
Di rumah, Aeera terlelap menari nari di alam mimpi , nampaknya gadis itu tidur terlebih dahulu tanpa menunggu kepulangan suaminya. Lagi pula percuma saja suaminya tidak akan perduli dengannya.
Tok.. tok.. tokk.
“Nona,Tolong buka pintunya!”
“Nona. Apa nona mendengar saya?” Ivan mencoba mengetuk pintu kembali, Karena belum ada jawaban dari dalam sana. “Nona Aeera.”
Aeera sedikit mendengar suara Ivan memanggil dari luar, wanita itu terbangun dari tidurnya. “Iya, Sebentar!”
Cklekkk...
Betapa terkejutnya Aeera mendapati suaminya tengah lemas di bopong oleh Ivan.
“Kenapa dia?” Aeera membulatkan kedua matanya menunjuk Aziel.
Ivan hanya diam, pria itu membopong Aziel masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuh tuannya itu di ranjang.
“Ivan. Kenapa tuan Aziel bisa seperti ini?” Aeera bertanya penuh dengan kecemasan.
“Tuan Aziel sepertinya baru saja munum.”
“Minum? Maksudmu alkohol?”
Ivan mengangguk pelan. “Baiklah nona, saya keluar dulu. Tolong urus tuan Aziel dengan baik.” Ivan menundukkan kepalanya dan pergi keluar dengan sopan.
“Bagaimana bisa.” Aeera memperhatikan lekat wajah suaminya itu. Bau alkohol sangat kuat menusuk hidungnya. Membuat gadis itu terpaksa menutup indra penciumannya itu dengan tangannya. “Aku tidak bisa tidur di sini, jika tuan Aziel sadar, dia pasti akan sangat marah.” Gadis itu beranjak pergi. Namun pergerakannya terhenti saat tangan Aziel meraih tangan Aeera. Wanita itu membulatkan kedua matanya, perlahan melirik ke arah Aziel. Namun dengan sigap Aziel menarik Aeera dalam pelukannya.
Detak jantung Aziel sangat jelas terasa. Tidak ada jarak yang menghalangi mereka. Apa apaan ini? Kenapa tuan Aziel mendadak seperti ini. Apa karena dia sedang tidak sadarkan diri. Kenapa jantungku berdebar kencang sekali. Ahh aku tidak bisa menggerakkan tubuhku.
“Tuan tolong lepaskan saya.” Namun Aziel semakin mempererat pelukannya.
Bagaimana ini? Tuan Aziel sedang tidak sadarkan diri. Tapi, baru kali ini aku di peluk tuan Aziel. Senyum Aeera tipis mengembang. Astaga sadar Aeera. Gadis itu pelan pelan melepaskan cengkraman Aziel. Namun usahanya hanyalah sia sia. Tangan Aziel kuat mencengkramnya.
“Jangan pergi!” Lirih terdengar dari bibir Aziel.
“Maaf tuan! Tapi tolong lepaskan, saya tidak bisa bernafas dengan baik.”
Aziel membuka kedua matanya sayu. Pria itu kini berada di atas Aeera. Pria itu bertumpuh pada lengannya. Menatap Aeera sangat dekat. Aziel mengusap wajah Aeera lembut dari dahi, pipi, hingga bibir. Membuat gadis itu berusaha menghindarinya.
“Apa kau menginginkannya?” Aziel mengusap lembut bibir merah Aeera.
“Maksut tuan!”
“Aku akan melakukannya.” Aziel mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan Aeera.
Apa apaan ini ?
“Tunggu tuan. Tolong sadarlah.” Aeera masih mencoba menyadarkan Aziel. Namun sama sekali tak di gubrisnya, mungkin pengaruh alkohol menguasai dirinya.
Satu kecupan lembut mendarat pada bibir Aeera. Gadis itu membulatkan kedua matanya, ini adalah ciuman pertamanya.
“Tuan tolong sadarlah.” Aeera menyanggah tubuh Aziel menggunakan kedua tangannya, tangan kecil itu menyuntuh dada bidang suaminya. Agar tak terlalu dekat dengannya. Aeera memalingkan wajahnya, menghindri tatapan maut Aziel.
Oh jantungku. Ayo tenanglah.
“Apa kau menginginkan lebih?”
“Sa..” Perkataan Aeera terhenti saat bibir lembut Aziel menyatu dengan miliknya. Ciuman keduanya kini semakin dalam dan lama.
Tak cukup sampai di situ. Kini bibir Aziel mulai menelusuri telinga, leher, hingga bahu Aeera. Kecupan lembut membuat Aeera mnggeliat karena merasakan geli yang luar biasa yang ia rasakan pada tubuhnya.
