My Chief Executive Officer

My Chief Executive Officer
Rumah Tante Lina



Paginya Aeera membantu ibunya memasak dan bergegas untuk mandi karena hari ini mereka akan pergi ke rumah tante Lina.


Setelah menikmati sarapan bersama, mereka berangkat ke rumah tante Lina menggunakan sepeda motor. Memang keluarga mereka tidak mempunyai mobil dan seperti biasa Aeera menaiki motor matic hitam sedangkan ayah ibunya menaiki motor bebek keluaran tahun 2016 berwarna merah masih terlihat baru karena ayah Adi selalu merawat motor kesayangannya itu.


Perjalanan ke rumah tante Lina memerlukan waktu 1 jam karena berada cukup jauh dari kediamannya. Setelah mengendarai cukup lama akhirnya Aeera sekeluarga sampi di rumah tante Lina.


“Permisi” ucap Ibu Ani sambil megetuk pintu rumah tante Lina 3 kali


“Iya, sebentar...” terdengar sautan seorang wanita sepertinya suaranya sangat jauh di belakang rumah


Rumah Tante Lina cukup luas memiliki halaman yang indah dengan di tumbuhi berbagai macam jenis bunga. Dari semua sanak saudara, tante Lina menang yang paling kaya beliau memiliki toko gerabah yang cukup maju dan om Diki bertenak dan berjualan sapi. Tante Lina adalah Kakak dari Ibu Ani, sedangan Om Diki adalah sahabat kecil Ayah Adi kebetulan sekali mereka menikahi seorang kakak adik membuat hubungan mereka semakin erat.


Tak menunggu lama pintu akhirnya terbuka Cklekk...


“Tante !” ucap Aeera sambil mengulurkan tangan bermaksud untuk menjabat tangan tante Lina.


Namun tante lina langsung menarik tangan Aeera dan memeluknya, sudah sangat lama keluarga Aeera tidak berkunjung karena kediaman Tante lina cukup jauh, membuat tante lina sangat senang dapat melihat keponakannya yang manis itu. Tante Lina sangat menyayangi Aeera kebetulan tante Lina memang tidak menpunyai anak perempuan, namun tante Lina mempunyai 2 anak laki laki, anak pertama sudah menikah dan tinggal bersama istrinya sedangkan anak ke 2 menjadi abdi Negara membuatnya jarang berada di rumah.


“Tante kangen sekali sayang” pelukan erat masih di rasakan Aeera


“Aeera tidak bisa bernafas kalau kakak memeluknya seperti itu” goda Ibu Ani


“Sudah sudah.. kenapa kalian lama sekali tidak berkunjung, bagaimana kabar kalian?” tanya tante lina sambil menjabat tangan ibu Ani dan Ayah Adi


Belum juga menjawab tante Lina sudah heboh untuk menyuruh mereka masuk “Ayo masuk pasti kalian sangat telah” ucap tante Lina khawatir


“Tante bagaimana keadaan om Diki? Apa sudah baikan ?” Aeera melihat sekeliling namun tak menemukan keberadaan om Diki


“Om Diki sudah baikan sayang hanya butuh banyak istirahat saja, Om lagi di pekarangan rumah tadi menanam buah strawberry, sebentar tante ke belekang dulu ya” tante lina beranjak perdi meninggalkan ruangan yang cukup luas itu.


Tak lama kemudian munculah laki laki bertubuh subur ia adalah om Diki


“Adi, bagaimana kabar kalian lama tak berjumpa” om Diki mengukurkan tangan untuk berjabat tangan dengan tamu yang berada di depannya


“Alhamdulillah baik, bagaimana keadaanmu Ki” lirik Ayah Adi ke arah kaki Om Diki karena memang yang di keluhkan om Diki adalah kaki, kakinya sedikit cidera akibat jatuh dari tangga


“Yaa beginilah Di, kakiku masih sakit jika di gunakan berjalan tapi ini sudah mendingan dari kemarin kemarin, aku sampai gak bisa berjalan” Ucap Om Diki dambilmengelus dan memegangi kalinya.


