My Chief Executive Officer

My Chief Executive Officer
Perjodohan



Raut wajah kebahagiaan terpancar dari semua orang yang berada di sana.


“Bagaimana kabarmu?”Ayah Adi menatap lekat om Irawan


“Ya seperti ini.. Kesehatanku sedikit memburuk Di, mungkin karena faktor usia dan aku terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sekarang aku menyerahkan perusahaan kepada anakku beruntung sekali putraku sangat berbakat di dunia bisnis jadi aku hanya membantu masalah perusahaan sedikit sedikit ” jawab om irawan


“Ini anakmu? Saingatku Diki tak punya anak perempuan !” Tanya om iwaran sembari menunjuk Aeera


“Iya, ini putriku Aeera” Ayah Adi memperkenalkan anaknya


Aeera hanya mengangguk kecil sambil tersenyum tipis membuat gemas semua orang yang ada di sana


“Manis sekali putrimu. Apa dia sudah menikah ?” Tanya tante Erin


“Dia bahkan belom mempunyai pacar siapa yang mau sama dia” ledek ayah Adi sambil melirik Aeraa


Apa apaan sih ayah banyak kali yang mau sama aku emang aku sejelek itu apa bantin Aeera sedikit kesal namun dia tetap memberikan senyum terbaiknya.


“Oh iya Adi, bagaimana bisa kamu lupa janji kita dulu” tutur om Irawan


“Janji apa ?” Ayah adi berbicada dengan penuh tanya sambil mengiangat apa sebenarnya janji mereka dulu


“Kita pernah janji suatu saat nanti akan menjadi besan, kebetulan sekali anakku laki laki dan anakmu perempuan bukankah ini sebuah takdir” ucap om Irawan sambil tertawa gembira


“Apa anakmu mau dengan anakku ?” ayah Adi menatap om Irawan dan Aeera secara bergantian


Keterlaluan ayah, bagaimana bisa ayah berbicara seperti itu kenapa dia tidak bertanya padaku malah mengkhawatirkan anak om Irawan gumam Aeera kesal


“Tentu saja, aku tau selera Aziel dia sangat menyukai gadis manis dia pasti menyukai Aeera anakku sudah menjomblo sejak lahir pasti dia mau menerima perjodohan ini” Ucap tante Erin berbohong, sebenarnya Aziel sudah memiliki kekasih namun tante Erin tidak menyukai gadis pilihan anaknya dengan cara ini ia berharap semoga Aziel bisa berpisah dengan Felicia kekasinya itu.


“Baiklah kalo begitu” Ayah Adi berbicara dengan semangat


Bola mata Aeera membulat sempurna, seakan dibuat tidak percaya apa yang talah iya dengar, bagaimana bisa Ayah menyetujui perjodohan ini tanpa bertanya padaku.


“Apa nak Aeera setuju?” Tanya om Irawan


Aeraa bahkan tidak sanggup untuk berbicara iya atau tidak, dia tak ingin membuat ayahnya malu jika menolak perjodohan ini dan juga bagaimana bisa dia menikah dengan seorang yang belom pernah ia kenal sebelumnya. Dia hanya tersenyum menjawab pertanyaaan om Irawan.


“Baguslah kalo bergitu” senyum om Irawan mengembang dengan sempurna melihat Aeera ternyemun menandakan dia menyetujuinya.


“Aeera tante boleh minta nomor telefon kamu?” Tanya tante Erin sambil menyodorkan ponsel miliknya


“Boleh tante” Aeera mengambil ponsel itu mengetik dan menyimpan nomer telfonnya lalu memberikan kembali kepada tante Erin


“Terimakasih sayang” ucap tante Erin


Ketiga laki laki itu saling bernostalgia bersama menceritakan kejadian kejadian lucu di masa lalu, hingga tak terasa waktu sudah sore hari mereka berpamitan kepada tante Lina dan om Diki dan pulang kerumah masing masing.


