
Jam tujuh malam Aeera sampai di rumah. Gadis itu langsung masuk kedalam rumah. Ada Ivan di sana.
“Nona dari mana saja?”
“Aku dari rumah ibuku. Apa tuan Aziel baru saja pulang.”
“Tuan sudah pulang sejak tadi nona.”
“Dia tidak mencarikukan?” Aeera bertanya karena penasaran.
Ivan terdiam sejenak, seperti tidak enak untuk mengucapkan kalimat ini. “Tidak nona.”
Kan. Sudah kuguda, tuan Aziel tidak akan perduli padaku.
“Baiklah. Kalau begitu aku mau ke kamar dulu.”
“Nona.” Ivan menahan Aeera untuk tidak melanjutkan langkahnya.
“Ada apa?” Aeera kebingungan melihat sikap Ivan.
“Emmm. Maaf nona, tapi Tuan Aziel sedang berada di kamar bersama nona Feli.”
Deg. Jantung Aeera seakan berhenti sejanak mendengar ucapan Ivan. Dia itu kesini lagi, dasar wanita tidak tau malu. Aeera mencoba tenang, dan tetap tersenyum. “Ya sudah. Saya langsung ke kamar lain saja.” Gadis itu pergi begitu saja meninggalkan Ivan.
Kasian sekali nona Aeera. Ivan berbalik menatap gadis itu pergi dari hadapannya.
Aeera berhenti di depan pintu kamar Aziel, karena dari dalam sana terdengar suara sejoli itu sedang bercanda tawa dangan gembira. Ah, hatiku. Mengapa hatiku yang begitu tulis harus menyimpan rasa pada lelaki jahat sepertinya. Aeera memegang dadanya yang terasa sesak. Gadis itu kemudian pergi dan beristirahat di kamar tamu. Aeera membersihkan diri dan memakai pakaian yang ada di dalam lemari itu. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Mungkin jika aku memiliki kegiatan baru, akan mudah melupakan tuan Aziel. Baiklah besok aku akan memulai bisnisku. Aeera optimis untuk melupakan Aziel.
Tok.. Tok.. Tok
“Nona, waktunya makan malam.”
Menyebalkan sekali makan malam bersama mereka. Lebih baik aku makan buah saja.
“Iya bi.”
Aeera turun dari kamarnya dan pergi ke dapur, ia melewati Aziel dan juga Feli yang sedang makan malam di ruang makan. Aeera sedikit melirik ke arah mereka namun kepalanya masih fokus kedepan.
“Nona tidak makan?” Ucap salah satu pelayan.
“Tidak bi, saya mau makan buah saja.” Aeera melanjudkan langkahnya yang terhenti karena pertanyaan tadi. Ucapan Aeera membuat Aziel melirik Aeera yang sedang berjalan kedapur. Gadis itu mengambil 1 buah apel karena kebetulan hanya itu yang tersisa di dalam kulkas.
“Bi. buahnya habis ya tinggal apel ini.”
“Iya non. Tadi di ambil semua sama nona Feli, sepertinya di taruh di meja makan.”
Aeera hanya mengangguk dan keluar dari dapur. Pemandangan tak mengenakan terlihat di sana, sepasang kekasih itu sedang bercanda tawa suap suapan satu sama lain, seakan memamerkan kemesraan di depan gadis itu.
Aeera ayo Aeera kamu pasti bisa. Jangan melihat ke arahnya. Gadis itu dengan elegan berjalan melewati pemandangan itu tanpa berkespresi sedikitpun, meskipun hatinya sedang menangis.
Ya tuhan sampai kapan aku harus seperti ini.
Sebenarnya ia sangat lapar, hanya karena tak ingin terlalu lama melihat kemesraan suaminya dangan wanita lain, ia memilih menghabiskan satu buah apel itu di dalam kamarnya. Hari demi hari selalu sama, ia menghabiskan malam sendirian meskipun kini sudah bersetatus menjadi istri. Hawa dingin di kamarnya mendekap begitu erat, sampai gadis itu tertidur dengan lelap.
***
“Ahh. Perutku!” Gadis itu terbangun, dan mendekap perutnya yang sedikit nyeri. Mungkin karena semalam hanya memakan satu buah apel saja. Aeera memang memiliki riwayat sakit maag.
“Rumah sudah sepi. Apa tuan Aziel sudah berangkat.” Aeera turun dari lantai dua menuju dapur. “Tuan Aziel sudah berangkat kerja ya bi?” Tanya Aeera sembari menuangkan air putih pada gelas kosong.
