
Kini hanya tinggal Aeera dan Aziel di sana. Pria itu melipat kedua tangannya, ia menatap Aeera dengan tatapan yang tajam. Wanita itu semakin dibuat salah tinggkah, ia mencoba menghindari tatapan Aziel dengan menunduk melihat lantai, dengan wajah yang ketakutan.
Kenapa tuan Aziel menatapku seperti itu. Apa aku berbuat salah, bukankah aku sudah bersandiwana dengan baik. Agar kak Rey tidak curiga. Aku harus bagaimana ini. Ah apa aku bereskan saja makanan ini agar aku bisa pergi dari sini.
“Apa yang kamu lakukan!”
Aeera yang ingin membereskan meja makan, kini kembali pada posisi awalnya.
“Saya cuma mau membereskan ini saja tuan.” Menunjuk semua bekas makanan yang ada di meja makan.
“Siapa yang menyuruhmu?”
“Saya sendiri tuan.”
“Jangan mencoba lari dari masalah, dasar wanita murahan. Bagaimana bisa kamu bermesraan dengan kakakku di sini. Kamu pikir aku tidak melihat semua yang kamu lakukan tadi. Bagaimana jika aku mengadukannya pada mama.”
“Maaf tuan! Tapi tadi saya tidak melakukan apapun. Saya hanya membuat makanan untuk kak Rey.” Aeera mencoba membela diri.
“Ohh. kamu berani menjawab sekarang.” Suara Aziel semakin meninggi.
“Maaf Tuan.” Gadis itu sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya. Ia hanya tertunduk mendengarkan apa yang di katakan suaminya.
“Lalu apa yang harus kamu lakukan?”
“Maafkan saya tuan. Saya akan menjauhi kak Rey.”
“Cihh.. Kamu pikir aku cemburu ha.. ? Kamu dekat dengan siapapun itu bukan urusanku.”
“Baik tuan.” Aeera menjawab dengan penuh semangat.
“Apa maksudmu?”
“Maksud saya, saya akan menjalankan apapun yang tuan katakan.” Senyum Aeera mengembang sempurna. Gadis itu memiliki senyum secerah matahari.
“Singkirkan senyum bodohmu itu!” Aziel pergi meninggalkan Aeera. Senyum manis gadis itu hilang sirna, hanya tersisa senyum kecut menatap Aziel pergi dengan kesal.
Dasar gila! Apa sih maunya. Gumam Aeera, gadis itu membersihkan sisa sisa makanan yang ada di meja makan, ia membawa satu kotak buah strawberry dan pergi ke kamar.
Wanita itu terkejut mendapati Aziel yang sedang berbaring di ranjang.
Kenapa dia di sini ?
Aeera berjalan pelan kearah sofa. Gadis itu menikmati buah strawberry yang di bawanya tadi dan menyalakan televisi.
Aziel melirik ke arah Aeera. Melihat apa yang sedang gadis itu lakukan.
“Hei.. Pelankan volumenya!”
“ Baik Tuan.”
Menganggu saja. Biasanya dia juga tidur di kamar tamu. Apa aku saja yang pergi ke kamar tamu. Aeera segera mematikan televisi dan berjalan mengendap endap menuju pintu kamar yang sedikit terbuka.
“Mau kemana?”
Dengan terkejut Aeera menjatuhkan kotak berisikan strawberry yang ia bawa. Denga cepat ia segera membereskannya. “Saya ingin ke kamar tamu tuan.”
“kamu ingin menghindariku?”
“Tidak tuan, saya hanya tidak ingin mengganggu istirahat tuan Aziel saja.”
“Kalau begitu aku saja yang keluar!” Pria itu pergi meninggalkan ruangan.
Begitu saja marah!
Aeera melanjutkan menonton televisi dengan leluasa.
Sementara Aziel, pria itu tampaknya pergi ke suatu tempat.
Ting.. Tong.. Seorang laki laki keluar dari dalam apartemen.
“Aziel. Ada apa kamu kemari?”
“Aku hanya bosan di rumah” Pria itu masuk dengan santai, merkipun sang pemilik rumah belum mempersilahkan masuk.
“Ada masalah?”
“Tidak!”
“Baik lah, ini munim.” Rey membawakan segelas jus jeruk dari dalam kulkas untuk Aziel.