“kapan kapan kita reunian lagi !” ucap om Diki sambil memeluk kedua sahabatnya itu


Sesampainya di rumah Aeera mengoceh pada Ayahnya


“Yah kenapa ayah menjodohkanku ayah bahkan mengiyakan tanpa bertanya padaku kenapa ayah tega sekali” Aeera merengek kesal


“Bukankah kamu sudah di Tanya om Irawan tadi” jawab Ayah Adi


“Aku sangat gugup ayah aku takut untuk menolak jadi aku senyum saja” ucap Aeera pasrah


“Aeera.. keluarga om Irawan itu keluarga baik baik nak ibu yakin nak Aziel pasti juga baik, ibu ingin yang terbaik untukmu nak” tutur lembut ibu Ani


“Aeera, om Irawan itu orangnya sangat baik nak beliau juga banyak membantu ayah, ayah ingin membalas kebaikannya, om Irawan ingin kamu jadi menantunya jadi ayah mohon kamu pertimbangkan dulu sayang” Ayah Adi bertutur lembut sambil memehang bahu Aeera


Rumah om Irawan


Aziel baru saja pulang kantor melangkahkan kaki kedalam rumah menyapa mama dan papanya


“Mah, Pa.. Ziel pulang”


“Ziel.. mama mau bicara penting sama kamu” ucap mama Erin


“Ada apa ma ?” Tanya Aziel penasaran


“Duduk sini” perintah papa Irawan


Aziel duduk di kursi berwarna silver yang berada di ruang keluarga sembari menatap mama dan papanya secara bergantian dengan wajah yang di penuhi tanda Tanya.


“Papa dan Mama mau kamu cepat menikah!” tutur mama Erin


“kenapa mama tiba tiba bicara seperti ini” Tanya Aziel penasaran


“Sayang mama dan papa sudah tidak muda lagi nak, mama ingin melihat kamu menikah dan segera menimang cucu Ziel” tutur mama Erin


“Kalau begitu.. Ziel akan melaksanakan pernikahan Ziel dengan Feli secepatnya ma!”


Mendengar apa yang di bicarakan anaknya mama Erin menarik nafas panjang dan membuangnya secara kasar.


“Bukan menikah dengan Felicia nak, tapi menikah dengan gadis pilihan mama!” Ucap mama Erin tegas


“Maksud mama ?” Aziel bertanya karena dia belom menangkap apa yang sebenarnya di maksud mamanya


“Kamu papa jodohkan dengan anak teman papa” ucap Ayah Irawan


“Apa ...! papa bercanda ? pah Ziel sudah punya Feli pa bagaimana bisa Ziel mau di jodohkan dengan anak sahabat papa” uacap Ziel marah tak habis pikir dengan apa yang baru saja dia dengar.


“ Ziel mama gak suka sama Feli dia gadis liar nak gak baik buat kamu!” mama Erin berbicara tegas


“Maa.. Mama belom kenal Feli kenapa mama mengambil kesimpulan seperti itu, maa Ziel mohon maa Ziel cuma sayang sama Feli ma!” Aziel memohon pada mamanya berharap kenyataan ini bisa di rubah.


“Sini HP kamu!” perintah mama Erin


Ziel mengeluarkan handpone dari saku jasnya tanpa bertanya menyerahkan benda pipih itu kepada mamanya. Mama Erin terlihat mengetikkan sebuah nomor ponsel dan menyimpan nomer itu dengan nama Aeera.


“Siapa Aeera ma ?” Tanya Aziel penasaran


“Dia calon istrimu!”


“Maa !” Ziel masih merengek kapada mamanya


“Mama gak mau tau ziel kamu harus melupakan Feli kamu menikah dengan Aeera, jika kamu gak mau menikah dengan Aeera jangan anggap mama adalah mama kamu” Mama Erin berdiri dan pergi dari rungan itu tak menunjukkan ekspresi apapun sepertinya tampak marah, maaf kan mama Ziel ini demi kebaikanmu.


Aziel sangat menyayangi mamanya dia tidak bisa menolak apapun yang di inginkan mamanya apa lagi mendengar mama Erin marah seperti itu.


“Kamu harus mempertimbangkannya nak” Ucap papa Irawan sambil melangkah meninggalkan ruangan itu menyusuk istrinya


Sekarang tinggal Aziel seorang yang berada di ruangan itu dia menarik nafas panjang dan membuangnya kasar memejamkan matnya sembari bersandar di sofa yang empuk itu, memikirkan apa yang baru saja terjadi.


Terdengar jelas suara langkah kaki semakin kencang mendekat kearah Aziel seorang laki laki berkulit putih tinggi dan tampan dia adalah Ivan. Ivan adalah Putra dari sahabat tante Erin. Orang tua Ivan sudah meninggal sejak dia umur 7 tahun karena kecelakaan mobil oleh karena itu Ivan di asuh oleh orang tua Aziel, Ivan lebih tua 2 tahun dari Ziel dia bekerja membantu pekerjaan Aziel di kantor dan juga menemani kemanapun Aziel pergi.


BERSAMBUNG