
Calldira menatap remeh kearah Kyline. "Kau memberikan apa kepada Aistan hingga dia mau dengan mu?"
Kyline menaikan sebelah alisnya mendegar perkataan konyol wanita dihadapannya. "Ahh, Gimana kau tau aku memberikan sesuatu padanya? Kau tampak lebih berpengalaman dariku."
Kalimat dengan nada tenang itu membuat Calldira sedikit terkejut, lantas ia berusaha tetap tenang. "Kau pintar sekali mengelak gadis kecil."
Gadis kecil katanya?
Kyline baru ingat sekarang dirinya tampak terlihat seperti gadis berumur enam belas tahun.
Kyline terkekeh dengan merdunya, wanita dihadapannya benar-benar ingin bermain-main dengannya.
"Apa aku harus merasa tersanjung seorang Aistan menyukai GADIS KECIL seperti ku?" Kyline semakin menatap remeh wanita dihadapannya.
"Persis seperti ******* kecil!" Calldira menyeringai menatap Kyline. "Berpura-pura bertingkah polos lalu mengandalkan wajah untuk menarik perhatian."
******* katanya?!
Bulu mata Kyline mengerjap dengan lucu. "Wow, Kau terlihat begitu menggilainya." Kyline menoleh sekilas kearah Aistan. "Ambil jika kau mau, Aku tidak tertarik."
Kyline sebenarnya sangat murka mendengar mulut lancang wanita dihadapannya, tapi ia tetap mempertahankan raut tenangnya.
"LANCANG!" Belum sampai Calldira menyentuh pipi Kyline sebuah barier melindunginya, membuat Calldira terhempas kesisi tembok.
"Uhuk-uhuk." Calldira memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Kyline bergerak cepat menghampiri Calldira. "Pernah mendengar pepatah mengatakan mulutmu, Harimaumu?" Kyline mengangkat dagu Calldira agar menatapnya, lalu tersenyum mengejek.
"Padahal aku belum menyentuhmu seujung rambut pun, Tapi kau sudah terlihat menyedihkan." Kyline berdiri dengan angkuhnya, Aura berubah menjadi mengerikan.
"Pakaianmu seperti wanita bangsawan, tapi kelakuan mu seperti wanita rendahan yang tidak ada harga dirinya." Nada suaranya tenang tapi sangat menusuk.
Calldira tercengang, tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut yang ia pikir hanya penyihir biasa yang sangat polos.
Pandangan Kyline berpindah kearah Aistan yang sedang menatapnya intens dengan raut tidak terbaca.
Kyline tidak peduli dengan tatapan itu, ia sudah direndahkan dengan makhluk yang bahkan tidak ia kenali. Kyline benar-benar marah sekarang. "Apa semua bangsawan yang ada dibawah kendalimu seperti ini, Paduka Raja?" Kalimat dengan nada sarkas itu membuat Aistan menyunggingkan senyum tipisnya.
Aistan sengaja membiarkan Calldira membuat Kyline marah, Ia penasaran seperti apa tanggapan nya jika sedang direndahkan dan Aistan puas sekarang.
Ahh, Aku tidak salah memilih calon istri.
Memang rata-rata bangsawan di kerajaan Aistan begitu angkuh dan sangat memujanya. Kekuatan mereka semua juga tidak main-main hebatnya.
wajar saja jika Calldira berperilaku seperti itu, karena ia merasa seseorang yang dianggapnya 'gadis kecil' tidak ada apa-apanya dibanding dirinya. Karena yang Calldira amati selama ini kekuatan murid yang berada diacademy ini masih dibawah kekuatannya.
Aistan sadar sebentar lagi akan lebih banyak rakyatnya yang memperlihatkan dirinya terang-terangan dihadapan Kyline, karena mereka ingin melihat seberapa pantas Kyline mendampingi Aistan.
Tapi jika pun mereka ingin memperlihatkan wujudnya terang-terangan, Dengan melihat auranya saja mereka sudah harus sadar diri.
Tapi Kyline hanya penyihir, sedangkan Aistan mempunyai rakyat bermacam-macam jenisnya.
Aistan berjalan mendekat dengan santai, tidak terpengaruh dengan tatapan Kyline yang sangat datar kepadanya. "Ahh, mungkin dia harus dikasih pelajaran sedikit tentang sopan santun." Aistan menoleh kearah Calldira dengan raut dinginnya.
Calldira tersentak, sadar maksud kalimat pelajaran sedikit dari seorang Aistan.
"Bahkan peliharaanku lebih berkelas dibanding dirinya." Kyline menatap remeh wanita dihadapannya.
Calldira hanya terdiam, sadar akan posisinya yang sudah terpojok.
