My Dad Is Billionaire

My Dad Is Billionaire
Mencari Bukti



...Matahari mulai terbangun dari peraduannya, memancarkan sinarnya yang menghapus titik-titik embun di dedaunan, menghangatkan tubuh dari udara dingin, dan membakar semangat baru di hari yang baru....


Luffi terbangun dari tidurnya, ia menatap sang istri yang sedang tertidur lelap di sebelahnya.


..."Sinar matahari pagi memang begitu cantik, tetapi sinar matahari akan kalah cantik bila dibandingkan dengan senyum indahmu. Udara pagi memang menyejukkan, tetapi lebih menyejukkan lagi ketika melihat wajahmu," gumam Luffi sambil menatap wajah istrinya yang sedang tersenyum....


...Entah apa yang ada di dalam mimpi Alice, sehingga membuat dia tersenyum dalam tidurnya....


Luffi langsung bangun dari tempat tidur, lalu pergi ke kamar mandi. Setelah selesai mandi dia berencana untuk memasak buat sarapan.


Bagi Luffi, memasak merupakan salah satu keahliannya, karena jika Alice lagi sibuk dia 'lah yang memasak untuk makan dia dan anaknya.


"Hmm ... Masak nasi goreng bosen, terus masak apa yah?" Luffi berpikir seraya melirik bumbu-bumbu dapur yang ada di depannya.


Luffi mengecek satu persatu bahan-bahan yang ada di dapur, "Timun, wortel dan kubis. Oh iya, ada daging ayam di kulkas," Luffi pun mengambil daging ayam dari dalam kulkas dan dia melihat ada buah alpukat, timbul 'lah sebuah ide untuk memasak sesuatu.


"Aku bikin roti gulung isi aja, mereka pasti akan suka," gumam Luffi sambil menyiapkan bahan-bahan untuk membuat makanan tersebut.


Setelah semua bahan berada di atas meja, kemudian Luffi baru mulai memasaknya.


Pertama luffi merebus daging ayam terlebih dahulu. Seraya menunggu daging itu matang dia mulai mengiris panjang Alpukat, Wortel, Timun dan Kubis untuk campurannya.


Setelah adonan sudah jadi, Luffi mengambil roti tawar untuk membungkusnya. Roti putih digulung sampe tipis banget dan melebar, setelah itu atur di bagian atasnya alpukat, wortel, timun, kubis, dan ayam yang sudah di cincang halus. Kemudian setelah ditata rapih atasnya, beri sedikit perasan lemon, garam dan merica secukupnya, lalu gulung rotinya.


Selesai dan jadilah roti gulung isi, versi Luffi.



Alice yang baru bangun tersentak kaget saat pandangan matanya tertuju pada jam dinding yang berada di sebelah tempat tidur.


"Astaga sudah jam 7:30."


Alice langsung menuju kamar mandi, karena dia sadar jika dirinya hampir terlambat untuk pergi ke kantor.


Setelah hidangan sudah siap santap, Luffi menaruhnya di atas meja makan. Kemudian dia berjalan menuju kamar anaknya untuk membangunkan Clara.


Ceklek!


Terlihat seorang anak perempuan yang masih terbungkus dengan selimut, di atas kasur.


"Clara sayang, ayo bangun Nak!" ucap Luffi lembut sambil membelainya.


"Hmmp ..." Clara yang masih merasa kantuk, terasa enggan untuk bangun.


"Anak pintar harus bangun pagi, 'kan Clara harus pergi sekolah," ucap Luffi.


Clara membuka mata melihat ke arah Luffi, "Baik Ayah! Clara mandi dulu," sahut Clara dengan nada lemas.


Clara langsung bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.


"Yaudah cepat mandi dan ganti baju! Ayah nunggu di meja makan ya sayang," ucap Luffi.


Clara hanya mengangguk pelan menjawab ucapan ayahnya tanpa menoleh kearah Luffi.


Luffi langsung pergi meninggalkan kamar anaknya, niatnya ingin membangunkan Alice yang tadi masih tidur lelap. Namun ternyata Alice sudah merapihkan diri dan siap untuk berangkat kerja.


"Kamu sudah bangun, mari kita sarapan bersama," ucap Luffi mengajak istrinya.


Alice menggeleng pelan lalu berkata, "Tidak perlu, Aku sudah terlambat ke kantor," sahut Alice singkat.


Alice mengambil tas dan berjalan kearah Luffi yang berada di pintu kamar.


