Me And Myguardian

Me And Myguardian
Unpredictable.



Kyline ingin menyingkirkan tangan Aistan yang ada di pipinya, tapi lagi-lagi batin dan fisiknya tidak sejalan.


Kyline membiarkan Aistan mengelus pipinya seperti ini, tapi nanti ia tidak akan membiarkannya lagi.


"Lo bebas tanya apapun, tapi ga disini."


Kyline mengerutkan keningnya memandang aistan dengan curiga.


Pasti lelaki ini ada maunya lagi.


Aistan terkekeh pelan. "Mau lewat portal yang yang waktu itu lo masukin, apa peluk gue terus kita langsung sampe?"


Kyline mendengus keras, benar dugaannya, Aistan pasti ada maunya.


"Lo gamau kedunia manusia lagi? Gue tau lo ketagihan kan pengen kesono lagi?" Aistan menaik-turunkan alisnya memandang Kyline.


Kyline jengkel dengan lelaki dihadapannya. Dia selalu bisa membuatnya susah untuk mengeluarkan kata 'tidak.'


Kyline berjalan mendekat kearah Aistan dengan wajah jengkel yang tidak dibuat-buat. "Kenapa emang kalo disini?"


"Gue gamau ada yang ganggu waktu kita."


Kyline tersenyum samar, lelaki dihadapannya selalu pandai merangkai kata-kata.


Aistan tersenyum dan langsung menarik tangan Kyline karena berhenti berjalan, hingga Kyline menubruk dada bidang Aistan.


Aroma ini lagi, aroma yang membuat Kyline sangat nyaman dan tenang. Kyline belum pernah mencium aroma seperti ini. Aroma alam yang bercampur menjadi satu. Wangi bunga, pepohonan, air. Semuanya seperti ada pada Aistan, membuat Kyline enggan melepaskan pelukannya.


Kyline menarik napas dalam-dalam mencium aroma Aistan, sungguh sangat memabukan. Pantas saja lelaki dipelukannya didambakan oleh kaum wanita.


Aistan tersenyum tipis, Tidak ada yang bisa menolak pesona seorang Aistan.


Aistan membaca mantra dengan pelan, lantas mereka sudah ketempat yang Aistan inginkan.


"Betah ya?" Aistan mengelus rambut Kyline dengan lembut.


Sontak Kyline melepaskan pelukannya. "Bilang kalo udah sampe."


Aistan terkekeh pelan melihat Kyline yang salah tingkah.


Kyline mengedarkan pandangannya mengamati sekitar, gedung-gedung yang sangat tinggi dihadapannya membuat Kyline mendongak untuk melihat dimana ujung gedung itu. Kyline meringis, memuji bangsa manusia yang hebat dalam mengembangkan teknologi modern.


ini seperti di pinggir jalan.


Berbagai jenis kendaraan berlalu-lalang dihadapannya, banyak manusia yang berbincang disekitarnya. Tidak urung sedari tadi banyak yang memandang mereka berdua dengan takjub. Memuji karya tuhan yang sangat indah.


Aistan tersenyum simpul lalu menarik tangan Kyline ke tempat yang sudah ia pesan, Ntah sejak kapan Aistan memesan tempat itu.


Bunyi pintu berdecit membuat pelayan dicafe itu bergerak menyambut Kyline dan Aistan.


Kyline mengedarkan pandangannya ke seleruh penjuru cafe, sangat sederhana. tapi udaranya sangat menenangkan. Kyline pikir makhluk seperti Aistan enggan memasuki tempat seperti ini.


"Kenapa tidak ada pengunjung selain kita?"


Aistan mengedikan bahunya, tetap menggenggam tangan Kyline lalu dibawa ketempat paling ujung.


Kyline tidak tau saja, Aistan sudah memesan tempat ini untuk mereka berdua, jadi tidak ada yang berani masuk.


Mereka duduk berhadap-hadapan. Aistan menatap kyline yang sedang mengamati cafe ini. "Apa yang mau lo tanyain sekarang putri tidur?"


Kyline mengerutkan keningnya menatap aistan. "Putri tidur?"


Aistan menganggukan kepalanya seperti tidak bersalah. "Iya, lo kan suka tidur dimanapun."


Kyline mendengus kesal mendengar ucapan Aistan, Lalu memandang Aistan dengan intens. "Ceritakan tentang dirimu."