Pria itu menelusuri setiap lekuk tubuh istrinya, menunggakan bibir maupan tangan. Kini jemari lentik itu dengan lancang menelusup pada baju Aeera.
“Tuan tolong hentikan!” Ucapan Aeera yang sedikit keras membuat Aziel menghentikan aktivitasnya.
“Kenapa?”
Bagaimana ini, Bagaimana cara aku lepas dari tuan Aziel.
“Emm.. Tuan tolong Izinkan saya pergi ke kamar mandi sebentar.”
Aziel menatap kesal Aeera. Pria itu akhirnya melepaskan cengkramannya pada gadis itu. Perasaan lega kini di rasakan Aeera, gadis itu dengan cepat kabur dari sana. Bukan ke arah kamar mandi melainkan mengendap endap kelaur dari kamar itu. Aeera memutuskan untuk melanjutkan tidur di kamar tamu.
“Aaaaaaaaaaaaaa...” Gadis itu berteriak menutup kedua matanya, terjekut melihat Aziel yang tangah talanjang dada keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
Seketika Aeera mengingat kejadian malam tadi, perasaan malu merasuki fikirannya. Gadis itu dengan secepat kilat berlari keluar kamar.
“Astaga apa yang kulihat tadi, tubuhnya begitu sempurna. Ahh, aku bisa gila jika melihatnya setiap hari.” Aeera mengacak acak ramputnya karena frustasi.
“Nona!”
“Ah.. Ivan, kamu mengngagetkanku.” Aeera memegang dadanya yang berdebar tak karuan.
“Apa Nona baik baik saja?”
“Iya aku baik baik saja.” Senyum itu meyakinkan Ivan.
“Syukurlah, nona tampak berkeringat.”
“Aa.. Aku baru saja selesai olah raga.” Olahraga jantung maksudnya.
“Ohh.” Ivan tersenyum kecil. “Apa tuan Aziel ada di dalam?”
“Iya dia ada di dalam. Masuk saja.”
Ivan menunduk hormat pada Aeera. Pria itu masuk kedalam kamar Aziel, seperti ada sesuatu hal penting yang ingin di bicarakannya.
“Ivan. Ada apa?” Aziel terlihat bercermin sedang merapikan dasi dan mengenakan jas.
“Aku baik baik saja. Hanya sedikit pusing.”
“Maaf tuan. tapi sebaiknya tuan Aziel lebih berhati hati kedepannya.”
Aziel menghentikan aktivitasnya dan duduk di sofa. “Entahlah, aku sangat pusing semalam, aku bahkan tidak memikirkan dampak semua ini terhadap perusahaanku. Bagaimana jika mama tau.”
“Tenang saja tuan, saya sudah membereska semuanya.”
“Tunggu dulu. Bagaimana bisa semalam kamu mengetahui keberadaanku?”
Ivan tersenyum kecil. “Itu sudah kewajiban saya untuk melindungi Tuan Aziel.”
“Terimakasih Ivan. Kamu sungguh bisa di andalkan.”
“Baiklah kau boleh pergi. Tolong panggilkan Aeera.”
“Baik tuan.” Ivan dengan sopan keluar dari ruangan dan memanggil istri Tuannya itu.
Kenapa tuan Aziel memanggilku. Apa dia akan memahariku karena semalam. Tapi itukan perbuatannya. Aku sama sekali tidak menginginkannya. Ehh.. sebenarnya aku ingin. tapi tidak dengan cara seperti itu. Gadis itu senyum sendiri seperti orang gila.
“Apa tuan memanggil saya?”
“Iya. Apa kau tidur di sini semalam?”
Degg. Jantung Aeera seakan berhenti sekejap. “Sa.. Saya semalam tidur di kamar tamu tuan.”
“Benarkah, Kau sama sekali tidak tidur di sini?”
Bagaimana ini. Apa dia mengingat sesuatu? atau bahkan melupakan semua kejadian semalam.
“Eeem.. Sebenarnya saya semalam tidur di sini. Karena Ivan mengetuk pintu kamar ini, dan membawa tuan Aziel kemari, jadi saja pergi ke kamar tamu tuan.
Apa benar yang di katakana gadis bodoh ini? Syukurlah semalam hanya mimpi.
“Ya sudah pergi sana!”
Aeera mengangguk kecil dan pergi dari hadapan suaminya.
Dasar pria gila. Bisa bisanya melupakan apa yang dia lakukan padaku semalam.
Gadis itu menggeliat saat mengiangat kejadian semalam. Baru pertama kalinya tubuhnya di sentuh oleh seorang pria. Dan baru pertama kalinya ia merasakan dekapan hangat suaminya.
Tunggu dulu. Bagaimana jika aku semalam hanya pasrah saja. Apa pria cabul itu akan melakukan lebih. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, Sepertinya aku sudah gila.
BERSAMBUNG