Me And Myguardian

Me And Myguardian
Surprised.



Merasa diperhatikan Kyline menoleh kesamping.


Mengapa aku tidak bisa membaca raut wajahnya?


Aistan yang melihat Kyline sedang memperhatikannya juga membuat ia gemas melihat wajah polosnya.


Lantas Aistan menyentil kening kyline. "Jangan ngeliatin gue begitu, gue baper mau tanggung jawab?"


"Baper?" Gumam Kyline.


Aistan lupa Kyline asing dengan kata-kata yang dipakainya.


"Gausah dipikirin gapenting." Aistan membalikan kepala Kyline untuk menghadap depan lagi melanjutkan menonton pertunjukan atraksi-atraksi menarik.


Setelah kurang lebih tiga puluh menit lamanya mereka menonton pertunjukan itu. Tidak terasa jam sudah menunjukan pukul sembilan malam, mereka sepakat untuk pulang agar tidak larut malam untuk sampai kedunia immortal.


Kyline sebenarnya sedikit sedih, ia masih ingin lebih lama berjalan-jalan didunia manusia.


"Ganyesel kan jalan-jalan di dunia manusia?" Aistan menolehkan kepalanya kearah Kyline.


Senyuman manis terukir dibibir mungil Kyline. "makasih ya ais-"


"Gue suka panggilan itu, tetep panggil kek gitu gausa pake embel-embel tan." Aistan melangkah masuk ke dalam mobilnya.


Kyline mengerutkan keningnya, lalu ikut masuk kedalam mobil, ia menoleh kearah Aistan. "Ais?" Tanya Kyline.


"Iya, kenapa?" Aistan menoleh kearah Kyline ketika melihat raut wajahnya seperti orang bingung.


"Gapapa." Kyline malas berdebat dengan lelaki disebelahnya, ia sudah lelah.


Kyline tiduran disandaran kursi, ntah kenapa didunia manusia ia jadi gampang tertidur. Nafas Kyline sudah mulai teratur, tandanya ia sudah memasuki alam mimpinya.


Sedangkan Aistan sedari tadi masih belum menjalankan mobilnya, ia enggan mengalihkan pandangannya dari wajah Kyline. Sudah lima belas menit lamanya Aistan memandangi wajah Kyline.


Banyak pikiran berkecamuk diotak Aistan, dari awal mula ia bertemu Kyline sifatnya berubah seratus delapan puluh derajat.


Sebenarnya pertama kali Aistan duduk disebelah Kyline sewaktu di kelas academy, ia sudah merasakan aura yang berbeda dari wanita itu, seolah-olah ada tameng yang menghalangi auranya.


Dihutan Aistan sengaja memancing kemarahan Kyline untuk melihat seberapa besar kekuatannya, sebenarnya ia sudah melihat dari ekor matanya Kyline mengeluarkan tombak itu tanpa mantra sama sekali dan itu cukup menarik bagi Aistan.


Aistan tersenyum miring saat tombak itu melaju sangat cepat kearahnya, tanpa perlu membalikan badannya tombak itu sudah hancur berkeping-keping. ia hanya perlu menjentikan jarinya saat tombak itu hampir menancap dipunggungnya.


Setelah kejadian itu Aistan semakin penasaran dengan wanita itu, seolah dewi fortuna selalu berpihak kepadanya, mereka tertinggal dilapangan.


Aistan tau sebenarnya Kyline bisa saja balik ke kelasnya, tapi dia lebih memilih ikut bersamanya, dari raut wajahnya Aistan tebak Kyline juga penasaran dengan dirinya.


Tapi belum saatnya Kyline mengetahui dirinya, ia akan menjadi pelindung dibalik layar bagi Kyline, tidak akan ia biarkan seujung rambut pun makhluk rendahan seperti mereka menyentuh Kyline.


Aistan berkedip sekali lantas tiba-tiba mereka sudah ada didepan rumah Aistan.


Aistan terlalu malas untuk menyetir. ia kasihan melihat raut lelah Kyline, jika dibangunkan dia harus melewati portal itu lagi. Aistan tebak jika pun Kyline sudah sampai kamarnya dia tidak akan bisa tidur, pasti dia akan selalu mengingat kejadian hari ini.


Tidak ada cara lain.


Aistan tersenyum miring.


Lantas ia memasukan mobilnya kedalam garasi lalu keluar mobil dan menggendong Kyline yang masih terlelap.


