
Pelayan wanita yang bernama Irma hanya tersenyum kecut, sebenarnya dia juga sudah mulai tidak percaya lagi pada Luffi.
Tapi Irma juga harus menjaga prinsip kerjaan nya, walaupun pada akhirnya Luffi tidak dapat membeli apapun, dari Toko pakaian ini.
"Tuan, jika anda tidak dapat segera membayar silahkan anda keluar, jangan mempengaruhi pelanggan kami yang lain," ucap pelayan Toko yang pertama mengusir Luffi.
"Jangan Sok berpura-pura kaya, lebih baik kau cepat pergi darisini. Mungkin itu masih bisa menjaga muka, mu. Jangan menunggu lebih lama, nanti akan banyak orang yang melihat dan mempermalukan kamu," ucap Wanita kaya menasehati Luffi, walaupun terdengar seperti menghinanya.
Luffi menatap kearah Wanita kaya itu, lalu mengambil handphone untuk menghubungi Pak Candra.
Tiba-tiba datang seorang pria botak dengan memakai jas hitam berdasi menghampiri Luffi disaat Luffi ingin menghubungi Pak Candra.
Tap Tap Tap! Semua mata tertuju pada pria botak yang terlihat dingin itu.
"Ternyata Pak Suhendar," ucap pria kaya yang sombong itu sopan, karena mengenali pria botak tersebut.
Pak Suhendar hanya melirik pria kaya tersebut tanpa menyapa balik pria kaya itu, lalu pergi menghampiri Luffi. Pria kaya yang sombong itu merasa canggung, saat melihat tatapan dingin pria botak berdasi itu.
"Siapa dia, Sayang?" tanya sang istri berbisik pada suaminya, karena merasa kesal pada pria botak itu. Bagaimana pun suaminya merupakan orang terpandang dan mempunyai banyak kenalan orang- orang besar, tapi pria botak tadi malah tidak memberinya muka.
"Pak Suhendar, dia merupakan Direktur Utama di Cilegon Central Mall ini. Di belakang nya adalah perusahaan terbesar di Kota Cilegon Candra Asri, sehingga Mall ini menjadi yang terbesar di Kota Cilegon," ucap pria kaya itu menjelaskan pada istrinya.
Wanita kaya itu hanya mengangguk, setelah mendengar ucapan suaminya, karena ia sadar jika posisi nya lebih rendah dari Pria botak itu.
Jangankan untuk di bandingkan dengan Perusahaan Candra Asri dengan Pemilik Mall ini saja, kedudukan suaminya sugguh tidak sepadan.
"Mungkin dia datang kesini ingin membelikan pakaian untuk anaknya juga," ucap Wanita kaya itu pada suaminya.
"Mungkin demikian," balas sang suami sambil menganggukan kepalanya.
Namun setelah melihat Pak Suhendar berdiri di hadapan Luffi, membuat mereka berdua bingung, bahkan Anissa dan teman- teman nya juga merasakan hal yang sama.
"Tuan Luffi, ternyata memang benar ini adalah dirimu, berarti aku tidak salah lihat," ucap pria botak bernama Suhendar dengan sopan pada Luffi.
Luffi menatap bingung pria botak dihadapan nya, lalu dia teringat dengan Candra.
"Kamu adalah.." belum selesai ucapan Luffi yang ingin menanyakan identitas pria botak itu, pria itu langsung memotong ucapan Luffi.
"Namaku Suhendar, Direktur Utama sekaligus penanggung jawab di Cilegon Central Mall ini," ucap Pria botak itu sambil memberi hormat kepada Luffi.
°°°
Beberapa hari lalu, Pak Candra mengadakan pertemuan rapat dengan semua para pejabat tinggi perusahaan Candra Asri. Inti dari rapat tersebut adalah memperkenalkan Luffi karena Luffi telah meneruskan warisan keluarga nya, jadi dia adalah pemilik perusahaan Candra Asri yang baru.
Sebagai penanggung jawab Cilegon Central Mall, Pak Suhendar turut serta dalam acara rapat tersebut. Jadi mendengar Luffi datang berbelanja ke Cilegon Central Mall, Suhendar langsung buru-buru datang menemui Luffi.
