
Selamat membaca Cerita MDB, jangan lupa untuk meninggalkan jejak 👣. Like dan Komen setelah membaca Cerita MDB, Terima Kasih.
"Bukan siapa - siapa khoq, wanita itu hanyalah seorang karyawan biasa, mana mungkin dia mengenal Pak Candra," balas Pak Asep, dia sendiri hanya tahu nama Pak Candra, dan belum pernah bertemu dengan orang hebat itu, mana mungkin jika Alice yang karyawan biasa dapat mengenalnya.
"Pak Asep jangan berpura - pura bodoh, apa kamu pikir Pak Candra akan membantunya jika dia tidak mengenal wanita itu? Manajer Ando sendiri yang langsung menghubungi ku, untuk menandatangani kontrak atas perintah Pak Candra, apa kamu pikir aku ini bodoh dan percaya dengan ucapan mu?
Karena kamu, aku hampir kehilangan jabatan ku! Jangan harap kamu bisa tenang, aku pasti akan membalas perbuatanmu ini," ucap Pak Reza dengan emosi mengancam Pak Asep, lalu dia memutuskan panggilannya.
Pak Asep terdiam membisu, dia masih belum bisa mengerti maksud dari ucapan Pak Reza. "Alice mengenal Pak Candra, dan Pak Candra sendiri yang langsung menghubungi Manajer Ando karena masalah ini?" gumam Pak Asep masih saja memikirkan semua perkataan Pak Reza, dia yakin kalau ada sesuatu yang tidak beres.
Baginya Alice merupakan karyawan biasa, dia sangat mengenal Alice dari sifat maupun kelakuannya. Tidak mungkin jika Alice bisa mengenal Pak Candra yang merupakan orang terkaya di Kota Cilegon. Namun terlintas di pikirannya ucapan Luffi kepada dirinya.
"Apakah ini semua perbuatan dia? Tapi aku tahu dia adalah seorang sampah, mana mungkin dia mengenal orang terkaya di Kota Cilegon ini. Pasti dia telah menipu Pak Reza dan berpura - pura menjadi Pak Candra, lalu menghubungi Manajer Ando, yah aku yakin itu adalah perbuatannya," gumam Pak Asep
"Pak Reza ternyata dia bodoh, bisa - bisanya di permainkan oleh seorang sampah seperti Luffi," Pak Asep tersenyum mengejek sambil menggelengkan kepalanya.
****
Suasana kantor menjadi riuh saat mendengar kabar jika Alice telah berhasil mendapatkan kontrak bisnis dari perusahaan NSA Chemical, terutama di bagian marketing.
Banyak yang tidak percaya jika Alice mampu mendapatkannya, karena itu adalah kontrak yang sudah di urus oleh Pak Asep selama satu bulan lebih dan tidak berhasil.
Bisnis yang memberikan keuntungan hingga Miliyaran Rupiah untuk perusahaan. Dengan komisi 150 Juta Rupiah, bagi siapapun yang berhasil mendapatkannya merupakan orang yang beruntung. Dengan uang sebanyak itu mampu mencukupi hidup selama tiga bulan, bahkan lebih.
"Alice kamu hebat, dalam waktu dua hari saja kamu bisa mendapatkan Bisnis itu. Bahkan Pak Asep sekalipun tidak berhasil untuk mendapatkannya, memang mempunyai paras cantik sangat menguntungkan," tegur salah satu karyawan pria pada Alice.
"Iya, jika seorang wanita apalagi cantik, akan sangat lebih mudah bekerja di bidang ini, tidak seperti para pria," sahut karyawan pria lainnya menambahkan.
Alice yang mendengar ucapan mereka tersulut emosinya, "Apa maksud kalian? Aku mendapatkan kontrak itu dengan kerja keras Ku sendiri, kalau kalian mampu silahkan coba saja!" hardik Alice pada kedua karyawan pria itu.
"Benar, walaupun harus menemani Klien tidur.
Demi, untuk mendapatkan kontrak bisnis, itu juga merupakan kemampuan seorang wanita, jika kalian menginginkannya silahkan kalian coba pada klien kalian," sahut salah satu karyawan wanita dengan nada mengejek.
