
Alice terkejut melihat kelakuan Luffi, tapi saat dia tersadar Luffi sudah menarik pak Asep keluar dari ruangan.
"Kalau lain kali kamu datang lagi kesini, Aku akan membuatmu menginap di rumah sakit ini juga," ucap Luffi emosi, sambil melempar kotak yang berisi uang 200 juta pada pak Asep yang terbaring di lantai.
Alice mengejar Luffi keluar ruangan, dia takut Luffi melakukan hal buruk pada pak Asep.
"Apa Kamu sudah gila, Luffi. Cepat minta maaf pada pak Asep!" Alice membentak sambil melotot pada Luffi.
Luffi diam tak bergeming, dia bahkan tidak menghiraukan ucapan istrinya.
Asep bangun dan menatap kesal Luffi, sambil menunjuk Luffi dia berkata.
"Luffi hebat sekali kamu! Lihat saja nanti, saat di kantor besok," ucap Asep mengancam Luffi.
Asep mengambil kotak uang dan berbalik pergi. Baginya Luffi hanya seorang petugas keamanan kecil di kantornya, setelah kembali ke kantor dia memiliki banyak cara untuk mempermainkan Luffi disana.
"Pak Asep!" Panggil Alice ingin menghentikan pak Asep dan meminta maaf atas kelakuan Luffi.
Pak Asep tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang. Alice menatap kesal, pada Luffi.
"Luffi, kenapa Kamu begitu kasar?! Pak Asep telah membantu anak kita, Kamu bukannya berterima kasih, malah berbuat seperti itu. Apakah yang kamu lakukan ini, adalah benar?" Alice tidak habis fikir dengan kelakuan Luffi pada pak Asep.
Luffi menatap kesal istrinya, Alice. "Aku sudah bilang padamu, tak butuh bantuanya. Kenapa kamu tetap meminjam uang padanya, apakah kamu tahu bahwa dia itu tertarik padamu?" Ucap Luffi merasa jengkel karena selalu di salahkan.
Alice terkejut mendengar ucapan Luffi, dia merasa Luffi salah paham dengan apa yang terjadi.
"Apa maksudmu, Luffi?! Kamu kira Aku ingin memberinya kesempatan. Jika bukan karena nyawa anak kita, mana mungkin Aku sudi meminta bantuanya. Kalau saja kamu lebih cepat mendapatkan uang itu, aku juga tidak akan pinjam padanya."
Alice sangat marah, jika bukan karena kondisi anaknya, lalu Luffi yang tak berguna. Apakah Alice akan meminjam uang kepada orang yang sangat ia benci, apalagi menemaninya berbincang disebelah nya.
"Kamu masuklah temani Clara! Aku mau pergi dulu ada urusan," ucap Luffi datar.
Alice merasa curiga dengan uang yang di dapatkan Luffi dengan mudah, dia tidak percaya jika uang itu bukan dari Rentenir.
"Apa yang ingin Kamu lakukan? Apakah uang yang Kamu dapatkan itu dari pinjaman riba?" tanya Alice dengan curiga.
"Tidak! Aku mendapatkan pinjaman itu dari temanku," ucap Luffi lalu pergi karena malas berdebat.
Beberapa hari ini mereka sering bertengkar, Luffi merasa malas, ia ingin pergi sendirian untuk menangkan diri diluar. Awalnya Luffi ingin memberitahu semua kenyataan kepada Alice, tapi melihat sikap Alice, membuat Luffi mengurungkan niatnya.
°°°°°
Pagi hari yang cerah, Luffi duduk sambil menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok. Dengan suara alunan suara musik, membuat nikmat suasana di pagi hari.
Luffi memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Dia yakin dengan adanya bantuan paman Candra, bukan hal sulit untuk mendapatkan donor ginja buat anaknya.
Luffi memilih untuk merawat anaknya di rumah sakit, hingga sembuh dan keluar darisana.
°°°°
Bangunan PT Abadi jaya mempunyai 3 lantai,
terdapat 10 petugas keamanan di kantor ini. Ada yang bertugas di bagian, pengawasan di setiap lantai, di depan gerbang dan di bagian parkiran kendaraan.
Luffi bekerja di bagian depan gerbang kantor,
Sesampainya di depan gerbang, Luffi di sapa oleh sahabatnya.
