
Luffi mengambil dua lembar kertas hvs yang ukurannya lumayan panjang dan lebar, dia menuliskan beberapa kata di kertas tersebut.
"Kami adalah seorang pecundang.
Semua ucapan kami tentang berita pak Alex dan Alice merupakan kebohongan yang kami buat. Kami minta maaf karena telah berbuat kekacauan di kantor ini, dan memohon agar pak Alex dan Alice memaafkan kami semua."
Ketika selesai menulis kalimat tersebut, Luffi dengan sigap memberikan kepada mereka berdua dan suruh membaca tulisan itu.
"Baca dengan keras!" perintah Luffi kepada mereka berdua.
Pak Asep dan pak Joko mengambil selembar kertas itu, lalu melihat dan membacanya.
"Kami adalah seorang pecundang.
Semua ucapan kami tentang berita pak Alex dan Alice merupakan kebohongan yang kami buat. Kami minta maaf karena telah berbuat kekacauan di kantor ini, dan memohon agar pak Alex dan Alice memaafkan kami semua."
Mereka membaca kalimat yang tertulis di kertas itu dengan nada pelan, betapa terkejut mereka setelah selesai membacanya.
"Sialan! Dia benar-benar ingin membuat diriku malu di depan umum," umpat pak Asep dalam hati.
"Pecundang? Apa maksudmu?" umpat pak Joko sambil mengiming-iming kertas itu.
"Benar, kalian berdua adalah pecundang! Baca dengan keras, biar kami semua mendengar ucapan itu dari mulut kalian sendiri!" bentak Luffi sambil menatap dingin kearah mereka.
Pak Joko merasa kesal dan emosi, dia ingin rasanya memukul Luffi saat ini. Namun dia sadar jika melakukan hal itu, pasti Rendi tidak akan tinggal diam.
"Baiklah," ucap pak Joko dengan nada pasrah.
Pada akhirnya mereka berdua mengucapkan kata itu dengan nada tertahan, tapi siapa kira ternyata Luffi mempermainkannya.
"Kurang keras! Katakan sekali lagi-!" bentak Luffi sambil menggebrak meja.
Mereka pun langsung berkata dengan lantang tanpa hambatan, tidak seperti sebelumnya. Namun Luffi dengan sengaja berpura-pura tidak mendengarnya, dan menyuruh mereka mengulangi kembali.
"Apa Kalian mendengarnya?" tanya Luffi pada Rendi dan pak Alex.
"Tidak," sahut mereka dengan kompak sambil tersenyum mengejek.
"Kalian dengar? Mereka tidak mendengar ucapan kalian, jadi ulangi lagi!" ucap Luffi sambil tersenyum mengejek.
°°°°
Clara masih menunggu kedatangan ayahnya dengan di temani oleh bu Sherli.
"Kenapa Ayah belum datang juga yah," gerutu Clara sambil menatap kearah pintu gerbang.
Clara merasa sedih, karena sudah dua jam dia menunggu di taman bersama bu Guru Sherli.
Bu Sherli yang merasa iba melihat gadis kecil yang cantik ini sedih, kemudian membujuknya untuk bertamu ke rumah dia.
"Bagaimana kalo kita menunggu ayah Clara, di rumah Ibu?" ajak bu Sherli pada Clara.
"Tapi bagaimana kalo Ayah datang ke sekolah ini, pasti nanti Ayah mencariku," sahut Clara dengan nada lugu.
"Tenang saja, nanti Ibu akan telepon Ayah Clara dan menyuruh jemput di rumah Ibu," ucap bu Sherli sambil mengelus kepala Clara.
"Siapa tahu Ayah Clara sedang sibuk kerjanya, jadi terlambat menjemput Clara," lanjutnya.
"Hmmp ..." Clara mengangguk bertanda setuju dengan ajakan bu Sherli, dia pun merasa jika ucapan bu Sherli ada benarnya.
Mereka pada akhirnya memutuskan pulang ke rumah bu Sherli.
°°°°
Di ruangan pak Alex, terlihat pak Asep dan pak Joko masih di permalukan oleh Luffi.
"Oke cukup!" ucap Luffi karena merasa puas.
"Sekarang kalian berdiri di depan pintu utama kantor (lobby) sambil memakai kalung antik yang terbuat dari kertas itu!" titah Luffi sambil menunjuk kertas yang di pegang oleh mereka.
"Apa ...!!" sahut mereka berdua dengan wajah tercengang.
"Berdiri di depan lobby? Apa kamu sudah gila?!" bentak pak Asep merasa kesal.
"Diam!" hardik Rendi sambil memukul pundak pak Asep.
Gedeblug!!
Pak Asep meringis kesakitan terbaring di atas lantai, dia memegangi pundaknya yang terasa sakit.
