Me And Myguardian

Me And Myguardian
Human World.



"Jangan senyum kek gitu, Nanti gue diabetes."


Kyline mengerutkan dahinya bingung mendengar ucapan pemuda disampingnya.


Mungkin aku harus mencoba belajar kosa-kata yang dipakai manusia.


Setelah memakan waktu perjalanan yang lama, Kyline sampai pegal duduk terus-terusan didalam mobil. Tapi karena pemandangan setiap jalan yang ia lewati indah, Kyline tidak memperdulikan tubuhnya.


Akhirnya Aistan menghentikan mobilnya.


Kyline mengerutkan dahinya bingung menatap sekitarnya.


Sepi sekali tempat ini.


"Ayo turun." Aistan menutup atap mobilnya lalu keluar mobil.


Kyline menaruh kacamatanya didalam mobil dan ikut keluar dengan rambut yang sedikit acak-acakan, tapi ia tidak memperdulikanya.


Oh ternyata jalan yang sedari-tadi dilewati menuju bukit.


Kyline sebenarnya jarang menaiki mobil seperti tadi, ia lebih senang teleportasi ketempat tujuannya agar lebih cepat.


Kyline mengikuti langkah Aistan yang berdiri ditepi bukit.


Kyline berdiri disebelahnya lalu berdecak kagum melihat pemandangan didepannya yang menunjukan suasana kota yang indah.


"Bentar lagi matahari tenggelam, kita bisa lihat sunset dari sini." Aistan duduk direrumputan.


Kyline pun ikut duduk disamping Aistan.


Kyline masih memandangi gedung-gedung bertingkat yang sangat terlihat jelas dari atas bukit.


Kyline takjub dengan gedung-gedung besar dihadapannya. Sedangkan didunia Immortal ia hanya melihat rumah-rumah penduduk yang sangat kuno tidak seperti dihadapannya saat ini.


Kyline tidak sadar sejak awal ia memandangi kota, Aistan sedang memandanginya dengan raut tak terbaca.


Merasa diperhatikan Kyline menoleh kesamping. "Ada apa dengan wajahku?"


Aistan masih terdiam memandanginya dan itu membuat Kyline bingung. Raut wajah pria disampingnya tidak terbaca. Ntah dia kagum? Kyline pun tidak tau wajahnya datar tanpa ekspresi.


Aku baru sadar tidak bisa membaca pikirannya? Apakah kekuatan dia diatasku?


"Gausah mikirin hal yang gapenting, ntar lo cepet tua."


Kyline tersentak lalu menoleh kesampingnya.


"Kita abadi, tidak menua." sahut Kyline.


Aistan tidak merespon lagi, pandangan pria itu lurus kearah pemandangan perkotaan.


Tapi Kyline tau pikiran pria itu berkelana kemana-mana.


Tidak ada percakapan lagi, mereka sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing.


Pandangan mereka lurus melihat matahari yang mulai terbenam.


Ntah kenapa angin yang menerpa wajah Kyline membuatnya mengantuk, lantas ia membenamkan wajahnya diantara lututnya.


Nafas Kyline mulai teratur, itu tandanya ia sudah mulai tertidur.


Aistan menoleh kesamping menatap Kyline lalu berjalan mendekat. Tangan kanannya terentang kedepan lalu muncul selimut berbulu lembut yang bisa dipastikan harganya sangat mahal.


Aistan duduk disamping Kyline lalu menaruh kepala Kyline dipundaknya. tangannya melebarkan selimut itu lantas ditutupnya kaki jenjang Kyline yang terekspos.


Tangannya menyingkirkan helai rambut Kyline yang menutupi wajahnya. ia bergumam sangat pelan. "Lo wanita pertama yang bisa bikin gue ketawa lebih dari sekali Terresia Kyline Oliver."


Ntah sudah berapa lama mereka seperti ini. Aistan pun tidak berniat membangunkan Kyline. Pandangan ia lurus kedepan memperhatikan kendaraan berlalu-lalang.


Aistan yakin Kyline tidak tau aroma tubuhnya membuat penghuni immortal yang ada dikota ini perlahan mendekat. aroma Kyline sangat memabukan sekaligus menyeramkan disaat bersamaan, karena aroma yang dikeluarkannya membuat makhluk immortal harus tunduk dibawah kakinya.


Aura penguasa memang tidak bisa diremehkan.


Aistan juga yakin Kyline tidak akan tau banyak makhluk immortal yang berkeliaran di dunia manusia dan mereka kebanyakan yang memilih hidup berdampingan dengan manusia.


