My Best Friends Two, Three, And Six

My Best Friends Two, Three, And Six
RENCANA LICIK



? : kalian jahat ya... Kalian bersenang-senang tanpaku


Windy : bagaimana bisa kau sampai ke sini


Jea : tentu mengikuti daniel ku


Daniel : idih.. Siapa yang kau sebut daniel mu aku tidak sudi


Jea : [mengambil kursi lalu duduk di samping daniel] mmmm daniel... Kau jangan begitu..


Daniel : mengganggu suasana


Jea : apanya yang mengganggu suasana, jelas jelas aku disini akan membuat suasana semakin menyenangkan


Windy : diam lah kalau tidak aku akan menendang mu keluar dari sini


Jea : memangnya siapa kau, berani sekali memerintah ku


Windy : kau... [ingin berdiri]


Marta : [menahan windy] biarkan saja jangan membuat keributan disini banyak orang


Windy : [kembali duduk]


Pelayan : [datang membawa makanan dan minuman pesanan] ini pesanan kalian...


Jea : [mengambil salah satu minuman] wah... Ini favorit ku [langsung meminumnya]


Windy : hey itu milikku..


Jea : milikmu? Ini ambil saja


Windy : tidak jadi, aku tidak suka bekas orang sepertimu. Eee pelayan aku mau es- [dipotong oleh daniel]


Daniel : teh hangat satu


Pelayan : jadi ini mau es atau hangat?


Daniel : hangat jangan es


Pelayan : baiklah [pergi]


Jea : kenapa kau begitu perhatian padanya?


Daniel : terserah ku


Jea : mmmmm kau tidak boleh begitu... Kau hanya boleh perhatian padaku [cemberut]


Rega : hey pick me jika kau kesini hanya ingin membuat daniel kesal maka pergilah sekarang


Jea : siapa yang kau panggil pick me, aku tidak pick me


Wenza : mau pergi sendiri atau aku panggil security


Jea : iya iya aku tidak akan bicara, tapi kalian tidak boleh mengusirku


*mereka kemudian mulai bicara dan tidak memperdulikan jea. Walaupun jea tidak bicara sedikitpun tapi dia terus menempel pada daniel dan terus memegangi tangannya. Awalnya biasa saja tapi lama kelamaan windy mulai kesal melihat hal itu, Windy yang tepat duduk di depan mereka pun duduk sambil menahan kekesalannya. Karena kesal tanpa sadar windy mengepal tangannya dengan sangat kuat*


// 30 menit kemudian


Windy : apakah kau tidak bisa duduk dan diam saja, kau dari tadi menempel ke daniel seperti kutu


Jea : tidak, aku lebih suka duduk dengan posisi begini


Windy : [semakin kesal dan semakin kuat juga tangannya mengepal]


Windy : huhhh [menghela nafas, kemudian memegang cangkirnya dan bersiap untuk minun]


Dizi : [melihat kearah tangan windy] windy tanganmu berdarah [langsung menariknya]


Windy : hah? Apa? [melihat tangan nya]


Dizi : apa yang kau lakukan dengan tanganmu [melihat bekas kuku yang ada di telapak tangan windy]


Daniel : [berdiri dan langsung berjalan ke arah windy]


Jea : hey kau mau kemana? Ih [kesal]


Daniel : [menarik tangan windy] ceroboh sekali, jika kesal kau pukul saja dia bukan menyakiti diri sendiri seperti ini. Wenza tolong ambilkan obat


Windy : [menarik kembali tangannya] ini hanya luka kecil biarkan saja


Daniel : [menahannya] tidak, menurut lah aku akan mengobatinya


Windy : sudah ku bilang tidak ya tidak


Wenza : ini obatnya [memberikan kotak P3K]


Daniel : diam lah, jika kau masih tidak mau aku akan menumpahkan alkohol ini pada luka mu


Windy : [diam dan menurut]


Jea : [berjalan ke arah daniel] daniel... Kenapa kau tidak memperdulikan ku... Kau malah sibuk mengobati luka si tomboy itu [menarik tangan Daniel]


Daniel : [menepis] pergilah aku tidak suka padamu, jangan perlakukan aku seolah-olah aku ini milikmu


Jea : tapi aku menyukaimu...


