
Kyline kelas I-E sedangkan Meira kelas I-A.
"Kenapa kita tidak satu kelas? Apakah aku perlu melakukan sesuatu agar-"
"Tidak perlu, Seperti ini saja." Potong Kyline cepat.
"Apakah kau mau penyamaran kita terbongkar?" Kyline melipat kedua tangannya didepan dada.
"Kita sepupu! mereka tidak akan curiga dengan ini. Ayolah Kyline aku tidak suka harus berpisah denganmu." Protes Meira dengan nada memelas.
Kyline terdiam sejenak melihat guardiannya yang gelisah. Senyum manis terukir dibibir mungilnya. "ini akan semakin menarik Meira, aku tidak selemah yang kau pikir. Jangan menentang-ku kali ini!"
Meira menunduk sejenak membuat beberapa helai rambut menutupi wajahnya. " tapi Kyline, aku mera-"
"Sudah, cepat sana ke-kelasmu!" Potong Kyline.
Kyline pun berjalan menjauh dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Lalu dia berbalik kearah Meira. "selamat belajar!" Ucapnya dengan gerakan bibir.
...****************...
Sesampainya dikelas dan duduk dengan tenang Kyline mendesah pelan, melihat sepatunya yang tinggi bak sepatu kaca tuan putri.
Belum sempat Ia meratapi nasib malangnya, depannya pun duduk lelaki dengan badan yang sangat besar menutupi seluruh penglihatannya kearah depan.
Ohgod!
Mengapa aku mendapatkan kursi paling belakang? Yang tidak cocok sama sekali dengan tubuhku yang mungil.
Kyline mendengus kesal merutuki nasibnya.
Tidak lama, datang seorang wanita berbadan besar dengan sebuah ular melilit lehernya.
"Selamat pagi murid-murid baruku! Senang melihat kalian semua masih sehat."
Apakah dia menyumpahkan agar kita semua cepat mati?
Kyline memiringkan kepalanya sedikit untuk mengintip guru yang ada didepan kelasnya.
"Perkenalkan nama saya adalah Jesica. Murid-murid biasa memanggil saya Ms.Jeje! Saya akan mengajar kalian untuk satu bulan kedepan. Seperti yang kalian ketahui, kelas ini hanyalah kelas sementara. Berlatihlah dengan sungguh-sungguh. Jika tes bulan depan kalian tidak membuahkan hasil yang diinginkan guru feeorin academy. maka kami berhak MENGELUARKAN kalian."
Jelas Ms.Jeje dengan tegasnya.
Siswa-siswa yang berada dalam kelas itu menelan ludah dengan susah payah karena mendengar penjelasan guru didepan mereka.
"Oke karena kulihat kalian semua sudah mengerti dan kalian semua terlihat bersemangat untuk tes pertama hari ini, maka mari kita mulai!" Sambungnya dengan nada semangat.
Kyline mengerutkan keningnya lalu mengedarkan pandangannya.
SEMANGAT DARI MANANYA? BAHKAN MEREKA MASIH TERLIHAT TERKEJUT.
"A-apa tes hari pertama?!"
Wanita berbadan besar itu mengangguk semangat. "Iya benar, tes pertama kalian tentang kekuatan elemen kalian masing-masing."
"CEPAT KUMPUL DI LOKASI SIHIR SEKARANG JUGA! SAYA TUNGGU SATU MENIT DARI SEKARANG!" Lalu wanita itu lenyap setelah menyentak kakinya kelantai.
BLAMM!!
Tiba-tiba kelas bergetar dengan sendirinya lalu muncul sebuah portal didepan kelas.
Bahkan kyline tidak bisa berkata apapun. Ia terkejut dengan over semangat gurunya itu.
Kyline pun bergegas masuk kedalam portal itu.
Lalu, pemandangan pertama yang Ia lihat adalah sebuah lapangan ditengah hutan yang Ia tidak tau dimana ujung hutan itu.
Kyline pun mengikuti langkah murid lainnya.
Lalu terlihat sesosok pemuda tampan dengan mata birunya yang bersandar dipohon.
Trik matahari yang menyilaukan kulit pucatnya menambah nilai plus bagi pemuda itu. Pemuda itu hanya menatap lurus kedepan ketempat Ms.Jeje berada, tidak menghiraukan tatapan murid-murid terhadapnya.
Kyline menghela napas pelan mendengar bisikan-bisikan disamping kanan-kirinya yang memuji pemuda itu.
"Disini sangat berisik ya."
Kyline sontak menoleh kesamping kanannya.
Seorang gadis berambut perak tersenyum kearahnya. "Halo, Namaku Karina Val Almour. Sepertinya aku sempat melihatmu bersama seorang gadis di dekat mading."
Kyline tersenyum kikuk. "Ah iya, Halo." Kyline benar-benar bingung harus merespon apa lagi.
"Namamu boleh aku tau?" Karin mengulurkan tangan kearah Kyline.
"Tereria Kyline. Senang berkenalan dengamu Almour." Kyline mengulurkan tangannya kearah Almour dengan senyum tipisnya.
"Duh, tidak usah terlalu formal. Panggil saja Karin, oke?" Karin memandang Kyline dengan senyum lebarnya.
"APA KALIAN BERDUA MENDENGARKAN INTRUKSIKU?"
Kyline terkejut mendengar suara itu, begitupun dengan Karin.
Ntah nasib sial apalagi yang menimpa Kyline kali ini.
Niat ingin menghindari pusat perhatian, justru kini Kyline terjebak didalamnya.
Apakah aku pernah berbuat salah dimasa lalu?
Kyline merutuki kesialannya semenjak datang ke academy.
"Ma-maaf miss saya ti-tida-" Karin jadi gelagapan mencari kata yang tepat karena melihat ular Ms.jeje tepat didepan wajahnya.
"KALIAN BERDUA AKAN MENJADI KELINCI PERCOBAAN SAYA SEKARANG JUGA! KELUARKAN ELEMEN KALIAN SAAT INI JUGA!" Ms.Jeje berkata dengan suara lantangnya.
Kyline menghela napas pelan karena dibentak untuk kedua kalinya.
Kyline bertaruh jika kelima guardiannya melihat ia dibentak seperti ini mereka akan tertawa terbahak-bahak.
"Ba-baik Miss." Tangan Karin pun gemetar bukan main melihat ia ditatap sedemikian rupa oleh teman satu kelasnya. Jangan lupakan kakinya yang lemas kala dilihatnya ular Ms.Jeje menatapnya bengis.
Lalu ia pun memejamkan matanya, memusatkan pikirannya ke elemen yang ingin ia tuju. Angin pun mulai berhembus menerbangkan rambut-rambutnya. ia mengucapkan kalimat dengan nada setenang mungkin.
"vento arrasado."
Lalu tiba-tiba muncul dari arah kiri-kanan pusaran angin topan yang Menebangkan pohon-pohon dihutan. cukup jauh dengan lapangan yang sedang mereka tempati. tapi, angin itu nampak ganas. Burung-burung nampak berterbangan menghindarkan angin itu secepat mungkin.
"ELEMEN ANGIN!" Seru sebagian siswa dengan takjub.
Karin tersenyum cerah melihat respon murid yang memandang takjub.
Dengan percaya diri ia membuat pola rumit diudara dengan jarinya. Lalu, muncul tongkat kayu dengan ukiran rumit berbentuk akar pohon digenggamannya. Karin mengarahkan tongkat kayu itu ke arah tornado.
seketika tornado itu menghilang.
Semangat Ms.Jeje semakin membara melihat muridnya yang sudah bisa mengendalikan angin topan. "Sihir yang mengagumkan untukmu gadis manis, Sekarang giliranmu. Tunjukan elemen kebanggaanmu di academy ini!" tunjuk Ms.Jeje kearah Kyline.
Kyline pun mundur satu langkah untuk memberi jarak pada siswa.
Kedua tangan Kyline terangkat sedikit keatas lalu terulur kedepan, ia berucap dengan nada sepelan mungkin. "zemětřesení."
tiba-tiba muncul api dari arah tangan Kyline.
Api itu semakin lama semakin membesar. Siswa pun yang melihat itu mulai sedikit menjauh.
Api yang tadinya berwarna merah perlahan-lahan berganti warna menjadi biru.
Api yang sangat suci.
Api yang membentuk sesosok burung agung.
Tubuhnya yang sangat berwibawa membawa kesan angkuh nan kejam.
Tatapannya sangat tajam, siap menerkam siapapun musuhnya.
Burung Legenda Phoenix.
Burung itu mengelilingi siswa-siswa disana dengan tatapan elangnya, apinya berkobar-kobar menebar efek tegang bagi para siswa.
Semua siswa yang berada ditempat itu tercengang dibuatnya, hingga tidak bisa berkata-kata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Salam manis dari author!
•
•
Jangan lupa tinggalkan jejak ya✌🏻