perselingkuhan mereka! Nanti, Aku akan mencari cara untuk mempertahankan jabatan Ku, dengan seluruh proyek yang aku tangani. Kalau Aku berhasil, maka jabatan Kamu pun, akan aman," ucap pak Asep memberi perintah pada pak Joko.
Pak Joko merasa sedikit lega, dia hanya perlu mencari bukti perselingkuhan pak Alex. Namun, tetap saja jika bukti perselingkuhan itu tidak ada, dia tinggal berharap kepada pak Asep untuk bisa meyakinkan pemegang saham baru yang misterius itu, supaya dia juga aman dengan jabatannya.
"Baiklah, tapi Pak Asep harus memegang janji, Bapak! Jika tidak, Aku juga akan menyeret Kamu, karena Aku tahu banyak kelicikan Kamu!" ancam pak Joko kepada pak Asep.
"Tenang saja, Aku pasti menepati janji, Ku. Lebih baik, Kamu harus mencari bukti dahulu, sebelum Kita ketahuan," ucap pak Asep datar.
Pak Joko hanya mengangguk, lalu pergi keluar ruangan pak Asep. Sedangkan pak Asep masih larut dalam pikiran-nya.
"Kita lihat saja, jika perselingkuhan itu memiliki bukti, maka kalian semua pasti tidak bisa berbuat apa-apa lagi," gumam pak Asep, sambil tersenyum licik.
°°°°
Restoran CandikaLuffi,
Luffi memasuki restoran mewah itu, sambil melirik kesemua arah mencari pak Candra dan Clara. Kemudian seorang pelayan wanita menghampiri Luffi, "Permisi, Tuan. Apakah Anda sedang mencari se-seorang, atau lagi mencari meja kosong?" tanya pelayan wanita itu sopan.
"Aku sedang mencari se-seorang, apakah Kamu tahu orang bernama Pak Candra ada di meja nomer berapa?" sahut Luffi datar, lalu bertanya pada pelayan wanita itu.
Pelayan wanita itu terkejut, melihat pakaian Luffi yang seperti orang biasa ingin bertemu dengan orang terkaya di Kota Cilegon.
Luffi memang tidak berpenampilan seperti di dalam ruangan rapat atau di ruangan pak Alex. Dia memakai pakaian biasa, karena itu pelayan wanita menjadi sedikit curiga.
"Sebentar, Pak. Biar Aku tanyakan dulu pada resepsionis restoran," sahut pelayan wanita itu sopan. Namun, sebenarnya pelayan wanita itu ingin melaporkan Luffi pada manajernya.
Luffi hanya mengangguk membalas ucapan pelayan wanita itu, sambil melihat-lihat ke arah meja siapa tahu ketemu.
"Pak, Manajer. Ada seorang pemuda sekitar tiga puluh tahun, ingin bertemu dengan Pak Candra. Tapi Aku meragukan-nya, karena pemuda itu berpenampilan biasa-biasa saja," pelayan wanita itu, mengadukan pada manajernya.
Manajer restoran itu bernama Surya maulana, dia biasa di panggil pak Surya.
Pak Surya mengerutkan kening, menatap tajam kearah pelayan wanita itu, "Siapa orang itu? Tidak mungkin, Pak Candra ingin bertemu dengan seorang berandalan. Pasti dia punya niat jahat, apalagi sekarang Tuan muda dari perusahaan Candra Asri akan datang. Cepat usir dia! Jangan sampai membuat masalah di restoran ini, kalau tidak, gaji kalian semua akan Aku di potong!" ucap manajer Surya tegas, bagaimana pun prioritas keamanan adalah nomer satu. Apalagi pak Candra, salah satu pemilik saham di restoran ini.
Tap Tap Tap!
Pelayan wanita dan tiga penjaga keamanan menghampiri Luffi, untuk mengusirnya dari restoran ini. Luffi mengerutkan keningnya, dia merasa ada yang tidak beres melihat mereka datang menghampirinya.
"Maaf, Tuan! Pak Candra, tidak ada di restoran ini," ucap pelayan wanita itu sopan.
Pelayan wanita itu sengaja membawa tiga penjaga keamanan untuk jaga-jaga, andaikan pemuda itu tidak bisa di bicarakan dengan cara lembut, maka dia akan melakukan cara yang kasar untuk mengusirnya.
"Tidak, mungkin. Aku sudah punya janji dengan, Dia," sahut Luffi.
"Sebaiknya, Tuan keluar! Jangan sampai, Aku melakukan hal kasar terhadap, Anda."
Pelayan wanita itu memberikan tanda kepada ketiga pria di belakangnya, untuk mengusir Luffi. Namun, Luffi melawan dan terjadi-lah sebuah pertarungan satu lawan tiga.
Semua tercengang melihat Luffi yang mampu melawan tiga orang sekaligus dengan mudah.
"Apa? Ternyata dia hebat dalam beladiri, Aku harus lapor kepada Manajer Surya," gumam pelayan wanita dalam hati, merasa terkejut dan cemas.
"Cepat beritahu, Manajer Surya," bisik pelayan wanita itu kepada teman pelayan lain yang datang menghampirinya.
"Hmmp..." pelayan itu mengangguk, lalu pergi.
"Aku bilang, jika Aku punya janji dengannya. Apa kalian bolot atau pura-pura tidak dengar?" bentak Luffi dengan nada tinggi, karena dia sudah mulai emosi.
Pelayan wanita itu mendengus kesal, "Kamu hanyalah berandalan, ingin mengaku bahwa Kamu adalah Tamu Pak Candra...! Mimpi saja Kamu,"
"Oke, baiklah. Kita lihat, siapa yang sedang bermimpi, Aku atau Kamu!" seru Luffi datar sambil mengambil handphone dari saku celananya.
°°°°
"*Paman Candra, kenapa pembacanya semakin dikit?" ucap Luffi.
"Mungkin, karena Tuan jarang up akhir-akhir ini," sahut pak Candra.
"O.. Maaf...! Karena Aku masih penulis baru, dan sibuk juga di dunia nyata. Jadi jarang up, tapi melihat pembaca semakin dikit membuat Aku semakin kurang semangat. Padahal Aku cuma minta Like, Vote dan Komentar. Tidak minta apa-apa lagi, 😥"
"Jangan, putus asa, Tuan. Percayalah reader Tuan pasti mengerti*,"
Terima kasih... Jangan lupa tekan tombol Like dan jadikan favorit.