
Jarum jam menunjuk tepat pada angka 12. Aeera terlihat masih duduk di ruang tamu, nampaknya gadis itu menunggu kedatangan suaminya, untuk menghilangkan kantuk yang melanda, gadis itu membuat secangkir teh, namun gelas di meja itu sudah kosong tak terisi lagi. Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar berhenti tepat di depan rumah. Aeera dengan semangat membuka pintu untuk menyambut suaminya.
Senyum manis gadis itu tiba tiba memudar. Aziel yang kini merangkul bahu Feli, berjalan melewati wanita yang baru saja membukakan pintu. Kedua mata Aeera berkaca kaca menyaksikan drama yang menyedihkan ini.
“Tuan!”
Sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara itu kini berhenti ketika Aeera memanggil, namun mereka tidak membalikkan tubuhnya.
“Tuan Aziel?” Aeera berjalan mendekati suaminya. Aziel kini berbalik melihat ke arah Aeera, seketika pandangannya teralih pada kaki istrinya yang sedang terluka, namun mulut laki laki itu sama sekali tidak ingin bertanya, apa sebenarnya yang terjadi. Aeera hanya berdiri di hadapan suaminya, ia menatap pria itu dengan tatapan sendu, butiran bening yang menggenang di matanya jatuh perlahan dengan sendirinya.
“Jangan menangis di depanku!”
“Maafkan saya!” Air matanya semakin deras mengalir.
“Malam ini kekasihku akan menginap di rumah ini. Aku akan tidur dengannya!”
Perkataan Aziel bagaikan petir yang menyambar di siang hari. Aeera terjatuh, kini wanita itu berlutut di depan suaminya. Kakinya bahkan tak mampu untuk menahan berat tubuhnya.
“Aku bilang jangan menangis di depanku !” Aziel berteriak membentak wanita yang bersetatus sebagai istrinya itu. Ia meninggalkan Aeera yang masih bersimpuh dan menangis di hadapannya begitu saya, Feli yang sedari tadi berdiri dengan sombongnya tersenyum dengan penuh kemenangan melihat perlakuan Aziel pada Aeera. Ia berjalan mengikuti kekasihnya menuju kamar tamu.
“Apa nona baik baik saja ?” Tiba tba Ivan datang, ia ikut berlutut di depan Aeera, memegang salah satu bahu gadis itu.
“Maafkan saya nona. Saya tadi tidak memberitahukan tentang ini pada nona” Ivan merasa bersalah telah membohongi wanita itu. Aeera masih tak menjawab, ia hanya menangis meremas bajunya meratapi nasip.
“Nona. Kaki nona Aeera sedang sakit, sebaiknya nona istirahat di kamar saja.” Tak ingin berlama lama menangis Aeera mengusap kedua matanya menghilangkan air mata yang tersisa di sana. Ia berdiri di bantu oleh Ivan.
“Terimakasih van”
“Nona maafkan saya”
“Kenapa kamu meminta maaf, ini bukan kesalahanmu!”
“Seharusnya saya member tahu nona kemana dan dengan siapa tuan pergi”
“Meskipun kamu member tahu saya. Ini semua akan tetap terjadi, sudah jangan merasa bersalah.” Aeera menepuk bahu Ivan “Ya sudah. Aku akan kembali ke kamar, setidaknya aku sudah tenang suamiku sudah berada di rumah.” Aeera lagi lagi memaksakan senyumnya dan pergi meninggalkan Ivan.
“Sayang. Kenapa kamu tidur di sana?”
“Feli kita belum menikah. Jadi aku tidak bisa tidur satu ranjang denganmu!”
“Tapi kenapa, kamu tadi bilang pada istrimu ingin tidur denganku?”
“Sudah tutup mulutmu ! cepat tidur”
Wanita itu begitu kesal. Impiannya untuk bisa tidur satu ranjang bersama Aziel hilang sirna.
Aeera kini tengah duduk di tepi ranjang meratapi nasipnya. “Kenapa dia mau menikah denganku, jika hanya untuk menyakitiku ? ” Aeera merebahkan tubuhnya, ia terus menerus memikirkan apa yang sedang suaminya lakukan dengan kekasihnya saat ini. “Dia bahkan tidak pernah tidur denganku. tapi sekarang, dia bahkan tidur dengan wanita lain, apa mungkin tuan Aziel sering tidur bersama Feli?” Air matanya kini pelan pelan terjatuh tanpa ia sadari.
“Tunggu ! Kenapa aku menangis? Apa aku sudah menyukainya ?” Aeera mengacak acak rambutnya, wanita itu bahkan tidak menyadari bahwa sudah memiliki perasaan pada suaminya. Namun wanita itu sadar, perasaannya ini hanya akan menyakitinya secara perlahan. “Aku akan melupakan tuan Aziel bagaimanapun caranya!” Ia akan segera menutup hatinya yang sudah sedikit terbuka itu, namun ia cukup tau bahwa itu tidaklah mudah. Nampaknya Aziel adalah pria pertama yang ia sukai. Tak ingin berlama lama memikirkan hal itu, Aeera kini menarik selimut tebal yang teronggok di ranjangnya dan pergi untuk tidur, berharap besok pagi luka di hatinya sedikit memudar.
Di kamar tamu, Feli masih memikirkan cara agar ia bisa tidur dengan pujaan hatinya itu. Ia membuka beberapa kancing bajunya, hingga membuat belahan dadanya terlihat jelas dan pergi menggoda Aziel. Pria itu nampaknya sudah tertidur pulas, namun Feli masih berusaha untuk membangunkan gairah Aziel. Gadis itu meraba wajah Aziel, ia mencium wajah Aziel bahkan kini bibirnya menyentuh bibir pria itu. Tangannya dengan lihai merapa perut sixpack Aziel. Benar benar gadis yang tidak tau malu. Perlakukan Feli membuat Aziel terbangun.
“Feli apa yang kamu lakukan ?” Aziel memegang bahu gadis itu dan menjauhkannya jadi tubuhnya.
“Sayang, apa kamu tidak ingin menghabiskan malam denganku? Aku akan merelakan tubuhku untukmu.” Gadis itu sudah kehilangan kendali, ia masih berusaha melanjutkan aktivitasnya namun di halangi oleh Aziel.
“Feli ! Singkirkan tanganmu.” Aziel berbicara dengan tegas, seakan akan memang enggan untuk di sentuh.
“Sayang kenapa kamu berteriak padaku.” Feli merengek seperti gadis manja yang tak suka di bentak
“Pergi dari hadapanku. Kamu buka istriku, jangan melewati batasmu !” Aziel berdiri mendorong Feli ke arah sofa. Pria itu pergi meninggalkan kamar dan lebih memilih beristirahat di ruang kerjanya.
Sebelum pergi menuju ruang kerjanya. Aziel memasuki kamar istinya. Pelan pelan pria itu membuka pintu tanpa menimbulkan suara. Terlihat Aeera tertidur pulas, tidak ada kesedihan yang terlukis di wajahnya saat ia tertidur. Pandangan Aziel teralih pada selimut yang tersingkap memperlihatkan kaki gadis itu dengan beberapa luka yang sudah mengering di sana.
Sebenarnya Aziel ingin tau dari mana istrinya mendapat luka ini, namun lagi lagi ia enggan untuk sekedar bertanya, entahlah apa yang sebenarnya ia rasakan. Tak ingin berlama lama di sana dan takut jika wanita itu terbangun, Aziel pergi meninggalkan ruangan itu.
BERSAMBUNG