My Chief Executive Officer

My Chief Executive Officer
Bertemu Sari



Seperti biasa Aeera menyiapkan keperluan suaminya untuk berangkat ke kantor. Ia tetap memegang ucapan orang tunya yang harus tetap menghormati dan melayani suaminya, meskipun rumah tangga mereka bagaikan es di antartika. Hanya sepatah dua patah kata yang terucap dari bibir ke duanya, bahkan sampai saat ini mereka belom pernah tidur di ranjang yang sama, Aziel memilih tidur di kamar tamu untuk menghindari istrinya.


Setelah semuanya rampung mereka melanjutkan sarapan pagi, hanya mereka berdua yang ada di meja itu karena mama Erin dan Papa Irawan masih berada di paris. Hening sekali, yang terdengar hanya suara sendok dan piring yang saling berbenturan.


“Tuan Aziel, Bolehkah saya nanti keluar sebentar? ” tanya Aeera memecah keheningan


“Kamu keluar atau tidak, itu bukan urusan saya !” Aziel masih melanjutkan makannya


Ah.. bodoh sekali kenapa aku bertanya padanya, perduli apa dia tentangku memalukan sekali


Aziel kini berangkat bekerja seperti biasa, tentunya ia berangkat bersama ivan . Aeera terlihat mengantarkan suaminya sampai depan rumah, meskipun Aziel tidak mau berpamitan atau mengucapkan satu katapun. Ia harus tetap menjalankan kewajibanya sebagai istri.


“Selamat pagi tuan” Ivan membukakaan pintu mobil Aziel


“Selamat pagi nona Aeera” tak lupa ia juga menyapa nona mudanya


Dengan ramah Aeera menjawab “Selamat pagi juga Ivan. Semoga harimu menyenangkan” tak lupa dengan senyum manisnya


“Trimakasih nona” Ivan tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya. Ia berjalan kembali memasuki mobil untuk mengantarkan tuan Aziel ke kantor.


Dasar gadis murahan dia lebih memilih tersenyum menyapa ivan dari pada menyapa suaminya sendiri. Eh tapikan aku juga yang melarangnya menganggapku sebagai suaminya. Ah masa bodoh kenapa aku memikirkan hal tidak berguna seperti ini .


Aeera bersiap siap untuk menemui sahabatnya Sari.


“Selamat pagi pak. Tolong antarkan saya ke taman kota ya pak”


“Baik non”


Jarak antara Rumah Aziel kan taman tidak lah jauh mengingat bahwa letak rumah Aziel memang di pusat kota.


“Pak, bapak pulang aja. Saya nanti bareng teman saya, dari pada bapak nunggu lama disini”


“Tapi non, apa nona sudah meminta Izin tuan Aziel”


“Sudah pak, saya sudah meminta izin suami saya” entahlah ia sudah di izinkan atau tidak tapi kata kata Aziel yang berbicara bahwa tak perduli kemanapun Aeera pergi sudah di anggap sebagai izin baginya.


“Sariiii !” Dari kejauhan Aeera sudah melihat sahabatnya itu sedang duduk di kursi taman bawah pohon. Sari yang merasa terpanggil kini melihat ke arah Aeera, namun dengan tatapan aneh ia seperti tidak mengenali sahabatnya itu


“kamu sudah dari tadi disini?”


Sari masih terlihat memandangi wanita di depannya dari atas sampai bawah


“ini benar Aeera Farida” Sari menyatukan alisnya menunjuk Aeera dengan jari telunjuk, tak lupa sedikit memiringkan kepala


“Ini aku Sar, apa kamu melupakanku?”


“Ini benar Aeera? Maaf Ra. Tapi aku terkejut dengan perubahan yang ada pada dirimu ” Sari masih melihati sahabatnya itu


“Sudah sudah ayo kita duduk”


Meraka berbincang bincang melepas rindu. Meskipun rumah Aeera dan Sari masih satu desa, tapi mereka berdua jarang bertemu karena ksibukan masing masing. Aeera yang hanya menghabiskan waktu untuk bekerja begitu pula dengan Sari


“Sari ! kata ibu aku kamu di jodohkan ?apa benar, kamu bahagia ?” Aeera memuai permbicaraan


“Sari tolong maafkan aku. pernikahan ini tidak seperti yang kamu bayangkan, Aku di jodohkan orang tuaku dan laki laki yang di jodohkan denganku meminta untuk merahasiakan pernikahan ini jadi hanya ada beberapa keluarga dan kerabat saja yang tau. Maafkan aku sar”


“Kenapa ? Kenapa suamimu meminta hal semacam itu ? bukankah pernikahan seharusnya menjadi kabar bahagia kenapa dia meminta untuk merahasiakannya ?” Sari bertanya dengan penuh heran


“Sar, sebenarnya suamiku sudah memiliki kekasih, dia bahkan masih berhubungan sampai saat ini, dia tidak menganggapku sebagai istrinya”


Sari membulatkan kedua matanya ia terkejut tak percaya mendengar cerita sahabatnya itu “Apa Ra ? benar benar laki laki biadap siapa suamimu biar aku hajar dia. Lalu kenapa dia menerima perjodohan ini jika sudah memiliki kekasih?”


