
Selamat membaca Cerita MDB, jangan lupa untuk meninggalkan jejak 👣. Like dan Komen setelah membaca Cerita MDB, Terima Kasih.
Alice langsung berdiri dan keluar dari dalam ruangan, Pak Reza ingin mengejarnya namun dia harus mengangkat telepon dari atasan nya terlebih dahulu.
"Selamat siang Pak Ando," ucap Pak Reza menyapa via telepon.
"Pak Reza, apa kamu sedang berbisnis dengan wanita bernama Alice, dari perusahaan Abadi Jaya?" tanya Pak Ando.
"Benar, Pak!" Pak Reza merasa bingung karena tiba - tiba Pak Ando menanyai hal ini.
"Kenapa Pak Ando begitu perduli, biasanya semua keputusan aku yang menentukan tanpa harus campur tangannya," gumam Pak Reza dalam hati.
"Apakah kamu sengaja mempersulitnya?" ucap Pak Ando dengan nada yang tidak enak di dengar.
"Ti- tidak Pak!" ucap Pak Reza terkejut.
"Apakah dia mengenal Manajer Ando?" gumamnya dalam hati, dengan perasaan cemas.
"Apakah kamu tahu, siapa yang membantu wanita itu? Dia Seorang Presdir Perusahaan Candra Asri, Pak Candra sendirilah yang langsung menghubungi ku. Pak Reza aku peringati kamu, segera urusi masalah ini dengan baik, kalau tidak jangan harap kamu bisa hidup di Kota Cilegon ini lagi," ucap Pak Ando emosi dan memarahi Pak Reza, lalu mengakhiri panggilan nya.
Pak Reza merasa gelisah setelah mendengar ucapan atasannya, ia pun langsung mengejar Alice keluar ruangan.
"Nona Alice tunggu sebentar," teriak Pak Reza dari kejauhan.
Alice tidak menghiraukan nya, Pak Reza panik dan langsung mengejar Alice. Dia tahu jelas jika Manajer Ando sudah marah, dia harus segera mengurus masalah ini dengan baik kalau tidak maka tamat lah dia.
Jika dilihat dari kemampuan manajer Ando, merupakan hal mudah untuk membuat dirinya celaka. Namun Pak Reza masih bingung, ada hubungan apa Pak Candra dengan wanita itu, sehingga membantunya. Kemudian kenapa wanita itu menjadi karyawan di perusahaan kecil, seperti Abadi Jaya.
Walaupun hatinya penuh dengan keraguan, namun dia tetap tidak berani berurusan dengan Manajer Ando.
"Nona Alice, tunggu sebentar!" Pak Reza akhirnya bisa mengejar Alice.
"Mau ngapain lagi, kamu?" Tanya Alice dengan nada tinggi sambil menatap tajam pada Pak Reza.
Alice merasa berani jika sudah berada di luar ruangan, dia sudah tidak khawatir lagi jika Pak Reza akan melakukan macam - macam pada dirinya.
"Maafkan aku Nona Alice, aku telah hilaf tadi semoga kamu mengampuni ku, nona. Aku akan mentandatangani kontrak bisnis itu, mari kita duduk kembali," Pak Reza memohon agar Alice tidak pergi dan mau bekerja sama dengannya.
"Apa?" Alice merasa terkejut, mengapa sikap Pak Reza berubah seketika.
"Begini saja, kontrak kali ini sesuai dengan harga yang kamu berikan saja. Jika Nona Alice tidak percaya, mari kita mencari meja di lobby saja untuk mentandatangani kontrak itu," ucap Pak Reza meyakinkan Alice.
Ini merupakan perintah dari menejer Ando, dia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya jika masalah ini tidak selesai baik.
"Apakah karena tamparan ku tadi, sehingga membuat otaknya tidak waras!" gumam Alice dalam hati.
"Nona Alice, apa aku terlihat seperti sedang bercanda? Jujur saja telepon barusan adalah dari Manajer Ando, dia menyuruh ku untuk mentandatangani kontrak bisnis ini, untuk mu.
