Me And Myguardian

Me And Myguardian
Dragon.



Kyline menganggukan kepalanya kearah Aistan, ia tersenyum lebar hingga matanya membentuk bulan sabit. "Makasih ya."


Aistan terkekeh pelan, lantas ia menundukan kepalanya, diciumnya bibir ranum wanita digendongannya.


Kyline terdiam kaku, ia mencoba memejamkan matanya erat menikmati apapun yang dilakukan Aistan dengan sangat lembut.


Kyline seperti melayang diatas awan, fokusnya seperti terpecah, sedangkan Aistan mulai mengepakan sayapnya kedepan membuat pelindung untuk mereka berdua. Karena semburan api naga yang hampir mengenai mereka.


Bisa dibayangkan seganas apa naga itu hingga semburan apinya bisa mencapai langit.


angin mulai berhembus dengan cepat, seperti ikut menyaksikan apa yang dilakukan dua insan itu.


Aistan melepaskan ciumannya lalu tersenyum tipis. Sedangkan Kyline sudah mengambil nafas dalam-dalam, ia seperti kehabisan oksigen.


Kyline tidak sadar sejak tadi mereka sudah sampai di academy kamar Kyline.


Aistan berjalan mendekat kearah kasur Kyline, lalu membaringkannya diatas ranjang. "Anggap aja yang tadi permintaan gue."


Kyline mengedarkan pandangannya, lalu mengerutkan keningnya.


Sejak kapan sudah sampai dikamarnya?


Kyline masih enggan membuka suaranya untuk Aistan, ia masih malu karena tadi menikmati permainan Aistan.


Sedangkan Aistan hanya terkekeh pelan melihat wajah wanita dihadapannya. "Kalo ada perlu apa-apa sebut nama gue aja."


Kyline menatap Aistan lalu menganggukan kepalanya dengan polos.


Aistan berjalan kearah pintu untuk keluar dari kamar Kyline.


Setelah kepergian Aistan, Kyline mengerucutkan bibirnya.


Bibirku sudah tidak suci lagi.


Setelah sampai diluar kamar Kyline, Aistan mulai pergi lagi menyaksikan kerajaan itu dilahap api walaupun tidak sepenuhnya.


Aistan menyaksikan dari menara kerajaan yang tidak tersentuh api, Karena ia sengaja menyuruh naga itu agar jangan membakar istananya.


Aistan tersenyum geli melihat semua makhluk bodoh dibawah sana kalang kabut mencoba menenangkan sang naga.


Ratusan makhluk dan penyihir mencoba menaklukan naga itu. tapi naas, semua sihir yang diluncurkan oleh mereka menyerap ketubuh naga itu.


Lalu fokus Aistan tertuju kepada lelaki yang sedang berdiri dengan geram dihadapan sang naga. Aistan tersenyum miring menunggu apa yang selanjutnya dilakukan 'Raja' itu.


Kerajaan napela akan mendapatkan hinaan dari berbagai kaum karena tidak bisa menaklukan naga yang hanya dikendalikan oleh sihir dan hal itu yang Aistan inginkan.


Karena nanti akan ada banyak kaum yang meminta penjelasan dari kerajaan mengenai asal-usul naga itu.


Aistan jamin penghuni kerajaan itu tidak ada yang mengetahuinya.


Karena hanya makhluk tertentu yang mengenal Aistan, dan mereka tidak sudi membuka mulut hanya untuk kerajaan itu.


"Sedang bersenang-senang, Mylord?"


Aistan tidak perlu membalikan tubuhnya untuk melihat siapa yang berjalan mendekat kearahnya saat ini.


"Hmm, kau ingin menolong mereka?" Aistan menoleh kesamping kanannya yang terdapat seorang pria mengenakan jubah hitam.


"Sudah bukan tugas hamba lagi membantu kerajaan itu." Pandangan pria itu lurus melihat kearah sang naga yang sedang membakar habis taman-taman istana. Tidak urung pria itu tersenyum getir karena melihat salah satu temannya dikerajaan itu lenyap dilahap api.


Xentar menoleh kesamping kirinya, menatap Aistan yang selalu tampak terlihat elegan dan angkuh setiap saat. Aura Aistan selalu bisa membuat Xentar menundukan kepalanya.


Bahkan saat ia mengabdi ke kerajaan napela, Raja yang ia layani hanya memiliki aura khas kaum katsaba, Tidak seperti Aistan.