Daniel : aku tidak menyukai mu!!! Kau puas, pergi sekarang jangan membuat keributan di sini


Jea : t-tapi...


Wenza : sudah lah berhenti mengganggu daniel, kau sudah dengarkan jika dia tidak menyukaimu. Lebih baik kau pergi sendiri sebelum aku menyuruh security untuk menyeretmu keluar


Jea : oke aku akan pergi. Heh tomboy jangan pikir dengan begini kau bisa menang, ku pastikan kau akan menyesal nantinya [pergi]


Daniel : jangan khawatirkan perkataannya, aku disini akan menjagamu [memperban tangan windy]


*windy hanya bisa diam sambil memikirkan apa benar daniel begitu tulus menyukainya*


Windy : (batin : dari semua yang dia lakukan untuk ku, dan sikapnya padaku selama ini, apakah yang dikatakan dizi dan marta itu benar?) [batinnya sambil menatap daniel yang memperban tangannya]


Daniel : oke sudah selesai [melihat windy] kau kenapa? Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau memikirkan perkataannya tadi?


Windy : [tersadar] ahh tidak, tidak apa-apa


Daniel : kau serius tidak apa-apa? Jangan khawatirkan omongannya kami semua ada untuk mu


Windy : aku tidak memikirkan hal itu tenang lah, kembalilah ke tempat duduk mu


*ketika yang lain sibuk berbicara tetapi windy hanya bengong dan sibuk dengan pikirannya sendiri*


Marta : windy, kau kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?


Windy : itu tidak penting, aku tidak akan memikirkannya lanjutkan saja pembicaraan kalian


*mereka semua lanjut berbicara semua yang ingin mereka bicarakan*


*selama waktu yang tersisa sebelum classmeting mereka habiskan untuk latihan, hingga mereka bisa menguasai permainan yang mereka mainkan*


// 1 hari sebelum classmeting


Windy : [melihat papan pengumuman] kelas A7 melawan kelas B3? Bukan kah itu kelas jea?


Marta : iya itu kelasnya, aku dengar dia juga ikut basket


Windy : sepertinya akan seru


Dizi : tapi aku takut dia akan berbuat hal licik


Windy : tenang saja itu tidak mungkin terjadi


Windy : [memainkan ponselnya]


Sora : [menghampiri windy] win apa kau sibuk nanti malam?


Windy : sibuk


Jena : serius kau sibuk? Sebenarnya kami ingin mengajakmu makan makan di restoran, sebagai permintaan maaf kami atas perlakuan lily dulu padamu


Windy : kenapa baru sekarang?


Sora : kami terlalu malu untuk meminta maaf padamu


Windy : baiklah kami bertiga akan datang


Jena : tidak kami ingin mengajak kau sendiri


Windy : kalau begitu aku tidak ikut


Sora : aku mohon win pergilah bersama kami, kami tidak bisa di hantui rasa bersalah ini lebih lama lagi


Marta : windy.. Pergi lah niat mereka baik


Dizi : mereka ingin meminta maaf padamu


Windy : jika kalian tidak pergi maka aku juga tidak akan pergi


Marta : jangan sia siakan niat baik mereka, pergi lah


Dizi : kami tidak masalah kau pergi sendiri, kan kita punya ini [memperlihatkan gelangnya]


Windy : huhh.. Baik lah aku akan pergi, jam berapa?


Jena : jam 7 di restora xxx


Windy : hmmm oke


// malam harinya


Marta : windy... Ban mobil kita kempes, aku baru saja menyuruh orang mengeceknya katanya itu bocor jadi perlu waktu untuk menggantinya. Bagaimana kau akan pergi ke sana?


Windy : aku akan memesan taxi, kalian tetaplah di rumah selagi aku tidak ada


Dizi : oke siap...