"Pergi dari sini jika masih sayang nyawamu Dira." Aistan berkata tanpa mengalihkan pandanganya dari Kyline.
Calldira menatap Aistan dengan pias, lantas menghilang menyisakan Kyline dan Aistan.
Kyline menatap tajam kearah Aistan, Ia belum puas bermain-main dengan wanita itu.
Aistan tidak memperdulikan tatapan Kyline, lantas ia berjalan mendekat kearah Kyline.
OH TIDAK LAGI!
Kyline membulatkan matanya ketika Aistan mulai mendekat, Wajah Kyline berubah panik karena tidak ingin kejadian tadi terulang.
Lantas ia merentangkan tangannya kedepan lalu melempar puluhan bola api kearah Aistan.
Tapi yang terjadi selanjutnya membuat Kyline ingin menjatuhkan rahangnya saat ini juga. Bola api itu terserap kedalam tubuh Aistan.
Kyline memang melihat dari mata Aistan jika ia seorang raja yang ntah dari kerajaan apa, Kyline belum melihat dengan jelas.
Aistan berjalan mendekat kearah Kyline, tatapannya lurus menatap mata Kyline. Ia tidak memperdulikan bola api yang menuju kearahnya. menurutnya bola api itu hanya seperti mainan anak kecil.
Kyline menarik napas dalam-dalam lalu menatap balik mata Aistan. "Wanita tadi sudah merendahkanku, kamu tau aku paling benci direndahkan?" Kyline menyorot Aistan dengan pandangan terlukanya.
Setelah sudah dekat Aistan menghembuskan nafasnya. "Iya gue ta-"
"KAMU GATAU APA-APA!" Kyline masih murka dengan kejadian tadi, seumur hidupnya ia tidak pernah ditatap sedemikian rupa oleh wanita tadi, ia udah cukup bersabar.
"Oke gue gatau apa-apa. Sekarang mau lo apa biar puas?"
Kyline menyorot datar kearah Aistan. "Minta maaf!"
"Kenapa gue yang harus minta maaf?"
Kata maaf dari mulut Aistan sangat langka. Ia tidak pernah meminta maaf pada siapapun, kecuali pada bundanya dan itu juga hanya sekali. Karena peliharaan Aistan membakar seluruh taman bunga bundanya yang sangat luas.
Saat itu Aistan meninggalkan hewan peliharaanya ditaman bundanya, lalu ia ingin pergi ke dunia manusia untuk membeli minuman favoritnya.
Setelah tiga puluh menit Aistan kembali, Lantas tiba-tiba taman bunga bundanya sudah rata dengan tanah.
Bunda Aistan marah melihat kelakuan hewan peliharaannya, Lalu mogok makan hingga tiga hari.
Akhirnya Aistan mengalah dan meminta maaf kepada bundanya.
"Kalo gamau minta maaf wakilin dia, kenapa kamu suruh dia pergi?!"
Aistan menghela napas, sabar menghadapi Kyline yang melampiaskan amarahnya ke dia.
"Oke, gue minta maaf."
Kyline mencibir. "Kalo ngomong yang jelas, gadenger."
Aistan menghela napas untuk kedua kalinya, Mencoba sabar menghadapi wanita dihadapan nya. "Maaf udah ngebuat rat-"
Aistan tidak melanjutkan ucapannya, lantas dengan tiba-tiba ia berjalan cepat kearah Kyline, lalu memeluk wanita itu.
Insting Aistan melihat ada makhluk kelas atas yang sedang mendekat, Ia kenal aura ini.
Aistan tersenyum miring, Lantas membuat pelindung untuk mereka berdua.
"Ais kamu merasakannya juga?"
Aistan mengangguk mendengar ucapan Kyline.
Ketika Kyline ingin mendongak menatap Aistan, Dengan tiba-tiba Aistan mencium kening Kyline agar tetap tenang.
Kyline tercengang menatap Aistan, Karena bingung harus merespon apa Kyline langsung megalihkan pandangannya kearah koridor, menunggu siapa yang akan datang.
Aura ini tidak main-main, bahkan wujudnya belum muncul tapi auranya sudah sangat tercium oleh Kyline.
Ah rupanya tua bangka itu udah ngirim suruhan nya ya.
Aistan tersenyum miring.
Lalu tiba-tiba muncul puluhan belati perak kearah mereka.
Kyline tersentak ketika melihat belati itu, belati yang bisa melemahkan seorang penyihir.
Belati itu langsung lenyap menjadi abu ketika berbenturan dengan pelindung Aistan.
Apalagi ini?
Kyline berdiri kaku dipelukan Aistan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ayo kawan yang budiman Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa🤞🏻