My Dad Is Billionaire

My Dad Is Billionaire
Meminta Ampun pada Luffi



Rendi melihat orang di hadapannya tersenyum, dia pun mengetahui jika orang itu adalah Luffi. Kemudian dia berkata, "Apa Aku terlihat berlebihan, Kak?" tanya Rendi pada Luffi seperti sedang bergurau.


"Kakak ...!!"


Semua orang yang mendengar ucapan Rendi merasa terkejut di buatnya.


°°°°


"Apa aku tidak salah dengar, jika pemuda itu memanggil Tuan Luffi dengan sebutan Kakak," gumam pak Alex dalam hati, karena terkejut.


Pak Joko dan pak Asep tidak kalah syoknya, dia tidak menyangka jika seorang petugas keamanan itu, merupakan seorang adik dari pemegang saham terbesar di perusahaan ini.


Tetapi mereka juga bertanya-tanya di dalam hati, kenapa pemegang saham baru itu yang bernama Luffi Chen, melakukan hal semacam ini pada mereka berdua.


Luffi memang memakai nama keluarga di belakangnya saat membeli saham dari perusahaan Abadi Jaya ini, sehingga tidak ada yang menyangka jika itu adalah dirinya.


"Siapa sebenarnya dia?!" pertanyaan seperti itu 'lah yang berada di dalam benak pak Asep dan pak Joko.


Luffi melepaskan topi, kacamata hitam dan janggut palsunya. Kini terlihat dengan jelas oleh mereka berdua, siapa orang misterius yang menjadi bos di perusahaan ini.


"Luffi ...!" ucap mereka berdua secara bersamaan.


Raut wajah pak Asep berubah menjadi pucat, dan pak Joko tidak kalah buruk dengan pak Asep. Mereka seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, seorang pria yang suka mereka hina dan rendahkan ternyata Bos baru dari perusahaan mereka bekerja.


Keangkuhan dan kesombongan mereka yang dulu biasa di tunjukan pada Luffi, kini berubah 120°. Kini yang terlihat hanya sebuah harapan, supaya Luffi dapat memaafkan perbuatan mereka, karena telah berani memprovokasi dia dan keluarganya.


°°°°


Alice yang mendengar gosip tentang dirinya dari rekan kerja satu kantor, membuat dia merasa malu dan depresi. Sehingga dia selalu berdiam diri di dalam ruangan Supervisor, tapi hatinya merasa kesal pada orang yang telah memfitnah dia.


"Siapa sih yang begitu tega berbuat seperti ini? Perasaan Aku tidak mempunyai masalah dengan karyawan di kantor ini, tetapi kenapa ada yang memfitnah Aku yah," gumam Alice dalam hati.


Meskipun dia tidak mengetahui siapa yang telah menyebarkan gosip itu, tapi viling dia mengatakan jika ini ada sangkutannya dengan pak Asep. Karena selama ini dialah yang selalu berusaha untuk membuat dirinya malu dan menjadi cemoohan orang di kantor.


Alice terdiam dan termenung, pikirannya masih belum fokus untuk mengerjakan tugas kantor yang sudah menumpuk. Namun di saat pandangan matanya melihat berkas-berkas proyek yang sedang di tangani, dia kembali memantapkan tekad untuk mengerjakannya.


"Meskipun Aku mempunyai masalah pribadi, tidak seharusnya Aku melalaikan tugasku," gumam Alice dalam hati.


Alice mulai mengerjakan beberapa berkas, dia tidak ingin hanya karena masalah seperti ini membuat dirinya kehilangan pekerjaan.


°°°°


"Maafkan Aku, Luffi-! Maksudku, Tuan Luffi," ucap pak Asep memohon.


"Maafkan Aku juga, Tuan Luffi-! Aku hanya di suruh oleh Pak Asep untuk melakukannya, jadi Ku mohon Tuan Luffi memaafkan Aku," seru pak Joko memohon dan melimpahkan semua masalah kepada pak Asep.


Pak Asep mengerutkan keningnya, dia melirik dan menatap pak Joko dengan penuh emosi.


"Sialan, bisa-bisanya dia berkata seperti itu!" gumam pak Asep dalam hati, dengan wajah yang penuh emosi.


Pak Asep tidak habis pikir jika orang yang dia percaya selama ini, berani menusuknya dari depan. Namun, bukan pak Asep namanya jika dia menerima dengan lapang dada perbuatan seperti itu.


