
Aeera berlari pergi meninggalkan kantor suaminya, Ia memasuki mobil dan kembali ke rumah. Ada perasaan sedih di dalam hatinya. Entah mengapa, hatinya begitu sakit saat melihat pria yang kini menjadi suaminya itu tersikap seolah tidak mengenalnya. Bahkan sekarang ia membawa wanita lain ke kantornya.
Aeera mencoba menenangkan fikirannya, ia memasuki kamar berniat untuk istirahat. Sejujurnya ingin sekali ia pergi dari sini, tapi bagaimana bisa orang tuanya pasti melarangnya. Apa lagi kedua orang tua Aeera dan Azeil menganggap rumah tangga mereka baik baik saja.
“Bosan sekali apa yang harus aku lakukan, aku bahkan tidak punya pekerjaan” rasanya bosan sekali harus berdiam diri di rumah sebesar itu. Semua pekerjaan rumah sudah di handle para pelayan. tante Erin juga melarangnya untuk membantu, tugasnya hanya melayani suaminya, tapi bagaimana jika Aziel sedang bekerja, bukankah sangat membosankan menunggu kedatangan seseorang yang bahkan tidak menggap kita ada. “Aku harus mencari kesibukan, tapi apa ?” Aeera terus memikirkan apa kegiatan yang akan ia kerjakan.
Ia tak kunjung menemukan ide. “Huh..Sangat membosankan” ia memutuskan untuk pergi ke halaman belakang mencari angin segar.
“Wahh..!”
Aeera melihat pemandangan yang luar biasa, ia melihat taman yang begitu indah. Terdapat banyak jenis buah buahan dan juga bunga, tak kalah bagus dengan taman depan rumah. Ada beberapa pohon rindang yang cocok untuk berteduh melepas penat “ Ini akan menjadi tempat favoritku di sini” Aeera duduk di salah satu kursi yang terletak di bawah pohon rindang, dan memejamkan mata sambil menikmati suasana. Semilir angin lembut menyentuh kulitnya, sangat nyaman.
“Permisi non ada yang bisa saya bantu”
Aeera sedikit terkejut mendengar suara itu, ia membuka matanya dan mendapati laki laki tua yang sedang memegang cangkul.
“Maaf non kalau saya mengagetkan nona, perkenalkan nama saya Wisnu. Saya bekerja sebagai tukang kebun di sini”
“Oh pak Wisnu, saya Aeera pak” Aeera memperkanalkan dirinya mengulurkan tangan berniat berjabat tangan dengan tukang kebun itu.
“Tangan saya kotor non” Laki laki itu menolak.
“Gak papa pak” Aeera meraih tangan laki laki tua itu dan berjabat tangan. lagi pula siapa yang tidak kenal Aeera. Seisi rumah ini tau bahwa gadis itu adalah istri tuan Aziel.
“Pak Wisnu. Ini semua tanaman yang menanam bapak?”
“Bukan non, ini sebagian di tanam sama tuan Aziel”
Aeera terkejut dengan peryataan pak Wisnu, bagaimana mungkin laki laki cuek seperti Aziel mau bercocok tanam.
“Ohh, ternyata tuan Aziel juga gemar menanam he he he” Aeera menunjukkan senyum yang di buat buat.
“Iya non, nyonya suka sekali buah, jadi tuan Aziel menanam beberapa buah kesukaan nyonya. Meskipun tuan Aziel terlihat cuek seperti itu, tapi ia sangat perhatian dengan orang yang ia sayang. Nona sangat beruntung bisa menikah dengan tuan Aziel”
Beruntung apanya pak, aku bahkan menjadi wanita paling menyedihkan di dunia ini. Hidupku hancur, Menyedihkan sekali dia bahkan tidak menganggapku.
Aeera hanya tersenyum membalas ucapan laki laki tua itu.
“Oh iya pak. Boleh gak saya ikut menanam buah di sini ?” Gadis itu benar benar sedang ingin melakukan pekerjaan “Ada bibit Strowberry gak pak?”
“Ada non. Di dalam sebentar saya ambilkan” Laki laki itu beranjak pergi mengambil bibit yang Aeera inginkan.
Tak memerlukan waktu lama, pak Wisnu datang membawa bibit stroeberry, Aeera meminta bantuan Pak Wisnu cara menanam buah yang benar. Tanpa takut kotor gadis itu memegang tanah dan juga pupuk menggunakan tangan kosong, Ia sangat lihai mengerjakan pekerjaan ini.
Pandangannnya teralih ke sebuah pohon besar dengan buah berwarna merah yang sangat lebat.
“Pak wisnu. Itu bapak yang menanam?Wahh.. Kok bisa buahnya selebat itu”Ia terlihat senang melihat buah rambuan. Namun di sisi lain ia juga sedih Karena teringat ayahnya yang gagal menanam buah berwarna merah yang memiliki rambut itu.