“ Ya seperti ini kalo sudah tua Ki, kita hanya perlu merawat kesehatan tubuh saja” ucap Ayah Adi sambil tertawa kecil


“Naa ini tante buatin jus jeruk segar kesukaan Aeera waktu kecil” tante Lina berjalan kearah ruang tamu sambil membawa minuman untuk tamunya


“Kebetulan ini jeruk yang om Diki tanam di pekarangan rumah baru saja tante petik jadi masih segar silahkan di minum” tante lina meletakkan jus jeruk ke meja dengan maksud agar jus itu segera di minum.


“ Wahh om dan tante emang keren.. kemarin ayah sama ibu beli bibit rambutan tente, terus di tanam lah di belakang rumah, ehh malah mati tinggal batangnya saja daunnya udah gak ada” Aeera tertawa sampai matanya menyipit


“Ya kan karena di makan kambing ayahmu ini Ra gimana gak mati” gerutu ibu Ani


Ucapan ibu Ani membuat seisi ruangan tertawa.


“Permisi..!”


Semua orang mencarai sumber suara, dan pandangan mereka tertuju pada luar rumah tante lina. Sepasang suami istri berusia sekitar 50 tahun yang terlihat bukan orang biasa mereka memakai pakangan rapi dan juga glamour. Mereka memegang parsel cantik berisikan buah buahan segar.


Om Diki keluar untuk mengecek siapa tamu yang datang itu


“Irawan” Ucap om Diki kaget


Mereka adalah keluarga Zeroun, om Irawan dan juga tente Erin pemilik perusahaan terbesar di negeri ini perusahaan mereka memiliki cabang dimana mana tidak hanya di negeri ini saja melainkan di Negara maju seperti Jepang, Korea bahkan Amerika semua orang mengenalnya meskipun begitu tidak membuat mereka sombong dan angkun mereka tetap rendah hati kerap kali mendengar nama mereka di sebut si sebuah acara social.


“Diki.. bagaimana kabarmu ? aku dengar kamu jatuh dari tangga makanya aku cepat kesini ” Om Irawan memeluk erat om Diki seperti seorang sahabat yang sudah lama tak bertemu.


“Aku hanya terpeleset dari tangga saja wan hanya luka kecil” om Diki melepas pelukannya.


Om Irawan hanya mengangguk kecil sambil menunjukan wajah khawatir.


“ Irawan, kebetulan sekali disini juga ada Adi, wah.. kenapa ini seperti sudah di rencanakan” tawa om Diki memecah keheningan


“Dimana dia ? bagaimana bisa dia tidak menyambutku” ucap om Irawan perpura pura marah.


Om Diki , om Irawan dan Ayah Adi adalah sahabat sejak SMA, mereka selalu bersama hingga lulus sekolah hingga akhirnya om Irawah harus pindah ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya di Amerika. Om Irawan dulu memang dari keluarga yang ber ada berbeda dengan om Diki dan ayah Adi. Hingga kesuksesan om Irawan saat ini sungguh luar biasa.


“Adii! Dimana dia” teriak Om Irawan sambil berjalan menuju ruang tamu


Sampai akhirnya ayah Adi berdiri dari duduknya berjalan memeluk sahabatnya membuat mata ayah Adi berkaca kaca. Memang om Irawan dulu sangat berjasa dalam hidupnya om Irawan selalu membantu di saat Ayah Adi dalam kesulitan, persahabatan mereka seakan tidak pernah luntur meski perpisah dalam waktu yang cukup lama.


“Duduklah” Ayah Adi merangkul bahu om Irawan bermaksud untuk mengajak duduk sahabatnya itu mereka berjalan di susul oleh istri om Irawan dan juga om diki yang sedari tadi menyaksikan keharuan pertemuan mereka.


BERSAMBUNG