Me And Myguardian

Me And Myguardian
Fight Meira.



pandangan Kyline sangat dingin ketika melihat seseorang yang katanya 'pemimpin kerajaan' sedang berpidato untuk menyambut seluruh calon murid academy.


Dia bediri dengan sangat berwibawa, raut angkuhnya sangat ketara. seolah-olah dialah makhluk terkuat disini.


Kyline muak melihat wajahnya, ingin rasanya Kyline mengucapkan salam pertemuan kembali dengan pria itu.


Sabar Kyline, belum saatnya bertemu dengan lelaki biadab itu.


Berulang kali Kyline menarik napas dalam-dalam, merapalkan kata 'sabar' berkali-kali agar emosinya tidak terpancing melihat senyum lelaki yang sedang berdiri dengan angkuhnya ditengah-tengah lapangan, tidak ada raut penyesalan sama sekali diwajahnya.


Apalagi ketika melihat wanita disamping lelaki itu yang sedang menatap seluruh penghuni academy dengan wajah angkuhnya seolah-olah dialah Queen yang harus dihormati dan ditakuti.


Sialan!


Apa lelaki itu tidak punya hati? Setelah membunuh ibundanya dan dengan se-enak hatinya mengatakan keseluruh rakyatnya bahwa ibundanya bunuh diri.


Iya benar, Kyline sebenarnya sudah mengetahui semuanya.


Setelah ia meninggalkan kerajaan diam-diam dua ratus tahun lalu, ia mendengar desas-desus bahwa putri kerajaan napela menghilang lalu permaisuri bunuh diri karena putrinya menghilang.


Kyline yang saat itu masih berusia lima tahun bersumpah akan membalaskan dendamnya kepada seluruh penghuni kerajaan yang dengan tidak tau dirinya mengatakan ibundanya bunuh diri.


Sejak kecil Kyline sudah mandiri, ia berkelana mengelilingi pulau Teria, mempelajari berbagai ilmu sihir. Akhirnya berbagai kejadian mempertemukannya dengan jenis makhluk yang disebut 'Guardian'. Pertemuan Kyline dengan kelima guardiannya pun tidak disengaja dan sangat unik.


"Itulah kata sambutan dari pemimpin kerajaan. Selanjutnya kita mulai acara yang ditunggu-tunggu pertandingan antar kelas!"


Suara penyambut acara itu menyadarkan Kyline dari lamunannya.


Jadi, Dahulu memang pulau teria terdapat banyak kerajaan. Karena mereka semua ingin yang paling berkuasa, perang pun tidak terelakan. Kerajaan Kartasa dan Napela yang paling unggul. Kedua kerajaan itu sepakat membuat perjanjian. karena banyaknya kaum diantara mereka yang telah tewas dengan adanya perang. Perjanjian mereka berupa pembatas dengan sihir yang sangat kuat untuk mengklaim wilayah masing-masing.


Akhirnya kedua kerajaan itu sepakat untuk membuat sekolah sihir academy, sekolah sihir yang saat ini sedang ditempatinya feeorin academy. Tujuan dibentuknya academy ini untuk melupakan kejadian perang dahulu kala.


Feoorin academy tidak pernah membedakan dari kerajaan mana seluruh muridnya berasal agar tidak adanya perpecahan.


"Kaum fairy akan memilih salah satu dari kelas kalian masing-masing untuk bertanding. Mereka akan memilih secara acak. Jangan pernah tunjukan rasa takut kalian! Karena kaum fairy benci makhluk lemah! Mereka akan langsung menyeret kalian jika kalian menunjukan ketakuan! ANGKAT KEPALA KALIAN SEMUA!" penyambut acara itu berbicara dengan suara lantangnya yang dapat didengar oleh seluruh penonton di tribun.


Tidak lama setelah pembawa acara berbicara seperti itu muncul makhluk kecil bersayap dari sisi tribun setiap kelas. Murid-murid terperangah melihatnya.


Mereka terbang bagai cahaya mengelilingi seluruh murid newbie disetiap tribun. Seolah-olah sedang mencari seseorang yang pantas untuk menuju ke tengah-tengah lapangan.


"LIHAT DISANA KELAS I-A! RUPANYA KELAS ITU YANG DIPILIH PERTAMA UNTUK BERTANDING. OH INI SANGAT MENARIK!" Pembawa acara itu berbicara dengan senyum yang merekah.


"HEI! LIHAT DIKELAS I-D! RUPANYA DISANA JUGA SUDAH DITENTUKAN LAWAN DARI KELAS I-A."


"OH LIHAT APA INI?! SUNGGUH TIDAK DISANGKA-SANGKA TERNYATA YANG TERPILIH ADALAH WANITA DAN PRIA." pembawa acara itu berbicara dengan semangatnya yang menggebu-gebu.


