Me And Myguardian

Me And Myguardian
Blushing.



Kyline lantas berjalan mendekat lalu masuk kedalam portal. ia memejamkan matanya erat karena merasa sedang menaiki suatu wahana yang ekstrim.


Seumur-umur ia belum pernah memasuki sebuah portal yang ingin membuatnya muntah karena merasa terombang-ambing.


Kyline membuka matanya karena merasa sudah sampai ketujuan. pandangan ia masih sedikit buram.


Kyline berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam penglihatannya.


Pemandangan pertama yang ia lihat adalah kamar bernuansa hitam putih. ia sangat asing dengan barang-barang yang ada dikamar ini.


"Kita ada dimana?" Kyline menoleh kearah pemuda yang sedang memejamkan matanya diatas kasur.


"Dunia manusia."


Kyline membulatkan matanya mendengar perkataan pemuda itu.


DUNIA MANUSIA?


Yang benar saja?!


"Apa?! Kau mengajak ku ke dunia manusia? Kau ingin mati?!" Kyline melototkan kedua matanya kearah pemuda itu.


Sedangkan pemuda didepannya langsung terduduk menatap kearah Kyline lalu terkekeh. "Nih bunuh." ia merentangkan kedua tangannya seperti menantang balik.


Kyline mendengus keras melihat itu. "cepat katakan untuk apa kau membawaku kesini?"


"Lo gapenasaran sama dunia manusia?" pemuda itu berjalan kearah Kyline.


Kyline sebenarnya cukup penasaran karena seratus tahun terakhir ia hanya tinggal didalam kastil.


"Apa urusanmu?" Kyline bertanya dengan nada datarnya.


Pemuda yang sedang berjalan ke arahnya terkekeh lagi. "Mau coba ngerasain jadi manusia biasa? Hmm gimana kalo hari ini gue ajak lo jalan-jalan? Gue janji gabakal ngapa-ngapain lo." Mata pemuda itu tidak lepas dari Kyline.


Kyline yang melihat kesungguhan pemuda didepannya jadi merasa bimbang. ia sebenarnya juga penasaran dengan kehidupan di dunia ini.


Lalu Kyline mengangguk.


"Tunggu bentar gue ke kamar ade gue. Gamungkin kan lo pergi pake baju itu? yang ada gue dikira jalan sama makhluk astral." pemuda itu berjalan kearah pintu tanpa merasa bersalah sama sekali dengan ucapannya.


MAKHLUK ASTRAL KATANYA?!


"Nih pake, gue asal ambil dikamar adik gue."  Aistan melempar pakaiannya kearah Kyline.


Dengan sigap Kyline mengambil pakaian itu lalu melototkan matanya kearah Aistan, Yang benar saja bajunya dilempar seperti itu.


"Lama-lama mata lo bisa copot melotot terus, gacape apa?"


Dia menyumpahkan mataku copot?!!


Kyline mendengus kesal, malas berdebat dengan pemuda dihadapannya lantas ia masuk kesebuah pintu yang terlihat seperti kamar kecil.


Kyline pun mengambil baju yang diberikan oleh Aistan lantas memakainya.


Celananya hanya sebatas paha Kyline. lalu bajunya berwarna hitam putih berlengan pendek seperti baju santai.


Kyline keluar kamar mandi lalu berkaca. ia memandang penampilannya dicermin lantas mengerutkan keningnya bingung.


"Apa gue salah pilih baju ya?" Aistan meringis pelan.


Aistan berjalan mendekati Kyline.


"Kau memberi ku pakaian tidur?" Kyline membalikan badannya lalu menatap Aistan yang sedang berjalan kearahnya.


"Itu baju rumah adik gue yang biasa dia pake disini, tapi itu pas dibadan lo." Aistan menaruh tangannya didagu seperti sedang menilai.


"Pakaian ini sangat terbuka!"


"Keburu sore kalo lo mau ganti baju lagi." Aistan melepaskan jaketnya lalu mendekat kearah Kyline.


"Nih pake biar gakedinginan." Aistan menyampirkan jaketnya dibadan Kyline.


Tubuh Kyline mendadak kaku saat mencium aroma jaket yang sedang dipakainya.


"Apakah semua wangi pria seperti ini?" Pikir kyline.


"Kau! Apakah punya maksud tersembunyi memakaikan jaket ini ditubuhku?" Kyline menatap tajam kearah Aistan.


"Lo bisa langsung ngebunuh gue kalo gue macem-macem, tapi mungkin opsi itu gabakal lo lakuin." Aistan tersenyum miring.


