Me And Myguardian

Me And Myguardian
Adena.



Setelah menidurkan Kyline, Aistan berjalan dengan langkah angkuhnya disepanjang koridor academy.


Sudah hampir jam sepuluh malam, koridor academy sudah sepi.


Aistan akan mencari seseorang yang mengharuskannya turun tangan sendiri ketempat ini.


Di pertengahan jalan langkah Aistan terhenti ketika melihat makhluk tepat berdiri dihadapannya.


"Sedang apa kau disini?"


Didepan Aistan berdiri seorang wanita yang sangat cantik dengan pakaian terbukanya, belahan dadanya tampak terlihat. Membuat kaum pria manapun tidak sanggup memalingkan wajah darinya.


Mata bernetra hijau itu mengerjap.


Wanita bermarga Altaro itu tersenyum sensual lalu membungkuk hormat. "Saya kebetulan lewat, lalu tertarik karena mencium aroma anda, Saya mohon pamit, Your majesty." wanita itu menghilang menyisakan kelap-kelip dihadapan Aistan.


Aistan melanjutkan langkahnya melewati jejak aroma yang sangat memabukan bagi kaum pria setelah kepergian wanita itu, tapi tidak bagi Aistan.


Hingga dirasa sampai, lantas ia berhenti tepat didepan pintu dengan ukiran rumit menghiasinya.


Belum sampai Aistan melangkahkan kakinya melewati pintu, suara seseorang menyambutnya. "Kamu tidak seharusnya berada disini."


"Tujuanku adalah menemukanmu, karena kamu disini, maka disinilah aku sekarang." Aistan berjalan kearah sofa lantas duduk dengan tenang. Matanya sangat tajam menatap seseorang dihadapannya.


"Setelah kurang lebih seratus tahun kamu tidak keluar dari tempat itu, kamu merasa harus menunjukan diri sekarang?" Seseorang dihadapan aistan terkekeh dengan merdunya.


Aistan tersenyum miring mendengar perkataan seseorang dihadapannya. "Terus terang saja, aku kemari setelah mendengar kau membuat ulah diacademy ini."


"Ahh, setelah lima tahun aku diacademy ini, kau baru menemuiku sekarang?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan! Sudah berapa penyihir diacademy ini yang menjadi makananmu?" Aistan bertanya dengan suara rendahnya.


"Hmm, sekitar dua ratus penyihir, mungkin?" Bulu mata lentik itu mengerjap dengan lucu, seolah-olah tidak merasa bersalah sama sekali dengan apa yang barusan ia ucapkan.


"Kenapa academy ini yang menjadi incaran-mu?" Aistan menatap tajam seseorang dihadapannya.


"Hanya ingin bersenang-senang." seseorang yang sedang mempoles kukunya itu tampak acuh dengan aura yang dikeluarkan Aistan.


"Aku bisa memberikanmu makanan yang lebih berkelas, dibanding menyantap murid academy yang ada disini!"


"Aku ingin mencicipi darahmu, maka aku akan kembali."


"Adena De Orfeus!"


"Ahh sudah lama sekali aku tidak mendengar seseorang menyebut nama lengkapku." wanita itu terkekeh lalu berjalan mendekat ke sofa depan aistan, lantas duduk dengan kaki disilangkan.


"Jangan konyol Dena!"


Adena mengedikan bahu acuh, nampak tidak peduli dengan ucapan Aistan.


"Jika bukan karena bunda! aku tidak akan mau menemuimu!" Aistan geram melihat kelakuan adik tirinya.


"Oh ayolah kak, kau pelit sekali." Adena memanyunkan bibirnya karena kesal tidak diberi asupan oleh kakaknya.


Aistan mengehela napas melihat adiknya yang sangat keras kepala, lalu Aistan melepas jubahnya lantas menggores telapak tangannya, lalu muncul darah berwarna hitam pekat dari tangannya.


Adena berbinar melihat darah itu, lantas ia berjalan mendekat kearah aistan lalu meminum darah itu dengan lahap.


"Setelah ini temui bunda! Jangan buat kekacauan lagi!"


Adena mengangguk-anggukan kepalanya, ia masih lahap meminum darah Aistan.


Darah Aistan memang sangat lezat untuk menghilangkan rasa lapar selama berbulan-bulan, untuk jenis makhluk apapun.


Adena menjauhkan wajahnya dari tangan Aistan lalu menjilat sisa darah yang ada dipinggir bibirnya dan tersenyum lebar. "Makanan terlezat selama hidupku."


"Aku mencium aroma asing ditubuhmu, aroma siapa ini ka?" Adena mengerjapkan matanya kearah Aistan.


"Bukan urusanmu anak kecil." Aistan mendorong kening Adena yang sangat dekat dengat tubuhnya hingga Adena membentur pinggiran sofa.


"Aduh, aku sudah hampir dua ratus tahun kak, masih saja kau anggap anak kecil!" Adena berkata dengan nada jengkelnya.