Windy : [melihat ponselnya] (batin : aku tidak sempat mengisi daya ponsel ku karena sibuk latihan hari ini, semoga saja ini cukup hingga aku pulang nanti


*windy memesan taxi kemudian berangkat menuju restoran yang Sora dan Jena katakan*


// sesampainya di restoran ini


Windy : [masuk kedalam restoran] (batin : kenapa sepi sekali)


Sora : win kau sudah datang, silahkan duduk di sini


Windy : kenapa sepi sekali


Jena : restoran ini kami pesan khusus untukmu, tunggu dulu sebentar ya koki sedang memasak makanannya


// beberapa menit kemudian


Pelayan : ini makanan dan minuman kalian... Ini milikmu [memberikan pada windy]


Jena : silahkan di makan win


Windy : [melihat makanan dengan sedikit curiga]


Sora : kenapa kau diam saja? [memakan makanannya]


Windy : tidak apa-apa [menepis pikiran negatifnya kemudian memakan makanannya]


*setelah makan beberapa kali suapan, windy melihat hal yang aneh. Di jendela dapur windy melihat seseorang yang sepertinya ia kenal sedang memperhatikannya*


Windy : [melihat orang itu dengan seksama] (batin : sepertinya aku kenal orang itu) [meminum minuman yang di berikan] (batin : eh itu jea, jangan-jangan ini bagian dari rencananya)


*setelah melihat keberadaan Jea, windy seketika memberikan minumnya dan melihat sesuatu pada minumannya*


Windy : (batin : ini obat) [langsung melemparkan gelasnya]


Windy : kalian menjebak ku!!!


Sora : cepat juga kau menyadarinya ya, tapi sudah terlambat obat itu sudah masuk kedalam tubuhmu


Jea : [keluar dari tempat persembunyiannya] Win.. Win.. Salah siapa kau berurusan dangan kami, dulu lily kakak sepupuku dan sekarang aku. Aku akan membalas dendam kakakku win...


Windy : kalian memang suka mencari masalah yaa [pusing dan mengantuk]


Jea : sepertinya efek obatnya sudah bekerja [senyum] kau tenang saja win aku tidak sejahat itu padamu, aku hanya memberimu obat tidur itu saja tidak ada yang lain


Windy : dasar sialan [pergi keluar dari restoran itu]


Jea : semoga selamat sampai rumah win... Hahahaha


Sora : kenapa kau membiarkan dia pergi begitu saja


Jea : dia tidak akan selamat saat melewati gang yang berisi para penjahat itu


Jena : bagaimana kau bisa yakin?


Jea : tadi aku sudah menyuruh orang untuk membocorkan ban mobilnya. Jadi dia kesini pasti pakai taxi, jaman sekarang tidak ada orang yang baik apalagi dia sendiri pasti, mereka akan menggunakan kesempatan itu untuk mengambil keuntungan. Jika dia tidak naik taxi pun juga akan bertemu dengan penjahat


Jena : kau memang cerdas Jea... Tapi, kenapa kau tidak langsung menyuruh orang untuk membunuh nya?


Jea : jika aku melakukan hal itu, maka aku sama bodohnya dengan Lily. Aku tidak mau masuk penjara 15 tahun sepertinya


Jea : kita lihat besok apakah dia masik datang ke kampus atau tidak hahaha


// di sisi lain


Windy : [berjalan sempoyongan sambil menahan agar tidak pingsan di jalan] aahhkk baterai ponsel ku habis, aku harus bagaimana.. Pandanganku mulai buram... [menepi ke salah satu tempat sepi agar tidak ada yang melihatnya]


Windy : [duduk dan bersandar ke dinding] manusia sialan itu benar-benar... Aku tidak boleh berlama-lama disini, ini tidak aman [berusaha berdiri dan ingin pergi]


...*di saat windy ingin pergi ada beberapa orang datang*...


Pria 1 : eh? Waaah ada kelinci kecil masuk ke markas kita


Pria 2 : hey apa kau mabuk hahaha


Pria 3 : kau tersesat ya...


Windy : minggir aku ingin pergi


Pria 2 : eh tunggu dulu kau tidak boleh pergi secepat ini [menghalangi jalan]


Windy : jangan menggangguku aku tidak mau berkelahi di sini


Pria 1 : waah kau bisa berkelahi, mana sini tunjukkan pada kami


Windy : kalian... Sshhh (batin : sial bagaimana ini, aku bahkan tidak bisa melihat mereka dengan jelas kaki ku juga rasanya tidak ada tenaga lagi untuk berjalan)


Pria 3 : bagaimana kau bisa berkelahi, keadaan mu sekarang bahkan tidak bisa berdiri dengan benar [memegang tangan windy]


Windy : hey jangan menyentuhku..