Meskipun perkataannya di tujukan pada kedua karyawan pria itu, tapi dapat di dengar seperti menghina Alice.
Alice sudah tidak dapat menahan emosinya, di saat dia ingin memarahi wanita itu, tiba-tiba terdengar langkah kaki memasuki ruangan.
"Tap Tap Tap!" Suara derap langkah kaki.
"Ceklek!" Suara pintu ruangan terbuka.
"Nona Alice, selamat kamu telah naik jabatan menjadi Supervisor Marketing. Atas hasil dari kerja keras dan kedisiplinan kamu selama ini, pihak perusahaan telah berdiskusi dan sudah sepakat untuk menaikan jabatan kamu," ucap Sekertaris Pak Alex sambil memberikan satu rangkap berkas dokumen.
"Oh iya, Direktur Alex menitip pesan, kamu harus lebih semangat lagi dan harus mencari lebih banyak keuntungan untuk perusahaan ini," sambung Sekertaris itu sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
"What! apa aku sedang bermimpi!" gumam Alice terkejut, bahkan terdiam seperti orang bengong.
Bukan hanya Alice yang terkejut mendengar ucapan Sekertaris Pak Alex itu, tetapi semua karyawan yang berada di dalam ruangan itu, apalagi ketiga orang yang barusan menghina Alice.
Ketiga orang ini memiliki kemampuan bekerja yang lebih baik di bandingkan dengan Alice, akan tetapi kenapa Alice yang mendapatkan jabatan Supervisor itu. Sehingga membuat mereka merasa tidak puas dan menaruh rasa dendam kepada Alice.
Berbeda dengan Pak Asep, dia sudah tidak terkejut lagi. Malahan dia merasa sangat kesal, terlihat dari wajahnya yang tidak enak di pandang.
Flash back.
" Aku akan menaikan jabatan Alice, gimana menurut Mu?" tanya Pak Alex pada pak Asep.
Pak Asep terkejut mendengar ucapan Pak Alex, meskipun dia selalu curiga jika Alice memiliki hubungan gelap dengan Pak Alex. Namun dia tidak pernah menyangka jika Pak Alex berani mengangkat jabatan Alice.
"Jangan, dia masih belum berpengalaman, masih banyak karyawan lain yang pantas dan lebih berpengalaman," jawab Pak Asep.
"Oh ya, lalu kenapa dia bisa mendapatkan kontrak ini, bahkan kamu sendiri tidak mampu untuk mengurusnya?" tanya Pak Alex sambil menatap tajam kearah Pak Asep.
Menurut Pak Alex, ini adalah waktu yang tepat untuk menaikan jabatan Alice, dengan begini tidak akan ada yang curiga jika dia sengaja menaikan jabatan Alice secara halus.
"Itu mungkin karena dia hanya beruntung, atau mungkin dia telah melakukan hal yang..." sebelum selesai mengucapkan kalimat terakhir, Pak Alex langsung memotongnya.
"Jika Aku bilang naik jabatan, ya naik. Apapun alasannya, yang jelas dia telah berhasil tidak seperti dirimu," ucap Pak Alex dengan nada tinggi, lalu memanggil Sekertaris pribadinya.
Pak Asep merasa jengkel, dia hanya diam dan menahan amarahnya. Baginya percuma saat ini jika berdebat dengan Pak Alex, lebih baik memberi pelajaran pada Alice secara halus.
°°°°
"Semua orang segera ke ruangan rapat! Kita adakan rapat sekarang!" ucap Pak Asep dengan tegas dan menggelegar, sambil pergi menuju ruangan rapat.
Semua orang di sana masih terdiam dan tidak fokus, termasuk Alice. Akan tetapi masih ada beberapa orang yang mengerti maksud Pak Asep, karena melihat raut wajah dia yang tidak baik.
Pak Asep menoleh kearah belakang, dia melihat semua orang masih terdiam, hingga membuat dirinya marah.
"Aku bilang semua orang pergi ke ruangan rapat! Apa kalian tidak mendengarnya?" teriak Pak Asep dengan nada tinggi, membuat semua orang tersadar dari lamunannya.