
Selamat membaca cerita MDB, jangan lupa untuk meninggalkan jejak. Vote, like dan komentar, setelah membaca cerita MDB ini. Terima kasih.
"Aku mengerti, Pak!" ucap pak Asep singkat.
Luffi tersenyum dalam hati, dia sangat ingin tahu bagaimana cara pak Asep membuat dia memberikan kepercayaan. Walaupun ucapan-nya tidak semua bohong, tapi Luffi ingin buat sedikit pelajaran terhadap pak Asep.
"Satu lagi. Bonus akhir tahun akan naik tiga puluh persen, dan untuk komisi karyawan akan Ku naikan juga. Marketing satu persen, Supervisor dua persen dan Manajer tiga persen. Aku berharap dengan kenaikan gaji, komisi dan bonus, kalian bisa bekerja lebih giat dan semangat lagi ke depannya!" ucap Luffi sambil tersenyum menatap semua orang.
"Baiklah, untuk pertemuan kali ini cukup sampai disini. Jika ada yang perlu di tanyakan langsung saja ke Pak Alex," ucap Luffi sambil bangun dari kursinya.
"Karena Aku masih ada urusan, Asalam mualaikum!" ucap Luffi datar lalu pergi meninggalkan ruangan.
"Waalaikum salam!" semua orang menjawab salam Luffi.
°°°°
Di ruangan Direktur. Luffi langsung merubah penampilan-nya kembali seperti semula, dia duduk sambil menikmati secangkir kopi dan rokok menunggu pak Alex datang.
Ilustrasi Luffi.
10 menit kemudian, pak Alex datang dengan Sekertaris pribadinya. Pak Alex tersenyum melihat Luffi yang sedang duduk dan sudah berubah penampilan-nya, tapi blm melepas jas hitamnya.
Pak Alex menghampiri Luffi lalu berkata, "Tuan, apakah benar yang di ucapkan Tuan Luffi tadi? Dengan kenaikan gaji dan bonus untuk semua karyawan, bukankah membuat pendapatan perusahaan akan menurun?" pak Alex dengan ragu menanyakan keputusan Luffi untuk menaikan gaji semua karyawan.
Luffi mengerutkan keningnya, menatap tajam kearah pak Alex, dia paling tidak suka kalau ada orang yang menentang keputusannya, karena bagi diri Luffi uang adalah sebuah angka jadi tidak ada masalah.
"Kenapa memangnya? Perusahaan ini sudah menjadi milik Ku, aturan apapun yang Ku buat, itu juga terserah Aku. Bukan Kamu yang bilang sendiri, jika Aku ingin membuat aturan sendiri jadilah pemilik terlebih dahulu! Kenapa sekarang Kamu protes?!"
Pak Alex merasa malu mendengar ucapan Luffi, karena sebelumnya dia memang pernah mengucapkan kalimat seperti itu padanya. Dia mulai cemas, jika suatu saat Luffi berubah pikiran dan mengambil saham yang di berikan Luffi padanya. Dia mulai memutar otak, untuk mencari alasan supaya Luffi tidak marah.
"B-bukan begitu maksud Aku, Tuan. Aku tidak mungkin berani untuk protes keputusan Tuan, tapi Aku hanya mengingatkan saja, karena sekarang penghasilan perusahaan ini sedang menurun belakang ini," ucap pak Alex gugup dengan keringat di dahinya.
"Kamu tidak perlu khawatir dengan masalah itu, karena Aku sudah memikirkan-nya. Nanti Aku akan bicara dengan pak Candra, Kamu tenang saja," ucap Luffi dengan santai sambil nyeruput kopi hitam cap kapal laut.
Pak Alex terkejut setelah Luffi berkata akan meminta bantuan pak Candra, "Apa mungkin dia ingin membuat dua perusahaan ini saling bekerjasama. Jika benar demikian, pasti akan menguntungkan perusahaan ini, dan menjadi perusahaan kontruksi terbesar dan terkenal di masa depan," gumamnya.
"Baik Tuan, Aku janji akan bekerja lebih baik lagi, untuk membuat perusahaan ini seperti yang Tuan Luffi inginkan," ucap pak Alex.
Luffi mengangguk pelan, lalu Luffi bertanya pada pak Alex, tentang kasus gosip hangat di kantor ini, "Apakah, Kamu sudah menemukan penyebar gosip itu?" tanya Luffi pada pak Alex.
"Belum, Tuan," sahut pak Alex lirih sambil menggelengkan kepalanya.