Aistan mengerutkan keningnya, lalu tersenyum tipis. tidak menyangka itu pertanyaan pertama yang akan Kyline ajukan. "Hmm, gue gasuka dibantah, gue benci makanan yang terlalu manis, gue benc-"


"Bukan itu." Kyline menatap Aistan dengab jengkel, aistan justru menceritakan hal yang menurutnya tidak penting.


Aistan terkekeh melihat raut wajah Kyline yang sangat menggemaskan.


Aistan bertopang dagu lalu menatap kyline.


"Terus apa dong?"


Aistan terkekeh pelan. Apa wanita dihadapannya sengaja memancingnya?


"Maksudku tentang siapa dirimu." Kyline menatap Aistan dengan jengkel.


Aistan bertopang dagu seperti sedang berpikir lagi, padahal dalam hati ia tersenyum geli melihat Kyline sedang menatapnya hampir tidak berkedip.


"Lo bisa liat sendiri, kalo lo kerumah gue."


Kyline tidak puas dengan jawaban Aistan, tapi ada benarnya juga. ia bisa tau siapa Aistan jika ia berkunjung ke kediamannya.


"Tapi.." Aistan menggantungkan kalimatnya agar fokus Kyline kembali tertuju padanya lagi.


"Lo harus terima resikonya kalo ketempat gue." Aistan menatap Kyline dengan senyum miringnya.


Kyline menaikan sebelah alisnya, semakin penasaran dengan lelaki dihadapannya. "Resiko apa?"


Aistan menyandarkan tubuhnya dikursi lalu menatap Kyline. "Ini pertanyaan kedua lo, kalo lo mau tau."


Kyline mendengus. Lelaki didepannya benar-benar pandai memancing emosinya. "Hmmm." Kyline bergumam menjawab perkataan Aistan.


Aistan menegakan tubuhnya, menatap Kyline dengan lekat. "Gue ga se-sederhana yang lo fikir Terresia."


Kyline tertegun, untuk pertama kalinya Aistan memanggil namanya. Kyline menatap Aistan, menunggu kelanjutan ucapan lelaki itu.


"Banyak yang belum lo tau tentang dunia immortal. punya lima guardian gangejamin mereka akan ngasih tau ke lo tentang semua jenis penghuninya." Untuk pertama kalinya Aistan menatap Kyline dengan serius.


Kyline masih enggan membuka suaranya, menunggu kelanjutan ucapan Aistan.


Aistan tersenyum tipis. "Resikonya lo udah masuk ke kehidupan gue, dan lo gabisa keluar lagi." Aistan menatap Kyline dengan lekat.


Kyline cukup terkejut dengan pernyataan Aistan, tapi ia ingin menanyakan maksud perkataan yang pertama dulu. "Maksud semua jenis penghuninya?"


"Itu pertanyaan ketiga lo, sebelum gue jawab, gue mau lo kabulin satu permintaan gue dulu. Sesuai perjanjian."


Apa lelaki dihadapannya sengaja?membuat dirinya yang memang memiliki sifat penasaran sangat tinggi. Dipancing menanyakan lebih lanjut tentang maksud ucapannya?


Kyline mendengus memandang Aistan, lalu bertanya dengan nada jengkel "Apa?!"


Aistan tersenyum geli memandang Kyline, lalu ia menunjuk bibirnya.


Kyline mengerutkan keningnya mencoba mencerna maksud Aistan.


Kenapa dia menunjuk bibirnya?


"Kenapa dengan bibirmu?"


Astaga wanita dihadapannya benar-benar polos. Aistan gemas sendiri dengan tingkah polosnya.


"Sini, lo harus obatin bibir gue."


Kyline mengerutkan keningnya, lalu berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat kearah Aistan.


Benar-benar polos.


Aistan duduk menyamping, lantas ia langsung menarik pinggang Kyline ketika sudah dekat.


Kyline membulatkan matanya ketika ia duduk dipangkuan Aistan.


Kyline meronta mencoba melepaskan diri, tapi naas karena Aistan memeluk pinggangnya dengan erat.


Kyline menatap tajam kearah Aistan.


"Ini obatin, coba lihat deh ada yang sakit." Aistan menunjuk bibirnya dengan tangan Kyline.


Seketika Kyline lupa caranya bernapas.


Dengan tangan gemetar ia menyentuh bibir Aistan dengan jarinya, tapi ketika baru menyentuh ujung bibir Aistan Seketika Kyline menarik tangannya kembali.


Kyline memejamkan matanya erat. ia tidak kuat ditatap sedemikian rupa oleh Aistan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya🤞🏻