My Chief Executive Officer

My Chief Executive Officer
Mencari Ide



Seperti hari hari biasanya, Aeera hanya menganggur tidak melakukan apa apa selama di rumah. Ia hanya menonton Televisi seperti orang tidak berguna. Perhatiannya terlaih saat melihat layar ponselnya menyala, ada panggilan video masuk dari mama Erin. Aeera segera menggeser tombol hijau tak sabar ingin melihat wajah mertuanya itu.


“Mama!” Senyum bahagia terpancar.


“Sayang! Mama kangen sekali. Tapi, mama belom bisa pulang dalam waktu dekat nak.” Raut wajah sedih tergambar di sana.


“Gak papa ma, kan masih bisa video call. Gimana kabar mama dan papa, baik baik kan di sana?”


“Iya sayang. Mama sama papa baik baik kok. Bagaimana Aziel memperlakukanmu dengan baik kan?”


Aeera terdiam sejenak. Memikirkan kejadian yang terjadi selama mama dan papa di luar negeri.“Iya ma.” Aeera mencoba menutupi kesedihannya.


“Syukurlah. Dimana anak itu?”


“Dia sudah berangkat berkerja ma.”


“Oh iya. Mama lupa, ya sudah salam untuk Aziel ya nak.”


“Sebentar ma, Aeera mau bicara.”


“Kenapa Aeera?” Mama Erin Penasaran.


“Ma. Boleh gak Aeera bekerja? Aeera bosan di rumah terus ma?”


“Sayang kamu mau bekerja di mana nak?”


“Belum tau sih ma” Aeera tersenyum malu.


“Bagaimana jika kamu bekerja di perusahaan Aziel.”


Jika aku bekerja di sana, pasti selalu bertemu Tuan Aziel, belum lagi Feli juga sering kesana, mereka masti pamer kemesraan di depanku.


“Aeera bekerja di toko biasa saja ma, lagian Aeera cuma lulusan SMA” Gadis itu memang hanya lulusan SMA, karena orang tuanya tidak cukup mampu untuk membiayai kuliahnya. Dan juga keputusan Aeera yang tidak ingin merepotkan orang tuanya, dan segera ingin bekerja.


“Kalau begitu Aeera kuliah saja dan magang di perusahaan Aziel. Gimana? Biar sama yang bicara sama Aziel.” Sepertinya mama Erin terus berusaha untuk lebih mendekatkan mereka berdua.


“Nanti Aeera pasti akan sangat sibuk ma. Takutnya Aeera tidak bisa menjalankan tugas Aeera sebagai istri dengan baik.”


“Benar juga sih!” Mama Erin memikirkan kegiatan apa yang cocok untuk menantunya itu. “Emm. Aeera bagaimana kalau kamu buka usaha sendiri saja. Mungkin itu tidak akan terlalu menghabiskan waktu.” Ide bagus dari mama mertua kesayangan.


Boleh juga ide mama. Aku bisa mewujudkan mimpiku untuk memiliki toko ku sendiri. ”Terimakasih sarannya ma. Aeera akan memikirkan usaha apa yang cocok untuk Aeera.”


“Semangat sayang. Jika butuh bantuan, hubungi saja mama. Atau kamu juga bisa minta bantuan Aziel. Yasudah mama mau menyiapkan sarapan papa Irawan. Jangan lupa salam untuk Aziel sayang.”


“Siap maa.” Aeera mengakhiri panggilan.


Apa ya bisnis yang cocok untukku. Dulu aku ingin sekali membuka butik, tapi kenapa fikiranku sekarang berubah. Pasti akan sangat merepotkan jika aku harus memikirkan desain pakaian setiap hari. Aeera merebahkan badannya di sofa panjang ruang keluarga. Sambil terus mencari ide untuk bisnisnya. Namun fikirannya belum menemukan titik terang. Ah lebih baik aku meminta saran pada ibu saja. Lagi pula aku sudah merindukannya. Aeera segera bergegas berganti pakaian dan meminta pak supir untuk mengantarnya.