"Kalian tahu betapa menyedihkan berada di dalam jeruji besi bukan?! Tapi Aku pastikan kalian akan lebih tersiksa berada di dalam sana!" ancam Luffi.
"Silahkan kalian pilih?" ucap Luffi.
Mereka berdua terdiam sejenak menatap satu sama lain, karena dua pilihan yang di berikan oleh Luffi bagaikan buah simalakama untuk mereka.
"Baiklah, Aku menuruti kemauanmu," sahut pak Asep dengan nada pasrah.
Pak Joko hanya mengangguk kepala pelan, dia sudah pasrah dan tidak punya pilihan lain, selain mengikuti keinginan Luffi.
Luffi mengambil kedua kertas itu, lalu di kasih tali untuk mengalungkannya.
"Pakailah ini dan berdiri disana sampai jam pulang kantor nanti!" ucap Luffi tegas sambil memberikan kedua kalung antik ciptaanya.
"Satu lagi yang sangat penting! Kalian harus mendapatkan maaf dari istriku, kalau tidak! Upaya yang kalian lakukan ini adalah sia-sia," ucap Luffi dengan tegas.
"Apa kalian mengerti?!" bentak Luffi bertanya pada mereka.
"Iya kami mengerti," sahut mereka berdua tanpa perlawanan sedikitpun.
Menurut Luffi hukuman seperti ini adalah yang setimpal dengan perbuatan mereka kepada istrinya, meminta maaf adalah tujuan utama dia.
"Rendi ...!" panggil Luffi pada kawannya itu.
"Siap, Bos," sahut Rendi singkat.
"Mulai sekarang, Kamu, Aku angkat menjadi kepala keamanan kantor," ucap Luffi.
"Tolong pantau mereka berdua! Jangan biarkan mereka kabur dari hukum ini!" printah Luffi pada Rendi.
"Siap, laksanakan!" sahut Rendi dengan tegas.
"Jika mereka berdua mencoba kabur, Aku pasti akan membuatnya tidak bisa berjalan lagi!" tegas Rendi sambil menatap tajam pada pak Asep dan pak Joko.
"Aku harap kalian berdua bisa melakukan tugas pertama dariku dengan baik! Kalau tidak, kalian akan tahu akibatnya," ancam Luffi pada pak Asep dan pak Joko.
"Pergilah!" suruh Luffi sambil melambaikan tangannya memberi tanda untuk pergi.
Mereka berdua dan Rendi pun langsung pergi meninggalkan ruangan pak Alex.
°°°°
Alice yang sudah selesai mengerjakan tugas kantor dan beberapa berkas dokumen untuk pengajuan proyek ke perusahaan Candra Asri nanti, dia merebahkan tubuh moleknya di atas kursi.
"Ahh ... Capek banget," rintih Alice merasa lelah.
Alice melirik kearah jam dinding yang berada di tembok ruangan, dia merasa terkejut saat melihat waktu sudah menunjuk pukul 03:30 sore.
"Sebentar lagi jam pulang kerja, Aku harus membereskan mejaku lebih dulu," gumamnya dalam hati sambil menatap meja yang telah berantakan.
Dengan telaten, Alice membenahi berkas-berkas yang berada di atas meja kerjanya.
Setelah semua selesai, dia langsung keluar ruangan. Betapa terkejut melihat karyawan lain datang kepadanya untuk meminta maaf, walau ada juga yang cuek-cuek saja bahkan berpikir buruk.
"Maafin ucapan kami yah Supervisor Alice, karena kami sudah bicara yang tidak baik tentang kamu," ucap para karyawan bagian marketing.
Mereka tidak ingin jika nanti pak Alex akan melakukan hal yang sama seperti pak Asep kepada mereka, makanya dengan cekatan mereka langsung meminta maaf pada Alice.
Alice hanya manggut-manggut menjawab permintaan maaf orang-orang, namun hatinya masih merasa bingung dengan kejadian ini.
"Kenapa tiba-tiba semua orang datang padaku untuk meminta maaf? Padahal dari kemarin mereka mencibirku," gumam Alice dalam hati.
°°°°
*Setelah sekian hari, pada akhirnya My Dad is Billionaire update juga.
Meskipun begitu Author harap para Reader yang cantik dan ganteng, akan selalu setia menunggu karya rempeyek Author ini dengan lapang dada dan sabar!
Walau demikian Author akan berusaha untuk bisa merilis update lebih cepat lagi kok, jadi mohon bersabar yah!
Warning*!!
***Jangan lupa untuk meninggalkan jejak, Vote, like dan komentar di bawah ini.
Wasalam mualaikum, wr, wb.
Terimakasih***!