Selama ini memang Guardian Kyline yang akan selalu menyamarkan aroma tubuhnya. Tapi karena tidak ada guardiannya aroma Kyline bahkan bisa menyebar keseluruh Kota.


Walaupun mereka bisa memasuki pelindung itu mereka akan mikir beribu kali untuk berhadapan dengan lelaki disamping Kyline.


Perlahan Kyline membuka kedua matanya, lalu ia menggerakan kepalanya kekiri-kanan. Badan ia pegal-pegal karena tidur dengan posisi duduk.


Dengan tidak sengaja Kyline menoleh kesamping lalu melebarkan matanya. wajahnya sangat dekat dengan Aistan, tapi pandangan pria itu masih lurus menatap ke depan.


"Kenapa kau tidak bangunkan aku?" Tanya Kyline dengan nada jengkelnya.


"Lo tidur kek orang mati. gatega gue bangunin." pandangan pria itu masih menatap lurus kedepan.


Kyline mendengus kesal mendengar perkataan Aistan yang tidak ada manis-manisnya "jam berapa sekarang?"


"Sekitar jam tujuh, lo galaper?" Aistan menoleh kearah Kyline dengan wajah datarnya.


Sebenarnya makhluk immortal tidak terlalu membutuhkan makan tapi itu cuma basa-basi Aistan.


Kyline mengerutkan dahinya bingung melihat Aistan menatapnya seperti itu.


"Ck, wanita gitu gengsi nya tinggi, tinggal bilang laper aja susah amat."


Kyline melototkan matanya mendengar perkataan Aistan.


Aistan berkata seperti itu sebenarnya karena kesal melihat makhluk immortal sudah ada yang menembus pelindungnya. ia merasakan mereka sedang berjalan mendekat dan jumlah mereka tidak sedikit.


Tapi Aistan sudah sedikit menutupi aroma Kyline dengan aromanya sejak berada disini.


"Bahkan dia tidak sadar aromanya hampir membuat ku lepas kendali." Batin aistan.


"Ayo bangun kita cari makan deket sini." Aistan berdiri lebih dulu lalu berjalan kearah mobil.


Ketika Kyline ingin bangun dari duduknya, ia mengurungkan niatnya karena melihat selimut yang menutupi kakinya.


ia memegang selimut itu lalu menatap aistan yang sudah berjalan menjauh.


Dari mana dia bisa mendapat selimut ini?


Kyline meraba selimut itu lantas ia mengerutkan dahinya. Selimut ini terbuat dari kulit hewan yang sangat langka lalu lelaki itu dengan cuma-cuma memberinya ke kyline.


Siapa sebenarnya dia?


Tidak mau terlalu ambil pusing Kyline berdiri lalu menenteng selimut itu, Akan ia tanyakan nanti ke Aistan.


karena kaca depan mobil Aistan sangat gelap. Kyline tidak bisa melihat aistan yang sedang terkekeh melihat dia menenteng-nenteng selimut.


Lalu Kyline masuk kedalam mobil. ia menolehkan kepalanya kearah Aistan. ketika ia ingin berbicara dengan tiba-tiba raut wajah Aistan berubah ketika menatap kearah depannya.


Kyline mengurungkan niatnya lalu ikut menolehkan kepalanya kedepan, seketika ia membulatkan matanya.


Didepan mereka terlihat seekor kawanan serigala. Kyline tidak begitu jelas melihat serigala itu berjumlah berapa.


Aistan menolehkan kepalanya kearah Kyline. "Lo diem disini jangan keluar! Ampe keluar gue cium lo."


Kyline mendengus mendengar ancaman Aistan.


Baru pertama kali aku diancam, benar-benar mengesankan.


Lalu Aistan membuka pintu mobilnya dan mendekat kearah kawanan itu.


Kyline diam memperhatikan. ia menajamkan indra pendengarannya tapi tidak mendengar suara apapun.


Aneh, kenapa aku tidak bisa mendengar percakapan mereka?


Sedangkan Aistan diluar mobil berjalan santai menuju kawanan serigala itu dengan wajah yang sangat dingin.


Sebenarnya ini wajah yang sering Aistan tunjukan ke makhluk lain.


Kawanan serigala itu yang melihat seseorang berjalan mendekat lantas mengeluarkan suara geraman.


"Apa kalian sudah merasa hebat menghalangi jalanku?" Aistan berkata dengan nada yang dingin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya🤞🏻