
Aistan paling tidak suka berbasa-basi dengan seseorang, Apalagi dengan musuhnya.
Didalan kamus Aistan hanya ada dua kata untuk musuhnya.
Bunuh dan selesai.
Kejam? memang. Tapi itulah Aistan, Ia tidak mungkin menjadi Raja jika tidak ditakuti oleh kaum yang bahkan kekuatan nya tidak bisa dianggap main-main.
Benar yang dikatakan Meira. 'Aistan tidak tersentuh.'
Aistan ingin bertemu dengan orang itu jika ia ingin ditemui, Ia memiliki keistimewaan yang ditakuti oleh seluruh rakyatnya. Bukan Aistan namanya jika tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Sudah merasa hebat ingin melawanku Xentar?" Suaranya sangat rendah, tapi mengandung unsur yang mematikan.
Xentar membeku melihat sesosok yang sedang memeluk seseorang yang ingin dibunuhnya.
Terkejut? Tentu saja.
Seseorang dihadapan nya bukan tandingannya. Xentar sadar diri tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sesosok dihadapannya. Ibarat seekor singa si raja hutan dengan seekor kelinci yang bisa dimusnahkan kapan saja hanya sekejap.
"Maafkan kelancangan hamba, your majesty." lelaki yang bernama Xentar itu berlutut dihadapan Aistan.
Aistan tidak menjawab sapaan Xentar. Pandangan Aistan sangat datar menatap seseorang yang sedang berlutut dihadapannya. "Bangun, kau tampak sangat menyedihkan setelah pergi dari kerajaanku."
Xentar bediri lalu menunduk, ia tersenyum kecut mendapat hinaan dari seseorang dihadapannya.
"Setelah berpisah dari saudaramu, kau lebih memilih setia dengan kerajaan yang bahkan tidak ada setengahnya dari kerajaanku?"
Perkataan seseorang dihadapannya membuat dirinya merasa ciut. "Hamba mempunyai hutang budi dikerajaan itu, Mylord."
"Kau memanggil ku Mylord. Apa kau sedang mencoba menghinaku Xentar?"
Xentar menunduk dalam, Ia baru sadar sudah menyerahkan kesetiaannya kepada kerajaan napela, Itu tandanya Aistan bukan rajanya lagi. Dan itu merupakaan penghinaan bagi Aistan.
Aistan tidak suka jika seseorang memanggil dirinya dengan panggilan kesayangan rakyatnya, jika ia bukan bagian dari kerajaan Aistan.
"Bukan maksud ham-"
"Kembali ke saudaramu, maka aku akan memaafkan mu kali ini. Jika kau menolak, kau menghinaku untuk kedua kalinya, kau tau artinya itu?" Aistan menatap pria dihadapannya masih dengan pandangan datarnya, menunggu Xentar mengiyakan ajakan nya.
"Hamba tidak berani membantah perintah anda, your majesty." Xentar tersenyum kecut setelah mengatakan itu.
See? Bukan Aistan namanya jika tidak bisa mendapatkan apa yang ia mau. Bahkan tangan kanan raja dari kerajaan napela langsung tunduk dibawahnya.
"Dolos."
tidak berselang tiga detik Aistan memanggil nama itu, muncul seseorang dihadapannya dengan berlutut. "Hormat hamba, Mylord."
Aistan mengangguk singkat, lalu menoleh kearah Kyline dan tersenyum miring.
Kyline membeku mencium aura yang sama persis dengan dirinya. Ia tidak menyangka akan menemui sesama kaumnya selain ayahnya dan sepupunya.
Tapi tunggu...Kyline merasa ada yang ganjil. Lelaki itu berlutut dihadapan Aistan?
BERLUTUT?!
Kyline membulatkan matanya lalu menatap Aistan yang sedang tersenyum miring kearahnya.
Sebenarnya Dolos juga cukup terkejut melihat rajanya sedang memeluk seorang wanita, Auranya yang bisa ia tebak dengan mudah sama seperti dirinya.
Dolos sedang sibuk dengan pikirannya, ada hubungan apa rajanya dengan wanita ini? Lalu siapa wanita ini? Kenapa dia tidak pernah mencium auranya dipulau ini?
"Dolos kau tidak penasaran dengan seseorang disampingmu?"
Dolos tersentak mendengar ucapan Aistan, secara cepat ia menoleh kesamping. "Xentar." panggil Dolos dengan lirih.
"Ah kurang baik apa aku? Mempertemukan kembali sepasang saudara yang sudah terpisah selama puluhan tahun."
Xentar dan Dolos menundukan kepalanya mendengar ucapan Aistan yang ada maksud tersendiri.
"Selesaikan permasalahan kalian, jangan membuatku kecewa!"
Setelah mengucapkan itu Aistan menutup mata Kyline, lalu mereka berpindah kesebuah tepi danau yang dihiasi air terjun ditengahnya dengan sangat indah, airnya sangat jernih, Wangi dari berbagai macam bunga menyentak indra penciuman Kyline.
Kyline mulai membuka matanya ketika dirasa sudah tidak ada tangan Aistan lagi diwajahnya. Ia mengerjapkan matanya, Lalu matanya menyapu pemandangan didepannya, Seketika ia tercengang.
Ini indah sekali!