“Itu Tuan Aziel yang menanam non. Sudah lama sekali, mungkin 5 tahun yang lalu dan berbuahnya juga masih banyak”
“Oh Tuan Aziel... Waktu itu ayah saya juga menanam buah rambutan pak, tapi mati. Mungkin tanahnya kali ya pak, belum lagi daunnya juga di makan kambing” Aeera tertawa kecil begitu juga dengan pak Wisnu
“Nona mau saya petikkan buahnya?”
“Boleh pak terimakasih”
Tring... Tring... Tring...
Suara dering panggilan masuk nyaring terdengar. Aeera yang menyadari bahwa dari sakunya lah sumber bunyi itu, Ia langsung beranjak membersihkan tangannya yang kotor dengan air kran tak jauh dari tempat ia duduk. Ia segera meraih benda pipih itu melihat panggilan masuk dari sahabatnya Sari.
“Kenapa dia tiba tiba menelfonku” Aeera menggeser tombol berwarna hijau pada wayar ponselnya.
“Sari ada apa? Ngapain sih teriak teriak”
“Aeera kamu sudah menikah”
Bagaimana bisa dia tau.
“Emmm!” Aeera kebingungan mencari jawaban yang pas.
“Aeera, kamu tidak perlu menyembunyikannya dari aku ya. Aku tadi kerumahmu, dan kata ibumu kamu di rumah suamimu, bagaimana bisa kamu menikah diam diam dan tidak mengundanganku” Sari terdengar marah pada Aeera.
“Sari akan jelaskan semua. tapi tidak di sini, bagaimana kalau besok kita bertemu”
“Kenapa tidak bisa di jelaskan disini? Atau apa kamu hamil duluan ?”
“Huss apa apaan kamu ini, bukan seperti itu ceritanya”
“tapi kenapa kamu nikah diam diam ?”
“Sudah lah besok aku akan jelaskan semuanya. Kita ketemu di taman kota jam 9 oke”
“Okee bos, kamu harus menyiapkan alasan yang baik Aeera, atau aku akan marah”
“Iya iyaa !” Aeera terkekeh mendengar sahabatnya yang terus berbicara sambil mematikan panggilan itu.
Hari sudah semakin sore, Aeera menyadari bahwa sebentar lagi suaminya akan pulang. Ia bergegas untuk kembali masuk ke dalam rumah menyiapkan keperluan suaminya termasuk menyiapkan air untuk pria itu mandi.
“Nona ini buah rambutannya” Pak Wisnu memberikan dua ikat besar buah rambutan. Terlihat sangat segar dan berwarrna merah terang.
“Terimakasih pak. Saya mau masuk kedalam dulu”
“Iya nona Aeera” Pak wisnu menundukkan kepalanya
Nona Aeera memang gadis yang baik berbeda sekali dengan nona Felicia untung saja tuan Aziel menikah dengan nona Aeera .Gumam Pak Wisnu.
Aeera meletakkan buah yang baru saja ia dapat dari kebun ke dalam kulkas yang berada di dapur. Ia lalu pergi memasuki kamarnya, terlihat Aziel yang sedang duduk di sofa memejamkan matanya. Tak ingin mengganggu suaminya gadis itu berjalan jinjit agar tidak menimbulkan suara.
“Dari mana kamu?” Suara Aziel cukup membuat wanita itu kaget.
“ Sa saya dari halaman belakang tuan”
Aziel kini membuka matanya ia berjalan mendekali Aeera. Karena Aeera merasa takut, ia berlajan mundur berusaha menghindari suaminya. Namun pergerakannya berhenti karena punggung gadis itu terbentur tembok, Aziel hanya diam memperhatikan wajah istrinya itu.
“Jangan pernah datang ke kantorku lagi!” Aziel memberikan penekanan di setiap katanya, Aeera hanya mengangguk angguk tanpa menjawab karena rasa gugup yang menguasai tubuhnya.
Aziel tak kunjung pergi dari hadapan Aeera. Pria itu masih menatap lekat istrinya tanpa mengucapkan kata apapun. Aeera yang semakin gugup akhirnya angkat bicara.
“Apa tuan mau mandi ? saya akan menyiapkan airnya”
Akhirnya kini laki laki itu kembali ke tempat duduk semula, ia menyandarkan tubuhnya sembari memejamkan mata. Meskipun tidak ada jawaban dari Aziel, gadis itu tetap menyiapkan air mandi untuk suaminya. Ia mengatur suhu air tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Tak lupa ia juga menyiapkan pakaian suaminya ia telakkan di meja ruang ganti.
“Airnya sudah siap tuan”
Aziel beranjak berdiri dari tempatnya, berjalan ke arah kamar mandi. Ia melewati Aeera yang masih mematung di sana, melewati gadis itu tanpa melihatnya. Begitu juga dengan Aeera, wanita itu hanya menunduk menatap lantai, ia terkejut saat suara samar terdengar.
“Terimakasih”
Apa! Apa aku tidak salah dengar apa dia mengucapkan terimakasih padaku
BERSAMBUNG