“Pak. Tolong antarkan saya ke rumah ibu saya ya pak.”


“Apa nona sudah minta izin sama tuan?”


Oh iya. Ah tapi percuma saja, tuan Aziel tidak akan perduli aku mau pergi kemana.


Pak sopir tua itu membukakan pintu, dan mengantarkan Aeera ke tempat tujuannya. Memang sedikit memakan waktu, karena rumah Aziel dan Aeera terbilang cukup jauh.


Aeera menghirup udara pedesaan yang sejuk. Meskipun ia meinggalkan desa ini belum genap sebulan, tapi rasanya rindu sekali merasakan suasana pedesaan.


“Ibu!” Gadis itu berlari memeluk ibunya, yang sedang menyapu di halaman rumah. “Ayah mana?” Aeera melepaskan pelukannya.


“Ayah di belakang, biasa lah ngurusin kambing kambingnya. Aeera kamu sendirian. Mana suamimu ?”Ibu Ani celingak celinguk mencari menantunya itu.


“Aeera kesini sendiri di temani pak sopir. Lagian dia masih kerja jam segini bu”


“Oh ya sudah. Tapi kamu sudah mendapat izinnya kan. Istri itu kalau mau kemana mana harus minta izin sama suami Ra.”


Iya kalau suaminya baik, perhatian, menyayangi istri dengan tulus. Tapi tuan Aziel, aku mau keluar ataupun mati dia tidak akan perduli. Lagi pula aku akan malu sendiri jika minta izin padanya. Pasti akan di abaikan.


“Iya Aeera sudah minta Izin kok.” Lagi lagi gadis itu berbohong.


“Aeera!”


“Ayah!” Aeera mencium tangan Ayah kesayangannya itu.


“Aziel gak ikut kemari?”


“Tidak yah. Dia bekerja.”


“Ya sudah. Ayo masuk ibu akan masakkan makanan kesukaanmu.”


Mereka menikmati makan siang bersama. Suasana seperti ini yang Aeera rindukan. Karena di rumah bersama Aziel, sudah seperti di neraka baginya.


“Ayah, Ibu. Rencananya Aeera mau membuka bisnis sendiri. Karena di rumah Aeera gak ada pekerjaan. Tapi apa ya bisnis yang cocok untuk Aeera?”


“Bukannya dulu kamu ingin punya butik nak.” Saut Ibu Ani


“Iya sih. Tapi setelah di fikir-fikir, kok merepotkan ya jika harus membuat desain baju sendiri, menjahit setiap hari. ”


“Dasar anak Ayah ini malas sekali”


“Hahaha. Bukannya malas yah. Tapi Aeera takunya nanti jika terlalu sibuk, Aeera tidak bisa menjadi istri yang baik seperti ibu.” Tawa mereka pecah bersama. Ibu terlihat malu malu mendengar pujian dari putinya.


“Emm. Bagaimana jika kamu buka restoran saja.” Ide dari ayah.


“Tapi yah, pasti akan mengeluarkan banyak modal jika membuka restoran. Tabungan Aeera mungkin masih belum cukup.”


“Bagaimana jika membuka toko kue saja.”Ide dari Ibu Ani.


“ Hemm. Boleh juga ide Ibu.” Aeera tersenyum lebar setalah menemukan titik terang. “Baiklah, Aeera akan mambuka usaha Kue kecil kecilan. Aeera minta doanya ya Yah, Bu.”


“Tentu saja pasti ayah dan ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk putri kecil kita.” Ayah Adi tersenyum bahagia melihat putri cantiknya terseyum ceria.


Hari sudah semakin sore, namun Aeera masih betah di rumah orang tuanya. Menjalankan aktivitas seperti sebelum ia menikah dengan Aziel. Langit sudah semakin gelap, dan pak supir sudah tiba, akhirnya gadis itu berpamitan pada orang tuanya untuk kembali kerumah suaminya. Rasanya enggan kembali kesana, namun bagaimaa lagi, ini adalah alur kehidupan yang harus di jalaninya, entah tentang kesedihan atau kebahagiaan.


BERSAMBUNG