Aura yang dikeluarkan Aistan selalu berhasil membuat Xentar kagum, Karena dia-lah penguasa sebenarnya. Dia yang memiliki kerajaan sendiri berkat kemampuannya.


"Hamba pamit undur diri, Mylord." Xentar membungkuk hormat kearah Aistan lalu menghilang.


Aistan masih menatap satu titik yang sama sedari tadi, lalu ia meyeringai melihat seseorang yang sedari tadi ia perhatikan akhirnya terhempas ketika mengenai ekor sang naga.


Itukah Rajanya?


Gimana jika Aistan mengeluarkan kekuatannya?


Aistan hanya geleng-geleng kepala. Tidak menyangka mereka selemah ini.


Aistan menjentikan jarinya, seketika naga itu menghilang. ia sudah puas melihat semua taman telah hangus terbakar, halaman istana sudah porak-poranda dan atap-atap istana juga banyak yang hangus terbakar.


Sontak semua penyihir yang berada ditaman istana mengalihkan pandangannya ke segala arah mencari naga itu, karena baru saja mereka semua ingin menggabungkan kekuatannya untuk melawan naga itu, tapi tiba-tiba sang naga telah lenyap.


Seseorang yang memakai mahkota dikepalanya mengepalkan tangannya erat, lalu bergumam pelan. "Ada yang mencoba bermain-main denganku."


Raja Helios harus mencari tau semuanya, dari semenjak kedatangan anak sial itu berbagai macam penderitaan menghampirinya. Dari mulai tangan kanannya menghilang lalu kerajaannya diserang oleh seekor naga yang dikendikan dengan sihir.


Raja Helios masuk ke istananya dengan geram, tatapannya sangat dingin, lalu ia naik keatas singgasananya.


"Alastor."


Tidak  berselang lama setelah raja Helios memanggil nama itu, Muncul sesosok pria dengan tanduk dikepalanya, Iris matanya semerah darah. "Hamba menghadap, yang mulia."


"Bunuh keturunan Lavender karena dia sudah berani memunculkan wajahnya dihadapanku." Pria itu tersenyum iblis menatap sesosok dihadapannya.


"Dengan senang hati, yang mulia." Pria yang bernama Alastor itu menyeringai lebar membuat taringnya terlihat, lalu ia menghilang.


  


...****************...


Aistan yang baru sampai dikerajaannya langsung memutar bola matanya malas melihat ibundanya sedang menatap kearahnya dengan pandangan yang tajam.


"Mana pesanan bunda?" Seorang wanita yang sudah dikatakan berumur, tapi masih sangat terlihat cantik berjalan mendekat dengan anggunnya kearah Aistan lalu duduk disofa.


"Ini." Aistan menyerahkan minuman yang baru dibelinya didunia manusia kearah wanita dihadapannya.


"Ada perkembangan apa tentang calon menantu bunda?" Wanita itu menyesap minumannya sembari menatap lelaki yang sedang duduk diseberangnya.


Aistan memutar bola matanya, malas menjawab pertanyaan wanita dihadapannya.


"Hamba menghadap, Mylord." Seorang pria berlutut dihadapan aistan.


Aistan mengangguk singkat. "Bangun Deimos, langsung ke intinya aja."


"Raja Helios ingin mencelakai tuan putri di acara uji coba beberapa murid yang akan diadakan tiga hari lagi di feeorin academy, Mylord."


Ratu Elise tersedak minumannya mendengar perkataan bawahan anaknya.


Aistan hanya melirik malas kearah bundanya, lalu ia menatap bawahannya lagi. "Tua bangka itu mengutus siapa?"


"Iblis dari kaum Altaro, Mylord."


Aistan tersenyum miring. "Hmm, kenapa tidak biarkan mereka bersenang-senang dulu?"


Ratu elise menatap anaknya tajam. "Maksudmu membiarkan menantu bunda dalam bahaya gitu?!"


Aistan tersenyum dingin. "Bahkan nyawa mereka tidak bisa dibandingkan dengan sehelai rambut ratuku."


Ratu Elise nenyesap minumannya dengan hikmat lalu menatap putranya. "Jika mereka berani menyentuh menantuku, akan ku nyatakan perang ke kerajaan hina itu!"


Aistan menatap bundanya lalu tersenyum geli.


Pria yang sedang menunduk dihadapan Aistan langsung menelan ludahnya.


Orang tua dan anaknya sama-sama menyeramkan.


"Kau boleh pergi, masukan lebih banyak mata-mata dikerajaan itu."


... ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yukk jadi pembaca yang aktif🙆‍♀️