Aistan masuk kedalam rumahnya, sebenarnya tidak mudah untuk bolak-balik dari dunia manusia ke dunia Immortal. Ada pembatas yang menghalangi seolah memang mereka hidup terpisah. Jika pun ada makhluk Immortal yang bisa tinggal di dunia manusia itu karena mereka telah dibuang dari dunia Immortal.


Aistan membaca mantra dengan pelan. Lantas mereka sudah tiba didalam kamar Kyline di academy.


Meira yang sedang membaca buku tersentak kaget melihat makhluk dihadapannya. Matanya melebar seperti melihat makhluk yang sangat mengerikan.


Lantas Meira menutup bukunya dan berjalan mendekat kearah Aistan, ia membungkuk hormat kearah Aistan. "Hormat hamba, your majesty."


"Lama tidak bertemu Meira." sapa Aistan dengan sekali anggukan kepalanya.


Sebenarnya banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepala Meira.


Bagaimana bisa kyline bertemu dengan pria ini?


Apa yang sebenarnya terjadi?


Pantas Meira tidak bisa merasakan aura keberadaan Kyline didunia Immortal, tapi Meira tidak merasakan Kyline dalam bahaya. Lantas Meira menunggu Kyline pulang dengan tenang sembari membaca buku.


Meira terkejut melihat Kyline bersama pria ini bahkan, Sangat terkejut.


"Apa tujuan kalian berada di academy ini Meira?" Tanya Aistan dengan mata yang tidak lepas memandangi Kyline.


"Hanya mencari pusaka yang hilang dan berada diacademy ini." jawab Meira dengan duduk tenang lagi dikursinya, memperhatikan Kyline yang ditatap sedemikan rupa oleh Aistan.


"Pusaka itu berada diruang bawah tanah academy ini, dijaga oleh seekor hydra." jawab Aistan dengan nada datarnya.


Hydra adalah monster yang mirip ular besar dengan banyak kepala dan racun yang sangat kuat, untuk nafasnya saja mampu menewaskan manusia.


Meira tidak terkejut mendengar Aistan mengetahui dimana letak pusaka itu. Mudah bagi Aistan mengetahui dimana letak benda yang dulu sempat dimilikinya.


"Hamba mengerti." Meira menganggukan kepalanya kearah Aistan.


"Banyak yang mengincar nyawa wanita ini, kau tau itu Meira?"


"Sangat tau, your majesty." Meira berkata dengan nada pelannya.


Meira tau aistan tidak akan membuang waktunya untuk hal yang tidak penting seperti ini. dia sangat tau watak lelaki dihadapannya, 'sangat tidak tersentuh.'


Tapi untuk apa Aistan berada di academy ini?


Bukan hak Meira menanyakan hal seperti itu, Lelaki dihadapannya bukan lelaki sembarangan.


"Jaga dia Meira, tidak lama lagi mereka akan mengetahui Kyline berada di academy ini, lalu jangan beritahu apapun tentangku ke Kyline." tiba-tiba Aistan sudah menghilang menyisakan Meira yang masih sedikit terkejut.


Meira berpikir jika Aistan menyimpan rasa kepada Kyline, sungguh Kyline wanita yang sangat beruntung.


Meira menghela napas pelan mendengar ucapan Aistan tadi, makhluk yang dibicarakan Aistan sedikit merepotkan.


Akan Meira bicarakan hal ini kepada keempat guardian Kyline.


Meira membaca mantra dengan tangan membentuk pola rumit diudara, tidak berselang sepuluh detik keempat guardian Kyline datang.


Mereka berempat mengerutkan dahinya mencium jejak aroma yang tidak asing dikamar Kyline.


"Kalian benar, tadi dia ada disini." jawab Meira dengan nada tenangnya.


mereka berempat cukup terkejut.


"Tidak mungkin dia datang kesini jika tidak ada urusan penting." Griffin yang pertama kali membuka percakapan.


"Dia mengantar Kyline, mereka sempat berada di dunia manusia."


Lagi-lagi mereka berempat tercengang mendengar ucapan meira.


"Bagaimana bisa?" Gumam Hamera yang masih sedikit terkejut.


"Dia sepertinya menyimpan rasa terhadap Kyline." Meira tersenyum tipis setelah mengucapkan kalimat itu.


"Astaga, pesona Kyline sungguh tidak main-main." Leon berkata sembari terkekeh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya🤞🏻