My Chief Executive Officer

My Chief Executive Officer
Memulai Bisnis



Aeera memejamkan kedua matanya sambari berbaring di ranjang. Terdengar suara dering telfon dan dengan cepat gadis itu menggeser tombol hijau.


“Sari. Ada apa?”


“Kudengar dari ibumu, kamu mau buka usaha ya Ra?”


“Iya. Tapi aku belum menyiapkan semua. Aku masih mencari toko yang cocok dan memiliki tempat seterategis untuk berbisnis. Ada apa Sar ?”


“Kebetulan sekali Ra. Di sini ada toko yang di jual. Tempatnya di tengah kota, ya karena tokonya sudah lama harus di renovasi dulu sih. Tapi bangunannya masik bagus kok Ra.”


“Oh iya. Dimana?”


“Dekat tempas kerjaku. Kamu bisa kesini sekarang di jalan XX.”


“Baiklah. Aku akan segera kesana. Terimakasih Sari.”


Aeera menutup telfon, dan segera bergegas untuk ke tempat yang Sari maksut. Ia pergi bersama pak supir. Tidak membutuhkan waktu lama hanya 15 menit Aeera sudah sampai.


Aeera berbincang dengan sang pemilik toko untuk mendiskusikan harga akhir toko itu. Karena kondisinya sudah usang, Aeera meninta pemilik toko untuk menurunkan harganya. Setelah berdiskusi cukup panjang toko itu di lepas dengan harga yang bisa di bilang cocok untuk kondisi toko tersebut.


“Sari. Terimakasih, berkat kamu aku bisa membeli toko ini.”


“Sama-sama Ra. Rencananya kamu mau buat bisnis apa.”


“Hemm. Setelah aku fikir-fikir aku ingin membuat toko kue saja. Oh iya Sar. Mama Erin memintaku untuk tidak terlalu menghabiskan waktu untuk bekerja. Ia menyuruhku untuk merawat anaknya. Bisakah kamu bekerja bersamaku saja, untuk mengelola toko ini bersama?”


“Siapa Mama Erih ? Kenapa dia menyuruhmu merawat anaknya?” Sari terlihat kebingungan.


“Mama Erin adalah ibu dari suamiku.”


“Astaga. Aku fikir siapa. Baiklah Ra, aku akan membicarakan ini dengan bosku.”


Aeera tersenyum lega mendengar jawaban Sari. Dengan begini, Aeera mempunyai orang kepercayaan untuk mengelola toko rotinya bersama sama. Hari itu juga Aeera menghubungi pekerja untuk merenovasi tokonya. Aeera membangun usaha ini menggunakan uang pribadinya. Selama ini ia bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya mempunyai toko sendiri. Meskipun bukan usaha yang dia impikan sejak dulu paling tidak ia memiliki bisnis sendiri. Karena mendirikan butik membutuhkan modal yang lebih besar Aeera memilih jalan lain toh gadis itu memang berbakat dalam hal masak memasak.


Hari sudah semakin sore, gadis itu masih di sibukkan dengan kegiatan di tokonya untuk berbenah. Ia hanya perlu mengecat ulang dinding toko dan juga mendisain sedemikian rupa. Toko Aeera bernuansa hitam putih, sangat elegan dan cantik. Membuat orang akan betah berlama lama di dalam sana.


***


Sudah memasuki jam pulang kerja. Aziel bergegas pulang bersama Ivan. Sejak tadi pagi fikirannya di penuhi olah senyum cerah istrinya. Sungguh membuat Aziel tidak fokus untuk bekerja.


Dengan cepat Aziel berjalan menuju kamar dengan langkah kaki panjangnya, karena ingin segera bertemu dengan orang yang menggu fikirannya sejak tadi.


Dimana dia?


Aziel turun untung bertanya pada salah satu pelayan.


“Diamana Aeera?”


“Nona Aeera pergi sejak tadi siang Tuan.”


“Dengan?”


“Sendiri tuan, nona di antar pak Udin.”


“Kemana?”


“Maaf Tuan, saya kurang tau. Tadi nona sedikit buru buru”


Aziel dengan kesal kembali ke kamar untuk membersihkan dirinya.