Kupu-kupu berterbangan mengelilingi dirinya, suara serangga-serangga terdengar indah di indra pendengarannya.
"Indah kan? tapi lebih indah wanita yang lagi didepan gue."
Sebuah suara muncul dari belakang Kyline, membuat ia tersentak.
Kyline membalikan badannya menghadap Aistan yang sedang tersenyum tipis.
"Iya gue tau, banyak pertanyaan di otak kecil lo ini." Aistan menunjuk jidat Kyline dengan telunjuknya.
Kyline mendegus, Baru saja tadi lelaki dihadapannya bersikap manis sekarang sudah menyebalkan lagi.
"Gue bakal kasih tau apapun yang lo mau tau, tapi ga gratis." Aistan bersedekap dada memandang Kyline.
"Kalo ternyata kamu gatau jawaban yang mau aku tanyain gimana?" Kyline ikut bersedekap dada memandang Aistan.
Aistan terkekeh pelan. "Apa yang seorang Aistan gatau?" Aistan menaikan sebelah alisnya menantang Kyline.
Kyline mendegus keras mendengar perkataan nya itu, tidak urung ia membenarkan ucapan Aistan. Karena tadi dirinya sudah melihat sendiri sedikit kekuasaan yang menguar dari pria dihadapan nya.
Aistan terkekeh melihat ekspresi Kyline yang sangat lucu. "Gimana kalo kita buat perjanjian?"
Kyline menaikan sebelah alisnya menunggu Aistan melanjutkan ucapannya.
Aistan terkekeh lagi, hanya Kyline yang berani seperti ini kepadanya.
"Gue bakal kasih tau apa yang mau lo tau, tapi.."
"Apa?!" Kyline berkata dengan nada jengkelnya karena Aistan menggantung kan ucapan nya.
Aistan tertawa pelan melihat raut wajah Kyline yang tidak sabaran. "Kalo lo minta dua permintaan dan gue bisa kabulin. Berarti gue berhak minta satu permintaan juga ke lo, Gimana?"
Kyline menimbang-nimbang, sebenarnya tidak begitu rugi dua banding satu, apalagi ia sangat penasaran tentang kerajaan napela saat ini dan juga kerajaan Aistan.
"Permintaan kamu pasti bakal aneh-aneh." Kyline menatap tajam kearah Aistan.
"Ah itu si tergantung lo, banyak yang udah berubah, pernah denger kata-kata itu?"
Kyline tercengang, tidak menyangka perkataan Elpis akan diulangi oleh Aistan.
"Sejak kapan kamu mengetahui masa laluku?" Kyline menatap lelaki dihadapannya dengan geram.
"Semenjak dari dunia manusia, Mungkin?" Aistan mengerutkan keningnya lalu menopang tangan nya didagu seperti sedang berfikir.
"Kau lancang!" Kyline geram dengan lelaki dihadapannya.
Tidak peduli dia siapa, karena yang lelaki itu lihat merupakan privasinya, apalagi tanpa seijin nya.
Kyline belum begitu mengenal Aistan, Ia tidak terlalu percaya dengan omongan manis Aistan, bisa saja Aistan berkata seperti itu terhadap semua perempuan yang dia temui kan?
"Gue jamin lo gabakal nyesel, Gue tau tujuan lo apa. Kita sama-sama untung, Gimana?" Aistan tersenyum miring menunggu jawaban Kyline.
Kyline mendengus mendengar perkataan Aistan, jika Aistan meminta yang aneh-aneh gimana?
"Gue gabakal minta aneh-aneh, tenang aja." Aistan bersungguh-sungguh dengan menatap manik Kyline yang sangat indah.
Kyline mendelik kearah Aistan, Lagi-lagi dia tau apa yang sedang dipikirkan nya.
Kyline punya kelima guardian nya, tapi ia tidak mau selalu tergantung pada mereka. Kyline ingin menyelesaikan permasalahan nya sendiri.
"Jaminan nya apa?" Kyline menatap Aistan dengan intens.
Aistan mengeluarkan sebuah benda dari tangan nya, Sontak kyline membulatkan matanya.
"Kamu?! Gimana bisa ada di kamu?"
Gimana Kyline tidak terkejut, Benda yang ingin ia ambil di academy bersama guardian nya berada di tangan lelaki dihadapan nya.
"Ga ada yang gamungkin bagi seorang Aistan." Aistan tersenyum miring menatap Kyline.
Aistan tau benda itu sangat berarti bagi Kyline. Karena benda itu menyangkut ibundanya yang sudah tiada.
"Gimana?" Aistan memandangi Kyline, Menunggu jawaban nya.
Kyline menimbang-nimbang dengan kerutan keningnya yang sangat ketara jika sedang berfikir.
Tidak ada salahnya mencoba bukan?
Kyline menganggukan kepalanya. "Tapi dengan syarat, Gaboleh minta yang aneh-aneh!" Kyline menatap tajam kearah Aistan.
Aistan tersenyum puas lalu melangkah mendekat kearah Kyline. "Selamat datang di dunia gue, Terresia Kyline." Aistan mengusap pipi Kyline dengan jemarinya.
Kalian perlu tau. Senyum, Tatapan, perilaku Aistan itu berbahaya. Kyline yang membuktikan nya sendiri, Seperti sekarang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ayo kawan yang budiman Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa🤞🏻