Tidak lama muncul dari sisi berlawanan murid dari kelas I-A dan I-D di area lapangan.


Kyline menaikan sebelah alisnya ketika melihat Meira sedang berjalan dengan angkuhnya ditengah-tengah lapangan.


Apakah Meira yang dipilih?


Kyline tersenyum lebar menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Lalu pandangan Kyline beralih untuk melihat siapa lawan Meira.


Manik merahnya menyala-nyala, berkobar-kobar ketika menatap Meira. Naluri membunuh yang luar biasa, Kyline merasakannya, Aura berbahaya dari lelaki itu sungguh mematikan.


Tidak bisa dianggap remeh lawan dari meira.


"AYO BUKTIKAN WANITA BISA UNTUK MELAWAN LAKI-LAKI!" Pemandu acara itu berbicara sembari menyemangati meira yang sedang berdiri dengan tenang ditengah lapangan.


"SAAT TERDENGAR LETUSAN DIUDARA TANDANYA PERTANDINGAN DIMULAI!"


Meira masih berdiri dengan tenang menunggu apa yang akan dilakukan oleh lawannya.


"Aku tidak ingin melukai wajah cantikmu nona, tapi aku juga tidak mau harga diriku jatuh dihadapan murid academy. Jadi menyerahlah!"


Meira yang mendengar ucapan pemuda dihadapannya hanya tersenyum miring.


Apa Meira tidak salah dengar? ia baru saja diancam oleh anak kemarin sore.


Meira terkekeh pelan.


Aku makhluk terpandang bagi seluruh kaum, penghuni immortal berlomba-lomba untuk menjadikanku guardian. Apa lelaki dihadapannya sedang membuat lelucon?


Meira sadar sejak tadi ia dipandang remeh oleh makhluk dihadapannya.


Meira tidak sudi membuka suaranya untuk merespon makhluk rendah ini.


"Baiklah jika itu maumu!" Setelah mengatakan itu tiba-tiba muncul bola api ditangannya lalu dilemparnya kearah meira.


Meira tidak bergerak seinci pun. Ketika bola api itu hampir dekat dengannya. Meira menghempaskan tangannya kearah bola api itu, angin berhembus dari tangan Meira, seketika bola api itu lenyap.


Meira sadar ia harus mengeluarkan sihir yang ia tau disebut dengan nama 'elemen' agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Meira mengerutkan keningnya, ia harus cepat menyelesaikan pertandingan ini. Bukan ini tujuannya masuk ke academy.


Meira pura-pura merapalkan sebuah mantra lalu muncul tembok-tembok tinggi disisi lapangan dari dalam tanah. untuk menghalangi pandangan murid academy kearah lapangan.


Penonton yang ada di tribun dibuat terkejut dengan adanya tembok yang menghalangi penglihatan mereka.


Meira tersenyum miring melihat lelaki dihadapannya tercengang.


"Kau membuang waktu berhargaku makhluk rendahan." Meira berkata dengan suara pelannya.


"Siapa kau sebenarnya?" Pria itu berkata dengan suara yang dibuat seolah-olah agar tetap tenang.


Pria itu baru sadar aura yang dikeluarkan wanita dihadapannya sangat tidak biasa. membuat dirinya sangat merinding. ntah aura apa itu, ia belum pernah merasakannya, padahal sedari tadi yang ia lihat hanya aura yang biasa saja dari wanita ini.


Meira melesat cepat seperti cahaya tepat dihadapan lawannya. "kau rubah kecil yang nakal, tidak pantas menanyakan siapa aku."


"Kau sanga-"


Tidak ingin berlama-lama. Lalu Meira meniup pelan wajah lelaki dihadapannya. tiba-tiba dari mulutnya terdapat serbuk yang tertiup kewajah lawannya.


Seketika lelaki itu pingsan.


Tidak lama tembok yang meira buat menurun ketanah, membuat seluruh pandangan murid academy beralih.


"O-OWW TERNYATA MURID KELAS I-A MASIH MALU MENUNJUKAN KEMAMPUANNYA DIHADAPAN KITA SEMUA! LANTAS DIA MEMBUAT TEMBOK AGAR KITA TIDAK BISA MELIHAT APA YANG TERJADI!"


"TAPI, HEI LIHAT APA YANG TERJADI?! DISANA MURID KELAS I-D SUDAH TERKAPAR TIDAK BERDAYA! SAYANG SEKALI KITA TIDAK BISA MELIHAT PERTARUNGAN NYA." pemandu acara itu berkata dengan nada sedih yang dibuat-buat.


Memang dipertarungan ini seluruh murid bebas melakukan apa saja untuk bertarung dan yang terpenting tidak sampai mati.


                          


                               


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ayo kawan yang budiman Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa!