
Sungguh malam pertama yang sangat buruk bagi mereka. Adrian sekarang memiliki peraturan yang harus di jalankan oleh Claire. ia menyuruh Claire agar melaksanakan semua pekerjaan rumah sendiri. tidak ada pembantu yang akan di sediakan. Adrian disitu adalah rajanya dan Claire tidak diperlakukan selayaknya isteri. ia diperintahkan untuk mengerjakan semua tugas rumah sendiri. tak ada mesin cuci yang akan membantunya menyelesaikan pekerjaan. ia harus mencuci baju Adrian memakai tangan. ia juga harus membersihkan semua halamannya yang sangat luas itu. sebuah awal pernikahan yang buruk baginya. “ aku tak suka memiliki isteri yang malas dan hanya bersenang-senang. kerjakan tugasmu di rumah dengan baik ! aku tak suka melihat sekeliling rumah ini kotor. bersihkan seluruh halaman ini dan jangan menggunakan pembantu ! ini perintah.!” ucap Adrian.
Ia kemudian langsung ke kantor tanpa sarapan pagi. Claire seakan berteriak karena diperlakukan oleh Adrian seperti itu. namun ia tak gampang menyerah dari pria sombong itu. Claire membersihkan rumah dan mengepel semua lantai. gadis ini tampak kelelahan karena begitu banyak pekerjaan rumah yang harus di selesaikan. tiga jam gadis itu membersihkan seluruh ruangan. dan masih ada halaman yang belum ia bersihkan.“ ya tuhan, mengapa pria gila itu menyiksaku seperti ini?” rintih Claire. ia beristirahat sejenak sebelum akhirnya melanjutkan tugasnya di halaman rumah. jika ayahnya melihat pemandangan seperti ini, tentu ia akan merasa sangat sedih dan bersalah atas putrinya.
Setelah istirahat beberapa menit, Claire mulai membersihkan halaman yang luas itu. punggungnya terasa sakit karena berjam-jam harus menyapu halaman itu. sungguh sebuah perintah yang sangat berlebihan untuknya. Claire mulai membersihkan dari pagi hari dan selesai hingga sore. Adrian belum tampak muncul di rumah. Claire kemudian mandi dan istirahat di sofa. ia terlihat sangat lelah hingga sampai akhirnya tertidur di sofa. tak sadar waktu sekarang menunjukkan pukul tujuh malam. tiba-tiba ada suara mobil membunyikan klakson. Claire tak mendengar karena ia sangat lelah dan tertidur pulas. rupanya yang datang itu adalah Adrian. melihat tak ada orang yang membuka gerbang membuat Adrian sangat geram. ia tak sabar ingin cepat sampai di dalam rumah dan memarahi Claire. Adrian akhirnya membuka pintu gerbang sendiri. setelah itu, ia masuk dan mendapati Claire sedang tertidur di sofa. ia melihat sekeliling ruangan tampak bersih. semua baju telah dicuci gadis itu.
“Rupanya ia mengerjakan semua tugas yang aku perintahkan.” ucapnya dalam hati.
Ia melihat Claire tidur dengan pulas. Adrian sengaja tak membangunkan gadis itu. kemudian Adrian pergi ke kamar dan segera beristirahat. ia membiarkan Claire tidur di sofa tanpa selimut. tiba-tiba hujan pun turun dan membawa hawa dingin yang mencekam. Claire terbangun dari sofa karena merasa kedinginan. sementara Adrian tidur dengan pulas seperti tak punya beban. gadis itu tampak kedinginan. ia mengambil karpet yang ada di bawah sofa dan menutupi tubuhnya yang kedinginan.
Pagi harinya, Claire tak bangun karena merasa demam. badannya sangat panas karena merasa kedinginan semalam. Adrian yang siap-siap ke kantor ia sangat kesal melihat Claire yang masih tidur. ia segera mendekati gadis itu dan memaksanya bangun walau dalam keadaan sakit.
“Dasar wanita pemalas ! ayo cepat bangun dan jangan pura-pura sakit di hadapanku !” bentak Adrian. Claire pun bangun dan memaksakan dirinya untuk terlihat biasa. namun tak bisa di bohongi, saat ini wajah Claire terlihat pucat. namun Adrian tak menghiraukan isterinya itu. ia hanya memarahi isterinya yang sedang sakit.“ kamu kerjakan tugasmu seperti biasa ! jangan lupa buatkan aku makan malam nanti !” tambah Adrian. ia kemudian pergi ke kantor tanpa rasa khawatir pada isterinya itu.
Claire sadar, jika Adrian sangat membenci kehadirannya. ia tetap melakukan kewajibannya sebagai seorang isteri walaupun ia terlihat sakit. tapi demi ayahnya, gadis ini tetap bertahan walaupun cobaan rumah tangganya sangat berat. “aku harus kuat demi kebahagiaan ayahku.” ucapnya.
kemudian ia bangun dan melaksanakan tugasnya seperti biasa. kepalanya terasa sakit dan badannya mulai terasa demam. namun ia tak berhenti mengerjakan tugasnya.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. ia telah selesai mengerjakan semua tugasnya di rumah. Claire pun langsung berbaring di sofa karena tubuhnya terasa lemas.