Nona Alice, kenapa kamu tidak berkata lebih awal jika Nona mengenal orang penting seperti itu? Kalau Nona Alice mengatakannya lebih awal, mungkin tidak akan terjadi seperti tadi," ucap Pak Reza sambil menunjukan senyuman pahit di bibirnya.
"Orang penting? Manajer Ando? Aku benar - benar tidak mengenalnya loh!" Alice merasa bingung, karena dia sama sekali tidak kenal dengan nama yang di sebutkan oleh Pak Reza.
"Bukan Manajer Ando, tetapi orang penting lainnya yang bahkan Manajer Ando pun harus menghormatinya," ucap Pak Reza sambil memberikan tanda oke dengan jempolnya.
Namun Alice tidak mengerti maksud ucapan Pak Reza, dia hanya bengong kaya ayam kena penyakit flu burung. Menurut Pak Reza tidak masalah jika Alice tidak mengerti maksud ucapannya, yang terpenting adalah Alice sudah mau bekerja sama dengan nya.
Bagaimana Alice tidak bengong, ini adalah Proyek besar, bahkan Pak Asep sendiri tidak mampu untuk mendapatkannya, tapi kini malah kliennya sendiri yang memohon untuk menandatangani kontrak ini, gimana Alice tidak syok dengan apa yang terjadi.
Alice seperti bermimpi di siang bolong, setelah dia mendapatkan kontrak ini, dia tidak takut lagi kalau Pak Asep akan memotong bonus bulanannya, malahan Alice akan mendapat komisi 150 juta.
Namun dia benar - benar tidak mengerti siapa yang telah membantunya dari belakang, walaupun Pak Reza berkata jika orang penting itu yang membantunya, tapi dia tidak mengenal orang itu sama sekali.
Setelah lama berpikir untuk mengetahui siapa orang yang di maksud oleh Pak Reza. Namun tidak pernah sedikit pun terpikirkan olehnya, jika Luffi lah yang telah membantunya.
"Sudahlah, jika aku sudah mengetahui siapa yang telah membantuku, aku akan berterima kasih padanya nanti," gumam Alice dalam hati, karena tidak dapat menemukan siapa orang itu.
Setelah selesai mentandatangani kontrak itu, Alice langsung pergi untuk kembali ke kantor dengan penuh semangat. "Akhirnya aku telah mendapat kontrak ini, tinggal memberikan laporannya saja ke kantor," gumam Alice yang merasa senang karena masalahnya teratasi.
Pak Reza mengembuskan nafas lega, karena masalahnya berjalan dengan baik, ia pun langsung menghubungi Manajer Ando, untuk melaporkan jika dia telah menjalankan tugas sesuai permintaannya.
Walaupun Pak Ando tetap marah padanya, akan tetapi Pak Ando tidak semarah waktu pertama kali menelponnya.
"Sialan Pak Asep, dia sengaja menjebak, ku!" Pak Reza berfikir jika semua ini adalah ulah Pak Asep, karena dia selalu menolak ajakan bisnis dengannya sehingga dirinya di jebak.
Kemudian Pak Reza menghubungi Pak Asep untuk meminta penjelasan darinya, apakah maksud dari semua ini.
"Bisa kamu jelaskan padaku, maksud semua ini? Pak Asep, kita sudah kenal lama, kenapa kamu ingin menipu ku?" tanya Pak Reza emosi via telepon.
"Apa maksudnya Pak Reza, aku tidak mengerti coba kamu jelaskan masalahnya?" ucap Pak Asep merasa bingung.
"Siapa sebenarnya wanita yang kamu suruh datang kemari? Kenapa Pak Candra, CEO dari perusahaan Candra Asri turun tangan untuk membantunya?" tanya Pak Reza dengan nada tinggi.
"Bukan siapa - siapa khoq, wanita itu hanyalah seorang karyawan biasa, mana mungkin dia mengenal Pak Candra," balas Pak Asep, dia sendiri hanya tahu nama Pak Candra, dan belum pernah bertemu dengan orang hebat itu, mana mungkin jika Alice yang karyawan biasa dapat mengenalnya.