"Bukankah Kamu yang sudah menyebabkan gosip itu, atas dasar apa Kamu menuduh Aku sebagai Biangnya?! " hardik pak Asep dengan nada kesal.


"Aku hanya bicara ngasal saja waktu itu, karena Aku emosi. Tapi Aku tidak menyuruh Kamu untuk menyebarkan dan menjadi gosip di kantor ini," ucap pak Asep memutar balikan fakta.


Luffi mendengarkan ucapan mereka berdua yang sedang saling menjatuhkan, dan justru itu sangat menguntungkan bagi dia.


Awalnya Luffi hanya mengira-ngira saja, namun siapa sangka jika mereka sendirilah yang membongkarnya. Bahkan mereka juga membeberkan keburukan mereka, dengan cara saling menjatuhkan satu sama lain.


"Kalian berdua memang sangat serasi, bagaimana jika kalian Aku masukan kedalam penjara dan berada di sel yang sama?" ucap Luffi dengan nada mengejek.


Pak Asep dan pak Joko terdiam seketika, raut wajah mereka yang tadinya merah membara kini berubah menjadi pucat pasi.


Tanpa mereka sadiri, ketika mereka berdua saling berdebat karena tersulut emosi. Sehingga membeberkan keburukan mereka masing-masing.


Mereka berdua dengan kompak menubruk kaki Luffi, seraya memohon supaya tidak di masukan kedalam penjara.


"Aku mohon, jangan masukan Aku kedalam penjara." pinta mereka berdua dengan wajah yang memelas.


"Kami berjanji tidak akan melakukan hal bodoh seperti ini lagi-! Tolong ampuni kami-!" rengekan mereka sambil bersujud di bawah kaki Luffi.


Luffi merasa kesal dan marah dengan sikap dan kelakuan mereka kepada istrinya dan juga dirinya. Akan tetapi, dia juga merasa iba dan kasihan melihat mereka merengek di bawah kakinya.


Kemudian Luffi berpikir sejenak untuk memikirkan hukuman seperti apa yang pantas di berikan kepada mereka. Hingga terlintas sebuah tragedi di waktu dia sekolah dulu, disaat dia mendapat hukum dari kakak kelasnya.


"Baiklah, Aku tidak akan memasukan kalian ke dalam penjara. Namun, kalian harus meminta maaf kepada Alice, dengan cara ..." Luffi sengaja menggantungkan ucapan dia di kalimat terakhir.


"Dengan cara apa?!" tanya pak Asep dengan antusias memberanikan diri.


Pak Joko hanya mengangguk pelan sambil menatap penuh harap kepada Luffi, karena menurut mereka lebih baik melakukan hal lain ketimbang harus mendekam di dalam jeruji besi.


°°°°


Clara yang sudah keluar kelas, kini sedang duduk di bangku yang berada di halaman sekolah. Tatapan matanya menyisir ke segala arah, seperti sedang menunggu dan mencari seseorang.


"Kenapa Ayah belum menjemputku? Apakah dia lupa atau sedang dalam perjalanan," gumam Clara dalam hati sambil menatap kearah pintu gerbang sekolah.


"Clara belum pulang?"


Terdengar suara lembut menegur Clara dari sebelah kanannya, dia pun menoleh kearah suara tersebut, "Belum, Bu Guru," sahut Clara singkat dengan nada sopan saat mengetahui jika itu adalah gurunya.


"Belum ada yang jemput ya? Gimana kalo Ibu antar Clara pulang, kebetulan arah rumah kita 'kan sama," ucap bu Guru Sherli.


Bu Sherli merupakan Guru yang mengajar di kelas Clara, rumah dia berada di satu komplek yang sama dengan rumah kediaman Clara.


"Tapi gimana kalo Ayah datang kesini dan tidak menemukan Clara?" tanya Clara dengan nada khawatir.


"Yaudah Kita nunggu dulu sebentar, siapa tau masih di perjalanan," ucap bu Sherli lembut lalu duduk di sebelah Clara.


Mereka pun tertawa dan saling bertanya satu sama lain layaknya ibu dan anak, hingga tidak terasa sudah satu setengah jam berlalu.


°°°°


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak, like dan komentar di bawah ini.


Terima Kasih!