My Dad Is Billionaire

My Dad Is Billionaire
Kegundahan Alice



Luffi dan Clara di antar pulang oleh Asisten Samud, menggunakan mobil mewah. Setelah di rumah, Clara masih penasaran dengan pria yang merupakan kakeknya. Karena dia belum pernah mendengar, apalagi bertemu dengan orang tersebut.


"Ayah, Kakek Ricky itu, orangnya seperti apa?" tanya Clara setelah masuk kedalam rumah.


"Sama seperti Kakek, Damar. Namun Kakek Ricky lebih ganteng," sahut Luffi sambil tersenyum.


"Oh, begitu yah," sahut Clara.


"Terus kenapa kita belum pernah bertemu? Apa, Mamah juga tidak kenal dengan Kakek Ricky?!" Clara bertanya dengan antusias pada Luffi.


Luffi terdiam sejenak sebelum memberikan jawaban, "Tapi ... Clara harus janji sama Ayah! Jangan beritahu siapa-siapa dahulu, tentang Kakek Ricky. Walaupun orang itu adalah mamah," pinta Luffi dengan serius sambil menatap anaknya.


"Emang ... kenapa, Yah?" tanya Clara dengan wajah bingung.


Luffi pun menjelaskan secara singkat, tentang ayahnya. Namun, tidak menceritakan tentang kejelekannya. Dia memberitahukan setengah kebenaran, dan setengah kebohongan pada anaknya.


"Karena belum saatnya untuk memberitahu pada Mamah, biar nanti Ayah saja yang akan memberitahu Mamah, oke!"


Clara mengacunkan jari jempol kepada Luffi, karena dia mengerti dengan maksud ucapan ayahnya. Dia tidak ingin melihat orang tuanya bertengkar, hanya karena masalah ini, "Oke!"


"Anak pintar," ucap Luffi sambil mengelus kepala Clara.


"Yaudah, sekarang Clara mandi dulu sana! Nanti pas Mamah pulang, 'kan sudah wangi," ucap Luffi sambil tersenyum.


Clara mengangguk, lalu pergi ke kamarnya.


°°°°


Pukul 07:30. Luffi sedang duduk di sofa sambil menonton televisi dengan Clara.


Ting-nong ... Ting-nong ...! suara bel berbunyi.


"Pasti itu Mamah pulang," ucap Clara.


"Yaudah biar Ayah yang buka pintunya, Clara duduk aja disini," ucap Luffi lalu bangun dari duduknya.


Ceklek ...!


"Asalam, mualaikum!" Alice mengucap 'kan salam dari balik pintu dengan nada lesu.


"Waalaikum salam," sahut Luffi membalas salam dari dalam rumah.


"Lembur, lagi?" tanya Luffi sedikit perhatian.


"Iya ...!" sahut Alice dengan wajah masamnya.


"Yaudah Aku mau istirahat dulu capek," lanjut Alice sambil melangkah masuk kedalam.


"Mamah," ucap Clara sambil berlari kecil kearah Alice.


Wajah Alice yang tadinya masam berubah menjadi ceria, setelah melihat buah hatinya berlari dan tersenyuman menuju pelukannya.


Seberat apa pun masalah yang di hadapi seorang ibu, tidak akan menjadi halangan yang bisa menghentikan kasih sayang dia kepada anaknya. Karena kasih sayang dari seorang ibu tidak ada batasnya.


"Apa mamah kecape-an?!" tanya Clara yang berada di pelukan ibunya.


Alice tersenyum seraya menggelengkan pelan, "Mamah biasa saja, ga capek kok."


"Mamah, pergi mandi dulu ya sayang. Nanti, baru Kita nonton televisi bersama," ucap Alice sambil mencium pipi imut Clara.


"Hmmp ..." Clara mengangguk, lalu kembali menonton televisi.


Alice pun segera pergi kedalam kamar, untuk salin dan mandi. Sementara Luffi dan Clara sedang asyik duduk berdua sambil menonton acara televisi.


"Ayah, apa kalian lagi ada masalah?!" Melihat kedua orang tuanya tidak baik, Clara yakin jika mereka sedang bertengkar.


"Aku bisa bantu Ayah kok, tenang saja," ucap Clara penuh keyakinan.


Luffi terkekeh mendengar ucapan anaknya yang berusia lima tahun itu. Meskipun masih kecil, namun sudah mengerti masalah orang dewasa.


