My Chief Executive Officer

My Chief Executive Officer
Menyembunyikan Rasa



Aeera yang juga terkejut melihat keberadaan Rey disana, mendadak berhenti dan membulatkan kedua matanya.


Bagaimana bisa kak Rey kemari ?


“Aeera!”


Aziel menarap Rey dan juga Aeera secara bergantian. “Kak Rey mengenalnya ?” Aziel menunjuk Aeera terheran heran.


“Ohh. Kemarin aku tidak sengaja menabrak Aeera, karena kakinya sakit jadi aku mengantarkannya pulang. Kebetulan sekali ternyata Aeera bekerja di sini. Aeera apa kakimu sudah sembuh?” Rey bertanya dengan penuh kekhawatiran, membuat Aziel melirik ke arahnya.


“Ini sudah lebih baik kak Rey. Hanya tinggal menunggu lukanya benar benar kering.”


“Syukurlah kalau begitu.” Rey tersenyum lega


“Tunggu dulu! Jadi maksud kak Rey dia temanmu itu?” Aziel menatap Rey tak percaya. Rey hanya mengangguk kecil mengiyakan pertanyaan Aziel.


“Oh iya, ini minumannya tuan” Aeera meletakkan minuman segar itu di atas meja, semua orang yang sedari tadi hanya berdiri kini mulai duduk di sofa.


Jadi dia mengaku bekerja di ini ! Aziel masih menatap gerak gerik istrinya itu.


“Terimakasih Aeera.” Rey dengan manis mengucapkan setiap kata kata pada gadis itu.


Feli yang sedari tadi melihat interaksi mereka berdua merasa kesal. Entahlah mungkin Feli sudah benar benar membenci gadis itu. Dan tidak suka jika wanita itu di dekati laki laki tampan manapun, meskipun itu bukan Aziel.


“Permisi Tuan!” Aeera pergi meninggalkan ruangan.


“Aeera tunggu. Apa kamu melupakan janjimu?”


“Janji?” Aeera mengerutkan dahinya, sepertinya gadis itu tidak tau apa yang di maksud Rey. “Maaf janji apa ya?” Aeera bertanya kembali, karena dia benar benar tidak tau maksud kak Rey.


“Emmm.. Waktu itu, kamu pernah janji padaku, akan membuatkan makanan sepesial buatanmu.” Senyum di wajahnya tidak pernah hilang dari sana.


Raut wajah Aziel semakin menunjukkan ketidak sukaan pada sikap Rey yang mencoba mendekati Aeera. “Kak Rey. Tolong jaga sikapmu, ini rumahku!”


“Ini rumah tanteku! Lagi pula tante Erin pernah bilang, anggap saja seperti rumah rendiri” Rey mencoba bercanda menggoda Aziel.


Aziel terdiam sejenak. Mengingat memang mamanya selalu bilang seperti itu pada siapapun tamu yang datang kemari. “Aaahhh. Terserah saja. Aku mau bekerja!” Aziel pergi ke ruang kerjanya kesal. Sementara Feli ia masih di sana menatap tajam Aeera.


“Ayo Aeera kita kedapur.” Rey menarik tangan gadis itu namun pergerakannya di hentikan oleh Feli.


“Tunggu! Ada hubungan apa kalian?”


“Kami tidak memiliki hubungan apa-apa!” Aeera menjawab.


“Kenapa ? Urusi saja urusanmu, dan jangan mengganggu kami!” Rey menarik tangan Aeera membuat gadis itu berjalan dengan cepat mengikuti langkah kaki Rey yang begitu lebar.


Di ruang kerja Aziel mencoba mengalihkan fikirannya dengan menyelesaikan beberapa pekerjaan. Namun sial, suasana hati pria itu benar benar kacau. Dia tidak mau meninggalkan Feli, namun juga tidak suka, jika Rey mendekati Aeera, benar benar sangat egois.


“Aziel!” Feli masuk mendekat.


“Aku ingin sendiri!” Aziel berbicara datar tanpa ekspresi, terlihat jelas bahwa laki laki itu sedang menahan amarah.


“Apa kamu cemburu, melihat kedekatan Aeera dengan kak Rey?”


“Tutup mulutmu!” Aziel sedikit berteriak. Feli nampak takut karena baru kali ini Aziel terlihat begitu marah padanya.


“Sayang.”


“Pergi dari sini!” Aziel menajamkan perkataanya.


“Tapi Sayang..”


“Pergi dari rumahku!” Aziel berteriak sangat keras, membuat kedua mata gadis itu berkaca kaca.


“Baik aku akan pergi. Tapi bagaimana jika kak Rey tau sandiwara kita?” Aziel mengalihkan pandangan dari wanita yang berdiri di depannya itu. Suasana hati Aziel benar benar kacau saat ini. Feli hanya terdiam menunggu jawaban Aziel, namun tidak ada sepatah kata apapun keluar dari mulut kekasihnya. Feli akhirnya angkat kaki meninggalkan Aziel dengan kesal.


Sementara di dapur, banyak pelayan di sana tunduk hormat pada Aeera.


“Aku akan menemanimu memasak!” Rey menolak.


“Sebenarnya aku sangat gugup jika ada yang melihatku memasak, jadi lebik baik kak Rey menunggu di depan saja” Aeera mencoba mencari alasan, agar pria itu tidak mengikutinya ke dapur.


“Bagaimana jika aku menunggu di ruang makan saja?”


“Baik lah. Tunggu di sana saja” Aeera meninggalkan Rey dan pergi ke dapur.


“Non..” Ada salah satu pelayan yang hendak menunduk pada Aeera, namun gadis itu segera memegang bahu pelayan itu dan menariknya ke arah dapur agar tidak membuat Rey curiga.