Tiba-tiba suara mobil membunyikan klakson. rupanya Adrian telah datang. Claire yang masih sakit tak bisa membuka pintu gerbang untuk suaminya. Adrian menunggu beberapa menit tapi tak ada yang membukakan pintu untuknya. ia semakin geram pada Claire, karena sudah kedua kalinya gadis itu membuat kesalahan. ia kemudian masuk ke dalam rumah dan membentak isterinya yang sedang terbaring lemas di sofa.
“ Dasar wanita malas dan pembawa masalah ! jangan pura-pura sakit di depanku. cepat bangun dan siapkan aku makan malam !” bentak Adrian. ia tak pernah merasa khawatir sekalipun pada Claire. ia benar-benar lagi menyiksa gadis itu.
Claire pun akhirnya bangun dan memaksakan diri untuk mengurus suaminya. ia pergi ke dapur dan menyediakan makanan untuk Adrian. badannya masih sangat lemas. saat ini ia demam tapi Claire mencoba terlihat sehat seperti biasa. Claire tak membantah sedikitpun pada Adrian. ia hanya melaksanakan tugasnya agar suaminya tak membencinya. “makanannya sudah siap.” ucap Claire singkat. Adrian pun langsung ke dapur dan makan. ia meminta Claire untuk menemaninya makan. Claire pun hanya duduk terdiam di hadapan Adrian.
Adrian mulai mencicipi masakan Claire. ia terlihat sangat tidak suka dengan masakan buatan Claire. ia membuang makanan itu tepat di hadapan Claire. “apa kamu mau meracuniku ?makanan ini sangat tidak enak. dasar wanita pembawa sial !” ucap Adrian.
Ia kemudian meninggalkan Claire yang masih menahan kesedihan. Adrian pergi tanpa merasa bersalah pada gadis itu. seakan ia bahagia melihat Claire menderita.
Claire memunggut serpihan kaca yang berhamburan di lantai. ia sesekali meneteskan air mata karena mengingat perbuatan Adrian yang sangat keterlaluan. tak sadar ia pun jatuh pingsan karena badannya terasa lemas. ia tak pernah berhenti beraktifitas sedari pagi.
Adrian panik melihat Claire yang sudah terbaring di lantai. ia mencoba mengangkat Claire dan membawanya ke rumah sakit. sampai di rumah sakit, Claire diperiksa oleh dokter. Adrian masih dalam keadaan panik.
“ Isteri saya sakit apa dok ?” tanya Adrian.
“isteri anda kelelahan. dia harus banyak istirahat dan jangan terlalu capek.” jawab dokter.
kemudian Adrian menghampiri Claire yang belum sadar juga. Adrian menjaga Claire sampai ia sadar. satu jam kemudian Claire akhirnya sadar juga. Claire merasa bingung telah berada di rumah sakit. “ mengapa aku bisa disini ?”tanya Claire. “kamu pingsan tadi.” jawab Adrian singkat. kemudian Adrian memaksa Claire agar segera meminta izin pada dokter untuk pulang ke rumah. Adrian tak merasa khawatir dengan kondisi Claire yang belum terlalu pulih.
Dari pada ia berdebat dengan Adrian, akhirnya Claire meminta izin pada dokter untuk pulang ke rumah. “dok, aku ingin pulang ke rumah sekarang ! keadaanku sudah sangat baik dok.” ucap Claire.
mendengar permintaan pasien, akhirnya dokter mengizinkan Claire pulang ke rumah. “baiklah kalau itu permintaan ibu. saya hanya menyarankan agar lebih banyak istirahat di rumah.” jawab dokter. “baiklah dokter, terima kasih atas nasehatnya.” sambung Claire.
Adrian pun segera membawa Claire pulang. tiba-tiba di depan rumah sakit, Adrian bertemu teman kuliahnya dulu. dia adalah Marcel. Adrian tak menyangka bisa bertemu sahabat lamanya disini. “apa benar kamu Marcel?” ucap Adrian. “ iya aku Marcel. sahabat kamu waktu kuliah dulu.” jawab pria itu.
“aku dengar ! kamu sudah menjadi pengusaha sukses.” sambung Marcel lagi.
Adrian hanya tersenyum mendengar pujian dari sahabatnya itu. “oh iya, siapa gadis yang ada di sampingmu ini?” Marcel berbicara lagi.
Karena merasa malu pada Marcel, ia tak mengakui Claire sebagai isterinya. karena dandanan Claire terlihat sangat biasa dan kampungan. ia malu akan menurunkan level wanita kriterianya. “ oh, wanita ini adalah pembantuku. ia sakit terpaksa aku mengantarnya ke dokter.” jawab Adrian.
Mendengar ucapan Adrian, rasanya Claire tak sanggup lagi ingin hidup bersama pria itu. ia tak menyangka Adrian akan malu memberitahu yang sebenarnya.
“Aku memang hanya terlihat seperti seorang pembantu baginya. kita menikah bukan di dasari atas nama cinta. pernikahan ini tak ada gunanya dan sangat membuang waktuku.” rintihnya dalam hati.