"Akan aku pertimbangkan ucapanmu." Kyline bersedekap dada lalu ikut tersenyum miring.


Aistan terkekeh lalu menarik tangan Kyline. "udah ayo, gue jamin lo gabakal nyesel."


Kyline menghela napas pelan, ia pasrah ditarik-tarik oleh Aistan.


"Apa tidak ada orang lain selain kita?" Kyline menjelajahi matanya kesekitar.


"Ini rumah pribadi gue, adik gue kadang suka kesini kalo lagi pengen sendiri."


Kyline mengerutkan dahinya lalu mengalihkan pandangannya kearah Aistan. "Orang tuamu?"


Aistan sontak mengehentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Kyline. "Lo bawel juga ya."


Kyline mendengus. Sebenarnya ia juga malas bertanya-tanya, tapi ia tidak ingim suasana canggung dihutan itu terulang.


"Jika tidak ingin menjawab, tidak usah dijawab." Kyline berkata dengan wajah datarnya.


Aistan terkekeh lagi lalu melanjutkan langkahnya. "orang tua gue tinggal di immortal, gue anak yang bebas gasuka diatur-atur."


Ntah sudah berapa kali Aistan tertawa bersama gadis ini. Di academy ia dikenal dengan wajah dinginnya tanpa pernah memperdulikan sekitarnya.


Aistan sangat misterius.


Kyline hanya diam saja tidak ingin menanyakan terlalu jauh, ia sadar akan privasi orang lain.


mereka pun sampai disebuah garasi.


Kyline berdecak pelan melihat mobil berjajar rapi dengan segala jenis merek.


Untuk apa dia mempunyai mobil sebanyak ini jika hanya dia sendiri yang tinggal disini?


Aistan mengambil sebuah mobil keluaran terbaru. Tampak hanya ada dua kursi didepan tidak ada kursi lagi dibelakang.


Aistan masuk kedalamnya. "sini masuk jangan diem doang disitu."


Kyline memperhatikan setiap gerak-gerik pemuda didepannya. ia lantas berjalan kearah berlawanan lalu masuk.


"Nih pake." Aistan menyodorkan kaca mata hitam kearah Kyline.


Kyline mengerutkan keningnya bingung. "Untuk apa?"


"Udah pake aja."


Lantas Kyline memakai kacamatanya. lalu tiba-tiba atap yang menutupi mobil itu terbuka.


"Sudah berapa lama aku didalam kastil? Aku baru lihat ada mobil bisa dibuka atapnya seperti ini."


"Ck, Norak."


Kyline melototkan matanya kearah Aistan mendengar ucapan pemuda itu.


Aistan terkekeh pelan lalu mulai menyalakan mobilnya. garasi terbuka dengan sendirinya lantas ia keluar perkarangan rumahnya.


Amalfi coast - Italy.


Sesampainya mereka dijalan raya yang sepi Aistan mempercepat laju mobilnya.


Kyline terhenyak, rambutnya berkibaran menerpa area wajahnya.


" I'm comingg Italy!!" Aistan berteriak dengan kedua tangannya yang direntangkan.


Kyline menoleh dan membulatkan matanya. "Kau nyari mati?!"


"Nikmatin anginnya, Coba teriak sekencang-kencangnya." Aistan menoleh kearah Kyline dengan senyum manisnya.


Kyline tercengang, untuk pertama kalinya pemuda itu tersenyum kearahnya.


Kyline memejamkan matanya. Untuk hari ini ia ingin mencoba menjadi manusia biasa tanpa embel-embel penyihir.


Tidak ada salahnya mencobanya bukan?


"Aaaaaaaaaaaaaaa!!!!" Kyline mencoba intruksi dari Aistan, ia berteriak sekencang-kencangnya lalu merentangkan tangannya membiarkan angin menerpa wajahnya.


Aistan menoleh kearah Kyline, matanya tidak lepas dari wajah Kyline.


Aistan baru sadar wajah Kyline amat sangat cantik apalagi jika sedang tersenyum seperti itu, Kecantikannya bertambah dua kali lipat.


"Lega kan?" Tanya Aistan seraya tersenyum kearah Kyline.


"Terima kasih." untuk pertama kalinya Kyline tersenyum tulus kearah pemuda disampingnya.


Katakanlah Kyline norak berteriak seperti tadi, tapi itu sungguh menyenangkan. Seolah-olah beban pikiran ia terangkat semua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya🤞🏻