My Chief Executive Officer

My Chief Executive Officer
Makan bersama



Rey dan juga Aeera terlihat menikmati makanan yang tersaji di depannya dengan lahap. Sesekali percakapan kecil keluar dari mulut mereka.


“Oh iya Aku lupa. Hari ini aku ada janji.” Rey menghentikan aktivitas makannya. Meraih ponsel dan menghubungi seseorang.


“Ziel. Kamu di mana?”


“Aku di kantor.Bukankah kak Rey berencana akan kesini, Kenapa sampai sekarang belum datang?”


“Sebentar lagi aku akan kesana. Aku masih sarapan.”


Aziel melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.” Sudah jam 10 apa masih di katakana sarapan?”


“Hehehe. Tadi aku ke rumahmu dulu, sekalian aku ajak Aeera makan bersama.”


Ekspresi Aziel seketika berubah. “Kak Rey dimana?”


“Restoran biasa, dekat kantormu.”


Tut... Tut... Tut... Aziel mematikan penggilan secara sepihak.


Aeera hanya terdiam mendengar percakapan mereka. Rasa takut kembali hadir dalam benaknya.


“Kenapa kak Rey bilang aku disini?”


“Memangnya kenapa? Bukannya kamu hari ini cuti kerja. Gak papa kan kalau aku ajak kamu keluar. Tenang saja Aeera, kalau Aziel memarahimu, aku akan bertanggung jawab.” Rey tersenyum berusaha meyakinkan Aeera.


“Apa tuan Aziel akan kemari?”


Rey mengangguk pelan.


Aduh bagaimana ini? Sebenarnya, aku tidak yakin tuan Aziel akan memarahiku. Toh dia juga tidak perduli. Tapi sebagai istri rasanya tidak pantas jika aku pergi berdua dengan laki laki lain tanpa izin suami.


“Aziel!” Rey melambaikan tangannya.


Deg. Jantung Aeera tiba tiiba berhenti sejanak. Ia menolah ke arah lambaian tangan Rey. Ia melihat Aziel dengan gagah berjalan kearahnya dan menggandeng seorang wanita, tidak lain wanita itu adalah Feli kekasihnya. Mereka berdua seperti perangko saja kemana kama berdua. Ada rasa sedih dan kecewa berkecambuk dalam hatinya. Melihat suaminya bersama wanita lain, lagi lagi ia harus berakting menjadi wanita tegar.


Aziel duduk bersebelahan dengan Feli. Namun tatapannya dengan tajam melirik Aeera. Gadis itu hanya menunduk karena menyadari sikap suaminya.


“Aeera kenapa? Apa perutmu sakit lagi?” Rey mengkawatirkan Aeera yang hanya tertunduk ketakutan.


“Tidak kak Rey. Saya permisi ke toilet sebentar.” Aeera bergegas pergi dari sana.


Bagaimana ini. Tuan Aziel sepertinya marah padaku.


Brakk..


Seseoarang tiba tiba menyetuh dan mendorong Aeera hingga terbentur pada dinding. Orang itu adalah Aziel, suaminya sendiri.


“Aww.” Teriakan kecil keluar dari bibirnya.


“Mau mati?” Aziel menatap tajam kedua mata Aeera.


Aeera menggeleng cepat menjawab pertanyaan suaminya.


“Berani beraninya, kamu keluar tanpa seizinku bersama laki laki lain. sudah menjadi ****** kamu rupanya.” Aziel mencengkram kuat dagu Aeera, memaksa gadis itu untuk menatapnya. Karena merasa gugup serta ketakutan Aeera hanya melihat sekeliling untuk menghindari kontak mata langsung degan Aziel.


“Bukankah kamu tetap akan menjalankan kewajibanmu sebagai istriku, meskipun itu tidak pernah aku anggap?”


“Saya tidak pernah berbicara seperti itu.”


“Kamu berbicara pada dirimu sendiri!”


Bagaimana bisa dia tau. Aeera membulatkan kedua matanya.


Aziel hanya memperlihatkan senyum tipis dengan satu sudut bibirnya saja yang terangkat. “Jaga sikapmu. Kamu sudah memiliki suami!” setiap kata di beri penekanan oleh Aziel. Ia melepas cengkramannya dan pergi dari sana.


Aeera meraba raba dagunya yang sedikit sakit karena ulah suaminya. Apa dia sudah gila.menyuruhku agar menjaga sikap dengan laki laki lain. Tapi dia malah bermesraan dengan gadis lain. lucu sekali, apa dia tidak punya kaca. Aeera sangat kesal dengan sikap suaminya yang tak tau diri. Ia pergi ke kamar mandi dan dengan cepat kembali ke meja makan.


“Kenapa lama sekali, apa ada masalah?” Rey terlihat sangat mengkhawatirkan Aeera.


“Tidak kak Rey. Tadi memang banyak orang jadi sedikit lama.”


“Sayang ayo kita pesan makanan?” Feli meraih buku menu di meja itu.


“Aku tidak lapar!”


“Lalu kenapa kita kesini?” Tanya Feli.


Semua orang menatap Aziel dengan heran.


Diam sejenak. “Aku ingin bertemu kak Rey. jika kamu mau pesan ya pesan saja.”


Feli menatap Aziel kesal. Gadis itu akhirnya memasan beberapa makanan untuknya sendiri. Aziel yang sedari tadi diam fokus pada ponselnya. Dan sesekali berbicara tentang bisnisnya bersama Rey.


Tuan Aziel keren sekali jika berbicara serius seperti ini, kenapa ia bisa setampan ini sih. Aeera tersenyum malusendiri dengan fikirannya.


“Aeera. Ada apa?”


Aeera tersadar akan lamunannya.”Emm.” Aeera mencari alasan apa yang tepat di situasi seperti ini. “Semalam aku menonton flim komedi, jadi agedannya jelas masih terlintas di fikiranku.” Aeera tersenyum meringis. Membuat Aziel tanpa sengaja juga ikut tersenyum. Feli yang melihat itu tidak terima dan merasa kesal.


“Sayang udah selesaikan, pulang yuk?”


Aziel mengangguk berdiri menuruti kemauan kekasihnya itu.


“Aeera. Setelah ini kita jalan jalan ya.”


Aziel menghentikan pergerakannya saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut Rey. Aeera sedikit kebingungan menjawab ajakan Rey, mungkin ia takut karena Aziel masih ada di sana.


“Emm. Kak Rey, lain kali saja ya.” Aeera menolak secara halus ajakan pria itu.


“Ya sudah, aku antar kamu pulang ya.”


Aeera mengangguk pelan, sesekali melirik Aziel yang menatapnya dengan tatapan tidak senang. Rey mengantarkan Aeera pulang sedangkan Aziel dangan Feli kembali ke kantor.


Kenapa tuan Aziel tadi terlihat marah sekali. Aeera duduk di tepi ranjang sambil membayangkan ekspresi wajah suaminya ketika marah. gadis itu tersenyum sendiri seperti orang gila. Apa tuan Aziel cemburu? Tapi itu tidak mungkin. Jelas jelas tuan Aziel masih berhubungan dengan Feli. Ah aku tidak boleh ke ge’eran, bisa bisa aku akan sakit hati bertahun tahun jika terlalu berharap.


BERSAMBUNG