“Kak Rey. Apa berkasnya sudah siap?”
“Bukankah deadlinenya besok?”
“Iya. Aku hanya bertanya saja.”
Rey tersenyum. “Aku sungguh merindukan Aziel waktu kecil, dia sungguh menggemaskan, selalu meminta permen padaku. Menangis padaku. Namun sekarang anak itu menjadi pengusaha yang di takuti semua orang.”
Aziel merasa bersalah akan sikapnya tadi siang. “Maafkan aku kak, aku tadi tidak bermaksut mengancam mu.”
“Apa kamu ada masalah?” Rey bertanya lagi. Pria itu sungguh mengerti jika adiknya itu sedang memikirkan sesuatu.
Aziel terdiam sejenak. “Aku tidak bisa menjelaskannya. Ini sangat rumit”
“Baiklah. Aku mengerti.” Rey pergi meninggalkan Aziel dan melanjutkan pekerjaannya.
Hari sudah semakin sore namun pria itu masih di sana, Aziel memilih tidur di sofa panjang milik Rey sambil menenangkan fikirannya.
“Ziel, bangun ayo makan.”
“Jam berapa ini?”
“Jam 4. Ayo kita makan dulu.”
Mereka berdua menikmati makanan bersama.
“Aziel. Apa kamu punya nomer ponsel Aeera”
Pertanyaan Rey membuat pria itu tersedak. Rey segera menuangkan air putih dan memberikannya pada sepupunya itu.
“Bagaimana mungkin aku mempunyai nomer pelayan di rumahku?”
“Emm.. Baiklah kalau begitu, bisakah nanti kamu minta nomer ponselnya untukku?”
“Kenapa kak Rey selalu mambahasnya. Apa kak Rey menyukainya?”
“Entahlah, Aku sangat nyaman di dekatnya.” Rey tersenyum malu.
Aziel tiba tiba kehilangan nafsu makannya, ia hanya mengaduk aduk nasi yang ada di depannya.
“Gimana? Tolong dekatkan aku dengannya El. Kamu kan majikannya, pasti akan lebih mudah mendekatinya.”
“Aku malas berurusan dengannya.”
“Kau ini. Baiklah kalau begitu izinkan aku sering berkunjung ke rumahmu, aku akan mendekatinya sendiri.”
“Terserah saja. Aku mau pulang.”
“Ini tidak di habiskan?”
“Aku sudah kenyang.”
“Baiklah hati hati!” Rey di buat bingung dengan perubahan sikap Aziel akhir akhir ini.
Suasana hati Aziel semakin kacau. Ada perasaan aneh dalam hatinya, rasanya ia tak ingin kehilangan apa yang menjadi miliknya. Meskipun sesuatu itu tidak di sukainya. Kini pria itu memasuki club malam, ia memesan satu botol minuman, sebenarnya Aziel adalah pria baik baik. Ia tidak pernah minum minuman sejenis itu, karena memang pria itu adalah pimpinan perusahaan terbesar di negeri ini, karena itu ia harus mempertahankan citranya. Tapi entah hari ini suasana hatinya sangat buruk. Ia pernah mendengar jika seorang minum bisa menghilangkan beban fikiran.
Sebelumnya Aziel juga menyuruh Feli untuk datang kesana. Teguk demi teguk pria itu menghabiskan sebotol munuman itu. Karena merasa belum puas, Aziel memesan beberapa botol lagi.
“Aziel!” Feli datang menghampiri kekasihnya itu. “Kamu minum?” Aziel sudah lemah tak berdaya. Membuat Feli mengambil kesempatan emas ini.
“Sayang ayo kita kedalam saja. Bagaimana jika banyak orang melihatmu seperti ini.” Gadis itu membawa Aziel ke salah satu kamar yang ada di club malam itu. Gadis itu lagi lagi mengajak Aziel untuk berhubungan dengannya.
“Sayang bagaimana jika malam ini kita habiskan malam berdua!” Ucap feli dengan sedikit menggoda.
“Apa maksudmu?” Aziel masih sedikit tersadar.
“Bukankah lebih baik kita melakukannya terlebih dahulu, agar orang tuamu merestui kita” Feli membuka kancing baju Aziel sedikit demi sedikit.
Aziel hanya terkekeh mendengar ucapan Feli.
BERSAMBUNG