°°°°
Anissa memang tidak mengenal pria botak itu, jadi dia tidak terlalu terkejut melihatnya.
Berbeda dengan kedua pasangan orang kaya yang tadi menghina Luffi.
Raut Wajah mereka langsung berubah drastis dari ceria menjadi suram, setelah melihat Pak Suhendar memberi hormat kepada Luffi.
"Siapa pemuda itu? Sehingga Pak Suhendar memberi hormat padanya, apakah dia orang penting di perusahaan Candra Asri?" gumam pria kaya yang sombong itu.
"Oh, aku tahu," ucap Luffi mengangguk, dia mengerti setelah meneruskan warisan dari keluarganya, jadi dia mengetahui bisnis apa saja yang berada di bawah milik perusahaan Candra Asri, jadi dia tidak terlalu terkejut saat Pak Suhendar mengenalinya.
"Tuan Luffi, ini adalah kartu VVIP satu-satunya yang di miliki Cilegon Central Mall ini, dengan kartu ini Tuan Luffi bebas berbelanja apa saja yang Tuan Luffi mau, biar Cilegon Central Mall ini yang akan membayarnya kepada Toko di akhir bulan," ucap Pak Suhendar sopan sambil memberikan selembar kartu pada Luffi.
"Apakah aku bisa membeli semua pakaian yang ada di Toko ini, dengan memakai kartu ini?" tanya Luffi pada Pak Suhendar sambil menunjuk kartu VVIP nya.
"Bisa Tuan, anda hanya perlu menunjukannya saja, maka anda boleh membawa semua pakaian yang ada di Toko ini," ucap Pak Suhendar sopan, karena kartu VVIP memang sengaja dibuat untuk Luffi, untuk menandakan status tinggi seseorang di Mall ini.
"Baiklah, bungkus semua pakaian anak-anak perempuan yang ada di Toko ini, dan untuk pakaian anak-anak pria berikan saja pada panti asuhan," ucap Luffi kepada pelayan Toko pakaian anak-anak tersebut.
Kedua pelayan wanita itu tercengang, mereka terdiam sesaat, Luffi memang tidak bawa kartu ATM, tapi kartu VVIP itu lebih berharga di Cilegon Central Mall.
Sebelum bekerja di Mall ini, seluruh karyawan mendapatkan pelatihan dan harus mengingat selembar kartu VVIP itu, jika ada yang belanja memakai kartu VVIP itu mereka tidak boleh meminta uang kepadanya, walaupun barang yang di belinya sangatlah mahal.
"Kenapa kalian hanya diam, cepat bungkus semua pakaian itu," ucap Pak Suhendar pada pelayan wanita yang terdiam kaku.
Mendengar ucapan Pak Suhendar yang dingin kedua pelayan wanita itu langsung bereaksi, bahkan semua pelayan yang lain membantu membungkus semua pakaian yang berada di Toko itu, kemudian Pak Suhendar menelpon seseorang untuk membawa pakaian anak pria kepada panti asuhan.
Luffi mengalihkan pandangannya lalu menatap kedua pasangan suami istri, kedua pasangan suami istri itu merasa takut, saat tatapan mata Luffi berarah pada mereka.
°°°°°
Luffi terdiam sejenak menatap kearah bawah pada kolom komentar dan Like, melihat jumlah LIKE dan kata-kata di dalam komentar namun pandangan nya teralihkan pada jumlah Vote yang tidak pernah berubah, ia pun berkata, "Alhamdulilah masih ada yang Like dan komen Novel ini, tapi mengapa belum ada yang Vote yah, apa mungkin karena cerita nya kurang menarik atau karena hal lain nya?" ucap Luffi sambil menatap jumlah Vote yang hanya sedikiiitt,, dia pun berdoa.
"Semoga para pembaca Novel My Dad is Billionaire, di berikan kesehatan, dan di beri rezeki yang melimpah. Sehingga bisa terus membaca Novel ini dan menyisihkan rezeki nya untuk Vote novel ini, Amin."
"Terima kasih atas dukungan dan partisipasi kawan- kawan semua, Wasalam mualaikum, WR,WB."