“mungkin karena paksaan kedua orang tuanya” Aeera melihat danau kecil yang ada di depannya dengan tatapan kosong


“Katakan siapa laki laki sialan itu ?”


“Aku tidak bisa mengatakannya Sar, kamu tidak akan berani walau hanya menatapnya saja”


“Memangnya siapa dia ? apa dia kaya?” Sari mencoba mengiangat nama nama pengusaha kaya “Apa Babak Fian dia sepertinya cukup kaya, eh tapi dia kan duda memangnya kamu mau nikah sama duda ?. Emm.. biar ku coba ingat nama lain. Apa mungkin Tuan Aziel, pengusaha muda itu. Wahh dia benar benar tanpan dan kaya, dia bahkan hampir menguasai perusahaan perusahaan besar di negeri kita. Hah tapi tidak mungkin dia menikah denganmu coba aku ingat ingat pengausaha lain yang tidak terlalu tampan” Sari masih mengarahkan kedua bola matanya ke atas sambil terus mengingat nama nama itu


“Apa maksudmu tidak terlalu tampan, apa aku tidak boleh menikah dengan pria tampan”Cetus Aeera “Aku memang menikah dengan tuan Aziel” Jawab Aeera dengan ekspresi polos


Sari yang sedari tadi masih memikirkan nama nama kini teralih memandang heran Aeera “Mana mungkin, bagaimana bisa kamu menikah dengannya” sari membulatkan matanya bahkan sampai mulisnya terbuka


“Aku benar benar menikah dengan tuan Aziel !”


“Jadi Pria jahat itu ?” Sari masih tidak percaya


“ Aku tidak bisa menyebut tuan Aziel orang yang jahat. Karena memang siapa yang mau di paksa menikah, apa lagi dengan gadis kampong seperti aku, dia sudah memiliki kekasih dan dia sangat mencintainya” Aeera nenundukkan kepalanya ia benar benar tidak memiliki kepercayaan diri lagi


“Hai Ra. Kamu cantik sayang suatu saat pasti tuan Aziel akan menyayangimu” Sari mencoba menguatkan hati sahabatnya itu


“Tidak mungkin Sar dia bahkan akan mencari cara untuk segera menceraikanku dan menikahi kekasihnya, saat ini aku hanya berbakti menjalankan kewajibanku sebagai istri tidak lebih, aku akan menahan pesaraanku untuk tidak mencintainya”


“Saat ini apa kamu sudah mencintainya ?”


Aeera hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan sari


Sari benar benar prihatin dengan keadaan rumah tangga sahabatnya ini “Siapa? Siapa wanita itu Ra? Kekasih tuan Aziel, siapa dia?”


“Kamu pasti mengenalnya dia seorang model. Dan juga menjadi bintang iklan produk kecantikan X bukankah dia sangat cantik?”


“Feli.. Felicia Ra ? wahh dia memang cantik sempurna. Tapi ra kamu juga cantik kamu sangat manis coba gunakan senyuman mautmu untuk meluluhkan hati tuan Aziel”


Aeera yang sedari tadi murung kini bisa tersenyum karena ucapan sahabatnya itu “Maaf kan aku Sar. Seharusnya aku tidak menceritakan ini pada siapaun”


“Aeera aku ini sahabatmu akan akan mendengarkan apaun ceritamu. Meskipun aku tidak bisa membantu setidaknya ada teman untuk berbagi kisahmu setidaknya bebanmu cukup berkurang bukan ? Aeera mulai sekarang kamu boleh menghubungiku kapan pun, aku akan mendengarkan ceritamu” Sari memeluk Aeera rasanya ia tidak tega melihat sahabatnya itu bersedih. Aeera adalah gadis yang ceria jarang sekali melihat wajahnya murung.


“Makasih Sari”


“Oh.. Bagaimana kalau aku traktir kamu eskrim. Tunggu di sini, aku akan membawa eskrim kesukaanmu” Sari langsung lari mencari penjual eskrim terdekat. Lega sekali rasanya sedikit rasa sakit Aeera akhirnya berkurang. Mereka menghabiskan eskrim bersama sambil bertukar cerita, tidak terasa matahari sudah semakin tinggi Sari yang sudah memiliki janji dengan mas Raka pamit ingin pulang terlebih dahulu.


BERSAMBUNG