“Sudah non.”
“Sama nona Feli?”
Pelayan itu hanya mengangguk pelan.
Rasa kecewa di rasakan Aeera. Dia fikir kejadian malam itu sudah membuat tuan Aziel berubah mencintainya. Nyatanya memang semua itu hanya di bawah kendali alkohol. Entah sampai kapan Aeera harus bertahan dalam rumah tangga yang menyedigkan ini.
***
“Non, ada tamu di depan” Ucap salah satu pelayan.
“Mencari saya?” Aeera menunjuk dirinya sendiri.
“Baik lah. Terimakasih bi.”
Pagi itu Aeera belum mandi dan bahkan sarapan. Ia menghampiri tamu yang datang.
“Kak Rey. Kenpa pagi pagi kesini. Tuan Aziel sudah berangkat kerja.”
Senyum Aeera lagi lagi membuat Rey semaki jatuh hati. Wajah polos tanpa make up dengan balutan baju tidur berwarna coklat membuat gadis itu benar benar terlihat cantik natural.
“Kamu belum mandi?”
Senyumnya tiba tiba memudar. Astaga. Aku disini kan berakting jadi pekerja. Bagaimana mungkin jam segini balum mandi. “Belum kak. Emm.. Maksudku, Hari ini saya sedang tidak enak badan, jadi mengambil cuti dan kebetulan saya bangun kesiangan dan..”
Ketarangan Aeera yang berbelit membuat Rey mengerutkan dahi heran.
“Benarkah ? kamu terlihat baik baik saja.”
“Ini bukan sakit yang seperti kak Rey fikirkan. Cuma karena telat makan saja kok”
“Ohh. Kamu sudah sarapan?”
“Belum kak Rey”
“Ya sudah. Ayo kita makan di luar.”
Aduh bagaimana ini “Tidak udah kak Rey saya makan di rumah saja.”
“Ayo kita makan di luar atau sekalian kita pergi ke dokter. Ayo Aeera jangan menolakku.” Rey menatap hangat Aeera membuat gadis itu salah tingkah.
“Tidak perlu kak Rey, ini sudah enakan kok.”
“Kalau begitu kita cari sarapan saja.” Rey sedikit memaksa.
“Baiklah. Saya mandi dulu.” Aeera masuk kedalam untuk membersihkan diri.
Tak perlu menunggu lama. Aeera keluar dangan dress mini perwarna pink cantik sekali. Kedua mata Rey tak henti menatap Aeera yang sedang berjalan ke arahnya hingga berhenti tepat di depannya.
“Ayuk kak.” Seyum Aeera lagi lagi menghipnotisnya.
“Kak Rey.” Aeera menepuk balu lebar Rey.
“Ohh. Maaf, Ayo berangkat.” Rey dengan sengaja menggenggam tangan Aeera, menariknya ke dalam mobil. Mereka pergi ke salah satu restoran terkenal di kota itu.
Oh iya. Aku belum meminta izin pada tuan Aziel. Rasa gelisah sesekali terlintas pada hati dan fikirannya. Namun ia mencoba menghilangkan kegelisahan itu. Toh tuan Aziel tidak akan perduli kemana dan dengan siapa dia itu pergi.
Rey dan juga Aeera memilih tempat yang nyaman di restoran itu. Rey menarik salah satu kursi untuk di duduki Aeera. Gadis itu benar benar di perlakukan dengan sepesial. Ada rasa sedikit canggung yang di rasakan Aeera, namun ia berusaha menutupinya.
“Aeera mau pesan apa?” Rey menyodorkan buku menu untuknya.
“Terserah kak Rey saja.”
“Nanti kamu gak suka, kalau aku yang pilihkan.”
“Ayam bakar madu saja kak Rey.”
“Kamu suka ayam? Disini ada banyak menu makanan kenapa kamu pilih yang murah?”
Aeera mengangguk kecil. “Tidak apa apa kak rey. Saya suka ayam hehehe.”
“Baiklah. Kalau begitu saya juga pesan Ayam.”
“Minumnya?” Kak Rey kembali bertanya.
“Emmm. Jus Jeruk saja.” Jawab Aeera yang masih fokus melihat lihat menu minuman di buku besar itu.
“Ayam bakar madu dua. Sama jus jeruk 2 ya. Oh iya di tambah lagi menu makanan penutup yang enak di sini apa, dua juga ya, Terimaksih.”
“Baik tuan. silahkan di tunggu sebentar.” Pelayan pergi dengan hormat.
BERSAMBUNG