"Tidak perlu, Ayah bisa mengatasi masalah ini sendiri. Lebih baik putri cantik fokus belajar biar pintar," ucap Luffi sambil mencubit cinta kedua pipi anaknya.


"Meskipun Ayah bilang begitu, tapi Aku tetap harus membantu Ayah," gumam Clara dalam hati.


Mereka pun melanjutkan nonton acara televisi sambil berbincang dan bercanda ria berdua.


Setelah selesai mandi, Alice mengenakan baju tidur berwarna pink dengan postur tubuh yang langsing membuat dia terlihat sangat cantik dan mempesona.


Alice langsung berjalan menghampiri mereka berdua, yang sedang asyik menonton acara televisi. Kemudian dia pun duduk di sebelah Clara, Luffi yang melihat penampilan istrinya sangat terpukau. Meskipun bukan pertama kali dia melihatnya, namun tetap saja istrinya terlihat cantik dan mempesona.


"Apa kamu sudah makan malam?" tanya Luffi dengan lembut.


"Sudah," sahut Alice singkat.


"Kamu terlihat sangat cantik sayang," ucap Luffi menggoda istrinya.


Alice yang mendengar pujian suaminya tersipu malu, terlihat raut wajahnya langsung berubah menjadi merah seperti tomat.


"Ehm ..." Clara yang berada di antara mereka berdehem.


"Yah, Mah. Clara sudah ngantuk, Aku ke kamar duluan yah," ucap Clara seraya bangkit dari sofa.


"Biar Mamah temenin Kamu ya sayang," ucap Alice mengajukan diri.


"Aku ingin tidur sendiri, jadi Mamah sama Ayah saja," sahut Clara sambil melangkah pergi ke kamarnya.


"Ayah semangat! Aku yakin Ayah pasti bisa membuat Mamah baikan lagi," gumamnya dalam hati.


Suasana menjadi canggung ketika kepergian Clara, "Bagaimana pekerjaanmu di kantor? Apa semua baik-baik saja?" Luffi bertanya untuk mencairkan suasana.


"Alhamdulilah, namun ada satu masalah yang membuatku pusing. Mungkin itu juga atas ulahmu dahulu," ucap Alice sedikit kesal.


"Ulahku? Apa maksudmu?" Luffi merasa bingung dan bertanya dengan antusias.


Alice menghembuskan napas pelan sebelum menjelaskan pada Luffi, "Kamu jangan pura-pura tidak tahu, kalau bukan karena tindakan kasar Kamu pada Pak Asep semua ini tidak akan terjadi," ucap Alice menjelaskan tragedi di rumah sakit.


"Jadi dia masih mempersulitmu?!" tanya Luffi antusias.


"Bukan hanya itu, mungkin dia juga berencana untuk mempermalukan Aku dengan memberi sebuah proyek yang sungguh tidak mungkin untuk di dapatkan," sahut Alice dengan nada emosi tertahan.


"Sudahlah percuma juga Aku jelaskan semua padamu, toh Kamu juga tidak akan mungkin bisa membatuku. Lebih baik mulai sekarang janganlah cari masalah baru lagi dengan Pak Asep!" Alice merasa semua masalah ini gara-gara perbuatan bodoh suaminya dulu.


Alice pun bangkit dari sofa setelah berkata itu pada Luffi, "Aku mau tidur duluan," ucap Alice singkat seraya berjalan meninggalkan Luffi.


Luffi tak mampu berbicara apa pun, dia merasa jika pak Asep sudah melampaui batas. Karena sampai membuat Alice menjadi depresi dengan ulahnya.


"Aku harus tahu proyek apa yang di berikan si brengsek itu," gumam Luffi dalam hati.


Alice berbaring di atas kasur sambil berusaha memikirkan cara untuk mendapatkan proyek tersebut, lalu terlintas di pikirannya seseorang yang pernah membantunya beberapa hari yang lalu, "Siapa sebenarnya dia? Andai saja Aku dapat mengenalnya, pasti dia juga bisa membantuku untuk mendapatkan proyek ini juga," gumamnya dalam hati.


°°°°


Akhirnya bisa up setelah tiga hari lamanya, maafkan Author karena masih belajar menulis dan belum mahir untuk memberikan update setiap hari.


Terima kasih untuk para Reader yang sudah bantu Vote novel ini, jangan lupa untuk tetap memberikan Like dan komentar ya kawan.


Wasalammualakum, WR, WB.