"Kak Luffi, bagaimana keadaan anakmu?" sapa salah satu petugas keamanan gerbang.
Petugas keamanan itu bernama Rendi, dia adalah senior Luffi. Dulu Rendi sangat arogan terhadap orang baru, seperti Luffi. Apalagi setelah kembali dari kemiliteran, sifat kasar dan galak masih lekat padanya. Karena nasib nya tidak baik, akhirnya dia melamar menjadi petugas keamanan disini.
Luffi pernah berdebat dengan Rendi waktu pertama Luffi masuk ke perusahaan, sehingga pernah terjadi perkelahian diantara mereka. Luffi memang bukan mantan militer seperti Rendi, tapi Luffi memiliki bela diri, dan selalu melatih diri untuk tenang, sehingga belum ada musuh yang mengalahkannya.
Setelah bertukar beberapa pukulan, akhirnya Rendi dikalahkan oleh Luffi, sejak saat itu Rendi kagum pada Luffi dan sering menyapa Luffi jika bertemu.
"Anakku akan sembuh, jika Aku menemukan pendonor ginjal, untuk anakku," sahut Luffi.
"Kak Luffi, Aku lihat Pak Asep datang ke ruangan Pak Joko," ucap Rendi dengan wajah serius.
"Pak Asep! Mau apa dia?" tanya luffi antusias.
"Mungkin untuk memecat Kak Luffi," ucap Rendi ragu.
Luffi mengangkat sudut bibirnya, dia teringat akan ancaman pak Asep saat di rumah sakit. Tapi memang kedatangan Luffi kesini juga untuk mengundurkan diri, jadi jika dia di pecat sama saja baginya.
Luffi pergi kedalam ruangan kepala petugas keamanan, belum sempat Luffi mengucapkan salam. Terdengar suara Joko menegurnya.
"Luffi, kamu sering meminta izin kerja. Sangat mengganggu kinerja divisi keamanan, Aku di pinta Pak Alex untuk memecatmu," ucap pak Joko tegas.
"Oke baiklah, sekarang berikan gajihku beberapa hari ini," sahut Luffi dengan santai.
"Kamu itu di pecat! Bagimana kamu bisa mendapatkan gajih? Bahkan uang jaminan pun, tidak dapat di kembalikan," ucap pak Joko sambil tersenyum mengejek.
Pak Joko sedikit terkejut, dia mengira Luffi akan berdebat lama dengannya. Namun, ternyata Luffi langsung menerima dengan santai.
"Dasar bocah! Berani cari masalah dengan Pak Asep, apa Kamu tahu Pak Asep itu merupakan salah satu tokoh yang memiliki hak di perusahaan ini. Memecat Kamu tidak perlu menjalani proses apapun," gumam Joko sambil tersenyum.
Luffi hanya tersenyum mendengar ucapan Joko, dia pun terawa dingin sambil pergi meninggalkan ruangan.
"Baiklah, Aku akan menanyakannya langsung pada Pak Alex," ucap Luffi sambil berjalan keluar ruangan.
Meskipun sekarang Luffi telah menerima warisan kekayaan keluarganya dan tidak peduli dengan uang itu, tapi tidak ada yang boleh mengambil uangnya begitu saja.
Melihat Luffi yang percaya diri, pak Joko mengerutkan keningnya, lalu mengambil telepon untuk menghubungi pak Asep.
📱"Halo Pak Asep! Luffi pergi ingin menemui Pak Alex, sepertinya kurang baik jika kita tidak memberikan uang jaminan padanya," ucap pak Joko via telepon.
📱"Tenang saja, ayku sudah bicara dengan Pak Alex. Bahwa dia hanya seorang petugas keamanan saja," ucap pak Asep dengan cuek.
Pak Asep memutuskan panggilan dari pak Joko kemudian menaruh kembali teleponnya.
"Luffi oh Luffi ... Orang yang tidak berguna sepertimu ingin berebut wanita denganku?" ucap pak Asep lirih sambil tersenyum kecil.
"Kita lihat saja, ini baru awalan permainanku. Tunggu lah saat Aku menemukan dimana Kamu meminjam uang itu, akan kubuat Kamu mati lebih parah," ucap pak Asep tersenyum penuh kemenangan.
Sepuluh menit kemudian, Luffi telah sampai di depan ruangan pak Alex dan memaksa masuk kedalam ruangan tersebut.