Aistan tidak menghiraukan ucapan adiknya lantas memakai kembali jubahnya. "Temui bunda dikerajaan dena! Lalu kau bebas melakukan apapun, tapi tidak dengan meminum darah penyihir yang ada disini!"


"Hmmm, setelah menemui bunda, aku akan kedunia manusia untuk bersenang-senang."


Aistan hanya melirik sekilas kearah adiknya. "Terserah." lalu menghilang meninggalkan tempat itu.


...****************...


                               


"Enggh." Kyline mengerjapkan matanya, menyesuaikan diri dengan sinar matahari diluar jendela.


Meira yang melihat Kyline sudah bangun lantas berjalan mendekat kearah kasur Kyline. "makan dulu lady, dari semalam kau belum makan apapun."


Kyline mengangguk kearah Meira, lantas mengambil sup dan susu yang dibuat oleh Meira.


Kyline makan dalam diam, ia mengingat kejadian semalam saat dirinya lepas kontrol karena perkataan elpis.


Kyline mengerutkan keningnya lalu menoleh kearah Meira. "Meira, siapa semalam yang memeluk ku?"


"Aistan." Meira menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.


Kyline tersedak makanannya ketika mendengar nama Aistan, lalu meminum susunya sampai kandas.


Bagaimana bisa Aistan?


"Kenapa kau ijinkan dia masuk kamar kita Meira?" Kyline menatap tajam meira yang sedang membaca buku.


"Dia tiba-tiba sudah ada dikamar kita lalu memeluk-mu Kyline."


"Kenapa tidak kau usir dia?!" Kyline jadi malu sendiri karena Aistan melihat ia semalam seperti orang tidak waras. Apalagi Aistan melihat dirinya sedang menangis histeris.


Hancur sudah harga diriku depan Aistan.


"Gimana mau ku usir? Kau memeluknya sangat erat." Meira tersenyum miring melihat wajah Kyline.


"Itu...aku tidak sengaja memeluknya, karena aroma dia menenangkan." Kyline langsung berjalan kearah kamar mandi untuk menghindarkan perkataan Meira lebih lanjut.


Setelah selesai mandi Kyline memakai pakaiannya lantas mengerutkan keningnya melihat Meira masih santai.


"Kau tidak ke kelas meira?" Tanya Kyline karena melihat Meira masih setia membaca bukunya.


"Ahh aku lupa memberi taumu, murid academy sedang membersihkan sisa BADAI yang semalam melanda academy."


Kyline meringis pelan mendengar nada sindiran dari Meira. "Aku murka semalam mendengar bundaku diperlakukan seperti itu."


"Tidak biasanya kau lepas kendali Kyline." Meira menutup bukunya lantas menoleh kearah Kyline.


"Ntah lah, semalam memori kelam di kepalaku terasa berputar-putar."


Meira mengangguk mengerti. "Kita akan membantu penghuni academy untuk membereskan kekacauan yang kau buat semalam."  lantas Meira mengambil jubahnya lalu keluar kamar.


Kyline mengangguk lantas ikut keluar kamar mengikuti Meira.


Kyline berjalan sendiri dikoridor academy karena Meira dipanggil oleh wali kelasnya, Lalu langkahnya terhenti ketika menoleh kearah taman.


Kyline meringis pelan melihat taman seperti abis terkena angin topan.


Pohon-pohon tumbang, belum lagi atap-atap sebelah utara academy runtuh setengahnya.


"Hai Kyline!"


sontak Kyline menoleh kesamping ketika ada yang memanggilnya.


Ah iya, Aku ingat wanita ini.


"Hai Karin." Kyline tersenyum tipis menatap wanita dihadapannya.


"Katanya semalam ada badai besar melanda academy, tapi aku tidak merasakan apapun dikamar, apa karena aku sudah tidur ya?"


Kyline tersenyum canggung mendengar perkataan Karin. "Aku juga tidak merasakan apapun."


"Ugh ini sungguh aneh." Karin bertopang dagu seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Karin ak-"


Kyline terkejut ketika tiba-tiba tangan kirinya ditarik oleh seseorang yang ntah datang darimana.


"Karin aku duluan ya."


Sedangkan Karin langsung menganga melihat seorang lelaki yang sedang menarik tangan Kyline.


Kyline padahal belum mempersiapkan kata-kata yang tepat jika bertemu dengan orang ini.


Kenapa aku tidak pernah mencium aroma kemunculannya?


Kyline jadi jengkel sendiri, kenapa penciumannya sejak bersama lelaki ini jadi menurun.


Kyline tidak sadar mereka sudah sampai diujung koridor yang sepi.


"Kenapa membawaku ketempat sepi seperti ini?" Kyline bergumam dengan suara yang amat kecil.


Aistan menaikan sebelah alisnya melihat Kyline yang menunduk.


Kemana perginya keberanian wanita ini ketika pertama kali bertemuku?


Aistan terkekeh pelan.


                                


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ayo kawan yang budiman Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa🤞🏻