Luffi mengerutkan keningnya, "Bagaimana bisa, belum ketemu? Apa tugas seperti ini saja Kamu tak mampu?!" Luffi menaikan nada suaranya.
"Maaf, Tuan Luffi. Tenang saja, dengan waktu dekat ini, pasti ketangkap pelakunya," ucap pak Alex ketakutan.
"Baiklah, Aku beri waktu tiga hari. Namun jika Kamu belum menemukan juga, Kamu akan tahu akibatnya!" Luffi mengancam pak Alex, walaupun tidak serius, tapi Luffi tetap kecewa pada pak Alex.
"Aku, mohon diri untuk melihat-lihat kinerja karyawan. Sekalian mencari informasi gosip, yang beredar dari siapa," ucap pak Alex, lalu pergi meninggalkan ruangan.
Luffi melihat kearah jam, "Astagfullah, sudah jam 12:05. Aku harus menjemput Clara," gumamnya.
"Tapi, Aku juga harus bertemu dengan Paman Candra. Untuk membahas masalah kerjasama ini," pikirnya.
Luffi berpikir keras, bagaimana pun dua-dua-nya adalah hal peting saatmenelpon, Dia akhirnya mendapatkan ide cemerlang, "Kenapa, Aku tidak menyuruh orang saja, untuk menjemput putri, Ku. Lalu suruh mengantarnya ke tempat dimana Aku bertemu dengan Paman Candra, dan nanti Aku pulang kerumah bareng anak, Ku," gumam Luffi sambil tersenyum.
Luffi langsung mengambil handphonenya untuk menghubungi pak Candra, "Asalam mualaikum, Paman," ucap Luffi dari telepon.
"Waalaikum Salam! Ada yang bisa di bantu Tuan?" sahut pak Candra lewat telepon di seberang sana.
Pak Candra sudah paham, jika Luffi menelpon, pasti ada sesuatu yang di inginkan, tuannya itu.
"Paman, Aku ingin bertemu Kamu. Di restoran Candika! Sekalian, tolong jemput Putri Ku, di TK Al-hidayah. Ada yang ingin Aku bicarakan, dengan Paman," ucap Luffi lewat telepon.
"Baik, Tuan!" sahut pak Candra lewat telepon.
"Terima kasih, Paman. Asalam mualaikum," ucap Luffi, mengakhiri panggilan.
"Waalaikum salam," sahut pak Candra lewat telepon.
Setelah selesai membereskan satu masalah, Luffi berencana untuk mengusut sendiri, kasus gosip yang menjelekan nama istrinya.
"Apakah ini ada hubungannya dengan pak Asep lagi? Jika benar demikian, dia harus merasakan akibatnya," Luffi merasa kesal, hingga memukul meja yang tak berdosa.
Dia akan menganggap biasa saja kalau itu dirinya yang di lecehkan, tapi kalau istrinya yang di perlakukan seperti ini, Luffi akan benar-benar memberikan pelajaran kepada orang itu.
Luffi keluar ruangan dan menuju ke lantai bawah, di dalam perjalanan dia menemui Alice yang sedang gelisah di dalam ruangan-nya. Luffi berinisiatif untuk mendekatinya, dan menanyakan ke gundahan apa yang sedang di rasakan istrinya.
Tap Tap Tap!!
Luffi terdiam di hadapan Alice. Namun Alice, sama sekali tidak menyadari kehadiran Luffi, karena terlalu fokus dengan kerjaannya.
"Ehemm... Kenapa, tidak makan siang?" Luffi mencoba membuka pembicaraan.
Alice terkejut, dia tidak menyadari kehadiran Luffi yang sudah ada di hadapan-nya. Namun dia tetap fokus dengan pekerjaannya, setelah melihat Luff, lalu kembali menatap laptopnya.
"Aku sedang sibuk, jadi tidak sempat makan," sahut Alice cuek, sambil tetap fokus menatap laptop.
"Oh... Apa ada pekerjaan yang sulit? Sehingga Kamu tidak sempat makan?" tanya Luffi, lalu melihat kearah laptop istrinya.
Bruuaak!!
Alice menutup laptopnya, lalu menatap sinis Luffi, "Jangan ganggu, Aku! Jika Kamu ingin makan, pergilah sendiri," Alice mendengus kesal.
Luffi menggelengkan kepala, merasa ada yang aneh. Namun, dia tetap mengalah dan pergi dari ruangan itu. Menurut Luffi, mungkin Alice sedang ada masalah, dia sangat paham dengan sikap istrinya itu.