“Maaf bik. Saya menarik bibik dengan paksa ke mari.” Aeera merasa bersalah, karena ia rasa, tadi sedikit kasar memperlakukan pelayannya itu.


“Oh tidak apa apa nona!” Pelayan itu menggelengkan kepalanya “Kenapa nona seperti ketakutan? Siapa pria itu non, apa dia berbuat jahat pada nona Aeera?” Tanya pelayan itu khawatir.


“Tidak bik, dia sepupu tuan Aziel. Tapi, dia belum tau jika saya istri tuan Aziel. Saya minta bantuan pada bibik, untuk memberitahu pada para pelayan tolong jangan menganggap saya sebagai nona muda di sini, anggap saja saya juga sebagai pelayan di sini, jika ada tuan Rey. Mohon bantuannya ya bik.” Aeera memegang tangan wanita paruh baya itu, memohon bantuannya.


“Kenapa nona harus menyembunyikannya?”


“Bukannya saya ingin menyembunyikannya bik, tapi tuan Aziel memperkenalkan Feli sebagai istrinya bukan saya.” Raut wajah gadis itu berubah menjadi sedih.


“Baiklah nona, saya akan memberi tahu yang lain.” pelayan itu terlihat ikut sedih mendengar cerita nona mudanya.


“Terimakasih bik” Aeera bergegas menyentuh perlatan dapur, tangannya begitu lihai menyulap bahan mentah itu menjadi beberapa menu makanan sepesial. Skil memasaknya sungguh sudah seperti chef terkenal.


“Waw” Rey semakin di buat kagum dengan gadis manis itu. Hanya dengan Rey lah Aeera merasa di anggap seperti seseorang yang spesial.


“Selamat menikmati Tuan” Aeera meletakkan sendok garbu tepat di samping piring yang telah tersusun di sana. Aeera bergaya seperti seorang pelayan restoran bintang lima.


“Apa aku harus membayar untuk ini?” Rey menggoda Aeera.


“Apa kak Rey mau membayar ? wah.. ini sangat lah mahal”


“Benarkah. Bagaimana ini, apa aku harus menjual ginjalku? ” Pecah tawa mereka nyaring terdengar, Aeera terlihat sangat bahagia. Baru pertama kalinya gadis itu tertawa bahagia di dalam rumah ini.


“Baiklah aku akan mencobanya sekarang” Pria itu mulai menikmati hasil masakan Aeera satu persatu. “Wahh.. Aeera, kamu sungguh hebat sekali dalam hal memasak, pantas saja Tante Erin mempekerjakanmu di sini.” Pria itu terus saja berbicara walaupun penuh makanan di mulutnya.


Aeera tersenyum tipis. “Hehe. Terimakasih atas pujiannya. Kalau begitu saya mau ke belakang dulu.”


Sebelum Aeera pergi dari sana, Rey dengan reflek menyentuh tangan Aeera untuk menghentikan pergerakannya, Gadis itu terdiam menatap genggaman tangan Rey. “Maaf!” Rey melepaskan Aeera “Maaf Aeera, maksudku bisakah kamu menemani saya makan disini?” Gadis itu masih terdiam tidak menjawab.


“Kak Rey!”


Semua pandangan teralin pada Aziel yang sedang berjalan mendekat, nampaknya, dia sudah mengawasi Aeera dan Rey sejak tadi. Pria itu terlihat membawa map berwarna biru berisi berkas berkas yang sepertinya penting. Dia menyodorkan map besar itu pada Rey. Sedangkan Aeera, gadis itu hanya berdiri mematung mendengarkan apa yang dua pria itu bicarakan.


“Kak Rey. Ini kontrak kerjasama kita, dan juga di dalam sini ada beberapa dokumen tentang perusahaanmu yang belum di lengkapi. Bisakah kamu sekarang pergi dan melengkapi dokumen ini?”


Rey mengerutkan dahinya. “Baik nanti aku kerjakan!” Pria itu melanjutkan aktivitasnya yang terhenti karena kedatangan Aziel.


“Baik lah. kalau begitu kerja sama kita batal!” Aziel pergi meninggalkan mereka.


“Aziel. Kamu bercanda ?”


“Tidak. Aku tidak bercanda!” Pria itu menunjukkan wajah datar tak berdosa, gaya bicara yang dingin kembali merasuki tubuhnya.


Rey yang di buat kesal mambuang nafas secara kasar. “Baik lah akan aku lengkapi sekarang!” Tak lupa ia juga berpamitan pada gadis yang sedang berdiri di sampingnya itu. “ Aeera aku pulang dulu. Lain kali aku akan kesini lagi, terimakasih makanannya sangat lezat.” Senyum Aeera membuat hati Rey kembali dingin setelah perdebatan singkat dengan Aziel. Mereka berdua saling melemparkan senyuman membuat Aziel semkin memanas. Pria itu menunjuukkan senyum smirk di bibirnya. “Cepatlah. Aku ingin besok berkasnya sudah lengkap.”


Rey berjalan mendekati Aziel. “Kamu sedang ada masalah?”


“Kenapa?”


“Tidak. Aku hanya bertanya saja, sepertinya suasana hatimu sedang buruk.”


Aziel diam tak menjawab, pria itu memilih memalingkan wajahnya dari tatapan Rey. “Benar benar kamu tidak berubah.” Rey seakan sudah hafal dengan sifat adiknya itu. Jika ia sedang kesal dengan satu orang, maka se isi rumah akan terkena dampaknya. “Baiklah aku pergi sekarang!” Pria itu merebut berkas yang ada di tangan Aziel dan pergi dari sana.


BERSAMBUNG