"Lain kali saja, Aku bisa sarapan di kantor. Aku tidak ingin terlambat bekerja, karena lagi banyak kerjaan yang harus Ku kerjakan," sahut Alice sambil berjalan meninggalkan Luffi di depan pintu kamarnya.


"Hmm ... Kerjaan apa? Hingga membuatmu sampai lupa dengan keluarga," gumam Luffi sambil menatap kepergian istrinya.


Setelah selesai sarapan dan mengantarkan Clara ke sekolah, Luffi berencana untuk pergi ke kantor Abadi Jaya. Walau dia tahu bahwa bukan Sif masuk kerjanya sekarang, tapi ada sesuatu yang harus ia bicarakan dengan pak Alex.


PT Abadi Jaya. Luffi berjalan memasuki kantor dengan berjalan santai, tanpa peduli dengan karyawan lain yang sedang melirik dan menggunjing dirinya.


"Itu kan petugas keamanan yang bernama Luffi, katanya dia menjual istrinya ke Pak Alex hanya demi mempertahankan pekerjaannya," bisik karyawan wanita di bagian resepsionis.


"Iya benar. Sungguh pria yang brengsek! Hanya demi pekerjaan sampai tega berbuat seperti itu, kalau Aku yang menjadi istrinya pasti sudah ku ceraikan saja dia," sahut rekan kerja wanita di sebelahnya.


"hust ...!" Karyawan wanita itu menempelkan jari telunjuknya di bibir.


"Sudah diam, lihat dia melirik kearah kita," ucap karyawan wanita itu.


Luffi sempat mendengar gunjingan mereka, dia memandang karyawan wanita itu dengan tatapan dingin. Namun Luffi tidak berbicara sepatah kata pun, dia langsung berjalan cepat menuju lift.


Kedua karyawan wanita itu merasa takut dengan tatapan dingin Luffi, seakan mereka melihat sosok seorang penguasa yang lagi marah.


"Untung dia segera pergi, kalau tidak bisa-bisa Aku mati sambil duduk di kursi ini," ucap karyawan wanita itu dan di sambut anggukan pelan rekan kerjanya.


"Selamat pagi, Tuan Luffi," ucap Sekertaris pribadi Alex sambil memberi hormat ketika melihat kedatangan Luffi.


"Apakah, Pak Alex ada?" tanya Luffi singkat.


"Ada di dalam, Tuan," sahut Sekertaris itu sambil berjalan membukakan pintu ruangan.


Tok Tok Tok!


"Masuk!" terdengar suara dari dalam sana.


"Silahkan masuk, Tuan!" Sekertaris itu membukakan pintu ruangan.


Luffi berjalan memasuki ruangan itu, dia melihat pak Alex yang sedang duduk sambil menatap laptopnya.


"Kelihatannya Kamu sedang sibuk," ucap Luffi pada pak Alex.


Pak Alex langsung bangkit dari duduknya, saat mendengar suara Luffi.


"Maaf Tuan Luffi, Aku kira tadi Sekertaris yeni yang masuk," ucap pak Alex dengan sopan sambil membungkukan badannya.


"Sudahlah, Aku datang kesini hanya untuk menanyakan masalah gosip itu. Apa Kamu sudah menemukan pelakunya?" tanya Luffi datar sambil duduk di bangku dekat jendela.


"Belum Tuan, tapi Aku dapat informasi jika gosip itu berawal dari bagian keamanan. Aku baru saja ingin menanyakan langsung kepada Pak Joko selaku kepala keamanan di kantor ini," sahut pak Alex.


"Oh ... Terus Kamu selidiki-! Aku yakin Pak Joko dan Pak Asep terlibat dalam masalah ini," ucap Luffi dingin.


"Baik, Tuan! Aku pasti akan menyelidikinya dan Aku juga sependapat dengan Tuan, jika mereka pasti dalang dari semua ini," sahut pak Alex.


"Cari bukti terlebih dahulu, biar nanti Aku yang akan mengurus sisanya," ucap Luffi sambil mengambil sebatang rokok dari dalam saku celananya.


"Baik, Tuan Luffi! Aku akan mencari bukti itu," sahut pak Alex.


"Ternyata Kamu ingin bermain-main denganku, Asep. Kita lihat saja hukuman seperti apa yang pantas Aku berikan padamu." gumam Luffi dalam hati sambil menghisap rokok.