Aeera dengan sibuknya tidak menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul tujuh. Ia teringat suaminya pasti sudah pulang ke rumah. Astaga Baru satu hari saja aku sudah melupakan kewajibanku sebagai istri. Bagaimana ini. Aeera bergegas pulang pengen perasaan cemas.


“Pak, cepat sedikit ya.”


“Baik non.”


Pak sopir menginjak gas lebih dalam, hingga mereka sampai di rumah lebih cepat dari biasanya.


Aeera berlali menuju kamar, lagi lagi ia bertemu Ivan.


“Ivan tuan sudah pulang?”


“Sudah nona.”


“Bersama Feli ?”


“Tidak nona. Nona Feli pulang ke rumahnya sendiri.”


Apa dia sudah mandi ? Aeera mendekat ke arah suaminya, dan sedikit mendekatkan wajahnya. Harum. Berarti dia sudah mandi. Syukurlah kalau dia sudah tidur. Perasaan lega ia rasakan. Aeera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


“Darimana saja kamu?”


Aeera menghentikan langkahnya, dan membalikkan badah menghadap suaminya. “Tuan belum tidur?”


“Dari kama kamu?” Aziel menghiraukan pertanyaan Aeera karena ia belum mendapatkan jawaban dari istrinya itu.


“Dari toko tuan.” Aeera menjawab dengan hati hati.


“Toko. kamu kerja?” tanya Aziel datar.


“Tidak tuan, saya sedang membangun bisnis sendiri.”


“Sejak kapan?”


“Baru hari ini tuan. tadi saya menemukan toko yang cocok sekalian sedikit renovasi.” Aeera tampak gugup menjawab setiap pertanyaan Aziel.


“Bukannya kamu di larang mama berkerja?”


“Saya sudah minta izin sama mama tuan. kata mama tidak papa asal tetap menomer satukan kewajiban saya sebagai istri.”


“Lalu?”


“Ha! Maksut Tuan?”


“Apa kamu sudah menjalankan kewajibanmu sebagai istri hari ini ?”


Aeera hanya tertunduk. Ia tidak berani menatap mata suaminya yang begitu dingin. “Maafkan saya tuan. Karena hari ini ada renovasi toko jadi saya pulang terlambat tuan maafkan saya. Lain kali saya akan lebih professional menjalankan bisnis saya.”


Aziel menarik satu sudut bibirnya. Dan kembali merebahkan tubuhnya. Karena tidak ada jawaban, Aeera mengangkat kepalanya.


“Tuan. tolog jangan adukan saya pada mama.” Aeera memelas.


“Hemm.” Jawaban Aziel dengan suara beratnya.


Astaga, aku bisa terpesona hanya mendengan suaranya saja.


Aeera kembali melanjutkan aktivitasnya untuk membersihkan diri, dan melanjutkan makan malam. Ia menikmati makanan seorang diri.


“Nona. Tuan Aziel tidak ikut makan malam?” Tanya salah satu pelayan.


“Apa tuan Aziel belum makan?”


“Belum nona. Tadi tuan pulang langsung mencari nona dan kembali ke kamar, sejak itu tuan tidak turun lagi.”


“Tuan mencari saya?”


“Iya nona.”


“Ya sudah. Nanti saya bawakan makanan saja ke kamar.”


Setelah menghabiskan makanannya Aeera kembali ke kamar membawa nampan berisikan makanan untuk Aziel.


Apa aku harus membangunkan macan yang sedang tidur hanya untuk memberinya makan. Perlahan Aeera menyentuk lengan suaminya.


“Tuan, ini saya bawakan makan malam.”


Tidak ada jawaban dari Aziel. Dia bahkan sama sekali tidak bergetak.


“Tuan.” Aeera sedikit mengguncangkan tubuh suaminya.


“Jangan pernah mengangguku saat aku sedang tidur!” Aziel menepis tangan Aeera dan meninggikan suaranya.


“Maaf tuan. Tapi tuan Aziel belum makan.”


“Aku tidak lapar. Pergi dari sini.”


Aeera hanya meletakkan nasi milik Aziel di meja samping tempat tidur. Lalu ia pergi untuk tidur di kamar tamu.


Kenapa emosi tuan Aziel selalu berubah-ubah. Kenapa dia membuatku jatuh cinta, lalu dengan sekekap menyakitiku kembali.


Senyum cerah Aeera hilang dari wajahnya.


BERSAMBUNG